
Delita & Alvin
Visual dariku itu ya, kalau kurang cocok ya kalian ngehalu sendiri wkwkwk... Dan maaf untuk pov, aku ganti-ganti, biar kita bisa seolah menjadi pemeran di dalam cerita yang kita baca. 😀
Pov Delita
Sekarang aku sedang berada di dalam kamarnya, aku baru memasukinya sekitar empat langkah.
Saat aku tengah fokus meneliti setiap sudut kamar, jantungku di buat hampir melompat keluar dari tempatnya ketika tiba-tiba pria itu berdiri di belakangku, sambil membawa koper tambahan yang di kirim oleh Devano berisi perlengkapan kosmetik, tas, sepatu dan peralatan lainnya.
"Kamu kenapa?" tanyanya dingin seraya memutar tubuhku menghadapnya.
Lelaki ini benar-benar tidak ada raut menyenangkan sama sekali.
"Tidak" sanggahku sambil menggeleng. Tentunya dengan nada yang tak kalah dingin. "Itu milikku kan?" lanjutku sambil mengulurkan tangan. Tapi Alvin justru menjauhkan koper itu dari jangkauanku.
"Lihat aku kalau ngomong" ucapnya tenang.
Aku memang tidak menatapnya tadi. Aku hanya mampu menatap dada bidangnya sebab hanya rasa bencilah yang tertanam dalam hatiku
"Lihat aku!" ulangnya sadis.
butuh sekian detik untuk aku melihat wajahnya, tapi netraku hanya mampu menatap dagunya. Aku tidak sudi jika harus mempertemukan netra kami.
"Lihat mataku" Bentaknya yang sepertinya tahu kemana arah pandanganku jatuh.
Aku tidak mau jika harus menuruti perintah Alvin untuk menatap sorot matanya yang tajam. Justru sebaliknya, aku ingin sekali menghindar darinya.
Saat ku sadari kakinya mengambil satu langkah mendekat, reflek kakiku mundur selangkah.
"Katanya tidak kenapa-kenapa, tapi kenapa wajahmu seperti menahan takut?"
Pertanyaannya, membuatku meneguk ludah dengan setengah mati. Ya Tuhan, jika saja sanggup, tanganku ini pasti sudah melayangkan pukulan ke wajahnya, dan kabur dari sini.
"Kenapa?" tanyanya lagi seraya mengambil dua langkah maju, dan langsung ku respon dengan gelengan kepala serta dua langkah mundur.
Dia terus melangkah mendekatiku, dan aku terus melangkah mundur. Langkah kami terhenti ketika punggungku menyentuh pintu lemari. Aku diam dengan detak jantung yang membuatku harus menarik napas dalam-dalam. Pikiranku singgah ke kejadian mencengangkan saat pernikahan paksa itu ku lakukan, dan seketika rasa benciku padanya kian memuncak.
Tanpa sadar tanganku mengepal sangat erat. Ada rasa gelisah sekaligus tidak nyaman atas kondisi kami saat ini.
"Apa kamu benci sama aku Delita?"
Jantungku seperti berhenti berdetak sesaat waktu namaku di sebut, dan tak ada satu katapun yang sanggup keluar dari mulutku karena saking gugupnya.
__ADS_1
"Benci karena aku sudah menggantikan Pandu untuk menikah denganmu?"
Mendengar nama kak Pandu, jelas aku kaget, dan reflek mengangkat kepala. Sedikit mendongak, akhirnya sepasang mata kami bertemu.
Entah kenapa nyeri itu kembali terasa, bahkan kian lebih.
"Sepertinya kamu membenciku bukan karena pernikahan paksa itu" kata Alvin tenang, membuatku mengernyitkan kening. "Karena kalau benar, mana berani kamu melihatku"
"Apa maksud kamu Alvin?"
"Akhirnya aku mendengar suara istriku" Dia mengatakannya dengan pandangan sepenuhnya menyoroti netraku, satu alisnya terangkat, seolah tengah mengejekku.
"Aku yakin kamu masih merasakan sakit karena pernikahanmu gagal, dan yang lebih sakit lagi adalah fakta tentang Pandu"
Perkataan yang sangat mengusikku
"Sudah ngapain saja kamu sama kakakmu sendiri. Apa sudah melakukan kontak fisik?"
"Cukup" potongku dengan nafas tersengal menahan amarah. Jujur saja aku ingin memutus kontak mata kami dan meninggalkannya, tetapi seperti ada yang menahanku dengan sangat kuat.
"Kamu tersinggung dengan pertanyaanku? Aku hanya bertanya loh"
Jantungku kian ribut di dalam sana bukan karena takut, tapi posisi Alvin tahu-tahu sudah merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Hingga aku seperti terhimpit oleh lemari dan dirinya. Bahkan jarak kami kian terkikis, membuatku menahan napas dan tanpa sadar menempatkan kedua tanganku di dadanya, sementara Alvin justru dengan bebas menghembuskan napas, bahkan embusannya terasa hangat menerpa wajahku.
