Macau Love Story

Macau Love Story
Penangkapan Nancy


__ADS_3

Ada sorot senang tertera di tampilan wajah Nancy. Ia langsung tersenyum begitu membuka pintu dan mendapati wajah Pandu yang menyorot dingin.


Meskipun ekspresinya sangat datar, tetapi Nancy tak merasa takut sama sekali. Dia, akan membujuk Pandu agar mengijinkan Nayla kembali ke Indonesia dengan alasan mengunjungi makam orang tuanya.


Semua rencana sudah Nancy rangkai sedemikian rupa. Mulai dari membawa Nayla ke Jogja, sampai menyerahkan keponakannya itu pada keluarga Hadiningrat. Setelahnya, ia akan pergi dan menetap di Singapura dengan uang hasil pemberian keluarga konglomerat dari Jogja.


Dengan begitu, urusan dengan keluarga den Aji akan selesai. Mengenai Pandu jika suatu saat nanti bisa menemukan Nayla, itu sudah bukan lagi urusan Nancy. Yang penting, dia sudah menyerahkan keponakan sesuai dengan yang mereka minta.


"Pandu, ayo masuk"


Nancy mencebik ketika ucapannya tak mendapat respon sama sekali. Pria itu main masuk begitu saja tanpa memperdulikan Nancy yang menyorot sebal.


Dasar arogan, sombong, tidak tahu sopan santun.


"Apa kamu mengatakan sesuatu?" kata Pandu dengan nada konstan. Pria itu berbalik lalu menatap tajam bola mata wanita di hadapannya.


Sepersekian detik, jantung Nancy bertalu-talu tak tahu aturan.


"M-mengatakan sesuatu? T-tidak" ujarnya mengelak.


Jangan lupa Pandu Mahardani Hermawan adalah pria penjudi dengan insting yang kuat dan seorang pembaca pikiran yang cukup baik.


"Asal kamu tahu" Kata Pandu dengan nada datar khas miliknya. "aku bisa menebak sifat seseorang hanya dengan menatap wajahnya. Jadi, jangan coba-coba kamu berbohong dan menipuku"


"M-mana mungkin aku menipumu Pandu, kamu ini suami Nayla, keponakanku"


"Baguslah" sahut Pandu lalu duduk.


Detik berikutnya, Nancy turut duduk bersebrangan dengan Pandu.


"Pandu, sudah setahun ini Nayla tidak mengunjungi makam kakakku. Rencananya, aku ingin mengajaknya berziarah ke sana"


"Lalu?"


"Mmm,, bolehkan aku mengajaknya pulang ke Jogja satu atau dua hari?"


"Yakin cuma satu atau dua hari?" tanya Pandu memastikan.


"Yakin Pandu, hanya mengunjungi makam orang tua Nayla, setelah itu kami akan kembali ke sini"


"Tapi sayangnya, aku tidak akan mengijinkan istriku di bawa olehmu Nancy"


What?? Pria ini benar-benar tidak sopan. Sudah jelas-jelas dia tahu kalau aku ini tantenya Nayla, tapi dia dengan tidak sopannya hanya memanggilku Nancy tanpa embel-embel tante. Benar-benar minta di beri pelajaran kamu Pandu.


"Tapi kenapa?" Tanya Nancy sedikit menahan emosi, tapi nadanya tetap lembut. "Kenapa kamu tidak mengijinkan Nayla mengunjungi makam orang tuanya?"


"Aku akan mengajaknya lain waktu"


"Tapi Pandu, kapan kamu ada waktu, kamu ini kan pebisnis hebat, kamu bisa percayakan Nayla padaku"


"Maaf, sekali tidak, tetap tidak"


"Setuju atau tidak, di ijinkan atau tidak, aku akan tetap membawa Nayla berkunjung ke makam orang tuanya di Jogja"


"Seharusnya kamu tanyakan dulu pada keponakanmu. Apakah dia bersedia ikut denganmu atau ti_"


"Tentu saja dia mau ikut" Padahal Pandu belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Nancy buru-buru memotong ucapannya. "Selama ini dia selalu menuruti ucapanku, dan kali ini aku yakin keponakanku akan menurutiku, apalagi jika menyangkut mendiang papa mamanya"


"Jangan terlalu berharap Nancy, hidupmu sebentar lagi akan berakhir?"


