
Malam semakin larut, Pandu sudah pulang dari beberapa jam lalu sesaat setelah selesai makan malam.
Pak Hermawan terjaga di dalam ruang kerjanya. Ia tak menyadari sudah tertidur di sana hingga pagi hari.
Semalam, Hermawan mendapat kabar, bahwa dia sudah mendapatkan informasi tentang istri sah Pandu. Mereka mengatakan bahwa saat ini Nayla sedang berada di Hongkong, namun untuk pastinya, mereka belum mengetahui dimana Nayla tinggal.
"Sekarang apa rencana kalian untuk membawa wanita itu ke hadapanku?" tanya Hermawan pada kedua anak buahnya.
"Kami akan selalu berpatroli di area pelabuhan, sebab kami yakin jika suatu saat dia pasti akan menemui wanita itu. Di situ kami akan mengikutinya sampai ke alamat rumahnya"
Hermawan tampak menganggukan kepala beberapa kali.
"Di lain waktu, kami akan menyamar dan berpura-pura sebagai bawahan Pandu untuk menjebak wanita itu" tambahnya dengan sorot mata tak teralihkan menatap Hermawan.
"Lalu bagaimana jika wanita itu menelfon Pandu?" selidiknya lengkap dengan mata yang memicing.
"Kami tidak akan memberinya kesempatan untuk menelpon suaminya"
"Tetapi jika itu terjadi bagaimana?"
"Kami akan memaksanya"
"Terserah apapun rencana kalian, bawa dia ke hadapanku, dan aku minta supaya Pandu tidak mengetahui rencana kita"
"Siap bos"
"Pandu, jika kamu menjadikan Delita sebagai senjata, maka aku akan menjadikan istrimu sebagai senjataku"
"Aku tidak bisa mengakuimu di hadapan Maria, karena pasti dia akan mengusirku dari rumahnya, dan aku akan kehilangan kekayaan ini, aku tidak pernah bisa hidup tanpa harta" Desisnya dalam hati.
"Itu artinya, Risa pasti juga ada disini" kali ini dia bergumam dengan kedua siku bertumpu di atas meja sementara jemarinya saling menyatu.
"Apa kabar dia, sekarang anaknya sudah menjadi orang kaya"
"Risa meskipun aku masih mencintaimu sampai detik ini, tapi aku tidak bisa hidup dengan wanita yang tidak memiliki apa-apa sepertimu. Meskipun permainan ranjangmu lebih memuaskan di banding Maria, itu tidak cukup untukku. Cukup dengan pura-pura mencintainya, aku bisa hidup dengan bergelimang harta"
Hermawan masih sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga dia tidak sadar bahwa anak lelakinya Devano yang juga kembaran Delita mengetuk pintu dan memasuki ruang kantornya.
"Pah" panggil Devan, dia sama liciknya dengan Hermawan yang akan menguasai harta mamahnya tanpa mau berbagi dengan Delita.
"I-iya Dev, ada apa?"
"Papah melamun?" tanya Devan dengan heran.
"Iya, tadi papah hanya berfikir ingin menjodohkan adikmu dengan anak pak Frans" jawabnya berusaha mengelak.
__ADS_1
"Bukannya Delita sudah punya calon suami?"
"Papah tidak setuju dengan lelaki itu, dia terlalu tua untuk Delita"
"Tapi dia kaya loh pah, pasti Delita akan hidup enak meskipun papah dan mamah tidak memberinya warisan"
"Sekali tidak papah tetap tidak"
"Tapi Delita cinta sama Pandu pah, aku setuju kalau Delita sama dia" ucap Devan. "Dengan begitu, aku tidak perlu berbagi kekayaan mamah dengan dia" Imbuhnya dalam hati.
"Papah tidak akan pernah merestui hubungan mereka Devano" tegasnya dengan intonasi agak tinggi.
"Aku akan menyuruh Delita untuk kawin lari jika papah tetap pada pendiriannya. Kekayaan mamah hanya milikku"
********
Kehamilan Nayla sudah menginjak bulan ke tiga, jam tidurnya sudah mulai normal dari pada di awal kehamilan di bulan pertama dan kedua. Semenjak ponselnya di minta secara paksa oleh dua orang kepercayaan Pandu di Hongkong, ia lebih memilih belajar merajut dari ibu mertuanya.
