Macau Love Story

Macau Love Story
Perasaan Delita


__ADS_3

Saat mereka sampai di rumah, jam di tangan sudah menunjukan pukul sembilan malam.


Melangkah masuk, tangan Alvin terulur menekan tombol saklar.


"Bisa tolong jelaskan darimana kamu?" tanya Delita ketika Alvin baru akan melangkah menuju kamarnya.


Alvin berhenti tanpa membalikkan badan.


"Telingamu masih berfungsi dengan baik kan?"


Menarik napas pelan, Alvin kembali melangkah mengabaikan pertanyaan Delita.


"Jadi tidak mau jelasin?"


"Kamu sendiri yang tidak akan memberikan cinta dan perhatian untukku, kamu sendiri yang bilang aku tidak boleh masuk ke dalam ruang privasimu, lalu sekarang kanapa kamu justru berusaha masuk ke dalam privasiku?" sahut Alvin masih dengan memunggunginya.


"Bertanya kemana aku pergi itu termasuk dalam kategori mencampuri urusanku"


Delita menghembuskan napas berat. Ketika akhirnya Alvin berbalik lalu berjalan menuju ruang makan.


Pria itu duduk di balik meja makan. Tempat dimana dia biasa duduk ketika makan.


"Duduk" ucap Alvin dengan nada datar.


Pelan, Delita menarik kursi yang ada di depan Alvin.


"Ada apa denganmu? apa kamu berubah pikiran, ingin memberikan cintamu untukku?"


Entah kenapa mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Alvin, itu seperti memantik kekesalan Delita yang tiba-tiba saja memuncak. Apalagi saat melihat ekspresinya yang seakan meremehkan seperti mengejek.


"Kamu tidak mau memberikan hatimu pada suamimu, aku diam, kamu minta pisah, akan aku kabulkan, tapi kenapa sekarang kamu begitu ingin tahu apa yang aku lakukan di luar sana?"


Sekuat tenaga Delita menahan nyeri di ulu hati yang tahu-tahu terasa begitu menyiksa. Menggeser kursi yang ia duduki, Delita akhirnya bangkit. Ada sorot terkejut dari mata Alvin.


"Baiklah, maaf jika keingintahuanku mengusikmu" ucap Delita mencoba mengendalikan nada bicaranya agar tetap tenang. "Selamat malam" pungkasnya lalu beranjak dari meja makan.


"Aku belum selesai bicara"


Langkah kaki Delita terhenti, tetapi hanya beberapa detik setelah itu ia kembali melangkah .


"Tidak mau dengar apa kata suami?" kali ini nada Alvin sedikit meninggi.


Delita menarik napas berat sambil terus melangkah menjauh dari area ruang makan.


Tiba-tiba lengannya di cengkram dan tubuhnya di balik dengan paksa ketika Delita baru memasuki ruang tengah. Alvin menatapnya dengan sorot tajam.


"Selain sulit mengutarakan perasaanmu, kamu juga sangat sulit di ajak berdiskusi" ujarnya di iringi senyum miring yang membuat wajahnya terkesan sangat angkuh.


"Apa yang ingin kamu diskusikan denganku?"


"Keinginanmu?" sahut Alvin cepat. "Bukankah kamu menginginkan perceraian?"


Lagi-lagi ucapan Alvin membuat Delita merasa nyeri yang kian menyeruak.


"Apa kamu berniat membatalkan keinginanmu untuk bercerai dariku?" tanya Alvin ketika Delita hanya diam. "Katakan apa yang kamu inginkan, dan jangan penuhi apa yang tidak kamu inginkan. Berusahalah melawan ego serta gengsimu sebelum menyesal" Sinisnya dingin.


"Satu lagi" lanjut Alvin masih dengan tatapan miring. "Jujur akan lebih baik untukmu kedepannya"


"Apa kamu akan menceraikanku jika aku memaksamu?" tanya Delita akhirnya. "Bukankah kamu pernah bilang tak akan pernah menceraikanku meskipun aku memaksa?"


"Lalu apa maumu sekarang, jika perceraian akan membuatmu bahagia, akan aku lakukan"

__ADS_1


"Terus kemana pendirianmu pergi yang katamu akan terus mempertahankanku?"


"Katakan saja jika kamu tidak mau bercerai dariku, tidak perlu ada panjang kali lebar"


Usai mengatakan itu, Alvin menghempaskan tangan Delita dengan kasar, lalu berjalan ke arah kamar meninggalkan Delita yang masih mematung merasakan sesak yang kian menghimpit dadanya.


"Kenapa sesakit ini?" gumam Delita lirih. "Apa aku jatuh cinta padanya?"


Menarik napas panjang, berharap rasa sesaknya sedikit berkurang, tetapi tidak, justru sakit itu kian terasa.


Paginya, Delita sengaja tak keluar dari kamar, membuat Alvin menatap pintu kamar Delita dengan sorot bingung campur penasaran. Sampai jamnya berangkat ke kantor, Delita pun masih belum menampakkan batang hidungnya. Namun Alvin harus menahan rasa penasarannya kalau ingin membuat Delita semakin menyerah dan akhirnya mengutarakan perasaannya


****


Saat baru saja membuka pintu, Alvin yang dingin di kejutkan dengan penampilan pak Hermawan yang begitu menyedihkan setelah pengusirannya dari rumah Maria.


