Macau Love Story

Macau Love Story
22 (Tentang Alvin & Tania)


__ADS_3

Entah kenapa aku tak bisa mengendalikan diri saat berada di dekat mas Pandu. Mulutku benar-benar tidak tahu malu. Kalau tidak tiba-tiba mencium ya ngeluarin komplain.


Komplain apa saja, misalnya tadi setelah mandi, dia meletakan handuknya begitu saja di atas kasur, biasanya aku akan diam lalu mengambilnya, tapi kali ini mulutku seolah menolak diam, dan akhirnya aku harus sedikit mengomeli pria ini.


Aku tidak tahu kemana malu serta gengsiku pergi.


"Kapan mas kembali ke Macau?"


"Belum tahu" jawabnya yang saat ini tengah mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer


Dengan mulut terkatup rapat, aku sedikit menekan bibirku ke dalam "Kenapa?" tanya mas Pandu tiba-tiba, ia menatapku melalui pantulan cermin.


"Aku baru saja datang, kenapa tanya kapan balik? kamu pengin aku cepat-cepat kembali lagi ke Macau?" Mas Pandu yang baru saja mengeringkan rambutnya, langsung menyusulku ke ranjang.


Aku memastikan dengan tanganku kalau rambutnya benar-benar sudah kering sebelum membiarkannya tidur.


"Kenapa?" mas Pandu mengulang pertanyaannya "Kamu ingin aku cepat-cepat kembali ke Macau?"


"Tidak" Sergahku cepat.


"Lalu?" tanyanya dengan alis menukik tajam.


Sebenarnya aku tidak ingin dia kembali ke Macau, tapi masih belum punya keberanian untuk mengatakannya.


"Kenapa?" tanyanya kali ini nadanya sangat lembut.


"Kalau bisa jangan ke Macau sampai aku lahiran" sahutku. Aku ingin sekali menyembunyikan wajahku saat ini juga, kalau bisa aku ingin sekali memohon supaya dia tidak mendengar ucapanku barusan.


Aku mendengar helaan napasnya lalu ku rasakan tangannya terulur mengusap rambutku.


"Untuk menemani hari-harimu, maaf belum bisa"


Dan jawabannya membuatku ingin membanting laptopnya.


"Tapi untuk lahiran nanti, aku usahakan ada di sampingmu"


"Usahakan?, berati kalau tidak di usahakan, tidak bisa nemenin ya?" tanyaku keberatan.


Mas Pandu tampak menyunggingkan senyum.


"Kalau gitu aku ralat" tangan mas Pandu yang tadi mengusap rambutku, kini beralih menggenggam tanganku. "Menjelang lahiran, aku akan disini"


"Kapan itu?"


"Kamu maunya kapan?"


"Usia kandungan tujuh bulan" jawabku cepat


"Itu terlalu lama sampai menjelang lahiran"


"Ya sudah terserah mas"


"Delapan bulan ya" tawarnya


"Kalau gitu aku ikut pulang ke Macau"


"Bahaya"


Mendengkus pelan, aku tak merespon ucapannya, sampai hening beberapa detik, pandangan kami teralihkan pada ponsel mas Pandu yang bergetar. Bukan pesan masuk, melainkan panggilan telpon. Tangan mas Pandu meraih benda tipis itu lalu meliriku sekilas, setelahnya ia kembali fokus pada layar yang menyala.


"Iya Cla, ada apa?"


"Belum tahu, kenapa?"


Entah apa yang mereka bicarakan, mas Pandu lebih memilih keluar kamar, dan aku menatap bingung ke arahnya, sampai dia menghilang di balik pintu.


Sebenarnya ingin sekali mengetahui apa yang mereka bicarakan, tapi nyaliku terlalu kecil memerintahkan dia untuk tetap menerima telpon disini dan mengeraskan suara ponselnya.


Selagi aku menunggu mas Pandu bicara dengan seseorang yang ku tahu adalah Clara, aku memilih pergi ke kamar ibu.

__ADS_1


Saat keluar, ternyata mas Pandu sedang berbicara di dapur, terdengar seperti tengah mengaduk sesuatu di dalam gelas, mungkin dia membuat kopi.


"Nur, ibu sudah tidur?"


"Sudah Non, Nona belum tidur?"


"Tahu kan, kalau aku tidak akan bisa tidur sampai tengah malam"


"Iya Non, bawaan hamil kali ya?"


"Mungkin" jawabku singkat.


"Untung ada pak Pandu, jadi ada teman ngobrol sebelum tidur"


Aku tersenyum meresponnya, bersamaan itu, ada ketukan pintu dari luar, membuat aku dan Nuri kompak menoleh. Sosok mas Pandu tengah berdiri di ambang pintu, lengkap dengan senyum simpulnya. Tangan kiri masih berpegang pada handle pintu, sementara tangan kanannya menopang pada kusen.


"Ibu hamil tidak boleh tidur terlalu malam" ucapnya. Membuat Nuri tersenyum.


Dua kata itu mendadak viral di telingaku. "Aku kembali ke kamar ya Nur, maaf sudah mengganggu. Selamat malam" ucapku sebelum keluar dari kamar ibu dan juga Nuri.


***


Aku terharu, saat netraku menangkap segelas susu di atas nakas, aku sempat melirik mas Pandu yang berada di belakangku tengah menutup pintu kamar kami.


"Mas bikin susu?"


"Iya" jawabnya


Mungkin tadi bukan kopi yang di buat mas Pandu, tapi susu untukku, kalau kopi biasanya aromanya akan menguar ke seluruh ruangan, sebab apartemen ini sangat sempit menurutku.


"Buat aku?"


"Memangnya buat siapa lagi?"


"Siapa tahu buat mas?"


