
Puas menikmati suasana danau, Pandu membawa Nayla menuju sekolah tempat dulu mereka selalu bertemu, berlari dan bermain bersama. Puluhan tahun yang lalu, tempat ini adalah tempat untuk belajar anak-anak usia dini, namun sekarang suasananya sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
Tempat yang tadinya di gunakan untuk menempuh pendidikan taman kanak-kanak, kini menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda, orang tua dan anak kecil mulai dari balita hingga dewasa.
Ada taman bermain khusus untuk anak-anak, lapangan olahraga yang tidak terlalu luas, area bebas untuk merokok, ada juga beberapa stand foodcourt di samping kanan taman.
Salah satunya ada stand yang khusus menjual ice cream, bukan hanya stand, tapi sudah seperti kedai, dimana ada beberapa ice cream dari luar negri yang di sediakan di kedai ini.
Nayla dan Pandu duduk di ayunan sembari menikmati udara yang sedikit panas namun sejuk karena semilir angin yang tertiup siang ini.
Dejavu, ada begitu banyak hal tentang masa kecil yang mereka bicarakan, sesekali pembicaraan itu mengundang gelak tawa di antara keduanya.
"Kenapa dulu mas tiap hari temani aku? memangnya mas tidak pergi ke sekolah?"
"Kamu dulu sekolahnya full day school, sampai jam tiga kan? sementara aku pulang sekolah sekitar jam satu" ungkap Pandu dengan tatapan terus tertuju pada wajah sang istri. "Dulu sepulang sekolah, setelah makan siang, aku kesini karena ingin melihat wajahmu"
"Memangnya kenapa dengan wajahku? ada yang salah begitu?"
"Wajah kamu lucu"
"Terus kenapa sampai di bela-belain buat nemeni sampai satu jam?"
"Karena aku kasihan sama kamu, anak kecil main sendirian di sekolah" Kata Pandu tiba-tiba ingatannya menerawang jauh ke beberapa tahun silam. "Aku kira kamu anak yang tidak terurus oleh papa mama"
"Bukannya tidak terurus" sanggah Nayla memotong kalimat Pandu. "Mama sakit, beliau hanya duduk di kursi roda, sementara papa bekerja dari pagi sampai pukul empat sore, jadi aku harus tunggu papa, tapi ada bu guru juga kok ngawasin aku dari dalam ruang guru"
"Dan di situ, aku berjanji akan selalu menjaga dan menemanimu sampai papa jemput"
"Makasih" sahut Nayla sambil mengulas senyum.
"Sampai ketika aku akan pergi, aku merasa sangat frustasi, karena tidak bisa lagi menemanimu. Kemudian aku berjanji akan mencarimu ketika aku punya banyak uang. Dan akhirnya, kita di pertemukan kembali, meskipun dengan cara tawar menawar"
Raut Nayla tampak sendu, ia merasa sedih teringat perlakuan Nancy selama bertahun-tahun. Sejak usianya baru sembilan tahun, ia harus mencari uang sendiri untuk biaya sekolahnya. Sampai ketika lulus SMA, dan bekerja di sebuah restauran china yang katanya pemiliknya adalah orang Beijing, sang tante jstru merampas uang hasil kerja kerasnya. Tidak hanya gajinya, harta warisan dari mendiang orang tuanya pun habis untuk bersenang-senang dirinya dan anaknya. Bahkan, dia menjual Nayla dengan harga tinggi kepada pria yang saat ini sudah menjadi suaminya.
Seolah tak puas sampai di situ, Nancy memanfaatkan cinta seorang anak dari konglomerat terkaya di Jogja, wanita itu bahkan hendak menjual Nayla pada mereka. Padahal Nancy tahu jika Nayla sudah menikah dengan Pandu.
"Nay?"
"Hemm" mata Nayla melirik ke arah suaminya.
"Mikir apa?"
"Tidak ada"
"Kamu teringat tentang perlakuan buruk tantemu yang kurang ajar itu?"
"Tidak" elaknya cepat.
"Sama" kata Pandu membuat dahi Nayla mengkerut keheranan. Seakan pria itu tahu apa yang terekam di ingatan istrinya, dan saat ini istrinya sedang mengingat kenangan pahit itu. "Berada di sini, aku pun teringat dengan ayah yang pernah meninggalkanku tanpa mempedulikan tangisanku dan ibu"
"Tapi mas beruntung, sekarang sudah bertemu ayah dengan kondisi yang berbeda, keadaan yang menyayangi satu sama lain, sedangkan aku, tante Nancy justru membuatku merasa tercubit dengan niatnya yang kembali akan menjualku pada den Aji. Bisa dikatakan begitu kan sayang, karena dia sudah menerima uang banyak dari mereka"
"Hmm" respon Pandu seraya mengangguk.
__ADS_1
Entah seperti apa den Aji, Nayla tak tahu bagaimana wajahnya.
"Maka dari itu aku berniat mendapatkan imbalan itu, biar tante tak tahu diri itu mendapatkan ganjarannya"
"Apa mas serius mencari tante Nancy, mas tidak tahu dimana dia berada, pasti akan sulit"
"Tidak akan ada yang sulit untuk seorang Pandu, aku berharap Alvin masih menyimpan kontaknya, dan sepertinya, kamu juga harus membuka blokiranmu di laman facebook"
"Blokiran?"
