Macau Love Story

Macau Love Story
Kejujuran Hermawan


__ADS_3

Setelah pernikahan selesai di laksanakan, begitu anak buah Alvin melepaskan Maria, dia langsung berlari ke arah Delita, lalu memeluknya berharap rasa takut dan gemetar segera musnah.


"Mamah tidak apa-apa?" tanyanya seraya mengusap punggung sang mama.


"Harusnya mamah yang tanya, kamu tidak apa-apa?"


Mereka mengurai pelukannya, lalu Delita menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa mah" jawabnya sambil mengusap pipinya yang basah.


Sekian detik kemudian, Maria berdiri di hadapan Alvin, Ia hendak melayangkan tamparan pada menantu terbarunya, namun Pandu segera menangkis tangan Maria dan mencengkram pergelangan tangannya dengan sangat kuat.


"Lepaskan" desis Maria dengan suara teredam sebab masih ada rasa gemetar dalam dirinya.


"Seharusnya tamparan itu kamu berikan untuk suamimu, bukan pada menantumu yang jelas sudah bersedia menyelamatkan putrimu"


"Apa maksud kamu?"


"Pulang dan mintalah penjelasan pada suamimu" ucap Pandu lalu menghempaskan tangan Maria, hingga dia merintih kesakitan. "Semua jawaban ada pada lelaki brengsek itu" ucapnya lagi sambil menatap Hermawan sekilas lalu mengalihkan pandangan pada Alvin.


"Jaga dan cintai adikku, jangan kamu sakiti dia" tambah Pandu dengan fokus lekat menatap Alvin.


Kalimat Pandu membuat mereka mengerutkan kening. Dan seoalah paham dengan kebingungan Alvin, Delita dan Maria, Pandu kembali bersuara.


"Dia adiku" kata Pandu melirik Delita sejenak "Berani menyakitinya, aku akan membunuhmu" Dia mengatakannya dengan sangat tenang.


"Adik?" gumam Alvin.


"Apa katamu?" sela Maria, sementara Delita menatap Pandu dengan sorot penasaran campur bingung.


"Tanyakan ke suamimu!"


Setelah mengatakan itu, Pandu bergegas pergi dengan menggenggam tangan Nayla. Delita dan Maria, menatap kepergiannya hingga menghilang di balik pintu.


Pandu sangat yakin manik hitam Hermawan sempat bergerak gelisah ketika dia mengatakannya, dan itu membuat Pandu seperti tersenyum menang menangkap kegelisahan ayahnya.


Mengumpulkan sisa-sia tenaga, Delita memaksakan diri untuk berjalan ke arah papahnya.


"Apa maksud dia pah?" tanya Delita mengintimidasi.

__ADS_1


"Kita akan bicarakan di rumah" jawab Hermawan berusaha tenang, padahal jantungnya sangat liar di dalam sana. Setelah itu, dia menggiring keluarganya untuk meninggalkan gedung pernikahan yang tidak berjalan sesuai rencana.


Alvin terus menggenggam tangan Delita selagi melangkah keluar dari area gedung hingga ke mobilnya. mengunci jari jemarinya yang terasa begitu hangat.


Begitu tiba di rumah, Mereka menempatkan diri di ruang tamu. Masing-masing duduk dengan tatapan kosong menunggu Hermawan bersuara.


"Apa yang akan papah jelaskan?" tanya Delita dengan suara rendah. "Kenapa Nayla bilang aku harus meminta penjelasan pada papah"


Sunyi, sepertinya selain detak jarum jam, ada juga suara detak jantung yang berhamburan mengisi kesunyian di antara mereka. Detak jantung keempat orang yang saat ini tengah was-was menantikan penjelasan Hermawan.


"Katakan pah! kenapa aku sulit sekali dapat restu papah saat akan menikah dengan kak Pandu, sementara papah langsung menyetujui dia menikahiku?" pekik Delita nyaris tanpa jeda, dengan nafas yang memburu.


Maria hanya diam dengan sorot nanar.


"Cepat katakan!


Saat ini, Hermawan benar-benar tidak bisa mengelak, mau tidak mau dia harus berkata jujur karena Delita terus mendesaknya. Lagi pula, dia ingat dengan ucapan Nayla yang memberinya waktu 1x24 jam.


"Pandu adalah kakakmu"


Keheningan kembali menyergap, Delita dengan pandangan kosong tak percaya, Alvin dan Devano jelas sama shocknya dengan Delita, dan maria langsung melempar tatapan penuh tanya.