Jika ingin menghubungi Pandu, dia akan meminta Nuri untuk menelfonnya menggunakan ponsel pribadi milik Nuri.
"Non, ini Pak Pandu telfon" Ucap Nuri sambil menyodorkan ponselnya.
"Makasih ya Nur" Dengan gesit Nayla menerima benda tipis itu lalu menempelkan di telinganya.
"Lagi apa?"
"Merajut"
"Merajut marah apa merajut benang"
"Dua-duanya" jawaban Nayla membuat Pandu reflek menyunggingkan senyum.
"Merajutnya karena apa"
"Pasti mas sudah tahu jawabannya kan?"
"Tunggu hari Jum'at ya, aku akan jenguk kalian"
"Mas serius?" tanya Nayla dengan nada datar, tak ada ekpresi senang sama sekali. "Kalau di paksakan lebih baik tidak usah pulang"
"Kok gitu?, memangnya tidak rindu dengan suamimu?"
"Tanyakan itu pada diri mas sendiri coba?"
"Sudah pasti kangenlah"
__ADS_1
Hening, Nayla tak bisa lagi menyahut ucapan Pandu. Dia menunduk sembari mencermati kuku di jari-jarinya.
"Masih ingat pesanku?" Tanya Pandu memecah kesunyian yang mereka ciptakan.
"Jangan keluar rumah"
"Maaf harus memberlakukan aturan seperti itu"
"Tidak apa-apa, aku lagi ada di dalam penjara"
"Sekali lagi minta maaf ya"
"Hmm"
"Besok aku usahakan sampai sana sebelum makan malam, biar bisa makan sama-sama"
"Mas mau di masakin apa nanti?"
"Apa saja yang penting masakan buatanmu"
Banyak hal yang mereka bicarakan mengenai usaha Pandu di Macau, tentang dirinya yang baru saja meretas mesin judi, sehingga dia bisa mengalahkan beberapa pemain judi yang selalu bermain curang dan menipu para penjudi lain. Tentang kehamilannya yang terasa menyedihkan. Namun saat mengingat pesan dari sang suami, ia mampu menepikan kesedihannya yang seringkali singgah dalam benaknya.
Puas berbicara melalui telfon, Nayla kembali fokus dengan rajutannya. Ia sempat heran pada ibu mertuanya yang sekarang sudah sedikit bisa berbicara. Kenapa selalu membuat sapu tangan. Alasannya karena saat kecil, Pandu selalu berkeringat meskipun tidak melakukan aktifitas yang berat.
"Sampai sekarang masih suka berkeringat kok bu" Nayla merespon cerita bu Risa. "apalagi jika tidur tanpa AC, sudah pasti keringatnya akan membanjiri bantal dan ranjangnya"
"Makannya dari pada beli sapu tangan, ibu mending bikin dengan rajutan, karena ibu suka sekali merajut dan uangnya bisa untuk yang lain" ucapannya tentu saja masih tergagap dan tersengal.
"Begitu ya bu?"
Bu Risa mengangguk. Meskipun sedikit kesulitan dalam berbicara, namun Nayla cukup paham dengan apa yang di ucapkan oleh ibu mertuanya.
"Oh ya bu, Jum'at malam mas Pandu akan pulang, enaknya masak apa ya bu?"
"Pandu suka sekali sama kepiting saos tiram, sama stim ikan, coba masak itu, untuk tambahannya tersekarah kamu Nay"
"Aku baru tahu kalau mas Pandu suka ikan" Batin Nayla, ingatannya tiba-tiba mengingat Pipo yang suka sekali dengan ikan-ikan di kolam ikan dekat sekolah TKnya dulu. "Jadi ingat si pemilik sapu tangan itu" Batinnya lagi lengkap dengan senyum samarnya.
"Astaga, aku sudah punya suami, kenapa mengingat di yang jelas tidak pernah mencariku, padahal dulu dia sempat berjanji akan menemuiku lagi di taman itu"
Menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala, Nayla lalu melirik jam di atas meja pojok. "Sudah hampir pukul tiga ternyata" gumamnya.
"Bu, Nay siapin bahan makanan untuk di masak nanti malam ya"
Setelah di anggukan oleh bu Risa, Nayla buru-buru berdiri, lalu melangkah menuju dapur. Di sana sudah ada Nuri yang sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sop iga.
__ADS_1