Macau Love Story

Macau Love Story
Sepupu Nayla


__ADS_3

Setelah dari chanteng, kami berdua melangkahkan kaki menuju pasar, tangan mas Pandu terus menggandeng tanganku tanpa melepas barang sebentar.


Kami akan mencari benang rajut untuk ibu mas Pandu yang ingin membuat sapu tangan rajut.


Kata mas Pandu hobi merajut ibu sudah di lakukan semenjak mas Pandu masih berusia lima tahun.


"Nanti minta di bikinin kaos kaki rajut ke ibu biar hangat, ibu hamil tidak boleh kedinginan" ucap mas Pandu yang sama sekali tak ku respon.


"Nanti siang mau masak apa?"


Ku dengar helaan napas panjang dari mas Pandu sebelum kemudian menghentikan langkahnya, lalu memindai pandangannya padaku yang masih bungkam.


"Kamu kenapa?"


Aku menggeleng. Rasanya masih enggan bicara.


"Dimana-mana orang puasa itu nahan lapar, bukan puasa nahan ngomong" ucap mas Pandu semakin memantik rasa kekesalanku.


"Kalau mau ikut ke Macau, its ok, tapi tidak besok"


"Aku maunya besok" jawabku Akhirnya.


"Bisa tidak kamu patuh sama suamimu"


Usai mengatakan itu, tanpa menunggu sahutanku, mas Pandu langsung kembali melangkah, kami yang tadinya mau membeli benang rajut di pasar, akhirnya membeli di toko yang memang harganya lebih mahal.


Begitu sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamar, tak ku pedulikan mas Pandu yang mungkin menatapku heran, begitu juga dengan ibu dan Nuri, manik hitam mereka bergerak mengikuti tubuhku.


Aku berharap dengan mengunci diri di dalam kamar, mas Pandu akan luluh lalu akan membawaku pulang ke Macau.


Tapi harapanku sirna ketika mas Pandu mengetuk pintu dan bilang akan kembali ke Macau saat ini juga, karena ada hal yang harus mas Pandu selesaikan di sana.


Membuka pintu, ku biarkan pria itu memasuki kamar kami untuk mengambil laptop dan juga ranselnya.


"Aku tidak tahu kapan pulang kesini lagi" ujar mas Pandu sambil mengenakan kaos kaki. "Kamu jaga kesehatan, jangan lupa susunya di minum, jangan sampai kedinginan"


Aku yang sedari tadi diam dengan ekor mata menatapnya penuh amarah. Rasanya ingin sekali menjambak rambutnya kuat-kuat.


"Untuk kali ini saja" Mas Pandu berkata sambil mengunci netraku. "Nurut dulu sama aku, banyak musuh di Casino yang sedang mengincarmu, karena mereka tahu, kamu adalah kelemahanku" Usai mengatakan itu, mas Pandu mengecup Keningku lama, lalu beralih ke bibir, satu tangannya memegang salah satu sisi wajahku. "Aku mencintaimu" lanjutnya ketika bibirnya terpelas dari bibirku.


"Benar-benar mau pergi sekarang?" tanyaku ketika mas Pandu sudah berjalan beberapa detik lalu dan saat ini, tengah memegang handel pintu.


Dia diam tanpa melepas pandangannya dariku "Kita bicara lain waktu" Setelah menjawab, mas Pandu langsung membuka pintunya lalu menutup kembali.

__ADS_1


Dan aku, meskipun sudah berkali-kali memperingatkan diri sendiri bahwa suamiku adalah seorang yang memiliki banyak musuh, tapi justru malah mengekangnya. Seketika hantaman rasa bersalah menyerangku. Lagi-lagi aku bertindak bodoh dan telat menyadari kalau mas Pandu melakukan ini semata hanya untuk keselamatanku.


******


Siang hari, usai makan siang, tak ada hal yang bisa aku lakukan kecuali menunggu terbenamnya matahari. Aku mencoba menghibur diri dengan membuka ponsel, aku mulai berselancar di dunia maya, dan beberapa menit setelah membuka laman berlambang "f" tiba-tiba di kejutkan oleh pesan dari sepupuku.


"Laura"


"Nay, aku kangen kamu, dimana sekarang?" aku tahu kamu lagi on, secepatnya balas pesanku ya"


Menggigit bibir bawah bagian dalam, Aku di buat terheran dengan sikapnya. Tidak biasanya dia begini. Dia bahkan selalu jahat padaku selama ini.


