Macau Love Story

Macau Love Story
Mencari si kurang ajar


__ADS_3

Dua malam sudah mereka lalui di Jogja. Dua malam yang sangat berkesan bagi Pandu dan Nayla, karena setelah sekian purnama, akhirnya mereka bisa melepas dahaga yang selama ini mereka tahan.


Selama itu pula mereka mengenang semua kenangan indah kebersamaan saat mereka kecil.


Dan hari ini, sepasang suami istri itu akan kembali ke negara yang saat ini mereka tinggali.


"Sudah siap semuanya?" tanya Pandu sambil melingkarkan arloji di pergelangan tangannya.


"Sudah sayang"


"Coachnya jangan di taruh koper sayang, nanti sesampainya di Macau cuaca sangat dingin, Rondi bilang hari ini sampai 4° Celcius"


"Right sayang, tahu"


"Are you ready?" kata Pandu genit.


"Yes"


Pandu segera menggandeng tangan Nayla sementara tangan lainnya menarik koper. Mereka akan naik taxi menuju bandara.


****


Dua hari berlalu setelah kepulangan Pandu dan Nayla dari Jogja, Pandu sudah memulai kembali aktifitasnya sebagai pebisnis di bidang perhotelan dan kuliner.


Ratusan cabang restauran dan hotel milik keluarga yang selalu memberikan pundi-pundi rupiah, kini semakin melejit ketenaran dan keuntungannya.


Sebuah ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Alvin yang tengah fokus memeriksa laporan pengeluaran di hotelnya.


Ia segera merespon ketukan itu dengan mempersilahkan masuk.


Begitu pintu terbuka, Alvin merasa heran dengan sosok yang muncul dari balik pintu.


"Kak Pandu"


Tanpa di persilakan, Pandu mendudukan dirinya di kursi bersebrangan dengan dirinya.


"Ada masalah?" tanya Alvin ketika melihat sorot serius di wajah Pandu.


"Apa kamu masih memiliki nomor ponsel Nancy? tantenya Nayla?"


"Sepertinya masih, kenapa?"


"Berikan padaku"


"Untuk apa?"


"Jangan banyak tanya, berikan saja padaku"


Dengan tatapan terus menatap sang kakak yang kini sedang mendaratkan siku sebelah kiri di sandaran kursi, dan tanganya menyentuh bagian dagu, Alvin membuka laci tempat dia menyimpan ponselnya beberapa menit lalu.


"Sudah ku kirim"


"Thankyou" responnya dengan nada datar khas miliknya "Apa kamu tahu di mana dia tinggal?"


Alvin mengedikkan bahunya tanda kalau dia tak tahu keberadaan Nancy saat ini.


"Apa kak Nay meminta kakak mencari wanita itu?"


"Tidak"


"Lalu?"


"Kerahkan anak buahmu untuk mencarinya sekarang juga, bawa padaku jika mereka menemukannya"


"Iya tapi untuk apa kak?" Alvin memelas, sorot matanya menandakan jika dirinya berharap Pandu memberikan alasan kenapa dia memintanya mencari Nancy.


"Si kurang ajar itu menjual Nayla pada seorang konglomerat di Jogja"


Alih-alih terkejut, Alvin justru menertawakannya.

__ADS_1


"Ada yang lucu?" tanya Pandu sinis, lengkap dengan tatapan menyeringai tajam.


"Dia kembali menjual Nayla? oh Tuhan, malang sekali nasib istrimu kak"


Braakkk,,!


Pandu memukul meja dengan sangat keras, membuat Alvin langsung berhenti tertawa.


"Cari si kurang ajar itu secepatnya, kalau tidak, aku akan membawa Delita sampai kamu berhasil menemukannya"


"Tidak bisa kak, Delita istriku, mana bisa kakak membawanya pergi"


"Kalau begitu, temukan dia secepatnya! ku beri waktu tiga hari jika tidak, aku akan menahan Delita sampai kamu bisa menemukannya, baru akan ku kembalikan"


Usai mengatakan itu, Pandu bangkit dari duduknya, lalu keluar dari ruangan Alvin.


Namun, baru saja Pandu menutup pintu, interkom di meja Alvin berdering, sebuah panggilan masuk membuat sepasang matanya memindai benda di atas meja.


"Hallo"


"Alvin"


"Kak Nay?"


"Apa Pandu meminta bantuanmu untuk mencari tante Nancy?"


"Iya kak, pria pemaksa itu baru saja meninggalkan ruanganku"


"Pria pemaksa?"


"Iya, dia memaksaku untuk segera membawa Nancy ke hadapannya"


"Kalau begitu, jangan kamu lakukan Vin!"


"Bagaimana aku tidak memenuhi permintaannya, dia akan membawa adiknya dariku"


"Dia mengancammu?"


