Macau Love Story

Macau Love Story
Rencana makan malam keluarga


__ADS_3

"Sudah ada kabar dari ayah?" tanya Nayla. Saat ini dia sedang membantu memasangkan dasi.


"Belum ada" jawab Pandu sambil memasang kancing di lengan kemejanya.


"Seorang Pandu dan Alvin, butuh waktu berapa lama untuk mencari ayahnya?"


"Pencarian baru tiga hari Nay"


"Aku kan cuma nanya"


"Tapi pertanyaanmu seperti memojokkanku"


"Oh ya" balas Nayla, sebelah alisnya terangkat.


Tik... Pandu menjentikkan jarinya di kening Nayla, dan Nayla langsung mengusapnya. "Nanti siang ku pastikan sudah ku temukan pria itu"


"Pria itu ayah mas, mas sebenarnya juga merindukannya kan, tapi sok-sokan benci?"


Pandu memicing, sorot matanya tajam namun sama sekali tak membuat Nayla takut.


"Kenapa memicing? berani sama aku?"


Pandu masih bungkam. Yang dia lakukan hanya menatap lekat-lekat wajah istrinya. "Kamu makin kesini makin berani ya?"


Alih-alih merespon, Nayla justru menyunggingkan senyum, lalu melepaskan tangan yang mendarat di kedua sisi pinggang Pandu. "Aku ambilkan kaos kaki"


"Kompensasi apa yang akan kamu bayar jika aku menemukan dia hari ini" tanya Pandu mencengkram pergelangan tangan Nayla yang hendak berbalik.


Sebelum menjawab, Nayla melirik tangannya yang di cengkram, lalu beralih memindai wajah Pandu. "Kompensasi?" Tanya Nayla heran. "Mas mencari ayah sendiri minta kompensasi padaku, apa aku tidak salah dengar"


"Mau ku ulang?"


"Tidak perlu" jawab Nayla sambil melingkarkan tangan di leher Pandu. "Mas sudah memiliki segalanya, mau minta apa lagi dariku, padahal seluruh tubuhku sudah mas miliki, bahkan aku sudah melahirkan anakmu"


"Tapi aku akan tetap meminta bayaran padamu"


"Bayaran apa? uangmu sudah banyak, seharusnya kamu memberiku, aku kan yatim piatu, jangan malah memerasku"


"Ternyata selain menakutkan, kamu juga pandai beretorika ya"


"Aku belajar darimu mas"


"Ada saja jawabnya"


"Sudah siang, mau ke kantor, atau mau di rumah saja?"


"Maunya di rumah saja, tapi kalau tidak bekerja, bagaimana aku menghidupi anak yatim yang menggemaskan ini"


"Mas mengejekku?"


"Yang bilang anak yatim duluan siapa?"


Hening, Nayla merapatkan bibirnya lengkap dengan tatapan menajam, sementara Pandu tersenyum melihat raut wajah Nayla yang sepertinya memanas.


Sepersekian detik, Pandu mengecup bibir Nayla singkat, ketika hendak menjauhkan kembali wajahnya, tangan Nayla justru menahan tengkuk Pandu lalu mengikis jarak. Detik itu juga ganti Nayla yang mengecup bibir Pandu. Tidak sekedar mengecup, tapi juga memberikan lum*tan.

__ADS_1


Selang sepuluh detik, suara rengekan Kellen menginterupsi daddy dan mommynya yang saling menempelkan bibir, Matanya kompak menoleh ke samping kiri sesaat setelah mengurai tautan bibir mereka.


"Anak itu mengganggu saja" Gerutu Pandu mendesis.


"Dia kan anakmu"


"Memangnya siapa yang bilang dia anaknya Rondi?"


"Ish,," timpal Nayla sembari melangkah menuju ranjang milik Kellen.


"Aku berangkat ya"


"Pamit dulu sama jagoanmu"


Pandupun melakukan apa yang Nayla perintahkan. Setelah menyambar ponsel, kunci mobil, dan tas kerjanya, dia menghampiri Nayla yang sudah duduk di sofa kemudian mengecup pucuk kepala Kellen yang sedang menyesap menikmati Asi mommynya.


"Nanti pulang sedikit terlambat"


"Kenapa?"


"Mau temui ayah, katanya menyewa apartemen dekat tempat perjudian"


"Tapi mas tidak ada niat untuk bernostalgia di tempat itu kan?"


