Macau Love Story

Macau Love Story
Tentang berita di media cetak


__ADS_3

Merasa penasaran, Nayla berniat menanyakan pada penjual bunga di dekat area pemakaman mengenai sang tante dan sepupunya.


"Permisi bu" Ramah dan lembut Nayla menyapanya.


"Iya ada yang bisa di bantu neng?"


"Begini bu, saya ingin bertanya tentang seseorang yang ada di brosur ini"


"Oh iya silakan neng"


"Apa ibu tahu, alasan orang itu mencari wanita ini" Tanya Nayla seraya menunjuk wajah Nancy di kertas yang masih terbilang baru, dan sangat jelas baik tulisan serta gambarnya.


"Menurut cerita yang saya dengar si neng, si anak dari konglomerat di jogja ini cinta sama keponakan Nancy. Kalau tidak salah namanya


Nayla.


Deg,,,


Hanya mendengar separoh dari pengakuan si penjual bunga, sudah membuat Nayla terkejut dan merinding. Siapa lagi keponakan Nancy selain Nayla. Hanya dirinyalah keponakan satu-satunya. Sementara Pandu terkesiap tak kalah terkejut. Tangannya reflek mengepal kuat begitu nama sang istri di sebut.


"Si Nancy menjanjikan keponakannya pada keluarga konglomerat itu. Mereka sepakat memberikan Nayla untuk di nikahkan dengan den Aji. Dan katanya, Nancy sudah menerima uang milyaran rupiah agar segera menyerahkan keponakannya pada mereka. Tapi karena Nancy ingin anaknya yang dijadikan menantu di keluarga kaya raya itu, dia mengganti keponakannya dengan Laura. Alih-alih di terima, eh malah di tolak mentah-mentah. Pasca penolakan itu, Nancy berjanji akan membawa Nayla di esok harinya, karena jika tidak, mereka meminta uang itu kembali. Namun setelah di tunggu-tunggu hingga dua hari, dia belum juga menyerahkan keponakannya, pas di datangi ke rumahnya, mereka sudah kabur neng"


Sepertinya emosi Pandu sudah berada di level teratas. Sangat tampak pada raut wajahnya yang memerah dengan rahang terkatup sangat kuat, berkali-kali ada gerakan jakun di leher pria dengan pembawaan tegas.


Berani-beraninya Nancy menjual Nayla yang jelas-jelas sudah menjadi milikku. Aku bahkan sudah membelinya dengan harga lebih dari satu triliun. Awas kau Nancy, aku akan menyerahkanmu pada konglomerat itu dengan tanganku sendiri. Dan aku akan bermain-main dulu denganmu sebelum menyerahkanmu padanya.


Maksud Pandu adalah bermain-main dengan cara menyiksanya, untuk membalas rasa sakit hatinya dan sang istri.


"Terus bu, kapan itu terjadi?"


"Sekitar empat bulan yang lalu neng, tapi informasi pencarian selalu di perbaharui setiap satu minggu sekali, dan yang ini kalau tidak salah baru kemarin terpasang di setiap jalan"


"Belum ketemu sampai sekarang bu?"


"Belum neng, dengar-dengar si pergi ke luar negri"


"Kalau begitu terimakasih bu atas informasinya"


"Nggeh neng sami-sami"


"Kami permisi bu, mari!"


Setelah berpamitan, Pandu segera menarik tangan Nayla dan membawanya masuk ke dalam mobil. Langkahnya lebar dan kasar, ada amarah tertahan di dadanya. Nayla bahkan kewalahan menyesuaikan langkah Pandu yang terus berjalan seraya menarik tangannya.


"Pelan-pelan mas"


Pria itu hanya diam. Rasanya ingin sekali mencabik-cabik muka Nancy lalu menjabak rambutnya dan merobek mulutnya.


"Bisa-bisanya Nancy berniat menyerahkanmu pada orang lain, sementara dia sudah menjualmu padaku" gerutu Pandu sembari menyalakan mesin mobil.


"Kira-kira di mana tante Nancy sekarang?"


"Kenapa, kamu kasihan padanya, dan ingin menyelamatkan tantemu yang tidak tahu diri itu dari si konglomerat?"


"Bukan begitu mas"


"Lalu apa, kenapa wajahmu terlihat sedih? dan seolah prihatin dengan nasib tantemu?


"Kok mas marah padaku si"


"Suami mana yang tidak marah jika istrinya akan di serahkan pada pria lain, menjualmu padaku saja itu sudah membuatku marah"

__ADS_1


Pandu mengatakannya tanpa melihat Nayla, fokusnya hanya ke arah jalan sebab pria itu kini tengah mengemudikan mobilnya.


"Kamu tahu, kalau dia juga menerima uang dari Alvin, supaya menyerahkanmu pada Alvin dulu?" Pandu berdecih geram. "Memangnya kamu barang dagangan" Tambahnya murka.


"Kita mau kemana mas?" dia bertanya ketika menyadari jalan yang asing.


Tak ada jawaban dari pria di sampingnya. Nayla kembali melempar pandangan ke arah kiri, menatap jalanan yang selalu ramai di kotanya.


Otaknya seolah terus memikirkan ucapan si penjual bunga tadi. Satu sisi Nayla merasa jengkel pada tantenya, tapi di sisi lain dia merasa Nancy adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki.


"Apa mas mau mencari tante Nancy dan menyerahkan pada mereka?"


"Iya, jika aku menemukan mereka, kan lumayan uang lima puluh juta bisa aku kasihkan ke penjaga makam"


Mendengar jawaban Pandu, Nayla langsung menoleh ke kanan, lalu mempertemukan netranya. Tampak sekali raut Pandu yang menampilkan tatapan mengejek.


