Macau Love Story

Macau Love Story
Penguntit


__ADS_3

Keluar dari apartemennya, Pandu mengenakan pakaian yang nyaris tidak di kenal oleh siapapun, di tambah topi dan masker yang ia pakai, membuat penampilannya terlihat berbeda dan terkesan asing.


Namun, hal itu tidak mampu mengecoh para anak buah Hermawan yang di tugasi untuk membawa Nayla ke hadapanya. Dua orang yang selalu mengawasi gerak-gerik Pandu di sekitar apartemen, tak membuat mereka di curigai oleh siapapun termasuk Pandu.


Hingga ia telah sampai di pelabuhan dan membeli tiket menuju Hongkong, hal yang samapun di lakukan oleh dua orang asing yang memata-matainya.


Duduk di sebuah bangku panjang, Pandu menecermati satu-persatu siapa saja yang akan menaiki kapal ini, dan semua tidak ada yang mencurigakan. Namun, tetap saja dia harus waspada, ancan-ancan menyusun rencana jika salah satu penumpang kapal ada yang mengikuti sampai ke alamat rumahnya, mengingat Alvin sangat antusias ingin mengetahui keberadaan Nayla.


Suara petugas kapal sudah terdengar melalui audio yang terpasang di sekitar area tempat menunggu, dia mengatakan bahwa kapal akan segera berangkat menuju Hongkong, lalu memerintahkan kepada semua penumpang untuk segera bersiap, dan menaiki kapal melalui pintu masuk yang sudah di sediakan.


Satu persatu para penumpang mendapat giliran pengecekan ID card, serta tiket. Para petugas akan mengijinkannya menaiki kapal jika ada kecocokan antara ID card dan tiket yang sudah mereka beli. Karena sudah terbiasa pulang pergi dari Macau menuju Hongkong, petugaspun sudah paham dan dengan hormat mempersilakan Pandu untuk segera naik.


Sepasang netra Pandu masih memperhatikan penumpang lain, hingga dia benar-benar paham baju-baju yang dekenakan oleh mereka.


Selama perjalanan, Pandu hanya duduk sambil memainkan ponselnya. Dari sana dia mengerjakan pekerjaan kantor yang bisa di selesaikan melalui aplikasi yang tersimpan di gawainya. Sembari menunggu perjalanan, dan tetap dalam kondisi tenang, matanya benar-benar tak teralihkan meneliti orang-orang yang mengkin mencurigakan selama dalam perjalanan.


Hingga kapal telah sampai tujuan, dan pengecekan dokumen di tempat imigrationpun telah selesai di lakukan, dia berjalan keluar melalui Exit A, ada seketar enam orang yang sama-sama keluar melalui pintu itu. Tiga orang di antaranya menuju terminal tempat pemberhentian Pasi/Bus, dan tiga di antaranya mengikuti langkah Pandu menuju tempat pemberhentian taxi.


Ada beberapa taxi yang menanti penumpang, dangan cepat Pandu menaiki salah satu taxi itu, namun ia menyuruh supir taxi untuk tidak dulu melajukan mobilnya.


Dari dalam taxi, ia memperhatikan tiga orang yang tadi mengikuti langkahnya. Satu orang sudah menaiki taxi itupun sudah melaju dan hilang dari pandangan Pandu.


Sementara dua orang lagi yang juga masuk ke dalam taxi lainnya, masih belum berjalan. Disini Pandu mulai curiga, ia segera mencatat nomor polisi kendaraan yang di tumpangi oleh dua orang yang di curigainya. Setelah itu, Pandu menyuruh sang supir untuk melajukan mobilnya, ia juga memerintahkan agar menjalankan dengan kecepatan rendah.


Menggelengkan kepala, Pandu tersenyum miring saat kepalanya menoleh ke arah belakang, mendapati bahwa taxi dengan nomor yang sudah ia catat masih mengikutinya.

__ADS_1


Bahkan Pandu menyuruh su sopir berputar-putar tanpa tujuan untuk memastikan taxi itu benar-benar mengikutinya. Dan instingnya pun benar.


"Alvin, mereka pasti suruhannya" batin Pandu dengan fokus tertuju pada spion samping yang sedikit bisa terjangkau oleh pandangannya.


