Macau Love Story

Macau Love Story
24 (Hadiah pertama)


__ADS_3

Untuk pertama kalinya aku benar-benar marah sama mas Pandu. Dengan kelakuannya tadi, dia tidak sadar sudah membuat bayinya ketakutan, buktinya aku hampir saja pingsan karena saking gugupnya, hingga keringat dingin keluar dan membuatku sulit untuk bernapas. Rasa takut yang di barengi dengan mual, membuatku seketika mengeluarkan salad buah yang sudah berhasil masuk ke dalam perutku.


Apalagi saat dia sama sekali tidak merasa bersalah, ingin sekali mengeluarkan kata-kata pedas untuknya, tapi jelas aku tidak berani. Hanya menuntutku minta maaf padanya, dia sampai berani memporak-porandakan detak jantungku dan calon anaknya.


"Ibu hamil masak apa buat makan malam?"


Aku tak berniat menjawab pertanyaannya, sudah pasti aku masih kesal, setelah dia mengatakan hanya mengerjaiku saja.


"Ibu hamil masih punya telinga kan?"


Tak ku hiraukan pertanyaannya, aku tetap sibuk mencuci jagung wortel dan juga kentang untuk memasak sup.


"Sini biar aku bantu" tawarnya sambil meraih pisau untuk memotong bahan-bahan membuat sup yang sudah ku cuci.


Ku biarkan dia membantuku tanpa berbicara sepatah katapun.


Melihatku menghembuskan nafas frustasi, dia malah tersenyum miring, aku yakin sebenarnya dia ingin sekali mentertawakanku yang berhasil dia buat kesal.


"Mas licik tahu nggak?"


Alih-alih marah, justru tawa mas Pandu semakin lebar. Aneh sepanjang orang yang aku kenal, hanya dia yang tertawa lepas saat di bilang licik.


"Nay"


"Apa?" jawabku sinis


"Aku tidak pandai berkata manis apalagi romantis, jadi maaf aku tidak bisa membujukmu saat kamu marah"


Sepersekian detik, aku memindai wajahnya, berusaha bertahan lebih lama untuk menatapnya lebih dalam, mas Pandu membalas tatapanku sebelum akhirnya berkata "Apa perlu aku berlutut untuk mendapatkan maafmu?"


"Apa mas merasa bersalah sudah membuat jantungku meledak-ledak?"


Pria itu mengangguk menjawab pertanyaanku.


Aku kembali fokus pada daging yang sedang ku cincang. Tanpa ekspresi dan tanpa senyum.


"Maaf Nay" tiba-tiba saja mas Pandu meraih tanganku lalu menggenggamnya sangat erat.


"Aku mau pulang ke Jogja" ucapku menunduk.


"Pulang ke Jogja?"


Aku mengangguk serius, begitu juga dengan mas Pandu, ia tampak serius menanggapi keinginanku.


"Jangan buat aku berjuang lagi Nay, kamu tahu itu bukan usaha yang mudah, bukan usaha yang sekali jalan langsung berhasil loh?"


"Kalau begitu jangan buat aku menahan napas apalagi, sampai keringat dingin keluar"


"Tapi aku tidak pernah bermaksud membuatmu menahan napas Nay, perlu kamu ingat, aku sudah terbiasa melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang aku pikirkan"


"Tapi bisa kan wajah mas tidak di deket-deketin, pas lagi ngomong"

__ADS_1


"Suami istri bebas berbicara dalam kondisi apapun dan di tempat manapun, iya kan?" ujarnya sambil meremat jemari kami yang saling bertaut. "Bahkan kita sudah lebih dekat dari pada ini" ucapan mas Pandu bersamaan dengan tangan dia yang menarik tanganku dan membawa tubuhku menempel padanya.


"Mas ada Nuri" kataku takut-takut.


Dengan cepat mas Pandu menjauhkan dirinya.


"Pak biar saya yang bantu Nona masak"


"Ok Nuri, kebetulah saya juga ada kerjaan" ucap mas Pandu pada Nuri yang Saat ini tengah membuka kulkas.


"Ibu hamil kalau capek duduk ya" Lanjut mas Pandu padaku. Sempat-sempatnya dia berbisik sebelum keluar dari dapur.


Aku akui mas Pandu tidak sekejam itu, sebenarnya dia orang yang baik, tapi dasar akunya saja yang keterlaluan, jantungku saja yang tidak tahu diri.


Usai memasak, aku menghidangkan hasil masakanku di atas meja, mas Pandu dan ibu pun sudah duduk siap menyantap.