Alvin sempat mendengar kabar, bahwa saat ini ibu mertuanya telah pergi dan menetap di Amerika. Maria juga sempat bertemu dengan Alvin sebelum meninggalkan Macau untuk menjaga Delita baik-baik.


"Ada apa?" tanya Alvin datar, sedatar sorot matanya yang tanpa ekspresi.


"Papa mau ketemu Delita, boleh?"


Sebelum menjawab, Alvin memindai tubuh Hermawan dari ujung rambut hingga kaki.


"Masuk" perintahnya masih dengan nada datar Khas miliknya lalu segera melangkah menuju kamar Delita yang ternyata tidak di kunci.


Perlahan, Alvin berjalan mendekat ke arah ranjang.


"Del, papahmu mencarimu"


Menyibakkan selimut, nada bicara Alvin terdengar sangat lembut di telinga Delita, dan itu berhasil membuat hatinya kian tersentuh. Gadis itu menatap Alvin yang tengah berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.


"Ada papa di luar"


"Iya, papahmu"


Bergerak turun, Delita merasa pusing saat baru saja bangkit.


"Kamu sakit Del?" tanya Alvin menyelidik.


"Tidak, aku hanya kekurangan jam tidur"


Usai mengatakan itu, Delita keluar dari kamar lalu menuju di mana papahnya berada.


"Papah"


"Delita"


"Apa kabarmu nak?" Mereka berpelukan saling melepas rindu.


"Aku baik pah, papah gimana?"


"Papah juga baik" sahutnya masih dalam posisi berpelukan. Di sana Alvin menatapnya dengan sorot bercabang. Satu sisi ia merasa haru dengan pertemuan wanita yang ia cintai dengan papahnya, sisi lain Alvinpun merasa muak karena ternyata pria yang di panggil papah oleh istrinya tak lain adalah ayah kandung Pandu. Pria yang sudah merebut kasih sayang papahnya yang kini sudah tak ada di dunia.


"Del aku ke kantor dulu"


Ucapan Alvin barusan, membuat pelukan mereka terurai.


"Iya" jawab Delita. "Vin" Panggilnya selang dua detik, membuat langkah Alvin terhenti, lalu berbalik.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Hati-hati"


"Iya" jawab Alvin kikuk. Ini pertama kalinya Delita menyuruhnya berhati-hati. Dan itu, membuat Alvin menghangat dan diam-diam tersenyum dalam hati.


Setelah Alvin hilang dari pandangan, Delita kembali fokus dengan sang papah yang tampak tak segagah dulu.


"Papah sudah sarapan?"


"Belum Del"


"Kalau begitu aku buatkan sarapan, papah tunggu di sini"


"Deli"


"Iya pah"


"Papah dan mamah sudah resmi bercerai"


Delita menelan salivanya begitu mendengar ucapan papahnya.


"Semua harta mamahmu Devano yang menguasai, bahkan kamu tak mendapatkan sepeserpun karena Devano mengambil alih semuanya"


"Itu artinya, aku sudah tidak memiliki apapun. Sekarang, aku hidup dengan belas kasihan dari Alvin"


"Del"


Panggilan Hermawan membuat Delita tersadar.


"I-iya pah"


"Maafkan papah sudah merusak segalanya"


Meskipun sakit dan kecewa dengan sikap sang papah, tapi Delita berusaha menyingkirkan rasa sakit itu dan mengutamakan nasib papahnya yang kini mungkin sedang menelan karma.


"Aku buatkan sarapan dulu"


Tanpa menunggu jawabannya, Delita langsung masuk ke area dapur seraya menahan rasa sesak yang tiba-tiba hadir karena menahan tangis.


Saat baru saja memasuki area dapur, di mana ada meja makan yang menyatu dengan ruang memasak, Delita di kejutkan dengan sarapan di atas meja. Dia yakin roti isi itu Alvin yang membuatkannya.


Sejenak, Delita merasa bersalah dengan Alvin atas sikapnya yang seolah menolak kehadiran pria itu selama ini.


"Papah sarapan dulu ya" perintah Delita ketika kembali ke ruang tamu dengan membawa roti isi dan secangkir coklat panas.


"Makasih Del"


Hening, mereka terdiam cukup lama. Delita terus menatap Hermawan dengan sorot sendu. Tak menyangka jika keluarganya akan hancur per sekekian detik. Padahal dulu, Delita merasa keluarganya sangat harmonis dan saling menyayangi. Tapi kini, seolah waktu membalikkan kebahagiaan Delita yang langsung berubah 180 derajat.


"Papah sudah hubungi kak Pandu?" tanyanya seraya terus memperhatikan Hermawan yang tengah menikmati gigitan roti untuk kesekian kalinya.


"Belum" dustanya. Padahal saat Hermawan coba mendatangi Pandu, dia langsung mengusirnya.


"Aku akan hubungi kak Pandu"


"Untuk apa Del, itu tidak perlu"


"Kak Pandu anak papah juga, dia berhak tahu kondisi papah"


"Jangan, biarkan kakakmu hidup bahagia tanpa papah"


Mendengkus pelan, terpaksa Delita menyetujui permintaan papahnya, tapi dia tetap akan menemui Pandu untuk membicarakan nasib papahnya dan bersama-sama merawatnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2