"Memangnya aku hamil" jawabnya sambil mengatur suhu AC "Cepat di minum nanti dingin" lanjutnya lalu merebahkan diri di atas kasur, tangan kanannya ia gunakan untuk menopang kepalanya.


"Clara"


"Ada masalah?"


"Banyak"


Keningku mengkerut seketika mendengar jawabannya.


"Sebanyak apa?" tanyaku penuh selidik.


"Banyak wartawan yang menungguku di Dermaga, mengingat kemarin aku sempat kepergok paparazi saat mau kesini"


"Mau apa mereka"


"Mau tahu tentang kamu, apa lagi"


Aku kembali meneguk sisa susu dalam gelas hingga tak tersisa, otakku berfikir keras seolah tak percaya, aku merasa jadi artis dadakan.


"Ayo tidur" Mas Pandu menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.


"Clara bilang apa lagi tadi"


"Cuma pesan untuk hati-hati, soalnya baik media maupun Alvin penasaran banget sama kamu"


"Kenapa dengan Alvin, kok sepertinya dia dendam sama mas?" tanyaku sambil naik ke atas ranjang.


"Dia memang tidak suka sama aku"


"Alasannya apa?"


"Ibu menikah dengan ayahnya Alvin"

__ADS_1


Pria ini benar-benar menyimpan banyak rahasia, Entah ada berapa lagi rahasia dia yang belum aku ketahui. Menelan ludah, aku berusaha menormalkan ekspresiku.


"Lima tahun setelah pisah dengan ayah, ibu menikah dengan ayah Alvin" ujarnya lalu Bangun dan duduk bersila menghadapku, yang saat ini duduk bersandar pada headboard "Saat itu aku dan Alvin sama-sama di bangku SMA, Aku kelas tiga, Alvin kelas satu, dia merasa kalau ayahnya lebih menyayangiku dari pada dia yang jelas anak kandungnya, padahal tidak, jelas ayahnya lebih sayang sama Alvin"


Jadi mas Pandu dan Alvin pernah jadi saudara.


"Terus?" aku melipat tangan di dadaku.


"Ya dari situ Alvin ingin selalu memiliki apa yang aku miliki, karena dia merasa aku sudah merebut kasih sayang ayah darinya" Mas Pandu menjeda ucapannya bukan untukku, melainkan untuk dirinya sendiri. "Kebenciannya kian jadi saat ayah mewariskan hartanya padaku, sebelum Alvin benar-benar menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab, dia tidak bisa memilikinya"


Aku benar-benar tercengang mendengarnya. "Ayahnya di mana sekarang?"


"Sudah meninggal" jawab mas Pandu "Dan aku di beri tanggung jawab sama ayah untuk merubah Alvin menjadi lebih baik lagi" lanjutnya.


Ok, aku harus bisa mengatur detak jantungku yang mulai tidak karuan, karena tangan mas Pandu yang semakin jahil.


"Sebelum tangan mas semakin nakal, jawab dulu pertanyaanku"


"Apa?" sahut mas Pandu sambil terkekeh


"Memangnya warisan apa yang di kasih sama ayahnya Alvin?"


"Hotel dan Restauran"


"Hotel dan Restaurant?" tanyaku memastikan.


Mas Pandu mengangguk "Semua hotel dan restauran di macau itu milik Alvin, cuma sementara saja yang kendalikan, nanti kalau Alvin benar-benar bisa berubah, akan aku serahkan semuanya"


"Aku kira hotel dan Restauran itu mas bangun dari hasil judi"


Mas pandu tampak mengulas senyum "Aku tidak pernah memakai uang hasil judi untuk apapun" Kemenanganku aku sumbangin untuk rumah sakit dan sekolah"


Untuk kesekian kalinya hal ini di luar dugaanku.


"Lalu apartemen?" tanyaku lagi


"Itu murni milikku, aku bangun dari hasil mengelola restauran dan hotel peninggalan ayah. 30% miliku, 35% milik Tania, dan 35% milik Alvin. Itu pembagian keuntungan dari beberapa restauran dan hotel.


"Tania?" tanyaku mengintimidasi.


"Adiku dari pernikahan ibu dan ayahnya Alvin"


"Di mana dia?"


"Baru masuk SMA, di Beijing"


"Kok di sana?" tanyaku makin penasaran.


"Kemauan dia sendiri minta masuk asrama"


"Ooh gitu" Mengatupkan bibir rapat-rapat, aku kembali memberikan pertanyaan "Jadi semua restauran dan hotel di Macau bukan milik mas?"


"Bukan, di Macau aku cuma punya apartemen"


"Alvin tidak menggugat memangnya?"


Lagi-lagi mas Pandu tersenyum, "Tidak bisa sebelum dia berubah, dan keputusan ada di tangan pengacara. Sang pengacara yakin jika Alvin yang kelola, di jamin tidak akan sesukses ini, kemungkinan justru akan habis buat taruhan judi"


"Terus restauran yang disini?"


"Kita lanjut besok ya, ibu hamil harus banyak istirahat, tapi sebelumnya" mas Pandu mengatupkan bibir, bola matanya bergerak gelisah mencermatiku dari kepala hingga batas sensitiveku "Hidangan penutupnya belum kan?" tanyanya membuatku mendelik.


Nah kan mas Pandu memang tidak bisa di hindari. Dengan cepat ia memposisikan dirinya.


"Tidak apa-apa kan kita lakukan saat kamu hamil?"


Aku menggeleng menahan napas, karena jarak wajah kami tak kurang dari sejengkal. "Ini pertama kalinya aku hamil, jadi tidak tahu" jawabku sekenanya.


"Ah jangan pikirkan itu, yang penting pelan-pelan dan hati-hati" ucapnya lalu menciumku

__ADS_1


Bersambung


Makasih votenya sayang 😙


__ADS_2