Nancy tercengang begitu mendengar kalimat Pandu. Entah apa maksud dari ucapan pria dengan wajah tanpa ekspresi itu, yang jelas ada sedikit kekhawatiran yang mendadak singgah di hati Nancy.


"Apa maksudmu hidupku akan berakhir?" tanya Nancy dengan sedikit keberanian yang muncul di tengah-tengah rasa takutnya. "Apa kamu mengancamku?"


Tersenyum miring, Pandu menatap Nancy malas. "Untuk apa aku mengotori tanganku? menyingkirkan wanita licik sepertimu, tidak perlu repot-repot apalagi harus masuk penjara setelahnya"


"J-jelaskan apa maksudmu?" Nancy tergagap dengan sorot cemas.


"Kejutan untukmu Nancy"


Benar-benar sombong, angkuh, keras kepala. Awas saja kamu Pandu, Nayla pasti akan menurutiku. Detik itu juga kamu akan kehilangan wanitamu.


"Apa yang kamu pikirkan?" Pandu bertanya saat Nancy hanya bergeming sambil menatapnya. "Ada marah di matamu" sambung Pandu dengan senyum miring. "Apa yang membuatmu marah?"


"Kamu tidak bisa melarang Nayla untuk berkunjung ke makam orang tuanya Pandu"


"Aku tidak melarangnya. Hanya saja aku akan membawanya sendiri"


"Tidak" tegas Nancy seraya bangkit.


Aku harus bisa membawa Nayla ke Jogja, aku tidak mau kehilangan uang itu.


Melihat Nancy berdiri, Pandupun akhirnya ikut berdiri. Tak lama setelah Pandu berdiri, getaran ponsel di saku celananya membuatnya berjengit. Pria itu buru-buru meraih ponselnya lalu membaca dua pesan yang masuk dari nomor Alvin.


Alvin : "Meeting akan segera di mulai, cepat kemari"


Alvin : "Anak buah kita mengabarkan padaku bahwa konglomerat itu baru saja lepas landas dari Indonesia"


"Kamu bisa tinggal disini selama kamu mau" Kata Pandu usai memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Akan aku pikirkan tentang rencanamu mengajak Nayla ke Jogja"


Sorot mata Nancy berbinar.


"Benarkah? Kira-kira kapan aku bisa mengajak Nayla pulang ke negara kami Pandu?"


"Maumu kapan?"


"Besok bagaimana?"


"Okey, kamu akan pulang ke negaramu besok" Usai mengatakan itu, Pandu beranjak dari tempatnya berdiri. Menutup pintu, lalu menghampiri dua anak buahnya yang berjaga di luar apartemen.

__ADS_1


"Awasi Nancy dan Laura, jangan sampai mereka kabur, lima jam lagi aku akan kembali"


"Siap bos" sahutnya patuh.


Pria itu melangkah ke arah lift dan akan meninggalkan apartemen miliknya. Dia menuju ke kantor untuk bekerja.


****


Sudah tak terhitung lagi berapa kali Nayla harus menerima kekejaman sang tante. Dan saat ini, dia kembali akan menyerahkan Nayla ke tangan pria yang telah membelinya.


Flashback on.


Tiga anak buah Pandu mendapati dua wanita yang sedang mereka cari berada di sebuah restauran hotel berbintang. Dengan cepat ketiga orang itu langsung menghampiri Nancy dan juga Laura.


"Selamat malam"


"Selamat malam" jawab Nancy dan Laura bingung.


"Siapa kalian?" tanya Nancy memicing.


"Kami anak buah tuan Pandu, sudah lama kami mencari kalian atas perintah nona Nayla"


"Nayla?" Nancy semakin tak mengerti.


"Benar, nona Nayla menyuruh kami untuk membawa tante serta sepupunya jika menemukan keberadaannya"


Nancy dan Laura saling pandang. Mereka berfikir jika dewa amor saat ini sedang berada di pihaknya, sebab dia sendiri sedang mencari Nayla. Namun disisi lain, mereka sedikit curiga pada ketiga orang itu.


"Apa kalian akan membawa kami menemui Nayla?" tanya Nancy serius.


