Macau Love Story

Macau Love Story
Pertemuan Delita dengan Pandu Nayla


__ADS_3

Aku membuka mata saat sebuah tangan mengusap pipiku dengan sangat lembut.


Ku perhatikan sosok yang kini ada di hadapanku, samar-samar bibirnya menyunggingkan senyum begitu manis.


Tidak,, aku pasti sedang bermimpi. Dia pria kejam yang sudah memaksaku untuk mencintainya.


"Co san" sapanya terdengar begitu lirih di telingaku.


Aku langsung bangkit dari tidurku, lalu duduk menyandarkan punggung pada headboard.


Pria yang semalam sangat kasar, entah kenapa sekarang memperlakukanku begitu lembut.


"Aku sudah menyiapkan roti, selai, dan juga isiannya di meja makan" ucapnya lalu berdiri dan menuju lemari meraih setelan kantor lengkap dengan jas.


"Aku ada janji dengan Pandu untuk menandatangani berkas pemindahan aset perusahaan"


Mendengar nama Pandu, entah kenapa hatiku tercubit. Aku masih merasakan sakit, dan sakit ini karena papah yang tidak mau mengakuinya.


"Kamu aku tinggal, nanti untuk makan siang, akan aku pesankan fast food" Setelah mengatakan itu, dia langsung keluar dari kamar.


"Kamu tidur di mana semalam?" tanyaku membuat langkahnya terhenti. Dia berbalik kemudian tersenyum tipis, sementara aku langsung membuang muka.


"Aku tidur di kamar sebelah"


Ada apa dengannya, kenapa tiba-tiba saja dia berubah.


"Mulai hari ini aku akan ke kantor" kata Alvin "Kalau kamu mau, kamu resign dari hotelku, dan tinggalah di rumah menunggu kepulanganku"


Aku meneguk ludahku mendengarnya mengatakan itu. Aku tidak tahu apakah dengan sikapnya dia yang lemah lembut seperti ini, adalah bagian dari mengubah rencana Alvin yang di katakan semalam?


Aku masih tak bergeming dengan semua perkataan Alvin, hingga dia keluar dari kamar yang ku tempati, aku sama sekali tak merespon ucapannya.


Baru saja akan beranjak dan melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka, aku di kejutkan dengan ponsel di atas nakas yang berkedip.


Kak Pandu Calling...


Ada apa dia menelponku?


Ragu-ragu akau menggeser ikon hijau, lalu menempelkan gawaiku di telinga kananku.


"Halo?"


"Halo Del, ini aku Nayla"


Susah payah aku meneguk ludahku begitu mendengar namanya.


"Ada apa?" tanyaku datar.


"Bisakah kita bertemu, kakakmu ingin bicara, dia juga akan meminta maaf padamu"

__ADS_1


Kakakku? kak Pandu kakakku? ah rasanya seperti mimpi, aku benar-benar masih belum percaya kalau Pandu kakaku.


"Halo Del! " Sapanya ketika aku terdiam selama sekian detik. "Bisa kita bertemu hari ini?"


Sejujurnya, aku masih belum ingin menemuinya, tapi aku ingin tahu bagaimana pria itu meminta maaf padaku.


"Del?"


"I-iya"


"Bisakah kita bertemu?"


"D-dimana?" tanyaku dengan gugup.


"Di restauran Panama, bisa?"


"Baiklah"


"Ok kita sekalian makan siang ya" Dia begitu percaya diri, dan sangat tenang saat mengatakan itu.


Duduk termenung di tepi ranjang, aku menatap almari dengan tatapan kosong, Aku merasa cemburu dengan Nayla, tapi aku tidak bisa merebut kak Pandu darinya, karena dia adalah kakakku.


Andai aku mengetahui dari awal, pasti tidak akan terjerumus sedalam ini.


Entah kenapa persekian detik aku teringat dengan Alvin, aku juga masih belum percaya jika dia adalah suamiku.


Aku berdiri dari dudukku, lalu melangkah ke kamar mandi. Baru saja akan menutup pintu, aku mendengar seseorang memanggil namaku.


Alvin, sosoknya seketika langsung tertangkap oleh netraku, membuatku mengurungkan niat untuk menutup pintu kamar mandi


Dia nampak sudah siap dengan setelan kantornya.


"Aku pergi dulu, kamu jangan lupa sarapan"


Hanya itu yang dia katakan, selebihnya aku tidak tahu apa yang dia lakukan, karena aku langsung menutup pintu usai dia berpamitan.


****


Aku menatap nanar pada sosok yang saat ini tengah duduk berdampingan sambil tersenyum lebar.


Wanita itu tampak tersipu malu ketika pria di hadapannya mengerlingkan mata lengkap dengan senyum manisnya.