Malam ini, ibu akan di suapi oleh anak lelakinya yang sedari tadi sudah ribut wara wiri bilang, aku yang suapi, aku yang suapi, sampai Nuri bosan mendengarnya. Sementara aku, mana mungkin bosan, justru itu lucu, dan bisa menjadi hiburan tersendiri untuku.


Menatap bagaimana mas Pandu dengan sabarnya menyuapi ibu, aku merasa beruntung memiliki suami seperti dia. Ternyata ucapannya benar-benar terbukti, saat itu dia pernah bilang bahwa akan membuatku mencintainya, sampai aku tidak akan bisa berpaling darinya.


Fine dia sudah berhasil.


*****


"Mau di bawain apa nanti?" tanya mas Pandu sambil mengenakan kaos. Dia sedang bersiap untuk pergi ke hotelnya malam ini.


"Memangnya mas mau pulang jam berapa?"


"Tidak usah" sahutku datar, dengan mata fokus pada buku yang sedang ku baca.


Ku lirik sekilas, mas Pandu menatapku penuh selidik, mungkin dalam fikirannya aku masih marah.


"Aku pergi ya" Pamitnya lalu mengecup keningku setelah aku mencium punggung tangannya.


"Hati-hati"


"Hmm"


Sebelum dia pulang, sebisa mungkin aku harus sudah tidur, kalau tidak mau jantungnya keluar dari tempatnya.


Semoga mataku bisa di ajak kompromi malam ini.


***


Mataku membulat sempurna ketika menatap diri pada cermin, sudah terpasang sebuah kalung di leherku. Kecil, tapi cukup unik dan mewah, aku yakin ini harganya mahal.


Begitu aku keluar dari kamar mandi, aku langsung menarik selimut yang menutupi tubuh suamiku, membuatnya seketika menggeliat.


"Mas" seruku membangunkannya.


"Apa?" sahutnya masih dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Mas nyogok aku dengan kalung ini kan?"


Sekian detik kemudian, mas Pandu membuka matanya lalu duduk bersandar pada kepala ranjang. "Kamu ini penakut, tapi juga menakutkan?"


"Maksud mas Apa?" tanyaku memicing


"Sampai kapan kamu berprasangka buruk sama suamimu?, aku hanya membelikanmu saja, tapi kamu bilang aku menyogokmu. Kamu tega jadi istri Nay"


"Ya siapa tau saja kan, ini sogokan su__"


"Supaya marahmu reda, iya?"


Dengan cepat aku mengangguk


"Duduk" perintahnya


Duh, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi. Ini masih terlalu pagi buat senam jantung.


"Duduk" perintahnya lagi dengan nada lebih lembut "Aku tidak akan membuat jantungmu lompat-lompat, ayo cepat duduk" lanjutnya seraya melirik pada tepian ranjang. Kode agar aku segera duduk.


Akupun duduk, tepat di samping lututnya yang terlentang.


"Aku tidak perlu menyogokmu untuk meredakan marahmu" ucapnya dengan fokus menyoroti netraku "Aku tahu istriku seperti apa, tanpa aku sogok, tanpa aku rayu, marahnya akan reda dengan sendirinya. Tidak perlu modal uang banyak untuk membujuknya, cukup di manisin dikit ngomongnya, nanti sembuh sendiri marahnya" mata mas Pandu masih bertahan menatapku, membuatku kian salah tingkah.


"Suka?" lanjutnya ketika aku masih bungkam.


"Makasih"


"Sama-sama" sahutnya "Suka apa tidak?"


"Suka" jawabku tersipu.


"Aku mau tidur lagi, masih ngantuk"


"Memangnya semalam pulang jam berapa?"


"Jam dua" jawabnya sambil berbaring, tangannya sembari menarik selimut.


"Jam dua?" kagetku


"Hmm"


"Dasar penipu, mas bilang sebelum jam sebelas sudah sampai rumah"


"memanfaatkanmu, pria bejad, pembual, penyogok, sekarang penipu, besok apa?, aku benar-benar tidak ada baiknya sebagai suamimu Nay"


Setelah mengatakan itu, mas Pandu kembali memejamkan mata sambil bergerak miring memunggungiku.


"Maaf" kataku yang di jawab demehan olehnya "Tidur lagi yang nyenyak, aku akan buatkan sarapan" bisikku di telinga kanannya, lalu mengecup pipinya.


"Makasih buat kalungnya" tambahku.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2