
Duduk bersandar di sebuah sofa, Pandu mengerjakan file yang bisa di kerjakan melalui ponselnya sembari menunggu Delita keluar.
Posisinya yang berada di lobi hotel, membuat para karyawan tertunduk memberi hormat saat melewatinya, hanya karyawan yang tahu posisi Pandu disini. Namun, bagi karyawan yang tidak tahu, mereka akan mengabaikan keberadaan Pandu.
"Selamat malam kak?" sapa Delita lengkap dengan seulas senyum.
Wanita itu, terlihat sangat imut, dengan coach yang melekat menutupi tubuhnya, serta Shal yang melingkar di leher.
"Malam" jawab Pandu, ia menoleh sekilas, lalu kembali menatap ponselnya hendak menyimpan file yang tadi ia kerjakan. "Sudah pulang?" tanya Pandu lembut.
"Sudah"
"Kalau begitu kita langsung ke restauran"
Tanpa Delita duga, tangan Pandu menggandeng tangannya, dan seketika fokusnya beralih pada tangannya yang menyatu dengan tangan pria pujaannya.
"Tanganmu sangat dingin, apa kamu tidak cukup baju?" tanya Pandu tanpa menatap Delita.
"I-iya udara malam ini sangat dingin" jawab Delita sekenanya, padahal dingin tangannya, sebab ia merasa gerogi atas tindakan Pandu yang tiba-tiba.
"Besok-besok pakai baju yang lebih tebal lagi, cuaca memang sangat dingin akhir-akhir ini"
"Iya" jawabnya sambil terus berjalan mengikuti langkah Pandu.
Mereka akan pergi makan malam di dalam Royal Hotel miliknya. Hanya perlu berjalan kaki kurang lebih sepuluh menit, mereka akan sampai.
Duduk bersebrangan yang di batasi sebuah meja, wajah Delita memerah sebab tatapan Pandu benar-benar membuatnya salah tingkah.
"Mau makan apa?" nadanya terdengar seperti sedang menawarkan kepada anak kecil.
"Terserah kakak"
Beberapa menu sudah di pilih oleh Pandu, selagi mereka menunggu pesanan datang, Pandu menanyakan beberapa hal pada Delita tentang orang tuanya.
Menghirup napas panjang, kemudian mengeluarkan perlahan. "Apa orang tuamu masih ada?"
"Masih" jawab delita malu-malu.
"Mereka tinggal bersamamu?" Pandu bertanya dengan sorot penuh menyelidik.
"Tidak, aku tinggal di dekat tempat kerjaku, dan kalau malam minggu aku baru pulang ke rumah papah"
"Timkei?" tanya Pandu dengan mengangkat satu alisnya.
"Rumah papah jauh dari tempat kerjaku, dan aku suka bangun telat, jadi dari pada terlambat bekerja, aku memilih tinggal di sekitar tempat kerjaku"
Pandu tersenyum dan menganggukkan kepala. "Besok aku akan mengantarmu pulang ke rumah orang tuamu" ucapan Pandu membuat Delita menatap wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Pandu ketika menyadari sorot terkejut milik Delita.
"Tidak, aku hanya terkejut saja"
"Apa tidak mau ku antar pulang kerumah orang tuamu?"
"B-bukan, bukan begitu kak"
"Lalu?"
"Aku hanya tidak menyangkanya"
"Apa yang membuatmu tidak menyangka?, di dunia ini begitu banyak kemungkinnan" Ucap Pandu dengan tatapan terus menatap Delita, setelahnya ia membatin. "Termasuk aku yang bertemu dengan kamu, anak dari ayahku"
Selang beberapa menit pesanan mereka telah siap di atas meja, mereka menikmatinya sembari mengobrol tentang banyak hal, termasuk kondisi Hermawan yang memimpin sebuah perusahaan milik Istri ke duanya.
"Papahmu punya perusahaan, tapi kenapa kamu memilih bekerja di hotel?"
"Saudara kembarku yang mengelolanya, aku tidak sependapat dengan kakaku itu, jadi aku memilih mundur dari perusahaan papah"
"Saudara kembar?"
"Iya aku punya kembaran laki-laki"
"Adiku bertambah satu lagi" Batin Pandu menggembungkan mulutnya.
Hampir satu jam mereka melewati makan malam, Pandu akan mengantar pulang Delita sebelum kemudian berencana menemui Rondy di apartemennya.
"Itu karena Alvin ingin sekali menemukan Nayla, dia menggunakan tante dan sepupunya untuk menarik perhatian Nay"
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Beritahu Nayla supaya memutus semua kontak tante dan sepupunya, non aktifkan akun facebooknya, bila perlu, tidak usah memegang ponsel"
"Jika tidak memegang ponsel, bagaimana aku menghubunginya"
"Kamu hubungi telpon rumah me tak loh?" sahut Rondy.
