Macau Love Story

Macau Love Story
Bab 6 (Mengunjungi Plaza Departement store)


__ADS_3

Aku menahan napas ketika tangan kekar ini melingkar di pinggangku. Aku yang tidur dengan membelakanginya, dan dia memelukku dari arah belakang, membuatku menelan ludahku dengan susah payah.


Tepat ketika aku menyingkirkan tangannya pelan dan hendak bangkit dari tidurku, aku di buat terkejut saat dia justru merapatkan dirinya padaku, seolah menahanku untuk bangun. Hangat hembusan napasnya menyapu tengkukku, membuat bulu kuduku merinding.


"Ini sudah siang, aku mau memasak"


Tak ada jawaban darinya, pun tak kunjung melepasku, justru pelukannya mengerat dan malah mengecupi tengkukku.


"Kamu bilang mencintaku, kenapa membiarkanku kelaparan"


Mendengar perkataanku, mas Pandu mengurai pelukannya, lalu berbalik memunggungiku. Bergegas aku keluar kamar tepat pukul tujuh pagi untuk membuatkannya sarapan.


Saat aku tengah menata hasil masakanku, ku lirik mas Pandu menghampiriku dengan kondisi yang lebih segar, bahkan dia sudah mandi dan berganti kaos. Mengenakan kacamata, ia menarik kursi makan kemudian duduk sambil berbicara melalui telfon genggamnya.


"Siapkan tempat untuk makan siang, saya akan datang bersama istri saya nanti"


Mas Pandu akan mengajaku pergi, begitulah kesimpulanku setelah mendengar percakapannya.


"Tidak, sorenya kami akan kembali"


"Bagaimana lukamu?" tanya mas Pandu sesaat setelah memutuskan panggilan.


"Sudah tidak apa-apa" jawabku sambil mengisi piringnya, lalu ikut duduk berhadapan dengannya.


"Apa ada sesuatu yang perlu di beli?, Mas Pandu bertanya seraya berdiri, meraih botol kecil yang terletak di ujung meja makan.


"Mana tanganmu?"


"Mas mau apa?"


"Jangan banyak bertanya, mana tanganmu?"


Tanpa mengatakan apapun, ku ulurkan tanganku di susul gerakan tangannya yang langsung memegang pergelangan tanganku, lalu meneteskan sesuatu seperti propolis pada luka bakarku.


"Ada sesuatu yang ingin kamu beli?" tanyanya dengan fokus menatap meja.


"Ada"


"Baiklah setelah ini kita keluar, dan lusa aku akan mengantarmu untuk tinggal di Hongkong bersama ibu"


"Dan mas?"


Ku lirik dia melambatkan kunyahannya, lalu menatapku intens "Aku akan mengunjungi kalian setiap selasa dan Sabtu"

__ADS_1


"Kenapa mas tidak membawa ibu ke sini, dan tinggal bersama kita?"


"Terlalu berbahaya untuk kalian" jawabnya lalu meneguk air dalam gelas.


"Kalau begitu, berhentilah berjudi"


"Tidak semudah itu untuk keluar dari lingkaran perjudian, mereka pasti tidak akan membiarkanku pergi begitu saja"


Perkataannya membuatku reflek mengangkat pandangan, lalu mempertemukan natra kami "Kenapa?" tanyaku kian penasaran.


"Mereka yang telah aku kalahkan" Mas Pandu menatapku dengan saksama "Akan terus menantangku" lanjutnya dengan Pandangan tak teralihkan barang sedetikpun.


Layar ponsel mas Pandu menyala, dan seketika netranya memindai ponselnya di atas meja.


"Lihatlah, padahal aku masih ingin break menikmati hari-hariku pasca menikah denganmu, tapi mereka terus menghubungiku"


Jantungku rasanya jatuh mendengar ucapannya barusan, aku mengatupkan bibir penuh rapat. Kegelisahan, kecemasan dan ketakutan mendadak singgah di benakku.


"Kamu tidak usah takut, aku ada pengawal untuk menemani kalian di Hongkong, mereka tinggal di depan unit yang ibu tinggali" pungkasnya seolah tahu ketakutan yang tiba-tiba menyelimutiku.


"Apakah hidupku akan terus seperti ini?"


Lelaki di depanku menggenggam erat tanganku di atas meja "Maafkan aku"


Ku tundukan pandanganku dan kembali menyuapkan nasi goreng yang rasanya berubah hambar.


Saat aku mendongakkan kepala, ternyata mas Pandu tengah menatapku tajam, sedang mencerna ucapanku mungkin, atau sedang memikirkan sesuatu.