Aku kian mengerutkan kening, saat matanya menatapku dengan sorot terheran. Kemudian hening.
"Apa bibirnya sudah menyentuh bibirmu?" lirihnya seraya membelai lembut rambutku. Alvin semakin mendekatkan wajahnya dan otomatis mataku terpejam.
Aku ingin sekali menamparnya, tapi aku juga tidak berdaya. Dengan posisiku yang seperti ini, membuat ruang geraku begitu minim.
Ting..tong..!
Suara bel dari pintu utama, membuatku membuka mata pelan-pelan, seketika aku sadar jika hidungnya nyaris menyentuh hidungku.
Dia tengah menatapku begitu intens dengan jarak yang begitu rapat. Senyum miringnya terbit, sebelum kemudian meletakan koper yang berada di tangannya ke samping kiriku, lalu berbalik dan keluar kamar tanpa mengatakan apapun.
Sepasang kakiku lemas, dan aku terduduk dengan pikiran kosong.
Aku ingin menangis sekencang-kencangnya, tapi suaraku seperti tertahan karena semua kejadian yang menimpaku begitu menyakiti diriku sendiri.
*****
Kalau ada yang aneh dengan kondisiku saat ini, bukan karena tiba-tiba aku menikah dengannya, tapi karena sikapnya mendadak berubah tidak semenegangkan pembicaraan saat di kamar tadi.
Usai membuka pintu yang ternyata adalah kurir Kfc, dia kembali ke kamar dan melihatku sedang terduduk di lantai dengan deraian air mata, lalu memintaku keluar kamar untuk menyantap makan malam.
__ADS_1
"Apa kamu takut menjadi istriku?" tanya Alvin ketika dia tengah mengunyah makanan di mulutnya.
"Untuk apa aku takut, aku akan mengajukan cerai sebentar lagi"
Ucapanku, membuat Alvin mengerutkan dahi.
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu"
"Tapi maaf, aku tidak bisa hidup dengan pria yang tidak aku cintai"
Prang...
Suara sumpit yang ia jatuhkan di atas mangkok dengan kasar, mengagetkanku dan tubuhku seketika berjengit.
"Meskipun kamu memaksa, aku tidak akan pernah memenuhi permintaanmu itu"
"Aku tidak mencintaimu Alvin, kenapa kamu memaksaku"
"Karena aku sangat mencintaimu" jawab Alvin dengan intonasi tinggi. "Aku tegaskan sekali lagi, aku mencintaimu dan tidak akan pernah berpisah darimu"
"Tapi bagaimana denganku yang tidak mencintaimu?"
"Kamu harus bisa mencintaiku Delita"
Setelah mengucapkan itu, Alvin pergi ke kamarnya, padahal dia baru memakan setengah dari isi piringnya.
Keterlaluan?? Tidak, aku tidak keterlaluan, justru sikapnya yang sudah memaksaku menikahinyalah yang keterlaluan.
Malam semakin sunyi, tak ada suara apapun termasuk televisi.
Aku tengah mematut diriku di depan cermin, mengoles cream malam di wajahku, dan lotion di tangan dan kaki. Musim dingin seperti ini, selalu membuat kulitku sangat kering, dan bibir sedikit perih.
Pria jahat itu langsung masuk kamar mandi begitu aku selesai membersihkan diri.
Saat posisiku sudah duduk di atas ranjang, dengan punggung bersandar pada headboard dan kedua tanganku memegang ponsel, hidungku menangkap arematherapy sabun yang tiba-tiba menguar di sekitar kamar kami. Pria itu baru saja membuka pintu kamar mandi, dengan handuk yang terlilit di pinggannya.
Aku sempat meliriknya, tapi sama sekali tak peduli dengan dirinya yang bertelanjang dada. Ini adalah pertama kali aku melihat pria dengan penampilan seperti itu. Andai saja dia mengijinkanku untuk tidur di kamar lain, aku tidak harus melihat pemandangan itu.
Pria itu, sama sekali tidak melirik ke arahku.
Detik berikutnya, untuk ke dua kalinya aku di buat terkejut dengan tindakannya, sampai ponselku nyaris terlepas dari tanganku.
Tubuhnya, tahu-tahu membungkuk dengan telapak tangan ia daratkan di sisi tempat tidur.
"Aku tidak akan berhenti mencintaimu, meskipun kamu tidak mencintaiku" Dia mengatakannya dengat sorot mata yang tidak bisa ku artikan. "Aku akan merubah sedikit rencana agar kamu selalu merindukanku, bahkan tak ingin berpisah denganku" lanjutnya lalu pergi meninggalkan kamar dan menutup pintu dengan sedikit keras.
__ADS_1
Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi aku sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapannya. Apapun rencana yang dia ubah, tidak akan bisa mengubah rencanaku untuk berpisah darinya.
Bersambung