
"Nay, bisakah kamu ikut denganku?" tanya Hermawan ketika Nayla menyuruhnya duduk.
Saat ini Nayla sudah lebih tenang dari sebelumnya. Sementara bu Risa, dia masuk ke dalam kamar karena tidak ingin melihat Hermawan. Rasa sakit itu masih membekas di dalam sana ketika mengingat Hermawan memilih pergi darinya dan putranya.
Kini hanya ada Hermawan dan Nayla di ruang tamu apartemen. Sebelumnya, Nayla sudah melarang Apri untuk tidak menghubungi Pandu. Jika Apri tak menuruti ucapannya, dia akan pergi dan akan membuat Pandu menyalahkannya.
Apri pun menurut, lagi pula ponsel Pandu tidak bisa di hubungi karena Hermawanlah yang mencuri ponselnya sebelum ke Hongkong menemui Nayla. Cukup cerdik usaha Hermawan dalam memata-matai Pandu. Dia tahu pasti, jika Nayla akan menghubungi Pandu untuk memberitahukan kedatangannya.
Tetapi jika saja tadi Nayla tidak membuka pintu, Apri nyaris mengatakan bahwa Pandu sudah membawa Nayla pindah dari sini dan Hermawan nyaris tidak akan bisa menemukan Nayla. Namun inilah rencana Tuhan. Tuhanpun tahu bahwa langkah Pandu menikahi adiknya adalah hal yang salah, itu sebabnya membuat Nayla tiba-tiba saja muncul di hadapan Hermawan.
"Anda tahu kenapa putra anda melakukan itu?" tanya Nayla dengan pandangan lurus ke arah pintu. "Dia ingin membuatmu mengakuinya di hadapan Delita dan istri anda"
Mendengar jawaban Nayla, Hermawan seperti tertampar.
"Andai saja anda jujur pada putri dan istri anda, dia tidak akan melakukan itu"
"Apa kamu tidak akan menyelematkan suamimu?"
"Apa anda tidak bisa menyelamatkan anak-anak anda?" Sergah Nayla tak mau kalah. "Bukankah sebagai orang tua akan menyelamatkan anaknya dari hal-hal yang tidak kita inginkan?"
Susah payah Hermawan meneguk ludahnya sendiri. Bahkan Nayla lebih ganas dari pada Pandu.
"Lebih baik anda pulang, dan selamatkan kedua anak anda" ucap Nayla tanpa menatap wajah Hermawan yang nampak menyorot nanar.
"Jangan hanya demi harta anda mengorbankan anak-anak anda"
"Dia suamimu Nay"
"Dia anakmu" Nayla seolah tak mau kalah, ia terus mematahkan ucapan Hermawan hingga membuat Hermawan berkali-kali menelan salivanya.
Tanpa di duga, tiba-tiba Hermawan bersimpuh di kaki Nayla. "Setidaknya bantu saya mencegah pernikahan mereka. Jika kamu mencintai suamimu, tolong batalkan pernikahan anak-anak saya. Saya berjanji akan mengatakannya, tapi beri saya waktu, saya akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahu Delita dan istri saya"
"Kenapa?" tanya Nayla.
"Saya takut putri saya akan sakit hati jika mengetahui kenyataan bahwa Pandu kakaknya"
"Lalu aku harus berbuat apa untuk membatalkannya?"
"Kamu cukup mengatakan bahwa kamu istrinya Pandu di hadapan Delita. Dengan begitu Delita pasti akan mengurungkan niatnya dan tidak melanjutkan pernikahannya"
"Seyakin itu anda?" tanya Nayla memicing.
"Saya mohon Nayla?"
"Lalu apa yang akan anda beri untukku jika aku berhasil mencegah mereka?"
__ADS_1
"Kamu meminta imbalan?"
"Di dunia ini tidak ada yang gratis" jawab Nayla parau.
"Kamu meminta bayaran?" Tanya Hermawan mengernyit heran.
"Cukup akui mas Pandu di hadapan Delita dan Istri anda dalam waktu 1x24 jam setelah aku berhasil menggagalkannya"
Mendengar apa yang di katakan Nayla, Hermawan sedikit bimbang.
"Aku masih menjaga privasi anda, agar anda bisa menyelesaikan masalah anda secara keluarga. Tapi jika dalam waktu yang sudah ku tentukan anda tidak memenuhi janji anda, maka saya yang akan mengatakan pada istri dan putri anda"
Hermawan terdiam sejenak, namun sesaat kemudian, dia mengiyakan permintaan Nayla.
