
Ketika Delita sampai, Alvin sudah lebih dulu sampai di rumah usai bekerja. Dan saat ini, pria itu sedang memasak untuk makan malam dirinya dan sang istri.
"Dari mana kamu?" Tanya Alvin tanpa mengalihkan fokusnya dari teflon di atas kompor. Dia tahu jika Delitalah yang datang dari arah pintu
"Maaf, aku dari rumah kak Pandu" jawab Delita seraya menutup pintu. Pintu utama dengan dapur memang sangat dekat. Begitu masuk, hanya menoleh ke arah kanan area dapur yang menyatu dengan ruang makan sudah langsung terlihat. Sementara ruang tamu, ada di sisi kiri dapur.
"Untuk apa kamu datang ke rumahnya?"
"Aku hanya membahas soal papah dengan kak Pandu"
"Mandi, setelah itu makan" Nadanya terdengar sangat dingin, membuat Delita berdecak dalam hati.
Tanpa meresponnya, dia langsung berjalan menuju kamar sembari menarik napas panjang, mulutnyapun tak berhenti menggerutu dengan tidak jelas.
"Dasar boneka salju jelmaan es kutub, kapan cairnya coba?"
"Kamu bilang apa Delita?"
Delita tercenung begitu mendengar pertanyaan Alvin, ia tak menyangka jika Alvin mendengarkan gerutuannya. Dia berbalik kemudian persekian detik menelan ludahnya.
"Kamu mengataiku es kutub?" tanya Alvin seraya mendekatinya lengkap dengan tatapan tajam. Ada celemek menempel di tubuh bagian depan, sementara tangannya masih memegang sutil.
"B-bukan begitu"
"Kamu bukan hidup dengan loi yan ka Delita" ucap Alvin datar. "Telingaku masih berfungsi dengan sangat baik, jadi hati-hatilah dalam berucap"
Hening Delita mencoba menyusun kalimat untuk menyanggah ucapan suaminya.
"Kalau aku jelmaan es kutub, lalu kamu apa?" tanyanya. "Tudung es kutub? Coba pastikan kamu sadar dengan dirimu sendiri sebelum mengatai orang lain"
Alvin berbalik kemudian melangkah menuju dapur, sementara Delita masih tak bergeming di tempatnya berdiri. Tanpa sepengetahuan Delita, Alvin tersenyum miring seakan mengejek.
*****
Usai makan malam, Delita yang langsung masuk ke kamar tanpa sepatah kata, membuat Alvin menaikan satu alisnya. Ia heran dengan sikap Delita yang biasanya dia akan mencuci semua piring bekas mereka makan. Tapi kali ini, benar-benar seperti tak peduli dan terkesan mengabaikan.
Duduk di atas ranjang, sebenarnya pikiran Delita di penuhi dengan bayangan sang papah yang sampai saat ini tidak di ketahui dimana pria paruh baya itu tinggal.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Alvin tiba-tiba. Dia berjalan ke arah kursi rias lalu mendudukan dirinya di sana.
Ekor mata Delita mengikuti kemana Alvin melangkah.
"Apa kamu sedang memikirkan tentang perceraian kita?"
"Kamu selalu membicarakan soal perceraian, tapi yang kamu lakukan justru belum cukup jelas"
"Apa maksudmu Delita?"
Tersenyum miring, sebelum kemudian berucap. "ada hal-hal yang perlu di perjelas dengan kata-kata bukan hanya sekedar tindakan" jawab Delita berusaha mengeluarkan apa yang ada di dalam hati. "Begitupun sebaliknya, ada hal yang harus di perjelas dengan tindakan bukan hanya sekedar kata-kata"
"Jadi maksudmu aku hanya mengatakan perpisahan, tapi tak ada tindakan dariku, misalnya mendaftarkan dokumen perpisahan kita, begitu?"
"Memangnya ada maksud lain dariku selain itu?"
__ADS_1
"Huuftt..." tahu-tahu Alvin mendengkus pelan. "Kenapa perempuan suka sekali membuat para pria kebingungan" lanjut Alvin bergumam.
Delita tak menyahut, yang ia lakukan hanya diam sambil membalas sorot matanya.
"Sebelum menuntutku mendaftarkan perceraian kita ke pengadilan, pastikan kamu juga mengatakan apa yang ada dalam hatimu. Dengan begitu, aku rasa cukup adil, bukan hanya untukmu, tapi juga untukku"
Tak ingin lagi berdebat, Delita berusaha menyudahi obrolannya, dia tahu bahwa tak akan mudah mendebat seorang Alvin. Meskipun dia sendiri tahu Alvin mencintainya, tapi mendadak dia ingin mendengar kalimatnya yang sudah dua minggu ini tidak Alvin katakan.
Aku tidak akan pernah menceraikanmu.
Kalimat sederhana yang membuat Delita cukup tersiksa sebab tak lagi di dengar olehnya.
Delita bangkit, hendak melangkah menuju kamar mandi. Namun saat melewati meja rias, tiba-tiba Alvin sudah berdiri dan satu tangannya melingkar di pingggang Delita lalu menariknya hingga tubuh mereka begitu dekat.
"Sebelum menyuruhku ambil tindakan" bisiknya di telinga Delita. "Biarkan aku mendengarmu bicara, terutama tentang perasaanmu"
Tubuh Delita sedikit beringsut ketika wajah Alvin menempel di sisi kepalanya.
"Sebelum aku mendaftarkan perceraian kita" Alvin kembali berbisik. "Biarkan aku mendengar ungkapan hatimu lebih dulu"
Mereka saling pandang, wajahnya yang ternyata sangat dekat, membuat jantung Delita berpacu sangat kencang.