"Biar kuburan mama dan papa selalu terawat"


"Di bandingkan lima puluh juta, aku yakin mas akan mengeluarkan uang lebih dari itu untuk membayar orang mencari tante Nancy"


"Terus?"


"Saranku, lebih baik biarkan saja, kita tidak perlu ikut campur"


"Wah Naya, ternyata benar ya, kamu ingin si kurang ajar itu tetap aman dari si konglomerat"


"Maksudku, biarkan mereka menemukannya sendiri mas"


"Tidak bisa Naya sayang, aku sangat tergiur dengan imbalan itu"


Mata Nayla memicing, tapi sama sekali tak membuat Pandu takut.


"Mas dapat uang lima puluh juta, tapi akan menghabiskan seratus juta untuk membayar orang, yang benar saja" Nayla mencebik seraya melipat tangan di dada. "Bodoh itu namanya?"


"Ternyata seperti ini jiwa mafia, mas? ingat ya, uang mas itu adalah uangku, dan aku tidak akan mengijinkan uangku untuk membayar orang mencari tante Nancy"


"Kamu memang bakat menjadi istri seorang mafia Nay"


Larut dalam obrolan yang belum tuntas, tahu-tahu sudah sampai di tempat tujuan. Pandu membawa Nayla ke area danau yang terkesan sangat sejuk. Ada mata air yang mengalir jernih berasal dari curug yang bertingkat.


"Turun" perintah Pandu tanpa ekspresi.


"Kita belum selesai bicara kan?"


"Memangnya apa lagi yang mau kamu protes?" melepas seabelt, kemudian membuka pintu mobil dan di ikuti oleh Nayla.


"Lebih baik mas fokus pada hotel dan restauran mas, tidak perlu buang-buang waktu, buang-buang tenaga, dan buang-buang uang hanya untuk tante Nancy"


"Tidak bisa dong sayang" Dia meraih tangan istrinya lalu menggandeng dan mulai melangkahkan kakinya menuju danau.


"Nancy harus menerima akibatnya, karena sudah berani mengusik hidupku"


"Mengusik hidup mas yang bagaimana?" tanya Nayla bingung, seakan tak paham dengan ucapan suaminya.


"Memberikanmu pada pria lain, kamu pikir aku sebagai suamimu tidak terusik?"


"Dia belum melakukannya mas, aku masih disini bersamamu"


"Meskipun belum, tetap saja sikapnya membuatku murka"


Mereka terus berjalan menyusuri alam bebas yang terasa begitu menyejukkan.

__ADS_1


"Dia nekad melakukan itu, dan itu artinya dia melawanku Naya"


Sepertinya, Pandu akan merubah panggilan seperti mertuanya yang memanggilnya Naya.


"Untung saja kita melihat brosur itu, kalau tidak, Si kurang ajar itu pasti akan mengecohku agar bisa membawamu, lalu menyerahkanmu pada den Aji. Si kurang ajar itu pasti akan berakting pura-pura baik demi untuk menarik perhatian istri polosku"


"Dia tanteku mas, adik dari mama, jangan lagi bilang kurang ajar padanya, mama pasti akan marah. Tante Nancy itu ibarat orang tuaku, pengganti papa dan mama?"


Sebelum memberikan tanggapan atas perkataan sang istri, Pandu berdecih dengan senyum miring khas miliknya.


"Yang namanya orang tua itu melindungi, bukan malah menjual putrinya, aku rasa papa akan setuju denganku, papa pasti juga akan marah karena sudah menjadikan putri satu-satunya sebagai barang dagangan" kata Pandu lalu mengambil posisi duduk di atas batu tepi sungai.


"Apa kamu tidak akan marah Nay, jika putra putrimu di jual oleh adikmu?, umpamanya"


Nayla hanya diam sambil menatap suaminya dengan kondisi batin yang entah seperti apa, dilema mungkin salah satunya.


"Aku pribadi tidak hanya marah, detik itu juga aku akan_"


"Membunuhnya" potong Nayla kilat. Memantik bibir Pandu menyunggingkan senyum miring.


"Ternyata kamu sudah bisa mengalahkan kamampuanku"


"Kemampuan apa?" tanya Nayla mengernyit.


"Seorang pembaca pikiran yang baik" sahut Pandu sambil memainkan tangannya di dalam air.


Tak lagi merespon sebab Nayla menyerah, seharusnya dari awal dia tahu, jika dia tidak akan bisa menang beradu argumen dengan suaminya.


"Kamu harus hidup dengan tenang tanpa ancaman dari siapapun, kamu harus bahagia Nay, benar-benar bahagia"


Pandu berkata dengan sorot serius. Matanya tak teralihkan dari tatapan Nayla.


"Keraskan hatimu untuk tantemu, karena dia benar-benar sudah tidak peduli denganmu, paham?"


Menelan saliva, Nayla mengangguk meski berat.


"Jangan pikirkan hal lain, kita bersenang-senang selama di sini, lusa kita akan kembali ke Macau"


Mereka saling pandang, dengan kilauan mata yang menyorot penuh cinta.


"Nanti malam, kamu harus menyerahkan dirimu padaku"


Nayla langsung mencubit pinggang Pandu yang di respon gelak tawa, detik berikutnya tangan kiri Pandu merangkul tubuh Nayla, lalu mencuri kecup di salah satu sisi kepalanya.


"Mas nyebelin tahu"


"Tapi kamu cinta kan? bahkan kamu lebih mencintaiku di banding nyawamu sendiri"


Untuk kedua kalinya wanita itu mencubit pinggang suaminya lembut.


"I love you"


Pandu merespon dengan anggukan kepala.


Bersambung...


Next episode, mati kau Nancy 😊😊


Biar otak Pandu sedikit adem..


Sejuknya...

__ADS_1



__ADS_2