
Pandu melangkahkan kaki menuju kamar Tiberias sesuai dengan petunjuk dari salah satu suster. Ia masuk ke kamar nomor sembilan dimana Nayla masih belum siuman pasca menjalani operasi.
Duduk di kursi samping pembaringan, Pandu meraih tangan Nayla dan mengecupnya berkali-kali.
Setelah memastikan kondisi Nayla, Pandu kembali keluar untuk melihat sang putra yang berada di kamar terpisah dari ibunya.
Memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, bibir Pandu seketika melengkung ke atas melihat bagaimana putranya menggeliat.
Bayi dengan panjang 52 cm dan berat 3,4 kg, tampak sangat tampan dan terlihat putih seperti mamahnya. Puas melihat sang anak, Pandu melangkah menuju ruang perawat.
"Sus, kapan istri saya sadar?" tanyanya ketika sudah berada di depan ruang para suster. Ia sedikit membungkuk agar bisa mendengar jawaban dari suster yang melayaninya.
"Kemungkinan tiga puluh menit lagi pak" jawabnya sedikit berteriak, sebab mereka terhalang oleh kaca.
"Terimakasih suster"
"Sama-sama pak"
Pandu kembali melangkah menuju kamar Nayla. Sembari menunggu, Ia hendak menelpon sang ibu untuk menanyakan apakah Rondi sudah menjemputnya ataukah belum.
Begitu panggilan tersambung, Pria itu sedikit menunggu Nuri menjawab telfonnya.
"Iya pak?"
"Sudah sampai rumah Nur?"
"Sudah pak, sekitar lima belas menit yang lalu" Jawabnya ramah. "Oh iya pak, di kamar mandi ada darah, ini mau saya bersihkan, tapi kalau boleh tahu itu darah apa ya pak?"
"Iya, kamu bersihkan saja Nur, Nayla habis jatuh"
"Jatuh pak?"
"Iya, sekarang saya ada di rumah sakit, dan tolong sampaikan pada ibu, kalau Nayla sudah melahirkan"
"Bu Nayla sudah melahirkan pak?" tanyanya tak percaya.
"Iya dia terpeleset di kamar mandi, harus segera caesar, makannya ada darah di situ, beruntung adik saya cepat datang dan membawanya ke rumah sakit"
"Tapi bagaimana kondisi bu Nayla pak?"
"Dia masih belum sadar"
"Kalau begitu, akan saya sampaikan pada ibu pak?"
"Iya terimakasih ya"
"Sama-sama pak"
"Oh iya Nur, bilang ke ibu anak kami laki-laki"
"Baik pak"
Usai melakukan panggilan, pandangan Pandu ia alihkan pada Nayla yang masih tampak memejamkan mata. Pandangannya tak teralihkan barang sejenak. Ia terus menatap Nayla hingga lewat bermenit-menit. Sampai pada menit ke sekian, Perlahan mata Nayla terbuka.
Pandu segera berdiri dan persekian detik pandangan mereka bertemu.
"Sayang" kata Pandu lembut. Mungkin ini pertama kalinya pria itu memanggil sang istri dengan sebutan itu. Atau entahlah, yang jelas ia merasa sangat jarang sekali memanggilnya dengan panggilan yang romantis.
Pelan, Nayla memutar ingatannya pada beberapa jam yang lalu. Dimana terakhir dia ingat kalau dirinya terjatuh di kamar mandi.
Nayla juga ingat kalau dia sempat menelpon Pandu namun tak ada jawaban, kemudian dengan terpaksa menelpon Alvin. Disitulah kesadarannya langsung menghilang dan tak ingat apapun lagi.
"Perutku" gumamnya sembari mengusap perut yang sudah rata.
__ADS_1
Tersenyum, Pandu yang berdiri di tepian ranjang sedikit membungkuk, lalu mengecup kening Nayla sedikit lebih lama.
"Bayi kita laki-laki" bisiknya dengan senyum merekah.
"Apa dia tidak apa-apa? dia sehat?"
"Dia sangat sehat, tapi karena belum waktunya lahir, dia harus di masukan inkubator"
"Maaf" ujar Nayla sendu.
"Maaf untuk apa?"
"Aku tidak hati-hati saat di kamar mandi"
"Ssttt" Desis Pandu lalu mengecup bibir Nayla singkat. "Seharusnya aku yang minta maaf karena meninggalkanmu tanpa penjagaan siapapun"
Nayla tersenyum kemudian mengerjap.
"Yang penting sekarang kalian baik-baik saja"
Mengangguk pelan, Nayla merespon ucapan Pandu.
"Alvin yang membawamu kemari" kata Pandu setelah beberapa detik saling diam.
"Aku telfon dia karena tak tahu harus menelfon siapa. Berhubung nomor Alvin yang muncul paling atas di daftar kontak, jadi aku langsung menelfonnya"
"Iya tidak apa-apa. Dia benar-benar menyelamatkanmu, aku hutang banyak sama dia"
Setelah mengatakan itu, Pandu dan Nayla diam saling menatap. Detik kemudian saling melempar senyum lalu pria itu kembali mengecup kening Nayla.
"Makasih sudah melahirkan bayi untukku"
"Jangan tinggalkan kami, seperti ayahmu yang sudah meninggalkan ibu dan mas"
"Janji ya"
"Sangat janji" jawabnya mantap.
