
Hidup memang penuh kejutan, dan kejutan yang aku alami benar-benar sangat ekstrim, tiba-tiba kehilangan orang tua, tiba-tiba menikah, tiba-tiba hamil, besok entah apa lagi.
Aku berharap kejutan selanjutnya tidak membuatku sesedih ketika kehilangan orang tua.
Menghirup napas berat, aku membantu mas Pandu memasukan laptop dan notebook-nya ke dalam ransel. Hampir sebulan dia menemaniku disini, dan hari ini dia akan kembali ke Macau.
Ada sedikit rasa takut yang tiba-tiba singgah, tapi aku juga tidak berani mengungkapkannya.
Ada ketidak relaan juga di tinggal suami dalam kondisi hamil, tapi mau bagaimana lagi, aku harus mengikuti skenario mas Pandu, itu semua dia lakukan demi aku dan juga calon anaknya, jadi mau tidak mau harus menurut.
"Sudah mulai dingin ya, pakai bajunya banyakin dikit"
"Dingin banget ya mas?" tanyaku penasaran
"Tidak, nanti kalau sudah terbiasa, tidak begitu dingin kok. Kita kan sudah siapkan baju-baju hangat, sama ada beberapa salep, jaga-jaga jika tanganmu pecah-pecah, ada lip balm juga siapa tahu bibirmu kering, gunakan semuanya jika di perlukan"
"Segawat itu ya mas musim dingin"
Mas Pandu tersenyum menanggapi ucapanku, dia sibuk memilih kaos dari dalam lemari.
"Nanti lama-lama akan terbiasa, kalau ada apa-apa langsung telfon"
"Iya"
"Minta bantuan Nuri kalau kerepotan, jangan di paksakan buat ngerjain sendiri, ingat ada kehidupan di dalam perutmu"
"Iya"
"Satu lagi?" kata mas Pandu dengan mimik serius.
"Apa?" sorot mataku fokus menatap bibir mas Pandu.
"Harus bahagia, jangan banyak pikiran"
__ADS_1
Ku pikir sudah tidak ada pria yang memiliki perhatian dan kasih sayang seperti mas Pandu, sudah jarang ada laki-laki yang mengatakan seperti apa yang mas Pandu katakan barusan, tapi ternyata masih ada, dan beruntungnya aku sebagai pemilik pria itu. Sebait kalimat sederhana, tapi bagiku sangat istimewa.
"Masih suka deg-degan?" tanya mas Pandu dengan alis terangkat satu, ketika aku hanya diam.
Alih-alih menjawab, aku justru memeluk erat tubuhnya yang sudah terbungkus pakaian lengkap. Sebulan tinggal bersama, membuatku sudah sedikit lebih paham dengan sifat mas Pandu, dan entah kemana rasa canggungku menghilang, bahkan jejaknya pun tak nampak. Kini aku lebih bisa menguasai debaran jantungku jika berhadapan dengannya.
Mas Pandu membalas pelukanku tak kalah erat, kedua alisnya sempat terangkat melihat sikapku tadi
"Ibu hamil biasanya emosinya jadi labil, kalau sudah mulai emosi, di bawa rebahan saja, ngerti ya?"
"Hem" jawabku dengan suara teredam.
Saat mas Pandu hendak mengurai pelukannya, aku justru mengeratkannya. Kembali memeluk dan menyembunyikan wajahku di dadanya yang bidang
"Kenapa lagi?"
"Cuma bingung nanti kalau pengin sesuatu, aku harus suruh siapa?" kataku sambil mempertemukan sepasang mata kami. Aku yang sempat membuatnya pusing karena pengin makan soto beberapa malam lalu. Kami diam dan hanya saling bertukar pandang hingga beberapa detik.
