
Alvin menetapkan netranya pada sosok wanita di sampingnya yang masih terlelap begitu damai. Ini pertama kalinya pria itu menatap lekat-lekat wajah sang istri dengan raut yang begitu tenang.
Satu tangan Alvin menopang sisi kepalanya, sementara tangan lainnya diam-diam bergerak nakal membuka kembali kancing piyama Delita. Gadis itu masih belum sadar dengan kelakuan sang suami yang memang dengan sangat hati-hati melakukannya. Ketika kancing itu sudah terbuka semuanya, dia menatap dua buah dada yang terlihat begitu kencang. Tertutup kain bra berwarna hitam tampak sangat sensual dan seketika membuatnya menelan ludah.
Alvin di buat mengerjap ketika memindai ada sebuah kaitan yang mengunci bra di antara dua buah itu. Ia tidak menyangka sama sekali jika ada bra dengan pengait di depan, setahu dia pengait itu ada di bagian belakang.
Pelan, Alvin mengurai pengaitnya dan persekian detik, kain itu terlepas dari kancingnya, dua benda menonjol di bagian dada tertangkap sangat jelas oleh sepasang matanya. Butiran berwana pink membuat Alvin terus menatapnya dan tak teralihkan barang sebentar. Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tak melakukan apapun. Karena jika itu ia lakukan, maka dia akan kehilangan kesempatan menatap lebih lama pemandangan yang begitu indah di hadapannya saat ini.
Alvin benar-benar terhipnotis oleh atmosfer wanita yang masih betah memejamkan matanya. Aura dan daya tarik yang dimiliki Delita begitu memikat, apalagi kharismanya benar-benar luar biasa. Bahkan ketika pandangannya ia alihkan pada bibir merahnya membuat Alvin tak bisa lagi mengendalikan diri. Dia tidak tahan dan akhirnya mengecupnya singkat.
Tubuh Delita menggeliat ketika Alvin menciumnya, pria itu langsung berpura-pura tidur dengan tangan ia daratkan di atas perut Delita.
"Mati aku" Batin Alvin, dia harus mempertahankan matanya agar terus terpejam tanpa di curigai. "Apa yang Delita pikirkan ketika mengetahui bagian depan tubuhnya tak tertutup kain"
Perlahan, mata Delita terbuka, ia menatap ke samping kanan di mana ada Alvin yang ia kira tengah tertidur pulas.
Lalu pandangannya ia arahkan pada tubuh yang memperlihatkan buah dadanya.
"Oh my God" Desis Delita seraya menutupnya dengan piyama. "Bagaimana bisa, apa Alvin melakukannya?" Delita masih bergumam dengan suara lirih. "Tidak, aku tidak merasakan apapun" Delita kembali mengarahkan pandangannya pada wajah Alvin.
Tanpa sadar bibirnya tersungging, ia tak pernah menyangka, bisa seintim ini dengan Alvin. Meskipun hanya sekedar tidur satu ranjang dan satu selimut, tapi bagi Delita ini sudah sangat intim.
Reflek tangan kiri Delita mengusap lembut pipi Alvin. "Mungkin aku juga mencintaimu, tapi masih ada keraguan sedikit dalam diriku, aku takut jika ku berikan hatiku untukmu, kamu justru akan memecahkannya. Lagi pula" ujar Delita masih menyusuri wajah Alvin dengan jari telunjuknya. "Keberanianku belum terkumpul untuk mengutarakannya" Tambahnya dengan ibu jari kini mengusap lembut bibir tipis Alvin.
Entah dorongan dari mana, Delita justru mengecup bibirnya. Sama dengan Delita, Alvin pun pura-pura menggeliat ketika bibir Delita mendarat begitu kilat di bibirnya. Ia yang hanya berpura-pura tertidur, dengan jelas telinganya menangkap keraguan serta kekhawatiran Delita.
"Kamu sudah bangun?" tanya Alvin dengan mata seolah menyipit.
"A-aku, baru saja bangun" Sahutnya tergagap. "Aku ke toilet dulu"
Menyibakkan selimut yang menutupi bagian kaki, ia bangkit lalu berjalan meninggalkan Alvin yang masih merebahkan diri.
