Macau Love Story

Macau Love Story
21(Perubahan drastis ibu)


__ADS_3

Aku tersenyum sesaat setelah membuka pintu. Tadi setelah sarapan, mas Pandu dan juga Nuri mengantar ibu ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya yang makin hari kian membaik. Setelah beberapa waktu lalu sudah bisa menelan makanan, tadi pagi saat bangun tidur, Nuri mengatakan bahwa ibu sudah bisa mengangkat kedua tangannya meski pelan, serta butuh tenaga ekstra. Dan beberapa hari ini aku melihat ibu sangat antusias untuk sembuh dari sakitnya.


Nuri yang mendorong kursi roda ibu, langsung masuk begitu aku membuka lebar pintu ruang tamu, sementara mas Pandu, di belakangnya membawa beberapa paperbag yang belum ku ketahui apa isinya.


Melihatnya kerepotan, reflek aku menawarkan bantuan.


"Ada yang bisa di bantu?" tanyaku malu-malu, sebab mas Pandu tampak tersenyum saat melihatku.


Mas Pandu menggelengkan kepala. "Ibu hamil jangan bawa yang berat-berat" bisiknya bersamaan dengan langkah kaki memasuki rumah.


Saat aku tengah mengunci pintu, dia kembali berbicara, namun dengan nada yang tidak lagi berbisik.


"Jangan lupa ini nanti di minum ya, kalau butuh sesuatu ngomong saja" ucapnya sembari meletakan barang bawaanya tadi "Jangan diam saja. Kalau malu" lanjutnya sambil tersenyum meledek " boleh bilang ke Nuri, nanti Nuri yang akan ngomong ke aku"


Tanganku reflek mencubit pinggangnya pelan, membuat mas Pandu sedikit melengkungkan badan sambil tergelak.


Jujur ini pertama kalinya aku mendapat kasih sayang dan perlakuan baik setelah orang tuaku meninggal.


Menikah dengannya, aku seperti memiliki keluarga baru. Tapi aku masih di buat penasaran dengan ucapan mas Pandu saat hendak menikahiku.


"Dua wanita yang aku cintai"


Entah apa maksudnya, sebab otaku berkata ini mustahil. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, maksudku, aku tidak bisa mencari tahu tentang ucapan mas Pandu itu. Bertanya pada Clara, pasti dia akan menyuruhku untuk menanyakan langsung pada mas Pandu, bertanya pada Rondi juga tidak mungkin.


"Mikir apa?" tanyanya mengagetkanku yang baru saja tersadar dari lamunan.

__ADS_1


"T-tidak mikir apa-apa" jawabku sambil mengeluarkan isi papperbag satu persatu.


Aku mendapati satu porsi fastfood berupa burger, pesenanku sebelum mas Pandu mengantar ibu ke dokter..


Melihat makanan itu, entah kenapa aku tidak bisa menahan diri untuk membiarkannya begitu saja.


Menarik kursi, aku duduk lalu segera menyantapnya, tak ku pedulikan lirikan mas Pandu yang mungkin terheran melihat tingkahku.


"Jangan terburu-buru" ujarnya yang membuatku kikuk, "Banyakin minum air putih ya" sambungnya seraya menyodorkan gelas berisi air.


Mengenai kabar kehamilanku, aku sudah lebih dulu memberi tahu ke ibu dan juga Nuri. Aku tidak tahu seperti apa ekspresi ibu ketika mendengarnya, yang jelas ada gurat bahagia yang terpancar dari netranya. Sedangkan Nuri, dia langsung memberiku selamat. Nuri bahkan masih belum percaya jika aku akan mengandung secepat ini.


Bukan hanya dia, aku sendiri pun demikian. Bisa di bilang ini seperti mimpi. Hidupku yang tadinya sangat bahagia, mendadak menjadi gadis yang malang setelah kepergian orang tua. Dan kini, mendadak aku menjadi wanita yang beruntung. Jangankan membayangkan hidup seperti ini, bermimpi saja tidak pernah.


"Ibu hamil jangan banyak melamun" kata mas Pandu sambil menarik kursi lalu mendudukinya. Kami duduk saling berhadapan dengan di batasi meja makan. "Apalagi menyimpan masalah sendiri. Ibu hamil harus bahagia"


Aku makin salah tingkah melihat mas Pandu termangu menatapku. Fokusnya, benar-benar tak teralihkan dariku. "Dilarang menatap ibu hamil seperti itu, apalagi saat sedang makan, kasian nanti tersedak" selorohku tanpa malu.


Aku merasa otak dan mulutku seolah tidak bisa di ajak bekerja sama dengan baik.


Dan ucapanku ini membuat mas Pandu tersenyum, lalu berdiri meninggalkanku di ruang makan.


Baru saja melewati ambang pintu, lagi-lagi mulutku dengan kurang ajarnya menghentikan langkahnya.


"Ibu hamil tidak boleh di tinggal sendiri"

__ADS_1


Mas Pandu kembali menghampiriku setelah mendengar ucapanku, lalu duduk di kursi sebelahku.


"Tadi kamu bilang, tidak boleh lihatin ibu hamil, giliran pergi, seolah kamu melarang" ucapnya saat sudah dalam posisi duduk.


"Ya duduk saja tapi jangan lihatin kayak tadi"


"Ya sudah aku merem"


"Ya tidak begitu juga" sahutku tertunduk


"Pergi salah, merem salah, lihatin kamu tambah salah, terus maumu gimana?"


"Ya duduk sambil lihat ponsel atau apa, biasanya juga gitu" ucapku lalu memutar badan sedikit agar menghadap padanya, tanganku terulur menekan kedua pipinya hingga bibirnya mengerucut, dan dengan tidak tahu malunya aku mengecup bibirnya singkat.


Sesingkat kilat, sebab aku tahu ini dapur, takut kalau Nuri tiba-tiba datang.


"Ini bawel sama agresifnya karena bawaan hamil, atau aslinya baru keluar?" tanyanya dengan ekor mata mengikuti tubuhku yang melangkah keluar area dapur.


Aku tahu mas Pandu tengah menggodaku, karena itu aku langsung meninggalkannya usai aku menghabiskan burgerku.


Duduk di sebelah ibu, sembari melihat tv yang tidak ku tahu mereka ngomong apa, tanganku membantu menggerak-gerakan tangan ibu, sesekali memijatnya pelan, hingga lewat bermenit-menit, tahu-tahu ibu tertidur dalam posisi duduk. Sekian menit kemudian, akupun tidak bisa lagi mengendalikan mataku untuk tetap terbuka, dan aku ikut menyusul ibu memejamkan mata di siang hari.


Saat bangun, tahu-tahu aku sudah berganti posisi, tidur terlentang di atas sofa, tak ku temukan ibu di sampingku, aku hanya melihat mas Pandu duduk di lantai dengan menyenderkan punggung pada sofa yang aku tiduri, tepat di sisi kepalaku. Aku tidak tahu seperti apa ekspresinya, karena aku hanya bisa melihat belakang kepalanya. Mungkin dia sibuk, karena ada laptop di pangkuannya.


Bersambung...

__ADS_1


Kalau boleh minta komennya jangan next atau lanjut ya. Tambahin kata-kata yang membangun...


membangun apa saja 😀


__ADS_2