"Dari caramu menatapku, aku sangat tahu seperti apa perasaanmu, hanya saja aku ingin mendengarnya langsung darimu"
Delita meneguk ludahnya dengan susah payah, sadar bahwa dia berada dalam kendalinya.
"P-perasaanku? a-apa maksudmu Alvin?" lirih Delita takut-takut seraya membalas tatapannya.
Delita bergerak pelan, berusaha melepaskan diri namun tak berhasil.
"B-bisa kita bicara baik-baik?" tanya Delita terbata.
"Memangnya kita bicara sambil adu tinju?"
Delita menggeleng.
"Maksudku duduk"
"Oke, baiklah" sahut Alvin seraya mengangkat tubuh Delita lalu membawanya duduk di sofa.
Delita berusaha turun, tapi Alvin menahannya cukup kuat.
"Apa ada lagi yang mau di komplain?" tanya Alvin dengan gestur santai. Ketika Delita terus bergerak gelisah. Kedua tangan Alvin melingkar di pinggang Delita.
Seumur hidup, Delita baru merasakan duduk dengan posisi seperti ini.
berada di atas pangkuannya, dan menghadap ke dirinya, dengan kedua kaki terlipat ke belakang sementara kedua lutut menyentuh sandaran sofa.
Alvin seperti tengah memangku anak berusia lima tahun.
"Kamu minta kita bicara sambil duduk, aku turuti, sekarang sudah duduk kan, jadi ayo katakan perasaanmu padaku dan harus jujur" ucap Alvin penuh penekanan. "Setelah kamu mengatakannya, dari situ aku akan ambil kesimpulan dan langsung akan mengambil tindakan. Supaya kamu tidak terus menyindirku"
"T-tapi bukan duduk seperti ini yang ku maksud" lirih Delita sambil menunduk. Sebab wajah mereka berhadapan sangat dekat.
__ADS_1
Selang dua detik, tangan kanan Alvin bergerak mengangkat dagunya, dan mau tidak mau Delita harus menatap wajahnya yang kian tak berjarak.
"Aku sangat mencintaimu Delita, perasaanku masih sama seperti di awal kita menikah, tapi kali ini, aku tidak mau mengekangmu ataupun memaksamu untuk terus bersamaku. Jadi jika memang perceraian itu baik buatmu, akan aku lakukan"
Pengakuan Alvin membuat Delita tercenung, sekaligus merasa kikuk serta takut. Takut jika Alvin benar-benar menceraikannya, karena saat ini Delita sadar bahwa dia mencintainya.
"Aku_"
Alvin sedikit mendongak menatap Delita yang masih berada di atas pangkuannya.
"I-itu_" Delita di buat tergagap. Sama sekali tak menyangka dengan sorotan matanya yang seolah terus meminta penjelasan tentang perasaannya.
"K-kamu mau apa?" tanya Delita panik ketika Alvin tiba-tiba menggendong dan membawanya keluar kamar menuju kamarnya. Kamar yang lebih besar dan lebih mewah dari kamar yang di tempati Delita.
"Kita bicara di kamarku"
"B-bicara, di kamarmu?"
"Iya, sekalian memperjelas rasa cintaku dengan tindakan seperti yang selalu kamu katakan"
"T-tapi" Kalimat Delita terhenti karena tahu-tahu punggung Delita sudah mendarat di kasur empuk milik Alvin. Mata Delita langsung menatap langit-langit kamar dengan hiasan plafon yang unik nan megah.
"Selain dengan kata-kata, kita harus memperjelas dengan tindakan bukan?" Timpal Alvin kalem. Dan langsung menempelkan bibirnya di bibir Delita singkat.
"Aku mencintaimu, dan supaya lebih jelas, akan aku tunjukan dengan tindakan bahwa aku benar-benar mencintaimu" Alvin berkata sangat pelan, tapi bahasa tubuhnya mampu mengacaukan isi kepala Delita.
Alvin yang berada di atas tubuh Delita, dan ketika tubuh bagian atas semakin merendah, wajah mereka kian terkikis membuat jantung keduanya kian meliar.
"K-kamu mau ap..."
Kalimat Delita terpotong karena tahu-tahu Alvin mengecup lehernya.
Tunggu,,
Bukan sekedar mengecup, tapi sekaligus menggigitnya pelan dan lalu menyesapnya sangat kuat. Membuat Delita semakin melemah sebab sentuhannya benar-benar menghanyutkan seperti membawa aliran listrik dengan tegangan yang sangat tinggi. Darahnya seketika beku dengan cumbuan yang semakin intens. Apalagi tangannya dengan lincah melepas satu persatu kancing piyama milik gadis di bawah kungkungannya.
"Jangan sekarang" ucap Delita ketika seluruh kancing sudah terbuka dan terlihat jelas pakaian dalamnya menutupi dua bulatan di dadanya.
"Kenapa?" tanya Alvin seraya menautkan kedua alisnya.
"Aku belum siap"
Usai mendengar tiga kata itu, Alvin merebahkan diri di samping Delita. Rahangnya mengatup keras seperti menahan sesuatu. Bukan menahan sebenarnya, tapi berusaha menormalkan sesuatu yang menegang di bawah sana.
Alih-alih melepas Delita, dia justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Tidurlah" bisik Alvin dengan suara parau.
Di ranjangnya, dan dalam pelukannya, Delita berusaha keras memejamkan mata. Begitu juga dengan Alvin.
TBC
Loi yan ka : orang tua (Kakek-kakek/ Nenek-nenek)
__ADS_1