Macau Love Story

Macau Love Story
Jangan kabur saat sedang bicara


__ADS_3

"What!" Desis Alvin tak percaya "Aku tidak salah dengar? Dia mengancamku?"


"Alvin" Panggil Nayla tiba-tiba, Ia kembali membuka pintu lalu masuk membuat Alvin terperanjat dan langsung berdiri dengan raut takut.


"I-iya kak?"


"Delita sedang menuju ke sini, ingat pesanku, perlakukan dia dengan baik dan istimewa"


Belum sempat Alvin menjawab, tampak wanita itu mendorong pintu ruangan Alvin, sepasang matanya sempat menyorot kaget saat mendapati ada Nayla yang juga sedang berada di ruangan suaminya.


"Delita?" Kata Nayla.


"Kak"


"Kamu apa kabar Del"


"Aku baik" sahut Delita seraya melangkah masuk. "Kak Nay di sini?"


"Iya, aku baru saja ngantar ini ke mas Pandu" Nayla mengatakan sambil menunjukan tas berisi kotak makannan di tangan kirinya. "Sekalian nemuin Alvin bujukin dia buat nengok ibunya" Tambah Nayla santai.


"Yang benar saja, kamu tidak hanya membujukku, tapi juga mengancamku" gerutu Alvin lirih, namun Delita dan Nayla masih bisa mendengarnya.


Hal itu membuat dua wanita yang berdiri di depan mejanya, memindai pandangan ke wajah Alvin sesaat, lalu kedua wanita itu saling melempar pandangan.


"Iya aku mengancamnya Del" Sambar Nayla cepat lengkap dengan seulas senyum "Seorang anak, bukankah seharusnya mengunjungi orang tuanya, iya kan Del? jadi aku mengancam akan membunuhnya jika dia tidak mau menjenguk ibu"


"Membunuh?" 


"Hmm"


Delita kaget dengan ancaman Nayla, tapi ia tak menampik dengan sikapnya yang memang sangat berani. Terbukti saat hari pernikahannya dengan Pandu yang gagal, sosok Nayla saat itu adalah yang paling di takuti baik oleh sang papa, maupun kakaknya, Pandu.


"Kak Nay akan membunuh Alvin?"


"Iya"


"A-apa kakak serius?"


"Apa aku pernah main-main?" Tanya Nayla balik. "Kalau kamu tidak mau kehilangan Alvin, bujuk dia supaya mau sering-sering datang buat nemuin ibu"


Delita menelan salivanya seolah tak percaya, sementara Alvin hanya termangu menatap kedua wanita di hadapannya secara bergantian.


"Aku pulang dulu ya, Del, Vin, keponakan kalian yang lucu, pasti sudah menungguku"


Delita dan Alvin hanya mengangguk merespon ucapan Nayla.


"Oh ya Vin" kata Nayla, dia yang tadinya sudah berbalik, mengurungkan niatnya untuk melangkah lalu kembali menatap Alvin. "Keponakanmu itu, dia sangat mirip denganmu, keras kepala, dan suka marah-marah" Nayla terus berkata sembari menggerakkan tangannya gemas. "Apalagi jika sudah lapar, dia akan menangis meraung-raung sambil menendang-nendangkan kakinya"


"B-bayi dua minggu bisa menendang?" Tanya Alvin lirih, dahinya membentuk seperti lipatan.


"Bisa dong, dia kan keponakanmu, sama sepertimu, bisa melakukan apapun yang dia mau" seloroh Nayla, dia menahan tawa dengan ucapannya sendiri yang memang tak masuk akal. Tak hanya dia, Delita pun menunduk merapatkan mulutnya sambil berusaha menahan tawa di kerongkongan. "Kamu harus melihat keponakan yang sudah berani menyaingi ketampananmu"


Alvin yang pintar dan cerdik, seolah di buat mendadak bodoh dan ambigu oleh Nayla. 

__ADS_1


"Aku permisi" pamit Nayla. Dengan santainya dia melenggang menuju pintu keluar.


Sepeninggal Nayla, Dengan gugup Delita menyerahkan kotak makan siang untuk sang suami. Ini adalah kali kedua dia mengantar makanan ke kantor Alvin.


"Maaf, terlambat. Tadi sempat antri lama saat mengisi bahan bakar"


"Tidak apa-apa" sahut Alvin lalu berjalan menuju sofa tamu. "Kamu bawa apa?" Lanjutnya bertanya, membuat Delita terpaku sesaat. Ia heran dengan perubahan sikap Alvin yang mendadak lembut. 


"Apa kak Nayla mengatakan sesuatu pada Alvin? atau apa pria ini sudah merubah rencananya kembali?" 


Delita membatin seraya menggelengkan kepala. "Huufftt, pria ini benar-benar tidak bisa ku tebak. Dia yang tadinya sangat kejam, mendadak jadi pria cuek dan dingin, lalu sekarang  berubah menjadi lembut. Pria macam apa yang sudah aku nikahi?"


"Del?" 


Panggilan Alvin membuat Delita tersadar akan lamunannya.


"I-iya?"


"Mikir apa kamu?"


"T-tidak" sahut Delita terbata.


"Kamu tidak bisa bohong Del"


"Kamu tidak percaya padaku?" Tanya Delita sambil mengeluarkan kotak berisi makanan. 