Tampaknya, mereka masih belum menyadari jika aku sudah sampai di tempat kami janjian.


Aku mengambil posisi duduk di kursi meja yang terletak di belakangnya. Aku bisa mendengar dengan jelas obrolan dan candaan mereka. Sesekali pria itu melemparkan gombalan atau pujian yang membuat istrinya tersenyum.


Yang ku tahu, saat ini Nayla tengah hamil lima bulan, dan itu membuat kak Pandu terlihat semakin bahagia dan kian mencintai Nayla.


"Apa mas sudah mengembalikan hak Alvin?"

__ADS_1


"Sudah sayang" jawab kak Pandu yang ku dengar sangat jelas di telingaku. "Tadi pagi kami melakukan kesepakatan, dia juga berjanji akan mengelolanya dengan baik"


"Baguslah" respon Nayla sambil memainkan jari jemari kak Pandu. Harus ku akui, mereka tampak begitu mesra dan saling mencintai.


"Kamu tahu, dia bilang apa lagi?"


Wanita di hadapanya menautkan kedua alisnya usai mendengar ucapan kak Pandu.


"Dia bilang apa?" tanya Nayla.


"Alvin bilang akan bekerja dengan baik, dan merubah dirinya demi untuk mendapatkan hati Delita"


"Oh ya" Sahut Nayla tersenyum sumringah.


"Hmm, kamu ngomong apa ke Alvin, kenapa dengan mudahnya dia mau menerimaku sebagai kakaknya?"


"Aku tidak mengatakan apapun, asal mas tahu, itu sebagian dari bukti bahwa Alvin tidak main-main dengan Delita"


Mendengar namaku dan Alvin di sebut secara bersamaan, jantungku mendadak berdesir sampai menimbulkan efek geli di dalam sana.


"Maksud kamu apa sayang?" tanya kak Pandu, pertanyaannya, benar-benar mewakiliku, dan aku ingin sekali mendengar jawabannya.


"Tadinya aku tidak percaya kalau dia mencintai Delita" kata Nayla dengan sorot mata fokus mengarah ke wajah lawan bicaranya. "Aku takut kalau Delita cuma akan di jadikan pemuas nafsunya, aku tidak mau dong kalau harus ada sonya kedua, apalagi dia Delita, adik mas sendiri, jadi aku meminta bukti kalau memang dia serius sama Delita, si Alvin harus berdamai dengan mas, dan harus bisa merubah diri menjadi lebih baik, demi cintanya pada Delita tentunya"


Harusnya pembicaraan mereka membuatku terharu, tapi tidak, aku sama sekali belum percaya dengan Alvin si pria jahat. Lagipula hubunganku dan Alvin masih baru, jelas dia akan melakukan apapun demi mendapatkan hatiku, tapi lambat laun, aku yakin cintanya akan pudar mengingat dia suka berganti-ganti pasangan.


Menghirup napas dalam-dalam, ku putuskan untuk menghampiri mereka dngan langkah yang ku paksakan.


"Selamat siang" ucapku menyapa mereka.


"Siang" jawab kak Pandu dan Nayla kompak.


Aku tidak berani mempertemukan netraku dengan netra kak Pandu, aku hanya menatap Nayla yang menurutku sangat cantik.


"Delita" sambung Nayla tersenyum. "Silakan duduk Del"


Aku langsung menarik kursi begitu dia menyuruhku duduk. Aku merasa canggung, malu, benci sekaligus kecewa. Rasa itu benar-benar menghambur menjadi satu.


Hening selama beberapa menit. Tak ada yang ku lakukan kecuali meremat jariku di bawah meja dengan pandangan tertunduk.


"Del" panggilan dari kak Pandu membuat jantungku tiba-tiba berdetak sangat kencang. "Maafin kakak"


Untuk kesekian kalinya jantung ini berdetak sangat liar.


"Maaf" ulangnya. Dan aku ingin sekali mengeluarkan deretan umpatan untuknya. Aku ingin sekali mengomelinya sampai ke perempatan China, tapi seakan mulutku terkunci. Andai saja bisa.


"Maaf karena kakak sudah menyakitimu" ujarnya lembut, sangat lembut hingga membuatku mendadak ingin memeluknya. Dan lagi aku membatin, andai saja bisa.


"Kakak sayang sama kamu" detik itu juga ku beranikan diri untuk mempertemukan netra kami. Terlihat jelas dari sorot matanya yang begitu tulus mengatakan itu. Bahkan Devano saja tidak pernah menatapku sedalam itu, tapi kak Pandu, baru menjadi kakaku selama 1x24 jam sudah menunjukan rasa sayang seorang kakak pada adiknya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2