
Alvin dan Delita yang masih canggung ketika menikmati makan malam, di buat mati kutu oleh Nayla. Wanita itu terus melontarkan candaan untuk kedua adiknya yang membuat mereka kikuk sekaligus salah tingkah.
"Kamu sudah buka garasi kan Del?" tanya Nayla ingin tahu.
"Garasi apa kak?" jawab deli lalu menyesap sup di sendoknya. Sorot matanya tak lepas dari manik hitam kakak iparnya.
Bukannya menjawab pertanyaan balik dari Delita, Nayla justru mengatakan hal yang membuat Delita semakin tidak mengerti atas ucapannya.
"Kalau sudah buka segel, itu artinya aku sudah bebas hutang"
"Nay jangan ngaco kamu" Tegur Pandu yang sudah faham kemana arah pembicaraan sang istri.
"Hutang apa?" kali ini Alvin ikut melibatkan diri dengan mata memicing, sementara bu Risa melambatkan gerakan di mulutnya seraya menatap Nayla dan Alvin bergantian.
"Hutang janji" sahut Nayla santai. "Delita sudah jadi milikmu seutuhnya kan? So, janjiku lunas Vin?"
"Ya ya"
"Kenapa tidak dari dulu saja kalian melakukannya"
"Apaan si Nay?"
Nayla langsung menoleh ke wajah sang suami begitu mendengar ucapannya, pandangan mereka pun langsung bertemu, detik berikutnya wanita satu anak itu tersenyum dengan sedikit menaikkan kedua alisnya.
"Melakukan apa kak?" tanya Delita kian penasaran.
"Hubungan sua_" Ep..!
Pandu segera memotong ucapan Nayla dengan menyuapkan satu sendok nasi ke mulutnya.
"Apa si mas"
"Makan saja Nay, tidak perlu bahas yang aneh-aneh. Kamu juga dulu gitu kan, bahkan lebih parah, malu-malu tapi ma_"
Giliran Nayla yang menyuapkan sendok ke mulut Pandu, membuatnya tak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Alvin dan Delita hanya termenung sambil menatap lekat sepasang suami istri di hadapan mereka.
"Kalian itu ngomong apa?"
"Bukan apa-apa bu" Timpal Pandu. " Nayla memang suka bercanda"
"Tapi by the way, segel apa yang kakak maksud?"
"Keperawanan"
Pandu, ibu, Alvin serta Delita kompak memindai wajah Nayla yang tampak santai.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu, ada yang salah dengan ucapanku?"
"Makan dulu setelah itu kamu bebas bercerita"
"Loh siapa yang bercerita, aku hanya menjawab pertanyaan Delita" Sanggahnya tepat sasaran. "Memangnya di bagian mana aku bercerita mas?"
Menghela nafas panjang, Pandu akhirnya di buat bungkam lalu menggelengkan kepala pelan.
"Semoga jadi bayi ya"
"Bayi?" respon Delita seperti terkejut. Dia yang masih belum ingin memiliki bayi tergagap dan langsung sibuk dengan pikirannya tentang betapa repotnya mengurus bayi.
"Hmm" sahut Nayla masih sesantai sebelumnya. "Kamu ingin punya anak kan? kalau iya, harus bekerja keras tiap malam, apalagi Deli memiliki keturunan kembar, siapa tahu langsung dapat dua"
"Uhuk"
Dengan gerak cepat Alvin segera meraih gelas dan membantu meminumkannya pada sang istri yang tersedak usai mendengar ucapan Nayla.
"Tuh kan Nay, kalau makan bisa diam kan, jadi tersedak kan Delita"
"Maaf mas"
__ADS_1
"Kenapa minta maaf padaku, minta maaf sama Delita" sahut Pandu setelah melihat Nayla sekilas.
"Maaf ya Del"
"T-tidak apa-apa kak"
"Kamu kenapa langsung kaget gitu, memangnya tidak ingin punya anak? bukankah setelah menikah hal yang paling di tunggu adalah kehadiran si buah hati"
"NAYLA" Panggilan Pandu membuatnya memberengut.
"Maaf sayang"
Usai makan malam berakhir, bu Risa yang ingin menuntaskan rasa rindu pada putra dan menantunya, menyuruh Alvin serta Delita untuk berbicara di ruang kerja Pandu.
Sementara Nuri mencuci piring-piring kotor, Nayla dan Pandu memasuki kamarnya untuk melihat Kellen yang sempat tertidur sejak mereka menyantap makan malam.
"Nayla" panggil Pandu lengkap dengan tatapan menyorot tajam.
"Ada apa?"
"Duduk" kata Pandu seperti memerintahkan sebenarnya.
Dengan ragu, Nayla melangkah menuju sofa lalu duduk di samping Pandu yang netranya masih menyorot dingin seperti tak tersentuh.
"Ada apa sayang"
"Kalau lagi makan?" Kata Pandu sambil bergerak menghadap Nayla. "Jangan bercandain orang"
"Aku biasa saja kok sayang"
"Menurutmu, tapi menurut Deli yang mungkin masih lugu, jelas shock mendengar candaanmu"
Hening, Nayla tak lagi menyahut bukan karena kehabisan kata-kata, tapi ia merasa tak mungkin bisa menang jika harus berdebat melawan sang suami.
"Siapkan baju untukku, aku mau mandi" ucap Pandu lalu berdiri. Sebelum melangkah menuju kamar mandi, pria itu sempat mencuri kecup di puncak kepala Nayla.
Bagi Nayla, Pandu memang tak terduga. Sudah sering sekali dia melakukan sesuatu di luar pemikiran Nayla, sementara Pandu sudah terbiasa melakukan sesuatu secara spontan.
