
Aku menatap ke arah ranjang, ada sesosok papa dari anaku. Aku duduk di sebuah sofa panjang yang tak jauh dari tempat tidurku. Sambil menggigit roti dengan olesan slai coklat, dan menikmati segelas susu. Salain roti tawar dengan isian slai nanas, irisan tomat, dan juga timun, di atas meja pun sudah ada secangkir teh susu yang masih mengepulkan asap.
Meskipun aku sedang mengandung anaknya, tapi seolah tak percaya dengan kehadiran mas Pandu.
Tidak lama setelah itu, dia bangkit dari tidurnya, lalu duduk di tepian ranjang dengan mata masih setengah terpejam, lengkap dengan rambutnya yang berantakan. Dia menghela napas selagi menguap, aku yakin dia masih mengantuk, mengingat semalam pria itu sampai di rumah pada pertengahan malam.
"Cou san" sapaku sambil tersenyum
Dia memalingkan wajah ke arahku, dengan kondisi mata yang masih menyipit, lalu mengangguk "Cou san" balasnya dengan suara parau.
Aku merasa semalam adalah malam yang berbeda dari tiga malam sebelumnya. Aku yang semenjak hamil selalu tidak bisa tidur hingga larut malam, tiba-tiba di kejutkan dengan pintu kamar yang terbuka dan menampilkan mas Pandu di balik pintu. Seketika itu tanpa sadar bibirku tersenyum. Masih di atas ranjang tanganku reflek terlentang, dan mas Pandu menyambutnya dengan memelukku.
Decitan pintu terbuka, membuatku sadar dari lamunanku, lalu menoleh ke arah kamar mandi, mas Pandu, berdiri di ambang pintu dengan handuk melilit di pinggangnya, rambutnya basah, wajahnya sudah terlihat lebih segar, dan tubuhnya, menguarkan aroma sabun maskulinnya.
Dia berjalan menghampiriku, dan langsung mendaratkan ciuman singkat di bibirku, lalu meneguk teh susu dari cangkirnya.
"Ada apa?" tanyanya sembari meletakan kembali cangkir itu di atas meja, lalu berjalan menuju lemari, meraih satu stel pakaian santai, untuk ia kenakan.
Dan aku menggeleng.
"Sekalian ambil handuk kecil" perintahku padanya, dia tahu untuk apa handuk itu, karena semenjak hamil, mas Pandu suka sekali memintaku untuk membantunya mengeringkan rambut menggunakan handuk, selain itu dia merasa nyaman saat aku mengeringkan sembari memijat kepalanya.
"Ibu belum bangun?" tanya mas Pandu, lalu menyerahkan handuk dari tangannya.
"Tadi pas aku bikin kopi si belum, tapi sekarang mungkin sudah"
Aku mulai menggerakkan tangan pelan di atas kepalanya, sesekali memberikan pijatan lembut. posisiku berdiri di depan mas Pandu yang terduduk di kursi, memudahkan dia menciumi perutku.
"Ada yang ingin mas jelaskan?"
"Kamu minta penjelasan apa?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaannya, tanganku reflek berhenti, namun hanya sesaat, dan kembali mengusapkan handuknya lembut.
Untuk urusan menjelaskan, mas Pandu benar-benar tidak peka, tapi jika melihat diamku, dan tidak banyak bicara, dia justru kelewat peka.
"Kamu tanya, nanti aku jelaskan"
Begitulah yang ku dengar, persis jawaban saat aku meminta penjelasan tentang ayahnya Alvin.
"Aku tidak akan bertanya" kesalku sambil menyampirkan handuk di sandaran tangan sofa, dan mas Pandu langsung menoleh menatapku.
"Marah lagi"
"Seharusnya mas tahu apa yang akan mas jelaskan mengenai suara perempuan di telfon kemarin malam" ujarku menangkis dugaannya, tanganku kali ini merapikan rambutnya yang sudah setengah kering.
"Soal itu aku rasa tidak perlu di jelaskan karena dia bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang tidak tahu waktu kapan bertamu ke rumah orang"
"Tapi kenapa pertanyaanya seperti memantik kekesalanku?"
"Kakak belum makan malam?" ucapku mengingatkan. "Pertanyaan seperti itu, dari perempuan untuk suamiku, dan itu di lakukan pada malam hari, apa aku harus diam saja seperti orang bodoh?"
Usai mengatakan itu, aku langsung bergegas keluar dari kamar, sebab aku tak ingin mendengar jawabannya. Baru saja aku akan melangkah, dia buru-buru memegang pergelangan tanganku.
Ku tatap wajahnya, dengan keadaan mata yang sudah memicing, tapi itu tak membuatku takut.
"Sikapmu yang seperti ini, membuatku harus sedia stok sabar banyak-banyak" ucapnya dengan sorot lekat menatapku.
"Dan sikap mas yang seperti ini, membuatku harus mengulur sabar panjang-panjang"
Entah apa yang lucu, mas Pandu tertawa sesaat setelah mendengar sahutanku. Lalu membopongku dan membaringkanku di atas tempat tidur.
Tak ada pandangan lain yang ku lihat kecuali langit-langit kamar dan wajahnya yang kian mendekat. Tanpa mengatakan apapun, bibir kami bertemu.
__ADS_1
Hangat dan lembut, itu yang aku rasakan. Ketika aku mencoba berontak, mas Pandu justru menggigit bibirku, membuatku akhirnya merespon ciumannya.
"Kalau masih tidak mau menjelaskan" ucapku setelah mas Pandu melepas ciumannya. "Nanti malam mas tidur sama ibu, dan aku sama Nuri di sini" Ancamku.
Kening kami masih saling menempel, mas Pandu menatapku dengan sapuan napas yang masih belum teratur.
Satu tangannya yang tadi memegang jemariku, kini beralih membelai bibirku, sementara tangan lainnya, masih bertahan di bawah tengkukku, menjadi bantalan untuk menopang kepalaku.
Kamu tahu kan?" balas mas Pandu dengan sorot mata sepenuhnya menyoroti netraku. "Aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku?"
"Kata-kata yang mana?" tanyaku mengernyit.
"Menjadikanmu satu-satunya wanita yang aku miliki"
"Apa mas pikir aku akan percaya, jika kita tinggal terpisah"
Ku dengar helaan napasnya yang kian frustasi.
"Dia adiku?"
"Tania" sahutku cepat, yang di jawab gelengan kepala olehnya.
"Delita"
Reflek aku mengangkat satu alisku, dan mas Pandu langsung menjawab kebingunganku dengan mengatakan bahwa Delita adalah anak dari ayah kandung dengan istri keduanya.
TBC..
happy reading
Cou san \= Selamat pagi (Bahasa kantonese, umum digunakan oleh pemerintah hongkong)
__ADS_1
Semoga menjadi pagi yang indah.. satu-satu ya sampai Nayla tahu semua tentang pandu, nanti baru masuk konflik.. konfliknya yang ringan aja lahππ