"Mau di antar kemana tuan?" tanya si sopir sekali lagi, seraya melirik Pandu yang duduk di kursi penumpang melalui spion tengah.


"Kita berputar-putar dulu sebentar pak" jawabnya. "Nanti aku akan membayar lebih dari tarifnya"


Si sopir pun menurut. Setelah sudah bisa di pastikan, bahwa Pandu tengah di ikuti oleh dua orang asing sejak ia menunggu di pelabuhan, Pandupun menyuruh sang sopir untuk menuju ke Regent hotel miliknya, dan untuk sementara akan tinggal di sana selama beberapa menit.


Setibanya di kamar, ia meraih ponsel di saku jaketnya, mengirimkan pesan pada Nuri bahwa ia akan sampai di rumah sedikit terlambat.


Hampir tiga puluh menit berlalu, saat melirik jam di pergelangan tangan, jam sudah hampir menujuk di angka delapan malam. Ia menyuruh sopir hotel untuk menjemputnya di pintu emergency. Pandu yakin mereka pasti masih menunggu dan mengikutinya, oleh karena itu dia meminta salah satu sopir hotel untuk mengantarkannya pulang.


Fillingnya mengatakan bahwa penguntit itu adalah orang suruhan Alvin. Pandu belum menyadari bahkan tidak pernah mengira bahwa Hermawan merencanakan sesuatu untuk dirinya.


*********


Hampir satu bulan Nayla tidak bertemu dengan sang suami, rasa rindu yang tertahan, menuntut ingin segera di tuntaskan hari ini juga.


Malam ini Pandu akan pulang dan sebelum kedatangannya, Semua menu telah siap di atas meja.


Sembari menunggu yang katanya sepuluh menit lagi akan sampai, entah kenapa jantung Nayla mendadak bertalu-talu, hawa dingin yang merasuk ke tubuhnya, bahkan tak terasa sama sekali. Hanya panas dan gugup yang ia rasakan untuk menyambut kepulangan sang suami.


Saat ia tengah sibuk menormalkan detak jantungnya, justru di buat semakin kencang ketika suara ketukan pintu terdengar dari luar.

__ADS_1


Menghirup napas panjang-panjang, Nayla mencegah Nuri yang bangkit dari duduknya hendak membukakan pintu.


"Biar aku saja Nur" ucap Nayla. Ia menelan ludahnya sendiri berharap rasa gugupnya sedikit berkurang. Berdiri bangkit, jantungnya semakin berdetak kencang, bahkan keringat dingin tak mau kalah keluar dari pori-pori kulitnya. Melangkau perlahan, satu detik, dua detik, dan berganti menjadi tiga detik, ia sampai di depan pintu dan tangannya siap memutar knopnya.


Saat pintu terbuka, menampilkan sosok pria bertubuh proporsional tengah tersenyum, tangannya memegang ransel yang ia sandarkan di punggungnya.


Mereka sama-sama menahan diri untuk tidak merengkuh tubunhya kedalam pelukan mereka.


"Masuk mas" ucap Nayla sedikit canggung


"I-iya" Pandupun tak kalah canggung, padahal baru saja sebulan mereka tidak bertemu. Jika saja tidak ada ibu dan Nuri, mungkin dia sudah membawa Nayla ke dalam dekapannya.


Menutup pintu, Nayla melihat sang suami langsung duduk di kursi makan setelah sebelumnya mencium punggung tangan ibunya.


"Kita langsung makan ya" ucap Pandu saat Nayla sudah mendudukan dirinya di samping kiri Pandu. Posisinya berhadapan dengan ibu dan Nuri.


"Mas lepas dulu jaketnya ya, terus cuci tangan"


"Oh ya" Sahut Pandu, ia menatap ke arah Nayla sekilas lalu fokus melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya. Menyampirkan di sandaran kursi, dia melangkah menuju westafel, lalu kembali duduk di tempat semula. Sementara mangkoknya sudah terisi sop iga sapi campur Tomat dan wortel.


"Di minum sopnya" perintah Nayla dengan suara pelan.


Pandu hanya mengangguk meski pelan.


Makan malam berlangsung hening dan canggung tanpa ada obrolan baik dari Nayla, Pandu, serta ibu dan Nuri.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2