"Apa maksud papah?" tanya Maria dengan suara tertahan karena menahan tangis.


"Papah dulu pernah menikah" sahutnya lalu menunduk. Sama sekali tak punya nyali untuk membalas tatapan sang istri.


"A-apa?" sahut Maria.


"Sebelum menikahi mamah, papah sempat menikah dengan Risa, ibunya Pandu"


"Ja-jadi Pandu kakakku?" lirih Delita "Dan kak Pandu tahu kalau aku adiknya?"


Hermawan merespon dengan anggukan kepala.


"Bu Risa ibu tiriku?" kali ini pertanyaan itu keluar dari mulut Alvin. "Berati anda adalah pria yang masih sangat dia cintai, hingga membuat papahku meninggal karena tahu perasaan bu Risa yang sebenarnya?" Kalimat Alvin, memantik Mereka menoleh ke wajahnya.


"Apa yang kamu katakan Alvin?" Tanya Maria memicing.

__ADS_1


Sementara Hermawan membatin "Risa masih mencintaiku?"


"Papahku meninggal setelah berantem hebat dengan bu Risa, Pertengkaran itu di picu karena papah mengetahui bahwa dia masih mencintai mantan suaminya, papah sangat marah sebab bu Risa menikahi papa untuk membalas budi karena papah sudah menyayangi Pandu seperti anak kandungnya sendiri" Ungkap Alvin. Dan itu membuat Hermawan merasa tersudut.


"Papahku sangat menyayangi Pandu, hingga membuatku merasa iri padanya. Dia benar-benar mendapat kasih sayang dari papa sambungnya, kasih sayang yang tidak pernah anda berikan pada Pandu" lanjut Alvin seraya menatap dalam wajah Hermawan. "Ku pikir orang yang paling jahat adalah aku, karena selalu melempar tatapan sinis pada Pandu, dan selalu menyakiti Pandu, ternyata ada yang lebih jahat dariku"


Mendengar ucapan Alvin, sekali lagi Hermawan merasa terpojok bahkan tertampar sangat keras. Beberapa kali ia berusaha menelan ludahnya sendiri untuk menetralisir rasa tidak tahu dirinya.


"Sekarang aku faham kenapa Nayla begitu yakin jika dia bisa menggagalkan pernikahan kalian" Alvin kembali bersuara setelah beberapa saat sempat diam. "Ternyata itu pernikahan sedarah" sambung Alvin lalu menatap Delita dengan sendu. "Sekarang" kata Alvin dengan sorot lekat menatap Delita. "Buang jauh-jauh perasaanmu pada kakakmu"


Delita diam, sama sekali tak bergeming, matanya menyorot terluka, hatinya teriris, sementara tubuhnya kian lelah.


"Kamu adalah istriku sekarang, kamu harus pulang ke rumah suamimu"


Bangkit dari duduknya, Alvin menarik tangan tangan Delita dan membawanya ke hadapan sang mamah.


"Aku kasih kesempatan untuk kamu berpamitan pada mamahmu"


"Ayolah Del, kamu harus ikut suamimu, itu sudah menjadi takdirmu, lebih baik terima saja, karena Pandu adalah kakak kita" bujuk Devano.


Bagi Delita, apa yang di katakan saudara kembarnya mungkin ada benarnya, dia memang harus ikut Alvin ke rumahnya. Dan juga membenarkan ucapan Alvin, harus membuang jauh-jauh perasaan itu kepada kakaknya.


"Mah, Deli pergi dulu ya. Mama baik-baik di rumah, Deli janji besok akan datang lagi jengukin mamah"


"Kamu juga hati-hati, jika dia menyakitimu, bilang ke mamah"


Delita mengangguk lalu memeluk ibunya sejenak. Alvin kembali menggandeng tangan Delita.


"Kamu tidak berpamitan dengan papahmu?" tanya Alvin menghentikan langkah Delita.


"Aku tidak mau berpamitan pada laki-laki yang tidak mengakui anak kandungnya" jawab Delita frontal, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Selain rasa kesal pada Pandu, dia juga merasa marah pada sang papah. Delita tidak habis pikir, kenapa papahnya tidak memberitahukan jauh-jauh hari sebelum acara pernikahannya. Jika sang papah berkata jujur lebih awal, mungkin pernikahan memilukan ini tidak akan pernah terjadi.


Bersambung


Untuk Next part, kira-kira mau part Pandu-Nayla atau Hermawan-Maria?" atau masih mau Alvin-Delita?"

__ADS_1


__ADS_2