
Bukan hal yang sulit bagi Alvin untuk menghancurkan Pandu, karena dia tahu bahwa kelemahannya saat ini ada pada Nayla, istrinya.
Satu minggu lebih Alvin mencari keberadaan tante Nancy yang dulu sempat akan menjual Nayla pada Alvin. Dan di hari ke sembilan, Alvin menemukan Nancy beserta anaknya, lalu membawa mereka menuju Macau.
Alvin akan memperalat Nancy dan Laura agar bisa secepatnya mengetahui dimana Nayla.
"Bagaimanapun caranya, kamu harus memaksa Nayla untuk mengaku dimana Pandu menyembunyikannya" Desakan dari alvin membuat Nancy memikirkan banyak hal. Padahal sebenarnya Nancy sudah tidak mau lagi berhubungan dengan keponakannya itu.
"Ingat, aku sudah memberimu banyak uang, dan membiarkan kalian tidur dengan nyenyak di apartemenku secara gratis"
"Kamu tenang saja, pasti kami akan segera tahu dimana Nayla berada"
"Bagus" sahut Alvin singkat.
"Kalau boleh tahu" Pungkas Nancy ragu-ragu "kenapa kamu ingin sekali mendapatkan Nayla?" tanyanya takut-takut.
"Dia hanya akan aku jadikan alat untuk menghancurkan Pandu"
"Pandu" sambar Nancy dan Laura nyaris bersamaan.
"Siapa Pandu?"
"Suami Nayla"
"Suami Nayla?, dia sudah menikah"
"Ya, dia sudah menikah dengan kakak tiriku"
"Jadi Pandu adalah kakak tirimu? apa pria yang membeli Nayla bernama Pandu"
"Hm" jawab Alvin dengan nada dingin. "Dan dia menikahinya begitu dia membeli keponakanmu itu"
"Jadi Nayla menikah dengan pria kaya raya" Batin Laura, Seketika Laura penasaran dengan pria bernama Pandu yang yang sudah menikahi kakak sepupunya, dia juga merasa iri dengannya karena Nayla berhasil menjadi istri dari pria kaya.
"Pasti hidupnya sangat bahagia punya banyak uang, ah aku jadi ingin merebut pria itu dari Nayla" Laura masih membatin dengan khayalannya.
"Aku harus baikin Nayla agar dia mau bertemu denganku, dan akan aku serahkan dia pada Alvin, aku akan menjebaknya seolah Nayla menghianatinya dengan Alvin, dan di situlah aku akan masuk dalam hidup Pandu"
__ADS_1
Disaat Laura sibuk dengan khayalannya, Nancy pun merencakan hal yang sama. Dia akan membuat Nayla tidur dengan Alvin, dan akan memaksa Laura untuk menggantikan Nayla menjadi istri pria kaya bernama Pandu.
"Apa yang kalian pikirkan?" tanya Alvin dengan kilat mata memerah serta sorot tajam.
"T-tidak" jawab Nancy dan Laura kompak.
"Apa yang akan kamu lakukan pada Nayla jika kamu mendapatkannya?" tanya Nancy memicing
"Tentu saja akan membawanya ke ranjangku, aku akan menidurinya, dengan begitu Pandu pasti akan hancur"
"Yes, tepat sekali" Bisik Laura dalam hati lengkap dengan senyum sinisnya.
***
Disisi lain Pandu yang baru saja sampai di hongkong berpikir keras untuk mencari cara supaya Alvin tak bisa menemukan Nayla.
Sebelumnya, Pandu sudah memerintahkan Nuri untuk melarangnya keluar rumah, dia juga sudah mengutus dua pria yang mengawal Sang ibu dan juga istri di Hongkong, untuk memastikan bahwa wanita kesangannya selalu dalam kondisi aman.
"Delita" gumam Pandu, lalu menjentikan dua jarinya, "Aku akan gunakan dia untuk mengecoh Alvin, aku akan pastikan bahwa aku sudah tidak berhubungan dengan Nayla, dengan begitu, Alvin pasti akan ganti mengejar Delita, lalu melupakan Nayla"
"Kalau tidak salah, Delita pernah menuliskan nomor ponsel, dan sampai sekarang aku belum menyentuh kertas itu" Pandu terus bergumam, sembari mengingat-ingat ada dimana kertas berisi nomon ponsel Delita. "Kertas itu pasti masih ada di dashboard mobil"
Tak menunggu lama, Pandu mengambil langkah lebar, dia turun dari flat menuju tempat parkir.
Beberapa menit berlalu, kertas itu sudah berada di tangannya, ia kembali menaiki lift menuju ke rumahnya.
Meraih ponsel yang ia letakan di meja makan, jarinya dengan gesik menyentuh tiap angka pada keypad.
"Halo" Suara lembut milik Delita dari sebrang telfon.
"Halo"
"Maaf anda siapa?"
"Pandu"
Mendengar nama Pandu, seketika hati Delita mencelos, ada debaran yang entah dari mana datangnya.
__ADS_1
"Kak Pandu?"
"Kapan kita bertemu?"
"K-kakak ingin kita bertemu?" Delita tergagap merespon pertanyaan Pandu.
"Hmm"
"Aku bisa menemuimu kapan saja sepulang aku kerja kak"
"Baiklah kamu kerja dimana?"
"Royal Park Hotel kak"
"Royal Park Hotel?" tanya Pandu mengulang ucapan Delita.
"Iya kak kenapa?"
"Itu hotel mikikku" Namun Pandu hanya bisa membatin.
"Baiklah hari ini aku akan menjemputmu, kita makan malam di luar"
"Ap-apa kak?, makan malam?"
"Kamu masih muda, kamu tidak tuli kan" Sinis Pandu dengan sudut bibir terangkat. "Tunggu aku di hotel tempatmu bekerja?, jam tujuh aku sudah di lobi hotel"
"Iy-ya kak"
Meskipun ajakan Pandu hanya melalui telpon, namun berhasil membuat Delita salah tingkah, dan kian gugup. Ini di luar dugaannya, bahkan tak menyangka sama sekali bahwa pria dewasa yang mampu menarik hatinya, akan mengajaknya makan malam.
Sesaat setelah memutuskan panggilan telfon, tiba-tiba pikiran Pandu singgah ke beberapa tahun silam, dimana ayahnya pergi meninggalkannya dan sang ibu demi Wanita bernama Maria. Bahkan sang ayah tek mengindahi panggilan Pandu saat itu. Pria itu terus melangkah, mengabaikan panggilannya dan tangisan ibunya.
Kepergian sang ayah, membuat sang ibu terpuruk, hingga menikah dengan ayahnya Alvin pun bayangan ayahnya masih mengusik pikirannya.
"Maaf Del, dengan begini aku akan melakukan dua hal sekaligus. Mengecoh Alvin, dan membuat tuan Hermawan tercengang. Aku sangat yakin, jika tuan Hermawan tahu siapa aku, pasti akan melarang hubungan ini, apalagi jika aku sampai berpura-pura ingin menikahimu. Melihat putrinya hancur, pria kejam itu pasti akan sakit hati. Dan di situlah aku membalas rasa sakit yang dialami ibu bahkan hingga saat ini.
Bersambung
__ADS_1