"Kamu benar-benar tidak pernah berbaik sangka padaku ya" kata Pandu dengan nada datar khas miliknya. "Aku jadi ingin menghukummu"


"Berani menghukumku, aku aduin ke ibu"


"Tunggu setelah empat puluh hari, aku pasti akan menghukummu semalaman, bahkan sampai pagi" ujarnya lalu mengecup pucuk kepala Nayla. "Coikin sayang, jadi anak baik ya, daddy titip mommy"


"Tidak sarapan dulu Cai?"


"Sudah tadi di kamar bu, Nayla membawakan Sandwich sama secangkir kopi ke kamar"


"Hati-hati ya, bilang Alvin suruh datang jenguk ibu, sekalian makan malam nanti, bilang juga ibu merindukannya"


"Iya" sahut Pandu seraya membuka pintu besi. "Titip ibu ya Nur" tambahnya sebelum menutup kembali pintunya.


"Iya pak"


******


Alvin mengernyitkan dahi ketika mendapati wajah Delita yang di tekuk sejak mereka bangun tidur. Hal itu membuat Alvin bertanya-tanya dalam hati.


"Ada apa dengannya, kenapa sepertinya sedang marah padaku?"


Bergerak bangkit, Alvin segera menghampiri Delita yang tengah mencuci piring bekas makan siang mereka.


Pria itu berdiri di belakang Delita sembari memeluknya.


"Ada apa denganmu?"


"Kamu tidak ada rencana kemana gitu hari ini?"


"Tidak, aku lebih suka menikmati week end di rumah, ketimbang di luar, apalagi setelah ada kamu, rasanya sudah tidak ingin kemana-mana"

__ADS_1


Delita mendengkus, merasa keinginannya untuk menemui bu Risa belum terealisasikan.


"Kamu sudah janji akan memenuhi keinginanku kan?"


"Iya" sahut Alvin lalu mengecup batang leher Delita. "Kamu mau minta apa, katakan saja tidak perlu ragu"


Delita berbalik, membuat Alvin mengangkat salah satu alisnya. "Pada dasarnya wanita tidak akan mengatakan apa yang mereka inginkan, jadi cobalah untuk peka"


Setelah mengatakan itu, Delita langsung pergi meningalkan Alvin yang masih termangu dengan sorot bingung.


Hanya selang dua detik, dia menyusul langkah Delita yang sepertinya menuju ke kamar.


Kamar milik Alvin yang juga sudah menjadi milik Delita. Alvin bahkan sudah memboyong semua barang-barang Delita ke kamarnya. Pertama pasta gigi dan sabun cuci muka yang ia bawa ketika pertama kali mereka tidur satu ranjang, lalu di lain hari, satu-persatu pakaian Delita pun berpindah ke lemari di kamar Alvin.


"Kamu minta apa Del, maaf aku lupa"


"Aku tidak minta apapun darimu, tapi apa kamu benar-benar lupa, permintaanku di hari minggu"


"Apa si Del, aku benar-benar lupa"


Delita yang sedari tadi menata pakaian yang sudah di setrika, berhenti sejenak untuk menatap sang suami.


"Kamu akan temui ibumu jika aku menyerahkan hatiku kan? aku sudah memberikan hati dan segenap cintaku untukmu, aku milikmu seutuhnya, jadi kamu harus jenguk ibu setiap akhir pekan"


"Soal itu, Pandu sudah mengundang kita untuk makan malam di rumahnya"


"Kamu menerimanya kan Vin?" potong Delita cepat.


"Aku belum mengiyakan"


Begitu mendengar jawabannya, Delita langsung melingkarkan tangan di pinggang Alvin.


"Ayolah Vin, kita mulai dari awal, memulai hubungan yang baik dengan keluarga kita"


"Oke, tapi aku mau malam ini kita begadang"


"Begadang?" tanya Delita bingung.


"Kita terbang ke awan sama-sama"


"Baiklah, lagi pula sentuhanmu itu, sudah menjadi candu untukku, membuatku ingin melakukan lagi dan lagi".


"Melakukan apa?" tanya Alvin pura-pura tidak paham kemana arah pembicaraan Delita.


Bukannya menjawab, Delita justru mencubit pinggang Alvin. "Setelah menemui ibu, kita juga akan menemui papahmu"


"Kamu serius Vin?"


"Aku tidak pernah main-main untuk kebahagiaan istriku" sahut Alvin yang langsung mengangkat tubuh Delita, lalu membaringkannya di atas ranjang.


"Katanya sudah menjadi candu, ayo kita lakukan"


Delita tersenyum mengangguk, tangannya merangkum wajah Alvin lalu dengan cepat mencumbunya penuh gai*rah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2