"Pokoknya, kamu tidak boleh mencarinya Vin, Sampai kamu menyerahkan tanteku ke mas Pandu, maka detik itu juga aku akan membawa Delita pergi"


Mendengkus pelan, Alvin menghempaskan nafasnya kasar. "Apa-apaan kalian, kenapa membuatku pusing"


"Jangan lakukan Vin, aku mohon!"


"Ah, aku tidak tahu" Desisnya frustasi kemudian memutus panggilannya sepihak.


"Yang benar saja, satu memintaku mencarinya, satunya lagi melarangku mencarinya, kalian suami istri benar-benar membuatku pusing, dan parahnya, menjadikan istriku sebagai ancaman"


"Ngomong-ngomong soal Delita, aku jadi merindukannya"


"Aku akan pulang sekarang"


Pria itu buru-buru keluar dari ruangannya, tepat ketika melewati lobi kantor, ia berpapasan dengan Pandu yang membuat langkahnya justru terhenti.


"Mau kemana kamu?" tanyanya dengan kondisi kedua tangan berada di dalam saku celana.


"Pulang kak"


Reflek Pandu mengangkat satu tangannya lalu menatap jam yang melingkar.


"Ini baru jam dua, jam kantor masih tiga jam lagi"


"Aku ada urusan kak"


"Ada urusan apa kamu di rumah?"


"Aku merindukan Delita"


Pandu memindai pandangannya pada tubuh Alvin dari atas hingga ke bawah.

__ADS_1


"Makannya fokus, jangan membayangkan dia saat sedang bekerja, mau jadi apa bisnismu jika kamu terus pulang sebelum waktunya"


Alvin tak mengindahi ucapan Pandu, ia pergi begitu saja meninggalkan Pandu yang masih meracau dengan tidak jelas.


Setibanya di rumah, Alvin langsung menarik tangan Delita dan membawanya ke kamar.


"Ada apa denganmu?"


"Apa aku tidak boleh merindukanmu?" Bukannya menjawab, Alvin malah melempar pertanyaan balik.


"Bukan begitu" Delita yang terkulai lemas akibat ulah suaminya beberapa saat lalu, berusaha menyanggah ucapannya. "Ini belum waktunya kamu pulang kantor"


"Aku pusing Del, kak Pandu memintaku mencari Nancy, tapi kak Nayla justru melarangku"


"Nancy? tunggu?" Delita seperti teringat akan sesuatu. "Siapa dia?"


"Dia tantenya Nayla"


"Aku ingat sayang" Kata Delita dengan sorot serius.


"Kamu ingat apa?"


"Waktu itu ada wanita, dia mengaku namanya Nancy, dia datang kesini dengan wanita cantik kisaran seusia denganku, mereka mencarimu sayang, tapi aku lupa bilang padamu"


"Kapan itu?"


"Dua hari yang lalu.


"Dia ada bilang sesuatu?" Selidik Alvin.


"Tidak, dia hanya bilang nanti akan datang lagi, tapi dia tidak mengatakan kapan akan datang kembali"


Alvin bergegas bangkit, lalu meraih celana kantor, ia merogoh saku untuk mengambil ponsel yang tersimpan di dalamnya.


"Ada apa si Vin?"


"Aku harus menemukannya?"


"Tapi kenapa kak Nay melarang kak Pandu mencarinya? bukannya itu bagus jika kak Nay menemukannya"


"Ah tidak aktif. Kamu tahu kenapa kak Pandu mencarinya tapi malah kak Nay melarangnya?"


"Kenapa?"


"Kak Pandu mau menyerahkan Nancy pada si konglomerat karena dia sudah menjualnya. Kak Pandu berniat memberikan pelajaran padanya"


"Tantenya kak Nayla menjual Kak Nay?" tanya Delita seolah tak percaya.


"Hmm"


"Kok jahat si?"


"Hmm, Wanita itu sudah menjual Nayla ke kak Pandu, dan sakarang, demi uang dia kembali menjual Nayla ke orang lain, jelas kak Pandu marah"


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


"Aku minta Haikal buat nyari dia di sini, menurutku emang sikapnya sudah sangat keterlaluan, kalau aku di posisi kak Pandu, aku bukan hanya mencarinya, tapi mungkin membunuhnya"


"Kok dia malah ke sini si Vin, kamu kenal dengannya?"


"Aku juga pernah membayarnya untuk mencari Nayla"


"Untuk apa?"


Alih-alih menjawab, Alvin malah memunguti pakaiannya lalu melangkah menuju kamar mandi.


Bersambung..


Adakah yang masih menunggu kisahnya???

__ADS_1


Masih belum tuntas episodenya... kalau masih ada yang menantikan, ntar di lanjut, kalau nggak ada ya sudah hahaha, kita selesai 😄


__ADS_2