Macau Love Story

Macau Love Story
permulaan rencana


__ADS_3

"Selamat malam pah, mah" sapa Delita lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Selamat malam sayang"


"Malam"


Jawab Hermawan serta istri nyaris bersamaan.


"Pah,mah, kenalin ini kak Pandu"


Mendengar nama Pandu, persekian detik ia teringat pada anak lelakinya, wajah Hermawan seketika berubah pucat pasi.


"Pandu" ucapnya sambil mengulurkan tangan bergantian.


Hermawan yang tadinya teringat pada anaknya, kini kembali menampilkan ekspresi santai. Bagi Hermawan ini hanyalah kebetulan yang namanya sama dengan sang putra.


"Mari masuk, mamah sudah siapkan makan malam loh"


"Ayo kak" ajak Delita lengkap dengan senyuman.


Pandu dan Delita mengekor di belakang Pak Hermawan dan bu Maria. Mereka langsung menuju ke meja makan, dimana sudah ada beberapa hidangan alla musim dingin.


Orang disini biasa menyebutnya dengan ta pin lo atau Shuan Shuan Guo atau makanan shabu.


"Mari silahkan duduk nak Pandu" ucap Pak Hermawan, tangannya terulur mempersilakan duduk.


Menit berikutnya, mereka sudah sama-sama duduk di tempatnya masing-masing, bu Maria dan Delita mulai memasukan beberapa sayur, slice sapi, jamur, dan berbagai olahan bakso, serta sosis kedalam panci di atas kompor kecil.


"Makasih loh nak Pandu, sudah anterin Delita pulang" ucap Maria seraya menghidangkan di mangkok suaminya. "biasanya papahnya yang harus jemput kesana kalau malam minggu" imbunya dengan bibir tersungging.


"Tidak masalah ayik, kebetulan Delita kerja di hotel milik ayahku"


Ucapan Pandu membuat Delita memindai pandangannya. "Ayahnya Kak Pandu?"


"Iya" sahutnya singkat.

__ADS_1


"Jadi Royal park itu milik ayahnya kak Pandu?" tanya Delita dengan alis saling bertaut.


"Kamu tidak tahu kalau hotel itu milik ayahnya Del?"


"Tidak tahu pah"


"Bagaimana si kamu Del, masa tidak tahu kalau Pandu anak dari pemilik hotel tempatmu bekerja?"


Delita mengangguk sembari mennggapit jamur dengan sumpitnya.


"Kok kak Panda tidak mengatakan apapun, baik kemarin, atau saat kita makan malam?"


Pandu tersenyum merespon ucapan Delita.


"Itu milik ayah angkatku, bukan milik ayah kandungku, karena ayah sudah meninggal, jadi sementara ini aku yang handle"


"Aku memang pernah denger kak, kalau hotel itu pemiliknya sudah lama meninggal, tapi aku tidak tahu bahwa hotel itu di pegang oleh kakak" Delita berbicara sembari terus mengunyah makannan. Sementara kedua orang tuanya diam menyimak.


"Sekarang sudah tahu kan" ucap Pandu lalu meneguk minuman soda "Nanti kalau anak kandungnya sudah menikah, mungkin dia yang akan mengambil alih hotel itu"


"Maksud kakak anak kandung dari pemilik hotel itu?"


"Iya, dia adik tiriku, namanya Alvin"


Jam menunjukan pukul 10 malam saat mereka selesai makan malam, Pak Hermawan membawa Pandu duduk di ruang keluarga selagi Maria dan Delita mencuci piring-piring kotornya.


Pandu dan Hermawan terlibat perbincangan ringan sembari menonton televisi. Pandu yang memiliki tanda lahir di bagian lengan kirinya, seolah sengaja mengelun lengan kemeja yang ia kenankan, lalu memperlihatkan tanda itu di depan sang ayah.


Hermawan yang belum menyadarinya, masih terlihat santai, namun selang beberapa menit, pak Hermawan mendapati tanda lahir di lengan kekar itu, dalam sepersekian detik jantungnya mendadak kehilangan ritmenya, pria paruh baya itu mendadak gugup dan gelisah.


"Apa yang kamu rasakan yah?, apa kamu sudah mengingat Pandu anakmu?" Pandu membatin dengan tatapan nanar menyoroti tubuh Hermawan yang bergerak seolah tidak nyaman.


"Paman, aku mencintai Delita" aku Pandu berpura-pura. "Aku berniat menikahinya, apa paman setuju?"


"Apa?" me-menikah?"

__ADS_1


Pandu menganggukan kepala dengan senyum miring yang tak di sadari oleh Hermawan, bersamaan itu Maria yang baru saja bergabung, sambil membawa teh jahe di atas nampan, dan mendengar ucapan Pandu, dia mengulas senyum seperti menyetujui niatnya.


"A-apa tidak terlalu cepat?" tanya Hermawan tergagap.


"Apakah dia Pandu anak kandungku bersama Risa?" Hermawan membatin dengan dada bergemuruh hebat, dan keringat dingin membasahi tengkuknya. "Tidak mungkin" Ada banyak pertanyaan dalam benak Hermawan. "mungkin nama dan tanda itu hanya kebetulan saja, dia tidak mungkin ada di sini"


Pria paruh baya itu mencoba menepis dugaannya.


"Kalau sudah sama-sama cocok, ngapain nunggu lama" Maria ikut menyela sambil meletakan empat cangkir teh jahe. "Lebih cepat kan lebih baik"


"Ini ada apa kok tegang gini?" tanya Delita yang baru saja gabung dengan mereka.


"Ini loh Delita, Pandu berniat menikahimu"


"Ap-apa?" Fokus Delita terarah pada Pandu yang tengah tertunduk "Menikah?" kini pandangannya beralih pada papah mamahnya.


Sang papa dengan ekspresi gugup, sementara sang mama dengan raut bahagia.


"K-kak Pandu serius?"


Pandu hanya menganggukan kepala menanggapi pertanyaan Delita.


"Maaf Del, sebenarnya aku tidak tega denganmu, tapi aku ingin ayahmu mengakuiku di hadapanmu dan mamahmu, jika lelaki itu berani mengatakan bahwa aku adalah anaknya, maka di situ aku akan membatalkan rencanaku menikahimu"


Ketika mata Pandu menatap jam tangan yang melingkar, waktu sudah hampir pukul sebelas malam. Ia sudah berjanji pada Nayla untuk menelponnya setelah pulang kerja.


"Sepertinya ini sudah malam ayik, paman, saya permisi dulu"


"Oh ya, besok-besok main lagi ya nak Pandu"


"Iya ayik"


Pandu meninggalkan rumah Hermawan dengan raut penuh kemenangan, sebab baru permulaan, ia merasa sudah bisa membuat sang ayah nyaris pingsan.


.......

__ADS_1


__ADS_2