
Sampai saat ini rasa cemas Hermawan kian memuncak, Ia merasa menyesal telah lengah menjaga Nayla tadi malam, andai saja Maria tidak menelponnya, sudah pasti Hermawan berhasil menggagalkan niat Pandu menikahi adiknya. Detik sudah berganti menjadi menit, dan malam sudah beralih ke pagi, hingga beberapa jam lagi siang pun segera menyambut. Tidak ada yang bisa Hermawan lakukan kecuali menunggu kabar dari anak buahnya.
Semalam, Hermawan begitu panik ketika tak ada Nayla di sisinya, dia dan anak buahnya langsung berpencar mencarinya, namun tak ada tanda-tanda Nayla berada di sana setelah mereka mengelilingi Dermaga.
"Aah,, Sial" Desis Hermawan lalu melirik jam di pergelangan tangannya.
Waktu semakin berjalan maju, namun kedua anak buahnya belum juga memberi kabar apapun.
Dia belum siap jika harus mengatakan yang sejujurnya pada Delita dan Maria bahwa Pandu adalah anak dari istri pertamanya. Sementara Delita bersikeras ingin menikah dengan Pandu, karena mendapat persetujuan dari Maria dan Devano, Hermawanpun tak bisa melarang pernikahannya dengan alasan apapun, kecuali membawa Nayla ke hadapan Pandu.
Namun rencana yang sudah ia susun, tak berjalan mulus sesuai dengan keinginannya.
Sementara Rondi dan Clara, segera mengarahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Nayla. Clara yang mendapat kabar dari Nuri dan juga Apri, bahwa Nayla di bawa oleh Hermawan dan anak buahnya, segera mencari keberadaan Hermawan.
"Aku akan mengembalikan Nayla, tapi gagalkan dulu pernikahan Pandu dengan Delita" Clara tercengang mendengar permintaan Hermawan, begitu juga dengan Rondi.
"Kami akan menggagalkannya, tapi tunjukan Nayla terlebih dulu pada kami, jika kami belum melihat Nayla, kami tidak akan menggagalkan rencana Pandu" pungkas Rondi.
"Batalkan dulu, maka aku akan mengembalikan Nayla pada kalian"
"Kami tidak percaya padamu, sebelum kami melihat Nayla baik-baik saja"
"Kalau begitu Nayla akan mati" sahut Hermawan.
"Jika Nayla mati, maka Delita juga akan mati, dan kamu pasti akan kehilangan kepercayaan dari istrimu" Ancam Rondi serius. "Anda akan di buang oleh Maria" lanjut Rondi.
Hening, selama beberapa menit, mereka hanya diam dan saling menatap satu sama lain, dengan pikiran masing-masing.
"Nayla tidak bersamaku" aku Hermawan akhirnya karena merasa dilema. "Dia menghilang saat kami berada di dermaga"
Pangakuan Hermawan membuat Clara dan Rondi naik pitam.
"Apa maksud anda?" bentak Rondi menahan geram.
"Dia menghilang ketika aku sedang menerima telfon"
Rondi bangkit dan hendak melayangkan tonjokan pada Hermawan, namun Clara segera menahannya.
"Apa anda serius dengan ucapan anda?" tanya Clara yang dulu sempat menjadi keponakan Hermawan.
"Aku serius Clara, Aku memang menjemput Nayla di Hongkong, tapi saat baru saja tiba di Macau, dia tahu-tahu menghilang"
Clara dan Rondi saling pandang, lalu secara bersamaan menyebut nama adik tiri Pandu.
__ADS_1
"Alvin"
"Kita harus temui dia Ron"
Rondi mengangguk merespon ucapan Clara.
Tanpa menghiraukan Hermawan, Clara dan Rondi meninggalkan Hermawan yang masih duduk di dalam restauran dekat acara pernikahan Pandu dan Delita di adakan.
******
"Maukah kamu bekerja sama denganku?" tawar Nayla, Ia kembali duduk di tempat tadi dan Alvin mengekor di belakangnya.
"Kerja sama apa maksud kamu?"
"Kamu mencintai Delita kan?
Alvin bungkam, namun bungkamnya karena dia terlalu gengsi mengakuinya di hadapan Nayla.
"Tidak akan ada yang percaya kalau kamu mencintai Delita tanpa menikahinya termasuk aku."
"Apa maksudmu?" tanya Alvin menyelidik, tatapannya terus tertuju pada Nayla yang sama sekali tak mengerjap.
"Kamu tadi bilang bahwa tidak tahu cara membuktikan cintamu bukan?"
"Jika kamu benar-benar mencintai Delita, buktikan padaku dengan cara kamu berdamai dengan Pandu. Dengan begitu aku akan percaya padamu, dan sekuat tenaga aku akan membantumu mendapatkan Delita. Bagaimana?"