"Iya, buka blokir akun milik Laura, aku akan jebak mereka setelah itu akan serahkan pada den Aji"
Ternyata pria ini sangat cerdas
"Mas tidak bercanda kan?"
"Tentu saja tidak Naya"
Sedikit cemas, Nayla sebenarnya tidak ingin sang tante di serahkan pada mereka, tapi melihat bagaimana sang suami begitu marah dengan kelakuannya, rasanya sia-sia bujukan Nayla supaya tidak ikut campur dalam urusan Nancy dan si konglomerat itu"
Hufftt... semoga saja mas Pandu tidak berhasil menemukan tante Nancy, meskipun dia sangat jahat padaku, tetap saja hatiku teriris jika adik dari papa itu menderita, Mereka saudara sedarah satu-satunya yang ku miliki di dunia ini.
"Nay"
"Iya"
"Kita ke sana" Pandu menunjuk ke arah kiri dengan tangannya.
Persekian detik Nayla menoleh mengikuti kemana arah tangan Pandu jatuh. Sebuah kedai ice cream dengan aneka ragam rasa dari belahan dunia. Setidaknya itu tulisan yang Nayla tangkap dari spanduk yang terpampang di depan kedai itu.
"Mas mau ice cream?"
"Ayo, aku akan mentlaktirmu" Pria itu berdiri lalu segera menggandeng tangan Nayla, sekian detik kemudian melangkah menuju deretan stand yang menjual berbagai makanan siap saji.
Mereka memesan dua ice cream stik, lalu menikmatinya di dalam kedai
"Jadi ingat papa kalau makan ice cream begini" ujar Nayla sembari terus menyesap ice cream di tangannya.
"Kamu tahu kalau di sana" Pandu menunjuk pojok kiri atas dengan jari telunjuknya. "Ada papa dan mama sedang tersenyum bahagia sambil menatap kita, sepertinya mereka juga ingin makan ice cream dengan kita"
Begitu mendengar ucapan Pandu, Nayla segera memalingkan wajah lalu mendongakkan kepala.
"Ngaco" cicitnya ketika kembali menatap sang suami, Nayla tahu kalau Pandu tengah mengerjainya, tapi tetap saja dia terpancing untuk menengok ke arah yang di tunjuk oleh suaminya.
Pria itu dengan santainya tersenyum, sangat mudah baginya mengerjai ataupun meledek sang istri.
"Kamu itu seperti anak-anak sayang, mudah di tipu"
Nayla langsung melempar tatapan tajam, dan tatapannya justru membuat senyum Pandu semakin lebar.
"Aku mau ice creammu, boleh aku mencobanya?" tanya Nayla di sela-sela senyuman Pandu yang masih terukir di bibirnya.
"Maaf tidak bisa sayang, ini rasa kesukaanku, kalau kamu mau, kamu pesan lagi saja yang sepertiku"
__ADS_1
"Aku mau punyamu"
"Hais Nayla, kamu sungguh kekanak-kanakkan"
"Dan mas tahu apa yang di lakukan oleh anak-anak ketika tidak di kasih apa yang mereka minta?"
"Apa" tanyanya dengan alis terangkat satu.
"Dia akan merebutnya"
Nayla seketika mengulurkan tangan hendak merebut ice cream dari tangan Pandu, namun dengan gesit, pria itu segera menjauhkan ice creamnya dari jangkauan tangan Nayla"
"Jangan Nay, ini sangat enak"
"Berikan padaku"
"Tidak"
"Ayolah mas, biarkan aku mencicipinya"
Pelp
Ice cream yang menjadi rebutan itu meleleh, lalu menetes mengotori kaos putih milik Pandu.
Dengan gerak cepat Pandu mendekatkan ice cream ke mulutnya, namun Nayla tak kalah tangkas, dengan gerak cepat wanita itu mendekatkan bibirnya ke bibir Pandu.
Cup...
secara reflek bibir mereka saling menempel, tanpa ragu Nayla menyesap rasa strowberry yang masih tersisa di sana.
Dia tak sadar jika kelakuannya tak lepas dari pengunjung lain yang juga sedang menikmati ice cream.
Ada beberapa orang yang memvideo aksi sepasang suami istri itu. Adegan yang menurut mereka sangat romantis, bahkan ulasan senyum di bibir para pengunjung tak kunjung pudar dan malah semakin lebar.
"Nay, banyak orang di sini" kata Pandu lirih.
Matanya melirik mengedarkan pandangan ke seluruh titik. Wanita yang sempat mengikis jarak wajah mereka, kini kembali menarik diri kemudian menjauh dari suaminya.
Kedua pipi Nayla memerah menahan malu. Melihat ekspresi sang istri yang tersipu, tangan Pandu terulur lalu melingkari sisi pinggangnya, detik berikutnya menarik sampai tubuh Nayla bergeser lebih dekat padanya.
"Jangan jauh-jauh duduknya"
Reflek Nayla mencubit lengan Pandu yang melingkar di pinggangnya.
"Awww, ternyata kamu suka sekali melakukan KDRT" ledek Pandu..
"Mass!!"
"Kamu harus tanggung jawab dengan kaosku yang terkena noda ice cream"
Tatapan Nayla menajam dengan sudut bibir terangkat.
Hanya senyuman yang Pandu berikan untuk merespon ekspresi wanitanya.
__ADS_1
Bersambung