"Benar sekali nyonya"


"Tapi maaf, kami tidak bisa percaya pada kalian"


"Baiklah, kami akan menelpon nona Nayla agar kalian percaya"


Bukan Nayla yang mereka hubungi melainkan Alvin. Delita akan berpura-pura sebagai Nayla untuk mengecoh Nancy dan Laura.


Begitu tersambung, salah satu pria itu menyerahkan ponselnya ke tangan Nancy. Jelas Alvin sudah merencanakan sebelumnya.


"Ini aku Nayla tante"


"Nayla"


"Iya tante"


"Kok suara kamu beda si?"


"Saya lagi sedikit flu tante, sering begadang juga karena mengurus bayiku. Lagi pula kita sudah lama tidak bertemu dan mengobrol, tapi suaraku tetap seperti ini kok"


"Iya juga si Nay, tante memang sudah lama sekali tidak mendengar suara kamu" sahut Nancy masih menyisakan bingung.


"Kamu serius Nay, ini benar kamu kan? tidak menipuku kan?"


"Serius tante, tante Nancy adalah tanteku, adik mendiang papa, punya anak namanya Laura. Kita tinggal di Jogja. Tante dulu pernah menjualku ke mas Pandu, ke Alvin juga"


Nancy pun percaya kemudian bersedia ikut dengan anak buah Pandu.


Flashback off


"Jam berapa mereka tiba di Macau?" tanya Pandu usai melaksanakan meeting di kantor.


"Sekitar pukul dua" jawab Alvin tanpa menatap Pandu. "Mereka juga membawa polisi dari sana"


"Baguslah"


"Kak Nay gimana?"


"Gimana memangnya?" Pandu bertanya balik.


"Tadi pagi kak Nay menelfonku, dia memaksaku mengirim nomor ponsel Nancy"


"Terus kamu kasih?"


Alvin mengangguk.


"Bodoh" umpat Pandu geram. "Ngapain di kasih, pasti Nayla menelpon wanita itu, terus nyuruh mereka kabur"


"Tapi sepertinya nomor Nancy yang ku save memang sudah tidak aktif"


"Dari mana kamu tahu?"


"Aku sudah menghubungi nomor itu sebelumnya" Alvin menopang dagunya dengan kedua tangan. Matanya fokus terarah ke manik hitam milik Pandu. "Kak Nay tidak tahu di apartemen mana Nancy dan Laura berada kan?"


"Tidak, aku tidak memberitahunya"


"Lalu, bagaimana penjagaan di apartemen?"


"Aman" sahut Pandu singkat. Ia merasa gelisah sebenarnya. Rasanya Pandu sudah tidak sabar lagi melihat penangkapan Nancy dan Laura. Wanita yang sudah membuat gadis masa kecilnya menderita. Bahkan sampai detik ini dia masih saja mengusik hidup Nayla, memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri.


Merasa tidak fokus bekerja, perasaannya pun mendadak gelisah. Pandu memilih pulang dan akan memastikan bahwa Nayla berada di rumah dan tidak berusaha mencari tahu tentang Nancy.


Benar saja.


Setibanya di rumah, Pandu tak menemukan Nayla berada di rumahnya. Dugaannya benar-benar tak meleset sama sekali. Ibu berkata jika Nayla pamit pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu.


Tanpa pikir panjang, Tama bergegas lari menuju mobil. Tujuannya adalah Ritz Apartemen tempat di mana Nancy di sembunyikan.


"Apa maumu Nay?" gumamnya penuh amarah. Tangannya sesekali memukul roda kemudi. "Kamu benar-benar susah di atur. Tidak bisakah kamu nurut sama suamimu?"

__ADS_1


"Orang seperti Nancy, kenapa masih di kasihani Nayla? Dia perlu di beri pelajaran. Wanita laknat itu sudah sangat kejam padamu"


"Kapan kamu menyadarinya Nayla?"


Pandu terus bermonolog selagi dalam perjalanan menuju ke tempat Nancy. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


"Jangan bodoh kamu Nayla?" geramnya lagi.


Hampir tiga puluh menit berlalu, Pandu sudah sampai di apartemen miliknya.


Dengan langkah seribu, ia berlari memasuki unitnya.


Pria itu tercengang, sepasang netranya membulat sempurna ketika menangkap sosok Nayla tengah berbicara dengan Nancy.