"Katanya mau ke toilet?" tanya Alvin ketika ekor matanya menatap Delita yang justru melangkah ke arah pintu kamar.
"Aku ke toilet di kamarku"
"Kenapa harus ke kamarmu, disini juga ada toilet"
"Pasta gigiku ada di sana"
"Kamu tunggu disini, biar aku ambilkan" kata Alvin yang langsung bangun lalu memakai sandalnya. Dengan cepat ia menarik tangan Delita dan membawanya ke kamar mandi.
"Kamu tunggu disini, aku ambilkan semua perlengkapan mandi di kamarmu"
"T-tapi_"
Ucapan Delita terpotong oleh gerakan tangan Alvin yang menutup pintu kamar mandi. Membuat Delita tak bisa melakukan apapun.
Sementara Alvin, ia langsung pergi ke kamar Delita untuk mengambil perlengkapan mandi sekalian baju ganti.
Sekitar lima menit kemudian, Alvin sudah kembali dengan membawa apa yang Delita butuhkan.
"Del" panggil Alvin seraya mengetuk pintu. "Ini pasta gigi dan sabun cuci mukamu"
Membuka pintu, Delita di buat mematung ketika mendapati Alvin tak hanya membawa perlengkapan mandi, tapi juga bajunya.
Setelan yang menurut Alvin sangat cocok di kenakan oleh Delita. Ia pernah melihatnya memakai setelan itu dan terlihat begitu menawan saat itu.
"Aku lupa membawakan handuk, kamu bisa pakai handukku di dalam lemari situ" ucapnya sambil menunjuk lemari di dalam toilet dengan dagunya.
Bukannya tak mau merespon ucapan Alvin, hatinya cukup berbunga-bunga mendapat perlakuan manis darinya. Otak dan bibir Delita seolah tak bisa bekerja sama dengan baik.
"Kamu mandilah, aku siapkan sarapan. Bajunya aku taruh di atas ranjang" tambahnya kikuk. Sementara Delita hanya mengangguk.
Pria itu menatap pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup sangat rapat.
"Kamu meragukanku, dan aku akan menghilangkan keraguanmu, kali ini aku harus merubah lagi rencanaku. Akan aku tumpahkan semua perhatianku padamu, akupun bersedia melayanimu mulai sekarang" Setelah mengucapkan itu dengan suara rendahnya, Alvin segera menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan.
*****
Pandu menutup pintu ruangan kantor, lalu berjalan ke arah kursi kebesarannya.
Pagi ini merupakan pagi yang indah, sebab setelah dua minggu dia tidur tanpa di temani sang istri, tadi pagi begitu membuka mata, wajah wanitanyalah yang ia tatap, membuatnya terus mengulas senyum sepanjang perjalanan dari rumah menuju kantor.
Bahkan saat memasuki lobi, ia tersenyum ramah menyapa para karyawannya. Sesuatu yang jarang Pandu lakukan.
Duduk di depan komputer, ia mulai menekan tombol power pada CPU di bawah meja.
Begitu monitor menampilakan jendela windows Xp, Pandu mengganti IP Address, lalu mengetikan kode untuk membuka situs web miliknya. Ia menerima beberapa pesan dari klien.
__ADS_1
Tersenyum, tangannya bergerak membalas pesan satu persatu.
Terlalu fokus dengan pekerjaannya, tahu-tahu jam di dinding sudah menunjukan pukul dua belas lebih lima belas menit. Tepat ketika ia mematikan komputer, bersamaan itu pintu di ketuk dari luar.
"Masuk" kata Pandu tanpa menatap ke arah pintu.
"Sayang" lanjut Pandu ketika mengetahui bahwa yang datang adalah Nayla.
Pria itu langsung berdiri kemudian menghampiri sang istri yang sedang menutup pintu. Lalu meletakkan barang bawaannya di meja sofa.
Semakin dekat, jarak mereka kian terkikis, tangan Pandu menyelipkan surai panjang wanita di hadapannya, tangan kiri Pandu melingkar di pinggul Nayla. Ia menatap intens istrinya yang semakin cantik bahkan setelah melahirkan putranya.