"Kamu tahu kan Vin, setiap orang pasti akan meninggalkan dunia ini" kata bu Risa. Mereka kini sedang berada di ruang kerja milik Pandu.
Bu Risa yang duduk bersebelahan dengan Delita, terus menggenggam tangannya dan sedikit memberikan usapan lembut.
"Ibu ingin di sisa-sisa usia ibu, melihat kamu, Tania, dan kakak kalian Pandu, selalu hidup rukun, saling menyayangi satu sama lain, saling memberikan suport, dan saling menguatkan"
"Ibu kenapa bicara tentang usia?" tanya Alvin yang duduk di kursi lain menghadap ke bu Risa dan Delita. "Aku baru bertemu ibu, aku masih ingin menebus kesalahanku dengan membahagiakan ibu"
"Ibu hanya mengingatkan Vin, ibu akan selalu bersama kalian sampai waktunya habis"
"Ibu akan panjang umur" kata Delita ikut menyela.
"Iya, ibu ingin memiliki usia yang panjang supaya bisa terus mengawasi kalian, bermain dan ikut merawat anak-anak kalian, ketiga anak ibu"
"Ibu pasti akan panjang umur" timpal Alvin yang tangannya kini sudah terlipat di depan dada.
Bu Risa tersenyum, kemudian mengambil napas panjang seraya menunduk memperhatikan tangannya yang bergerak mengusap punggung tangan Delita.
"Delita" Lirih bu Risa.
"Iya bu?"
"Suamimu adalah anak yang manja, tolong jaga dia, cintai dia, tegur dia kalau salah"
"Pasti bu"
"Kalau ada masalah dalam rumah tangga Kalian, jangan buru-buru emosi apalagi pergi dari rumah, bicarakan dan selesaikan dengan kepala dingin. Bersikaplah saling mencintai dan menerima kekurangan di antara kalian, mengerti?"
"Mengerti bu" jawaban Delita bersamaan dengan anggukan kepala Alvin.
"Jangan memendam masalah sendiri. Jika masalah kalian terlalu berat, kalian bisa datang pada ibu, atau kakak kalian, mintalah pendapat dan pertolongan mereka"
__ADS_1
Cukup lama ketiga orang itu berbincang-bincang, hingga Pandu dan Nayla pun sudah membersihkan diri dan berganti pakaian tidur.
Nayla berniat menuju ke ruang kerja untuk ikut nimbrung dalam pembicaraan Alvin dan sang mertua. Ketika hendak memutar handle pintu, terdengar suara Pandu dari arah ranjang yang tengah fokus menatap Notebook.
"Jangan mengeluarkan candaan yang membuat Delita shock Nay" katanya tanpa melihat Nayla.
"Tidak sayang"
Baru saja Nayla keluar dari kamar, netranya menangkap Alvin keluar dari ruang kerja suaminya.
"Loh, kalian udahan ngobrolnya?"
"Sudah" jawab Alvin datar.
"Senyum dikit Vin, bukankah senyum itu gratis?" celetuk Nayla.
Alvinpun menyunggingkan senyum meskipun senyum itu terpaksa.
"Gitu kan manis"
"Kak, kami pulang dulu" kata Delita dengan fokus menatap Nayla.
"Jadi mau pulang, kalian tidak melihat keponakan kalian dulu?"
"Lain kali saja kak, lagi pula dia sudah tidur kan?"
"Oke deh lain kali" sahut Nayla sembari mengangguk.
"Pandu di mana kak?"
"Dia kakakmu, panggil kakak jangan hanya panggil namanya"
Bu Risa yang berdiri di belakang Alvin pun tersenyum tipis, lalu mengelengkan kepala.
Mendesah pelan, Alvin mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Dimana kak Pandu?" tanyanya datar.
"Gitu kan enak di dengar" jawab Nayla. "Dia ada di kamar"
"Bisa aku bertemu dengannya?"
"Bisa, masuk saja"
Usai mendengar jawaban Nayla, Alvin memasuki kamar Pandu, dengan ragu ia membuka pintu kamar berniat untuk mengucapkan permintaan maaf padanya.
"Kak"
Melihat Alvin yang tiba-tiba masuk ke kamarnya, Pandu seketika menelan ludah. Dia seolah tak percaya dengan sikap sang adik tiri, apalagi ketika memanggilnya kakak.
Selang dua detik, Pandu turun dari ranjangnya, lalu meletakkan notebook di atas tempat tidur.
Pria itu berdiri mematung dengan pikiran bercabang entah ke arah mana saja.
"Vin" responnya seraya melangkah mendekati Alvin.
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu"
Hening, Pandu masih bungkam tak bergeming.
"Karena istrimu sudah memberiku apa yang aku inginkan, aku ingin berdamai denganmu kak. Maafkan aku atas semua perbuatanku padamu"
"Apa permintaan maafnya tulus, masa iya dia meminta maaf karena Nayla. Ahh aku harus berfikir positif, mungkin memang sudah waktunya kami mengakhiri permusuhan kami" Pandu membatin.
"Aku juga minta maaf Vin"
"Mari kita berdamai dan memulai dari awal" pungkas Alvin tanpa ekspresi namun tampak sangat tulus.
"Aku setuju, kita beri contoh untuk adik kita Tania, kita harus bergandengan tangan untuk melindungi adik kita satu-satunya"
"Iya kak"
__ADS_1
Kedua pria itu sama-sama maju selangkah untuk mengikis jarak. Detik berikutnya saling berpelukan.
Bersambung.