
Saat mataku perlahan terbuka, ku temukan wajah seorang pria yang mirip sekali dengan mas Pandu.
Aku pasti sedang bermimpi.
Mataku memindai sosok pria itu dengan cermat. Karena kesadaranku masih belum terkumpul sepenuhnya, dan akal sehatku seolah masih berserakan, aku tak yakin apakah ini nyata atau hanya sekedar halusinasi.
Sekali lagi ku tatap wajah yang begitu dekat dan tengah tersenyum padaku. Posisi kami yang tidur saling berhadapan, membuatku menelan ludahku sendiri.
"Mungkin aku merindukanmu, jadi sebuah bantalpun terlihat seperti kamu" gumamku dengan lirih.
menyipitkan mata, aku kembali mendapati bibirnya mengulas senyum.
"Maaf sudah membangunkanmu" ucapnya pelan.
Aku mengerjap tak langsung menjawab, karena aku merasa setengah kesadaranku seolah masih berada di atas awan.
Memilih menutup kembali mataku, sebab rasa kantuku masih belum hilang, efek tadi malam terjaga hampir sampai pukul dua belas malam.
Namun, hangat dan lembut bibirnya menyentuh keningku.
Meneguk ludah, aku mengulurkan tangan menangkup wajahnya, menyentuh dagunya yang sedikit di penuhi bulu-bulu halus.
Aku makin gugup saat bibirnya menyentuh bibirku kilat.
"Bagaimana bisa tiba-tiba di sini, tanpa pesan, tanpa kabar?"
Tak menjawabnya, mas Pandu masih termangu menatapku. Sementara aku, tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan apapun. Aku kembali menangkup wajahnya dengan kedua tanganku.
"I miss you" bisiknya lirih lalu kembali menciumku, lu*matannya yang terasa begitu lembut, memantik diriku untuk membiarkan dia menuntaskan rasa rindunya yang tak kalah hebat dengan rinduku.
Ketika ciumannya ku rasakan kian intens, dan gerakan-gerakan kecil yang dibuatnya, membuatku paham, dia belum ingin mengurai tautan bibir kami.
Beberapa detik berlalu
"Mas" panggilku lembut ketika mas Pandu menyusuri batang leherku dengan bibirnya.
"Ada apa?"
"Aku hamil"
Ku lihat bola matanya bergerak seperti meneliti wajahku, yang ku pastikan dia sedang mencari kebenaran atas ucapan yang keluar dari mulutku.
Hingga sekian detik, mas Pandu masih diam terpaku dengan fokus menghunus ke netraku. Entah apa yang dia pikirkan setelah aku mengabarkan kehamilanku.
__ADS_1
Apa mas Pandu tidak senang jika aku hamil? ah, tidak mungkin, dia sendiri yang waktu itu membahas soal bayi, jelas pasti dia menginginkan anak, iya kan?. Tapi kenapa mas Pandu bungkam dan tak ada reaksi apapun?
Ku tundukan pandanganku, dugaan awalku mungkin dia marah, tapi tunggu....
Seketika dia merengkuh tubuhku lalu mendekapnya erat, sesekali mencium puncak kepalaku.
"Maafkan aku" ujarnya yang tidak ku mengerti atas dasar apa mas Pandu meminta maaf.
"Maaf untuk apa?" tanyaku dengan suara teredam, sebab aku masih berada di dalam dekapannya.
"Maaf jika aku belum bisa membuatmu bahagia" Ucapannya membuatku kian bingung.
"Maafkan aku harus menyembunyikanmu dari mata publik"
"Maafkan aku sudah merepotkanmu merawat ibuku" lanjutnya.
"Aku senang bisa merawat ibu, beliau orang baik"
Mas Pandu mengurai pelukannya, lalu mengusap pipiku dengan kedua tangannya. "Makasih, tapi Kamu harus bahagia dengan kehamilanmu, jangan fikirkan apapun, cukup fokus ke janinmu, okey"
"Itu sudah pasti"
"Biasanya, wanita hamil mengalami perubahan hormon, apa kamu merasakannya?" tanya mas Pandu penuh selidik.
"Apa?"
"Aku suka menyesap aroma di baju mas" jawabku beringsut.
"Ada lagi yang kamu rasakan?"
Diam sambil mengatupkan bibir, aku mengingat apa yang berubah dalam diriku.
"Aku hanya merasa kecewa akhir-akhir ini?"
"Kecewamu karena apa?"
"Entahlah" jawabku sembari menunduk dan mengarahkan pandangaku ke dada bidangnya yang terbungkus kaos polos berwarna putih.
"Apa karena aku?" tanyanya membuatku kembali menatap wajahnya.
"Aku tidak tahu"
"Katakan sejujurnya, Nayla?"
__ADS_1
Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukanmu, tapi aku terlalu gengsi untuk mengatakannya, terlalu malu sebab aku masih belum bisa membuang sapu tangan milik lelaki yang ku tahu bernama Pipo. Aku kecewa pada diriku sendiri yang dengan tamaknya mencintai dua pria sekaligus.
"Nay" panggilnya membuyarkan lamunanku
"Kecewa karena apa?"
"Karena diriku sendiri"
Mendengar jawabanku, kedua alis mas Pandu saling bertaut.
"Sudah jangan di bahas" pintaku sambil menyembunyikan wajahku di dadanya, menghirup dalam-dalam wangi tubuhnya.
"Nay, apa yang membuatmu kecewa?, apa karena aku baru bisa menjengukmu?"
Aku menggeleng
"Lalu?"
"Maaf karena aku masih belum bisa membuang sapu tangan pemberian dari pria masa kecilku" jujurku dengan penuh keberanian.
"Jangan membuangnya" ucapnya lalu memegang tanganku "Aku tidak apa-apa, kamu mau merindukannya, mau mencintainya, aku tidak akan melarangmu, yang penting kamu tetap bahagia, lahir dan batinmu, ngerti ya?"
"Iya" jawabku seraya mengangguk
"Setauku orang hamil mudah lapar, kamu lapar?"
"Belum"
"Tapi ini sudah siang?" ucapnya yang membuatku Reflek membulatkan mata ketika menatap jam di dinding.
"Sudah lewat pukul tujuh?" gumamku
"Iya" sahutnya menahan senyum.
"Pasti ibu sudah bangun" Aku bangkit sambil menggulung rambutku lalu setengah berlari menuju kamar mandi.
"Jangan buru-buru" seru mas Pandu "Ingat kamu lagi hamil" lanjutnya.
Padahal sebenarnya aku berlari karena ingin mengeluarkan isi di dalam perutku. Aku selalu merasakan mual setiap pagi, dan akan kembali bersemangat di jam duabelas siang hingga malam hari.
"Mas merindukan ibu kan, cepat temui ibu" teriakku.
Bersambung
__ADS_1