"Tapi tidak ada sesuatu yang bisa Nay lakukan kecuali dengan ponselnya, selain itu" ujar Pandu lalu meneguk wine untuk menghangatkan badannya. "Dia pasti akan lebih curiga, apalagi kondisinya saat ini sedang hamil, perasaannya sangat tajam"
"Kalau ingin Nayla aman, suruh jangan aktifkan ponsel sama sekali, apalagi jika akun Facebooknya masih aktif" ujar Rondy memperingatkan Pandu. "Tidak hanya Alvin,
media juga masih penasaran dan ingin tahu sosok Nayla"
"Aku akan coba bicara dengannya nanti"
"Aku harus secepatnya mengalihkan perhatian Alvin dari Nayla, aku akan menggandeng Delita yang sepertinya menyukaiku"
__ADS_1
*****
Sesuai rencana Pandu, dia akan mengantar Delita untuk pulang ke rumah orang tuanya, itu artinya, sebentar lagi Pandu akan bertemu dengan Hermawan ayah kandungnya.
Saat ini, Pandu tengah menunggu Delita di tempat parkir di hotel miliknya. Sembari menunggu, Pandu menyalakan sebatang rokok, untuk melawan hawa dingin di malam hari saat di luar gedung.
Sosok Pandu yang tengah menyesap sebatang rokok, tak pernah lepas dari pandangan media. Karena beberapa hari lalu, salah satu paparazi menjumpai Pandu berjalan bergandengan tangan dengan seorang gadis.
Sementara Delita, tahunya bahwa pemilik hotel tempat dia bekerja adalah ayahnya Alvin. Namun ia tidak tahu bahwa saat ini hotel itu di kendalikan oleh Pandu.
Sebelumnya, Delita sudah memberitahu orang tuanya bahwa malam ini dia akan di antar pulang oleh seorang pria. Delita menyebutnya dengan lam bhangyao, meskipun Pandu belum menyatakan cintanya, tapi dia sudah berani menyebut sebagai kekasihnya pada sang mama.
"Kak, maaf lama" kata Delita tiba-tiba dari arah punggung Pandu, Sepersekian detik Pandu langsung membalikan badan, lalu terpaksa mematikan rokok yang masih setengahnya.
Baru saja hendak menjawab perkataan Delita, tiba-tiba beberapa media menghampirinya.
"Maaf pak Pandu, kalau boleh tahu, siapa perempuan ini?" tanyanya.
Kesempatan emas bagi Pandu untuk mengenalkan Delita pada media.
"Ini kekasihku" jawab Pandu seraya meraih pergelangan tangan Delita, lalu berjalan menuju mobilnya.
"Lalu bagaimana dengan istri anda Nayla" Para media mengikuti langkah Pandu.
"Maaf saya tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan itu"
Disisi lain Delita tercenung dengan pertanyaan para wartawan.
"Kak Pandu sudah punya istri?" batinnya sambil terus melangkah.
"Tolong katakan sejak kapan anda berpisah dengan Nayla?"
Pertanyaan itu bersamaan dengan Pandu yang memasuki mobilnya.
"Maaf ya, untuk sementara ini saya belum bisa menjawabnya, lain kali akan saya undang kalian jika aku menikahinya"
Mendengar ucapan Pandu yang ingin menikahinya, jantung Delita mencelos, ia merasa bangga dengan apa yang baru saja Pandu katakan.
"Kita jalan sekarang"
Delita mengangguk seraya memasang seatbelt, dan Pandu mulai memutar roda kemudi, lalu menancapkan kaki pada pedal gas di kaki kanan. Mobil melaju dengan kecepatan stabil meninggalkan teriakan para wartawan.
Setibanya di rumah Hermawan, mereka sudah di sambut oleh kedua orang tua Delita, kedua orang tua Delita menunggu di depan rumah mewah dan besar.
Ini adalah kali kedua Pandu bertemu ayah Kandungnya, fokus Pandu tak teralihkan dari pria paruh baya yang dulu meninggalkannya, senyum bahagia tersungging dari sudut bibirnya. Seolah mereka adalah keluarga yang bahagia, dan tanpa cela.
"Ayah, kamu terlihat sangat bahagia, apakah kamu tidak pernah merasa bahwa kamu juga memiliki anak selain kedua anakmu itu?"
__ADS_1
"Sedetikpun, apa kamu tidak pernah mengingatku?"
BERSAMBUNG