"Your eyes" bisik Pandu sambil membelai pipinya lembut. "Your skin" lanjutnya yang ia bisikan di telinga Nayla. "And all about you, makes me smile like crazy"
"Tidak usah merayu, katakan apa yang mas inginkan?" tanya Nayla seraya melingkarkan lengan di pinggang Pandu.
"Aku tidak merayumu, aku mengatakan apa yang aku rasakan sepanjang hari ini"
"Lalu?"
"Aku mencintaimu" Lirih Pandu lalu mengecup bibir Nayla dan sedikit memberikan lum@tan lembut.
Sama halnya Pandu, Nayla pun tak memungkiri jika suaminya sangat ahli dalam berciuman, hingga membuat dirinya seolah kehilangan akal sehatnya.
Pandu menekan tengkuk Nayla untuk memperdalam pagu£annya, tangan yang lain menekan bagian punggung Nayla begitu kuat. Sementara Nayla pun tak mau kalah dan justru semakin panas.
"Kalian pulang saja deh" kata Clara yang tiba-tiba membuka pintu ruangan Pandu tanpa mengetuk, membuat mereka terpaksa mengurai bibirnya yang saling bertaut.
"Kalian bisa lanjutkan dirumah" tambah Clara masih dengan menutupi wajahnya menggunakan map berisi dokumen.
Nayla tak berani menatap Clara, lalu tangannya mencubit pinggang Pandu sesaat setelah pria itu menggerutu.
"Seharusnya ketuk pintu sebelum masuk"
"Ini kan jamnya istirahat kak"
"Cepat katakan ada perlu apa?"
"Aku lupa, aku keluar dulu saja deh. Maaf sudah mengganggu" ujar Clara tanpa dosa.
Tubuh Nayla yang sempat menjauh satu langkah, di tarik kembali oleh tangan Pandu yang masih menempel di pinggangnya begitu Clara keluar dan menutup pintunya kembali.
"Kita lanjutkan"
"No" tolak Nayla dengan jari telunjuk ia daratkan di bibir suaminya.
"Sekali saja"
"Alih-alih merespon, Nayla justru langsung menyatukan kembali bibir mereka, hangat, lembut dan dalam"
"I will give you, everythink" pungkas Pandu ketika melepas ciumannya.
"Really?"
"Yes"
"Aku ingin pulang ke Jogja untuk menengok papa dan mama"
"No, kota itu membuatku mengingat hal buruk tentang penderitaanku ketika ayah meninggalkanku"
"Mas pikir aku tidak memiliki kenangan buruk di kota itu? bahkan berkali-kali aku merasakan penderitaan disana, mulai dari sakitnya mama, betapa tulusnya papa dengan setia merawat mama yang sakit, itu sangat membuatku menderita. Aku bahkan menginginkan suami seperti papa dan sekarang aku mendapatkannya"
"Apa lagi yang membuatmu menderita?" tanya Pandu mengernyit.
"Ketika mas berpamitan lalu meninggalkanku, itu juga membuatku menderita, kehilangan sosok pria yang begitu aku kagumi"
"Lalu?"
"Kabar jatuhnya pesawat yang papa dan mama tumpangi, setelah itu, mendapat perlakuan kejam dari tante dan saudaraku Laura"
"Jadi aku tidak akan membiarkanmu mengingat penderitaanmu Nay, aku tidak akan membawamu ke kota itu" potong Pandu cepat.
"Tapi papa mamaku di sana, please ijinkan aku menengoknya setidaknya satu kali dalam setahun"
Mendengkus pelan, Pandupun akhirnya mengalah. "Oke empat puluh hari setelah kamu melahirkan, aku akan membawamu terbang ke sana"
"Sungguh?"
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, kamu tahu itu kan?"
__ADS_1
"To ce" ucap Nayla lalu mengecup bibir Pandu kilat. "Sudah dua minggu berlalu setelah aku melahirkan, itu artinya tersisa kurang lebih empat minggu"
"Jangan di hitung, nanti jatuhnya lama" kata Pandu seraya berjalan ke arah sofa.
"Itu artinya bulan depan kan sayang?" timpal Nayla.
"Hmmm"
Usai mendapat responnya, Nayla begitu semangat melayani sang suami menikmati makan siang hasil olahannya.