******


Usai sarapan, mas Pandu menyuruhku untuk mandi, dan dia yang akan mencuci piring bekas makan. Sempat ku tolak tadi, namun mas Pandu bilang aku sudah memasak, jadi giliran dia yang mencuci piringnya.


****


Aku menatap sosok mas Pandu sesaat setelah membuka pintu kamar mandi. Dia tengah duduk di kursi balkon kamar kami sambil menikmati sebatang rokok. Pandangannya fokus menatap layar ponsel di tangan kirinya. dan tangan lainnya berkali-kali menyelipkan batang rokok ke mulutnya.


Pria itu benar-benar banyak minusnya, dan parahnya lagi, dia adalah suamiku.


Menghembuskan napas pelan, aku berjalan menuju lemari tempat penyimpanan pakaian. Pakaian yang rata-rata kurang bahan membuatku ilfil saat melihatnya.


Setelah mengenakan pakaian, aku duduk mematut diriku sendiri di depan cermin. Beberapa menit berlalu, tampak mas Pandu bangkit dari duduknya, lalu menggeser pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon, ia kembali menggeser menutupnya, setelah masuk ke dalam kamar. Seketika aku berdiri lalu menghampirinya.


"Mana tangan mas?"

__ADS_1


"Mau apa?" sahutnya mengernyit.


"Jangan banyak bertanya" jawabku sambil meraih tangan mas Pandu lalu menyemprotkan handsanitizer secukupnya.


"Aku tidak suka bau rokok"


Dia mengusapkan kedua telapak tangannya "Masih bau?" tanyanya seraya menyodorkan telapak tangan tepat di depan hidungku.


"Sudah tidak" jawabku lalu kembali menghadap cermin untuk menyapukan sedikit bedak di wajahku.


Aku sempat melihat mas Pandu mengganti celana pendeknya dengan celana panjang. Jujur aku baru tahu penampilannya yang seperti ini, mengenakan kaos berkrah, dengan celana panjang pas body dan kacamata minusnya yang bertengger melingkupi kedua matanya. Kalau boleh menilai, pria itu terlihat lebih muda dan tampan, di bandingkan saat dia mengenakan kaos berwarna gelap yang selalu menutupi lehernya dan di padukan dengan jas.


"Sudah siap?" tanyanya sambil melingkarkan jam tangan, lalu meraih kunci mobil di atas nakas.


"Sudah" jawabku tanpa melihatnya.


Saat baru saja keluar dari pintu apartemen, dan setelah mas Pandu menutupnya yang otomatis langsung bisa terkunci, jantungku di buat berdebam ketika tiba-tiba tangannya menggandeng tanganku.


***


"Kita mau kemana?" tanyaku saat berada di dalam mobil, dan mas Pandu tengah memasang seatbelt.


"Kamu bilang ada sesuatu yang mau di beli" sahutnya sambil melirik spion lalu memutar roda kemudi ke arah kanan. "Kita ke Plaza, setelahnya aku akan mengajakmu mengunjungi hotel, dan restauranku, sekalian kita makan siang di sana baru kita kembali ke rumah" jelasnya panjang lebar.


Ini kedua kalinya aku menatap pemandangan Macau, aku seolah di buat takjub dengan keindahan gedung-gedungnya yang menjulang tinggi beserta arsitekturnya yang menurutku unik. Hanya sekitar 15 menit kami sudah berada di area parkir Plaza. Sebuah pusat perbelanjaan yang lebih dari tiga lantai.


"Apa yang mau kamu beli?" tanyanya lagi-lagi menggandeng tanganku, sedangkan aku, merasa gugup mendapat perlakuannya.


"Baju"


Mas Pandu tampak mengernyitkan dahi "Baju?" tanyanya penuh heran "Bukannya sudah banyak baju di rumah dan itu baru semua" sambungnya sambil terus berjalan menaiki eskalator menuju lantai dua, tempat yang khusus menjual pakaian.


"Aku tidak suka pakaian seperti itu"


"Kenapa?"


"Terlalu terbuka" jawabku singkat.


TO BE CONTINUE


Please jangan jadi silent rearders ya, kalau ada kritik dan saran lebih baik langsung komentarin saja, yang penting bahasanya harus lembut 😀 soalnya autornya baperan 😄...


Kalau kalian cuma diam, aku anggap ceritaku nggak pantas untuk di baca...

__ADS_1


Makasih yang udah ninggalin like, dan vote nya, hadiah yang sudah di berikan, itu adalah penghargaan tertinggi untuku...


happy reading 😗


__ADS_2