******
"Dari pada tak ada obrolan apapun" kata Alvin ketika mereka saling diam sembari menunggu pesanan datang. "Lebih baik kita bicarakan keinginanmu tadi saat di rumah"
"Keinginan apa?" tanya Delita pura-pura.
"Kamu bilang ingin berpisah dariku kan?"
"Aku_" Entah kenapa suara Delita mendadak seperti tercekat.
"Aku kenapa?" potong Alvin cepat.
"Aku tidak mau membahas itu di luar"
"Akan lebih baik memang kita membicarakan di rumah, bukan begitu?" tanya Alvin dengan senyum miring seolah tengah mengejek. Sementara Delita kian gugup. Untuk menelan ludahnya sendiri ia merasa kesulitan.
"Silahkan tuan, nona" ucap pramusaji yang membawa pesanan mereka.
"Makanlah" perintah Alvin dengan nada datar khas miliknya.
Mereka sama-sama menyantap makanan dengan kondisi batin yang berbeda.
Delita dengan pikirannya tentang perceraian, sementara Alvin tersenyum sinis, sebab perubahan rencana yang pernah ia katakan pada Delita akan berhasil.
Alvin yang sebelumnya penuh paksa, dia merubah rencananya untuk membuat Delita jatuh cinta padanya dengan cara sedikit mengabaikan Delita dan bersikap seperti orang asing ketika di rumah. Alhasil rencananya membuahkan hasil meskipun sebenarnya Alvin juga sangat menderita sebab harus bersikap tega terhadap istrinya.
__ADS_1
Dia juga hanya berpura-pura menyetujui keputusan Delita yang ingin bercerai. Padahal yang sebenarnya, Alvin masih tetap dengan pendiriannya. Sama sekali tak berniat menceraikan gadis yang sangat dia cintai hingga detik ini.
"Kok kamu bisa tiba-tiba ada di sini?" tanya Alvin tanpa menatap Delita.
"Aku memang dari rumah mau menuju kesini" dusta Delita. Alvin benar-benar tidak menyadari kalau sang istri sudah membuntutinya. "Pas banget lihat kamu disini. Kamu tidak suka aku tiba-tiba duduk di mejamu?"
"Sebenarnya si iya" sahut Alvin santai, dan itu memantik kekesalan Delita kian naik. "Tapi karena aku kasihan padamu yang katamu tidak membawa dompet, jadi tidak masalah. Kasihan juga nanti jika kamu harus mencuci piring disini karena tidak bisa membayar makanan yang kamu pesan"
Ucapan Alvin, membuat Delita geram dan ingin mengeluarkan rentetan makian terhadapnya. Namun sebisa mungkin ia tahan mengingat sekarang berada di restauran yang lumayan sedang banyak pengunjung. Lagi pula, dia sendiri yang akan malu jika mengomeli suaminya di tempat umum.
"Aku ini istrimu kan, kamu keberatan membayar makanan yang istrimu pesan? kalau iya, nanti akan aku ganti"
"Tidak perlu, toh uang yang kamu miliki juga dariku kan?" balas Alvin seolah meledek.
Semakin geram, Delita membanting sendoknya lalu berdiri dan beranjak dari tempatnya makan.
Dengan cepat Alvin ikut beranjak, lalu menyerahkan uang beberapa lembar ke bagian kasir.
"Meja nomor sepuluh" ucap Alvin dengan terburu-buru lalu bergegas lari tanpa memperdulikan panggilan sang kasir.
"Nanti kalau kurang gimana tuan"
"Tidak akan" jawabnya sambil berlari.
Delita yang tengah emosi, ia mengabaikan panggilan Alvin yang tahu-tahu sudah menggandeng tangan Delita dan berjalan selangkah di depannya.
"Lepas" pinta Delita seraya melepas cengkraman tangan Alvin.
"Kamu pikir aku suami kejam, membiarkan istrinya keluyuran sendiri di malam hari?" Ucapnya tegas dengan kaki terus melangkah.
"Cenhai hou fan a lei" pekik Delita dengan suara terisak.
Alvin menghentikan langkahnya. Dengan kondisi seperti ini, sebenarnya dia ingin sekali memeluk Delita, dan itu justru dia lakukan.
"Aku cuma bercanda" katanya saat Delita sudah berada dalam dekapannya.
Masih gengsi, wanita itu berontak dan ingin mengurai pelukannya.
"Jangan lepaskan Del, please sebentar saja"
"Lepas Alvin" Delita berharap keinginannya tidak di kabulkan, sebab ia masih ingin berada dalam posisi seperti ini. Tapi harapannya sirna ketika Alvin malah mengurai pelukannya, dan itu membuat Delita kecewa.
"Kita pulang sekarang"
"Aku tidak mau, aku masih ingin disini"
"Mau ngapain kamu disini, ayo lebih baik kita pulang, kita bahas keinginanmu itu"
"Aku tidak mau" tolak Delita.
"Tidak mau apa?" Tidak mau pulang, atau tidak mau membahas perceraian?"
Tidak mau membahas perceraian.
Namun sayangnya Delita hanya mampu berbisik dalam hati.
"Kita pulang sekarang"
Dengan langkah terpaksa, akhirnya Delita menuruti ucapan suaminya.
Alvin menyuruh Delita untuk melajukan mobilnya, sementara dia akan mengekor di belakang mobil Delita.
Cenhai houfana lei : Kamu sangat menyebalkan. Sangat merepotkan.
__ADS_1