"Aku pulang" kata Nayla sambil membereskan kotak makanan. "Tapi akan mampir dulu ke ruangan Alvin"
Mendengar ucapan Nayla seketika mata Pandu memicing. "Mau ngapain?"
"Hanya menanyakan soal Delita"
"Tapi jika dia macam-macam, kamu langsung keluar dari ruangannya. Hou mou!"
"Dia sudah berubah, kenapa mas belum juga percaya"
"Karena dia masih bersikap dingin padaku"
"Dasar otak jahanam" seloroh Nayla tanpa rasa takut sedikitpun. "Dia hanya bersikap dingin, tidak benar-benar memusuhi mas kan?"
"Tapi aku tidak suka"
"Lihat diri mas sendiri, memangnya mas tidak sedingin itu? bahkan sampai keluar taringnya jika aku tak menurutimu, pria pemaksa"
Pandu hanya tersenyum geli merespon ucapan Nayla yang mengatainya otak jahanam, keluar taring, hingga pria pemaksa.
"Aku pulang sekarang" pamit Nayla lalu menghadiahi Pandu dengan kecupan.
"Hati-hati"
Sesuai niatnya, Nayla langsung melangkahkan kaki menuju ruangan Alvin.
Ketika membuka pintu, sepasang mata Nayla menatap Alvin yang tengah melamun sembari tersenyum.
Selain Pandu yang pagi ini bangun dengan raut bahagia, begitu juga dengan Alvin yang tak kalah bahagia karena tidur satu ranjang dengan wanita yang ia cintai begitu tulus. Meskipun bukan pertama kali dia tidur dengan di temani seorang wanita, namun dengan Delita, ia benar-benar merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Alvin" panggil Nayla yang membuat pria itu tersentak.
"K-kak Nayla"
"Maaf aku langsung masuk"
"Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dulu"
"Aku sudah mengetuknya berkali-kali" sergah Nayla tak mau kalah.
"Ada apa?" tanya Alvin tanpa menatap Nayla. Pandangannya jatuh pada berkas di atas meja.
"Ibu ada di rumah, kenapa belum menemuinya?"
"Aku belum ada waktu" jawab Alvin datar.
"Temui dia, dia sangat merindukanmu"
Tangan Alvin yang tadinya bergerak menandai poin yang keliru pada berkasnya dengan pena, langsung berhenti begitu mendengar ucapan Nayla.
"Aku sudah membuat Delita menjadi milikmu, aku juga sudah membuat kakakmu mengembalikan semua asset-asset peninggalan papahmu, tersisa satu janji yang belum aku penuhi, kasih sayang ibu untukmu" kata Nayla tanpa jeda. "Jadi berikan kesempatan untuk ibu memberikan kasih sayangnya padamu"
Bukannya merespon ucapan Nayla tentang ibu mertuanya, Alvin justru mengatakan perihal lain. "Aku belum memiliki Delita sepenuhnya, asal kamu tahu itu, jadi janjimu hanya baru terlaksana satu"
"Itu tugasmu untuk membuat Delita menyerahkan dirinya Alvin"
"Tapi usahaku sia-sia, dan tak ada hasil"
"Itu artinya ada yang salah dalam kamu memperlakukan Delita" Sanggah Nayla dengan tatapan tajam. "Aku beritahu rahasia seorang wanita"
Alvin begitu cermat mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut kakak ipar sambungnya.
"Perlakukan wanita selembut mungkin, layani dia dengan tulus, para wanita sangat membenci jika pasangannya mengabaikannya" lanjut Nayla. Ia mengatakan sesuai dengan apa yang dia rasakan. Faktanya, Nayla menyerah dengan sikap sang suami yang begitu istimewa memperlakukan dirinya.
"Perlakukan Delita dengan istimewa, dengan begitu dia akan luluh"
Hening, tak ada respon dari Alvin karena dia sedang membenarkan ucapan Nayla.
"Temui ibu jika ada waktu" kata Nayla sebelum kemudian keluar dari ruangan Alvin. "Kalau tidak aku akan membunuhmu" imbuhnya sebelum menutup pintu.
__ADS_1
TBC...
2000 kata jangan bilang dikit 😂😂😂