"Mas Pandu akan menyerahkan tante pada mereka, jadi lebih baik kalian pergi dari sini sekarang juga"


"Kamu tidak bercanda kan Nay?" tanya Nancy takut.


"Aku tidak pernah berbohong tante"


"Kalau begitu tolong tante Nay, tante tidak harus kabur jika kamu ikut dengan tante"


"Aku tidak bisa ikut denganmu tante, tante sudah keterlaluan, dengan sadar tante kembali menjualku padahal aku sudah menjadi milik mas Pandu" kata Nayla dengan penuh penekanan.


"Cepatlah tante sebelum mereka datang, tante sama Laura harus pergi, aku tidak mau kalian tertangkap"


"Nayla" Pekik Pandu dengan suara lantang dan sangat keras.


Menelan saliva, Nayla sangat paham siapa pemilik suara itu. Dia menoleh ke belakang dan netranya langsung bertemu pandang dengan netra milik suaminya.


"M-mas Pandu?"


Pria itu melangkah menghampiri Nayla lalu mencengkram pergelangan tangannya dengan sangat kuat.


Melihat amarah di wajah sang suami, nyali Nayla seketika menciut.


"Kalian, cepat ikat kedua wanita ini" perintah Pandu kepada para pesuruhnya.


"Tolong bebaskan tanteku mas, please. Jangan serahkan mereka pada keluarga Hadiningrat" pinta Nayla.


"Aku tidak bisa Nayla"


"Apa-apaan kalian. Kalian tidak bisa mengikat kami" Seru Nancy sambil berusaha menghindar.


"Diam kalian" bentak pria bertubuh jangkung.


"Tolong mas" ucap Nayla memohon.


"Tidak bisa Nayla, orang seperti mereka tidak pantas di beri ampun, mereka harus di hukum.


"Kalau mas tidak bisa, aku akan marah pada mas"


"Aku akan lebih marah Nayla" sahut Pandu dengan mata berkilat merah. Emosinya sudah benar-benar tidak bisa ia kuasai.


Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.


Mereka kompak memusatkan perhatian ke arah pintu.


"H-hadiningrat?" Nancy tergagap, dengan susah payah ia menelan saliva.


"Mah, gimana ini mah?" lirih Laura dengan tubuh gemetar menahan takut.


"Mamah tidak tahu Laura"


Den Aji yang melihat wajah wanita pujaannya, langsung menghampiri Nayla. Matanya tak berkedip selagi dia melangkah. Hingga langkahnya terhenti tepat di depan Nayla, ia tersenyum manis.


"Nayla?"


"S-siapa kamu?" tanya Nayla dengan fokus sepenuhnya menatap Aji.


"Aku calon suamimu Nay, tantemu sudah menyerahkanmu padaku"


"Maaf, dia istriku" sambar Pandu kilat.


Mata Aji yang tadinya menatap Nayla, kini beralih menatap Pandu.


"Nancy sudah menipumu?"


"Tidak, Nayla milikku"


Tersenyum miring, Pandu menggelengkan kepalanya pelan.


"Kami sudah menikah dan memiliki anak, dia milikku dan akan terus menjadi milikku"


"Tapi aku sudah mengeluarkan milyaran rupiah demi untuk memilikinya"


"Itu urusanmu dengan Nancy" kata Pandu tajam, setajam sorot matanya. "Mintalah pertanggung jawaban dari mereka"


Usai mengatakan itu, Pandu pergi dengan membawa Nayla. la tak ingin berdebat dengan pria asing yang tak di kenalinya. Pria itu terus melangkah mengabaikan panggilan Nancy dan juga Laura.


"Pastikan mereka keluar dari apartemenku dan menangkap Nancy" kata Pandu saat di depan anak buahnya.


"Baik bos"


Sebelum benar-benar keluar, Pandu sempat mendengar suara Aji yang menyuruh polisi untuk segera menangkap Nancy dan Laura.


Dengan kasar, Pandu menarik tangan Nayla lalu mendorongnya memasuki mobil. Cengkraman Pandu yang sangat kuat, meninggalkan jejak merah di pergelangan tangan Nayla.


Tbc...

__ADS_1


Masih ada yang nungguin? Masih ada yang mau lanjut? 😀😀😀


__ADS_2