Aku sengaja tak membalas pesannya, namun pesan ke dua pun masuk membuatku mengernyitkan dahi.


"Mama sakit, dia ingin bertemu denganmu, katakan padaku dimana kamu sekarang"


Saat pikiranku di buat melayang, aku di kejutkan oleh deringan ponsel berkedip. Laura, dia menelponku melalu aplikasi messenger.


Ragu-ragu tanpa melepas ponsel dari tangan, jariku menggeser ikon ke atas.


"Halo"


"Nayla, dimana kamu sekarang, kemana orang yang sudah membelimu, membawamu pergi?"


"Apa urusannya dengan kalian?" tanyaku datar dan tanpa ekspresi.


Tak ku respon ucapannya, aku berusaha mengalihkan topik.


"Ap tante Nancy baik-baik saja?"


"Mama tidak baik-baik saja, dia ingin bertemu denganmu, jadi sekarang katakan kamu di mana, kami akan menemuimu"


"Dalam waktu dekat ini, aku akan mengunjungi kalian"


Usai mengatakan itu, aku hendak mengakhiri panggilan telponnya, namun urung ku lakukan karena tiba-tiba aku mendengar kata Macau di sebut oleh Laura.


"Kami tidak di Jogja, kami ada di Macau saat ini"


Apa mas Pandu pergi mendadak karena dapat informasi dari Rondy dan Clara bahwa tanteku di Macau sekarang?, rumit, ini benar-benar sangat rumit.


"Apa yang kalian lakukan di sana?" tanyaku bingung sekaligus penasaran.


"Kami hanya berlibur"

__ADS_1


Dan jawabannya membuat lipatan di keningku kembali muncul. Mereka begitu dekat denganku, tapi bagaimana aku menemuinya.


"Nayla"


Panggilan dengan nada tingginya membuatku tersentak kaget.


"Katakan dimana kamu sekarang, aku dan mama akan menemuimu"


Ketika aku hendak menjawab, tiba-tiba kudengar suara seorang pria, sangat lirih, namun aku masih bisa mendengarnya.


"Jangan terlalu banyak basa basi, kamu harus bisa membuatnya mengaku, cepat?"


Mendengar itu, reflek tanganku mematikan panggilannya, dan segera of dari aplikasi itu. Takut jika nanti Laura akan menelponku kembali.


Kalimat pria itu terus terngiang. Jujur saja aku tidak pernah memikirkan hal ini, aku benar-benar terusik dengan ucapannya.


Mendengkus pelan, aku menyandarkan punggung sambil menatap ponsel yang menampilkan walpaper dengan pemandangan indah jembatan panjang yang menghubungkan Hongkong-Macau. Jalur darat untuk menempuh perjalanan Hongkong menuju Macau, atau sebaliknya.


Setelah berfikir cukup lama, aku berniat menghubungi mas Pandu yang mungkin saja bisa menjawab rasa penasaranku.


Sedikit menunggu lebih lama, panggilanku baru tersambung.


"Iya Nay" Suara di balik telpon, setelah mengucapkan salam.


"Sudah sampai dimana?"


"Baru akan naik kapal, kenapa?"


"Baru saja tante Nancy menelponku, dan mengatakan ingin bertemu denganku"


"Bagaimana mereka bisa menelponmu"


""Aku tidak sengaja membuka laman Facebook ku, dan sesaat setelah itu, dia menelpon melalui messanger"


"Lalu apa lagi yang dia katakan?" Tanya mas Pandu yang kesannya seperti sedang meng-cross chek.


"Dia bertanya dimana aku tinggal saat ini"


"Dengar baik-baik Nay" Ucap mas Pandu, jika saja kita sedang berbicara secara tatap muka, aku yakin pasti akan menemukan sorot matanya yang serius menatapku. "Apapun yang mereka katakan, apapun yang mereka minta, kamu jangan pernah memberitahu dimana kamu sekarang. Mengerti"


"Kenapa?" pertanyaan itu reflek keluar dari mulutku.


"Mereka sedang bersama Alvin saat ini, Dia pasti sudah menyuruh mereka untuk membawamu pada Alvin"

__ADS_1


Mendengar jawabannya, aku merasa terancam. Pikiranku terus bertanya apa yang mereka inginkan.


Bersambung


__ADS_2