"Kamu menyuruhku berdamai dengan Pandu yang jelas dia sudah merebut segalanya dariku?" ujarnya sinis, lengkap dengan senyum miringnya "hhhhh yang benar saja"
"Apa yang Pandu rebut darimu, aku akan mengembalikannya padamu?"
Alvin menelan ludahnya sendiri, seakan tak percaya dengan ucapan Nayla.
"Kecuali satu" sambung Nayla dengan sorot serius. "Ayahmu"
Terlihat gurat kesedihan di raut wajah Alvin ketika Nayla menyebut ayahnya.
"Apa yang Pandu rebut darimu, katakan padaku?"
"Ayahku, kasih sayangnya, dan hartaku" jawab Alvin spontan.
"Baiklah aku akan kembalikan itu padamu. Aku akan kembalikan hartamu, dan akan mengganti kasih sayang ayahmu"
Alvin mengernyit seolah tidak paham dengan ucapan Nayla, Nayla yang menyadari itu langsung kembali menjelaskan.
__ADS_1
"Ibu mertuaku akan menggantikan kasih sayang ayahmu, dia yang akan memberikan cinta sebagai seorang ayah untukmu"
"Ibu" gumam Alvin memicingkan mata.
"Iya, ibu mertuaku akan memberikan sepenuh kasih sayangnya padamu, untuk menggantikan kasih sayang ayahmu yang kamu bilang di rebut oleh Pandu"
"Aku tidak butuh kasih sayang seseorang yang sudah menghianati ayahku"
"Menghianati?" tanya Nayla.
"Gara-gara dia masih mencintai mantan suaminya, ayahku meninggal"
"Tapi dia tidak pernah menghianati ayahmu, dia hanya belum bisa melupakan mantan suaminya yang sudah meninggalkannya"
"Tetap saja" sergah Alvin, berusaha mengelak pendapat Nayla.
"Jika ibu mertuaku tidak mencintai ayahmu, Tania tidak akan pernah ada di tengah-tengah kalian" Nayla mengatakannya dengan sorot sepenuhnya ke wajah Alvin. "Seperti ayahmu yang menyayangi Pandu layaknya anak sendiri, ibunya Pandu juga menyayangi kamu seperti putranya, mereka menyanyangi anak-anaknya, kamu harus tahu itu Alvin" Tak sadar, Nayla meninggikan nada suaranya. "Pandu pun menyayangimu, begitu juga dengan Tania, tapi kamu terlalu sibuk dengan amarahmu, dengan egomu, dengan kebencianmu, itu sebabnya kamu sampai tidak bisa merasakan kasih sayang mereka" pungkas Nayla tanpa jeda.
"Sepertimu yang tidak rela kehilangan kasih sayang ayahnya, begitupun dengan calon anakku"
Mendengar kalimat terakhir Nayla, persekian detik Alvin mengalihkan pandangan ke perut Nayla yang sedikit membesar.
"Anakku pasti tidak akan rela jika ayahnya menikah dengan Delita"
Nayla masih merahasiakan tentang hubungan darah antara Pandu dengan Delita dari Alvin.
"Jika kamu menyetujui kesepakatan kita, aku akan kembalikan semua harta yang saat ini di kuasai oleh Pandu, kamu akan mendapatkan kasih sayang keluargamu, dan yang pasti, ku pastikan kamu akan mendapatkan Delita"
Kerja sama Nayla cukup menggiurkan untuk Alvin, namun ia baru yakin lima puluh persen.
"Hiduplah lebih baik Alvin, dengan begitu kamu pasti akan mendapatkan cinta tulus dari semua orang. Apa kamu tidak lelah menjalani hidupmu yang monoton seperti itu?"
"Aarrggg, diam kamu" pekik Alvin seraya menyugar rambutnya kasar.
"Pernikahan mereka akan berlangsung siang ini kan?, kamu bisa menggagalkannya dengan menyetujui kesepakatan kita Alvin"
Nayla sangat berharap Alvin benar-benar mencintai Delita, dan mau membuktikannya dengan bersedia berdamai dengan Pandu.
"Jangan biarkan cintamu lepas begitu saja Alvin, jangan biarkan Delita menjadi milik Pandu, jangan biarkan cintamu bertepuk sebelah tangan, dan untuk mempertahankan itu, kamu sangat membutuhkan bantuanku"
"Baiklah"Jawab Alvin. "Tapi jika kamu tidak bisa menggagalkan pernikahan mereka, detik itu juga aku akan membunuhmu"
Nayla mengangguk dengan senyum terulas penuh kemenangan.
__ADS_1
Nayla berusaha keras untuk mendamaikan Pandu dengan Alvin, menggagalkan pernikahan suaminya dengan adiknya, serta membuat Hermawan mengakui Pandu di depan Delita dan Maria.