"Maaf, seharusnya kamu bahagia, apalagi saat sedang hamil seperti ini, asal kamu tahu, ini yang terbaik buat kita, aku ambil keputusan seperti ini juga tidak sendirian, Clara dan Rondypun ikut andil. Kalau kekhawatiranku terjadi" ucap mas Pandu terhenti sesaat untuk menghela napas "aku takutnya nanti akan berdampak buat kamu dan anak kita"
Satu hal yang tidak berhenti untuk ku syukuri adalah cinta dari mas Pandu, meskipun aku masih di buat penasaran, tapi aku berusaha untuk menepis pikiran buruk itu. Aku terus meyakinkan diri, bahwa cintanya padaku memang tanpa alasan apapun.
Aku kembali memeluk tubuh mas Pandu, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang entah kapan bisa ku hirup lagi.
"Baiklah, mas bisa pergi"
"Makasih sudah mau mengerti, makasih, sudah mau merawat ibu dengan tanganmu, makasih untuk semuanya"
Mas Pandu mengurai pelukannya lalu berlutut di depanku.
"Maafin papa ya nak" ucapnya dengan kedua tangan memegang sisi pinggangku. "Meskipun papa jarang mengahabiskan waktu dengan kalian, Tapi kalian selalu ada di pikiran papa setiap saat, setiap waktu"
Usai mas Pandu mengatakan itu, aku berjinjit lalu mengecup bibirnya, sedikit **********. Dia sempat terkejut dengan sikapku, namun sekian detik kemudian, mas Pandu mulai membalas ciumanku. Saat aku mengurai tautan kami, dengan cepat mas Pandu merangkum wajahku, lalu ganti dia yang menciumku, hingga beberapa menit.
__ADS_1
"Aku cinta kamu" ucapnya setelah ciuman kami terlepas"
Aku hanya bisa tersenyum tidak mampu menjawab, tapi percayalah aku juga cinta kamu. Hati kecilku berbisik, sorot mataku tajam menatap manik matanya yang membuatku semakin hari semakin mencintainya. Tatapannya tak kalah tajam menyoroti netraku, kedua tangannya masih menangkup wajahku, dengan ibu jari mengusap lembut bibir bawahku yang sempat ia gigit lembut. Sementara tanganku, bertahan melingkar pada pinggangnya. Kami diam saling menatap sebelum kemudian kembali menautkan bibir kami.
"Mas sudah suruh Apri untuk mencari apa yang kamu pengini"
"Iya" Akunya sembari mengangguk
"Sudah ya, aku go sekarang" pamitnya
"Mas" panggilku
"Kenapa?"
"Cepat kembali" Mas Pandu tampak mematung sesaat, kemudian mengecup keningku sedikit lebih lama. "Ayo aku antar sampai bawah"
"Ibu" Mas Pandu berlutut di depan kursi roda ibu "Pandu pamit ya bu, Pandu janji akan secepatnya jengukin ibu lagi"
"Ibu tampak mengangguk, meskipun bicaranya terbata dan pelo, setidaknya itu adalah perubahan luar biasa bagi ibu. Di banding saat pertama kali aku datang, benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali matanya yang mengerjap.
Sampai-sampai Anak perempuannya ingin segera menjenguk ibunya, dan bertemu denganku. Tania, adik mas Pandu yang minggu lalu sempat menelpon kami.
****
"Jaga diri baik-baik, kalau butuh sesuatu bilang Nuri, nanti dia akan ngomong ke Apri"
Aku mengangguk "Hati-hati" pesanku setelah mengecup punggung tangannya.
"Okey, Assalamu'alaikum"
"Waaikumsalam, kalau sudah sampai kabarin"
Ku hela napas pasrah, berharap semua akan baik-baik saja, dan usaha mas Pandu membuat Alvin sadar, tidak akan sia-sia.
__ADS_1
Sebelum taxi benar-benar pergi, mas Pandu sempat tersenyum padaku, dan aku reflek meneteskan air mata, sebelum kemudian membalas senyumannya.
bersambung