"Beri saya waktu untuk berkemas dan berpamitan pada ibu" Nayla berkata sembari bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Hermawan yang masih bersimpuh di tempat semula.
****
Duduk di tepian ranjang, Pikiran Nayla terbagi antara rasa sakit hatinya terhadap Pandu, Dan kenyataan tentang Pipo pria masa kecilnya.
"Apa aku harus menepikan rasa sakit hatiku dan menyelamatkan mereka?" atau membalas semua perbuatan mas Pandu yang telah melanggar janjinya?"
Tak ingin larut dalam lamunan yang tak ada gunanya, Nayla menarik napas panjang lalu mempersiapkan paspor serta ID card untuk menyebrang ke negara lain. Tak lupa membawa uang cash, dan ATM yang sebelumnya sudah Pandu sediakan.
Mengenakan coach hangat untuk melindungi dirinya dari dinginnya suhu udara yang saat ini sedang menyerang seluruh Hongkong dan Macau, Nayla meraih shall dan memakai kaos kaki.
"Bu" panggil Nayla lalu duduk sedikit menggeser kursi agar bisa berhadapan dengan sang ibu. "Aku mau nyusul mas Pandu ya bu"
"Lebih baik tetap di sini dan tunggu Pandu nak" ucapnya masih dengan susah payah.
"Tapi mas Pandu akan menikahi adiknya sendiri bu, kita harus mencegahnya"
"Kenapa bukan laki-laki itu sendiri yang mencegahnya Nayla"
"Bu, kita tidak bisa egois di sini bu, jika Pak Hermawan tidak mau menyelamatkan mas Pandu dari pernikahan sedarah, kita wajib menyelamatkannya, Kita tidak gila seperti pak Hermawan bu"
"Tapi tak ada intruksi apapun dari Pandu, itu artinya Pandu bisa menyelesaikannya sendiri"
"Tapi jika tidak bagaimana bu, bukan hanya aku yang sakit, tapi Delita dan pastinya calon anakku bu"
Sekuat tenaga bu Risa mengulurkan tangannya menyentuh sisi wajah Nayla.
"Kamu yakin bisa menyelesaikannya?"
"Aku minta doanya bu, meskipun aku tidak yakin, tapi sebisa mungkin aku akan berusaha"
__ADS_1
"Apa kamu akan pergi dengan Hermawan?"
Nayla mengangguk
"Kamu akan tinggal dimana nanti nak?"
"Aku akan langsung ke apartemen mas Pandu bu"
"Kamu hati-hati ya, Ibu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mendoakanmu"
Nayla mengangguk, sementara bu Risa merangkum wajahnya lalu mengecup kening Nayla sedikit lebih lama.
"Aku pamit ya bu" ucapnya setelah mengecup punggung tangan bu Risa.
Bu Risa hanya mengangguk lalu menyunggingkan senyum tipis.
"Nur aku titip ibu ya, aku akan segera kembali, kalau ada apa-apa, minta bantuan pada Apri dan juga Adan"
"Nona yakin mau ikut orang itu" tanya Nuri ragu-ragu.
Nayla mengangguk "Aku pergi ya Nur, jaga ibu, pintunya aku tutup dari luar.
"Saya sudah siap" ucap Nayla dingin dan tanpa ekspresi.
Hermawan langsung memindai pandangannya pada Nayla yang berjalan menuju pintu.
"Apri, tolong jaga ibu ya" perintah Nayla pada Apri yang sedari tadi berdiri di depan pintu apartemennya.
"Non, tolong jangan pergi, kita tunggu perintah dari pak Pandu"
"Dia tidak akan menghubungimu karena tidak ingin rencana untuk menikahi adiknya di ketahui olehku"
"Tapi Non?"
"Tolong jaga ibu, aku janji setelah urusan itu selesai, aku akan secepatnya pulang"
"Kalau begitu ijinkan saya ikut denganmu non"
"Tidak perlu Pri, kamu tolong jaga ibu"
"Mari pak Hermawan"
Nayla, Hermawan dan kedua anak buahnya pergi meninggalkan apartemen yang ditinggali Nayla, ia akan pergi ke dermaga untuk menaiki kapal menuju Macau.
***
__ADS_1
Hampir tiga jam berlalu, Nayla dan Hermawan kini telah sampai di Macau, Saat kedua anak buah Hermawan pergi untuk mengambil kendaraan, Hermawan dan Nayla menunggu di tempat tunggu khusus penjemput. Hermawan tengah menerima telfon dari seseorang, sementara Nayla tiba-tiba ada yang menarik tangannya dan pergi menjauh dari Hermawan.
Bersambung