"Dari pada aku percaya sama kamu, jatuhnya musrik, kamu bukan Tuhan yang harus ku percaya, iya kan?"


"Jangan menatapku seperti itu, cepat beri aku makan, aku sudah lapar"


Delita mendengkus kasar, kemudian menggerakkan tangannya meraih sendok dan menaruhnya di atas kotak makan.


"Makanlah" ujar Delita memerintahkan, sambil menyerahkan kotak berisi makanan ke tangan Alvin.


"Mikir apa tadi?" Tanya Alvin sambil menikmati suapan pertama.


"Tidak ada?"


"Masih belum mau ngomong?"


Hening, Delita terus mencermati wajah Alvin yang tengah menikmati hasil masakannya, masakan yang jelas tidak lebih enak dari masakan Alvin. Karena kebanyakan para pria di Macau, masakannya akan lebih lezat di bandingkan hasil olahan para wanita.


"Bengong lagi,, begitu kamu bilang tidak mikir apapun? Apa yang membuatmu semakin berani berbohong?"


"A-apa maksudmu, kapan aku berbohong?" Tanya Delita menahan detak jantungnya agar tak semakin ribut.


"Yang terbaru, kamu tidak mau ngaku kalau kamu tidak memikirkan apapun. Jelas-jelas ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan" jawab Alvin tenang, mulutnya terus mengunyah makanan.


"Mau aku tambahkan kebohonganmu yang lain?" Tawarnya dengan satu alis terangkat.


Terdiam, Delita bahkan lupa kapan dia berbohong. Terlihat Alvin seperti tersenyum miring di tengah-tengah kunyahannya ketika menangkap kegelisahan Delita.


"Kamu mencintaiku kan?"

__ADS_1


"Tidak" jawab Delita cepat.


"Oh ya? Aku bisa buatkan daftar kebohonganmu kalau kamu mau" ledek Alvin seakan belum puas mempermainkan rasa gelisahnya yang kian tak karuan.


Satu alis Alvin terangkat, disusul dengan senyum miringnya. "Sudah pernah ku bilang, menyimpan perasaan sendiri itu tidak baik"


"Siapa yang menyimpan perasaan?"


"Memangnya ada orang lain di depanku?" Ledeknya terang-terangan. "Kamu hanya perlu jujur, apa susahnya"


"J-jujur tentang apa?"


"Tentang perasaanmu yang belum tuntas. Harus berapa kali aku memberikan umpan, Delita?"


Alvin mengatakannya dengan sangat tenang, bahkan Delita tak menyadari kalau makanan itu sudah habis termakan.


"Aku mau ke toilet" 


Saat hendak berdiri, tiba-tiba Alvin bergerak cepat menahan tubuh Delita, hingga ia kembali terduduk dengan punggung bersandar pada sandaran sofa.


Nafas Delita tertahan, sedangkan jantungnya kembali berdetak tak terkontrol gara-gara Alvin bergerak mengurung tubuhnya.


Satu tangan Alvin bersandar di lengan sofa, dan tangan lainnya ia daratkan pada sandaran sofa sementara badannya sedikit membungkuk. Mereka kembali berada pada jarak yang terlampau dekat. Membuat Delita teringat akan posisi duduk di pangkuan Alvin tadi malam.


"Aku belum selesai bicara" katanya tepat di depan wajah Delita. "Jangan di biasakan kabur saat percakapan belum selesai"


"S-siapa yang kabur, aku hanya ingin ke toilet" cicit Delita yang justru memantik bibir Alvin menerbitkan senyum sinis.


"Tadi dia bersikap lembut, tapi kenapa sekarang seperti preman yang sedang melumpuhkan lawannya?" Delita membatin dengan manik hitam bergerak gelisah. Alvin tak melepaskan netranya dari manik hitam Delita yang bergerak panik.


"Okey, k-kita bicara, tapi d-dengan duduk biasa, jangan seperti ini"


"Fine" sahutnya tenang. "Tapi kalau kamu kabur lagi bagaimana?"


Kening Delita mengerut "Aku janji tidak akan kabur"


"Apa jaminannya?" Lirih Alvin tetap bertahan di posisinya. "Oh atau kamu mau duduk di pangkuanku seperti tadi malam?" Tambahnya seraya menarik diri lalu duduk di samping Delita.


"No, aku tidak akan bisa fokus karena sikapmu bikin aku salah tingkah?" Sontak Delita membungkam mulutnya setelah mendengar ucapannya sendiri.


Alvin menatap Delita tak berkedip.


"K-kita bicara nanti di rumah, asal bicaranya dengan jarak minimal dua meter"


"Hou" respon Alvin. "Tepati itu dan katakan apa yang kamu simpan di sini" Alvin menunjuk bagian dada Delita, detik kemudian tangannya bergeser meremas lembut salah satu buah dadanya, membuat Delita mendes@h lirih. "Kalau tidak, akan aku buat kamu semakin salah tingkah"


Delita menatap Alvin dengan tatapan bingung. 


"Tidak percaya? Mau ku buktikan sekarang"


"T-tidak perlu" jawab Delita seraya menggeleng.


tbc

__ADS_1


__ADS_2