
Bruukk...!
"Aww..." Rintihnya
"Mau kemana kamu Nona" ucap salah satu pria pada gadis itu lengkap dengan gelak tawanya. Aku yang hendak membuka pintu mobil, urung ku lakukan karena netraku menangkap seorang gadis tengah mendapat perlakuan tak senonoh dari ketiga pria yang mengganggunya.
"T-tolong, j-jangan ganggu saya"
"Ayolah Nona, kita bersenang-senang satu malam saja"
"Lepaskan aku tolong"
"Ketika salah dua dari lelaki itu menarik tangan gadis itu, dengan tangkas gadis itu menendang bagian ******** salah satu pria itu, membuatnya reflek melepaskan cengkramannya. Karena si pria tidak terima, dia menampar gadis itu hingga mulutnya berdarah.
"Dasar kurang ajar" pekik pria itu. Dan satu tamparan kembali di layangkan.
"Lebih baik kita bawa gadis ini" ucap salah satu dari ketiga pria itu.
"Tolong" teriaknya ketika para pria hendak membawanya pergi. Ku lihat dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan kekarnya, namun tak berhasil.
"Tunggu! Ucapku membuat mereka kompak menatapku "Lepaskan dia" tambahku lengkap dengan lemparan tajam dariku.
"Siapa kamu?" tanyanya dengan mata yang kian memerah. "lebih baik kamu pergi, ini bukan urusanmu"
"Ini menjadi urusanku jika kalian menyakitinya" Pandangan ku alihkan pada gadis itu seketika dan sekilas.
"Lawan saja bos" lirihnya yang masih bisa ku dengar.
Salah satu dari pria itu melangkah maju, ku lihat rahangnya terkatup rapat. "Aku tidak suka berkelahi, lebih baik pergilah"
"Tidak suka berkelahi, atau tidak bisa?" timpalnya dengan tatapan tajam dan senyum sinisnya.
Aku yang sedari tadi menahan emosi sekaligus geram, langsung melempar pukulan pada pelipisnya, membuatnya terhuyung seketika. Saat salah satu pria berhasil ku lumpuhkan, pria lainnya maju, matanya menatap nyalang menyorotiku. Kupukul rahangnya saat ia hendak menonjokku, tak sampai di sini, dia membalas pukulanku dan mengenai hidungku hingga mengeluarkan darah segar. Dengan tangkas ku bidikan dua jari untuk menusuk bagian lehernya, membuatnya mundur karena kesakitan.
"Lepaskan dia kalau kamu tidak ingin terluka seperti temanmu" teriaku pada pria terakhir yang masih mencengkram tangan gadis itu.
Hingga beberapa detik cengkramannya bertahan, gadis itu menggigit lengan pria itu, membuatnya reflek melepaskan tangannya, gadis itu bergegas lari menghampiriku.
__ADS_1
Karena aku tidak ingin terlibat pertengkaran kian lebih, aku menarik tangan gadis itu dan membawanya berlari menuju mobilku.
"Terimakasih" ucapnya saat kami berada di dalam mobil.
"Hmm" sahutku untuk merespon ucapannya. "Aku antar kamu pulang"
"Tapi kunci apartemenku terjatuh entah dimana"
Mendengkus pelan, akhirnya ku bawa gadis ini ke apartemenku, mungkin malam ini aku akan membiarkannya untuk menginap di rumahku.
Setengah jam kemudian, setibanya kami di unitku, aku langsung menuju lemari tempat penyimpanan kotak obat.
"Duduklah, ku obati lukamu" Dia diam menatapku, mungkin terkejut dengan perlakuanku padanya "Ayo duduk, aku hanya mau mengobati lukamu" tambahku yang langsung di respon dengan gerak tubuhnya duduk di atas kursi. Perlahan ku tuang alkohol pada selembar kapas, lalu aku menekan-nekan kapas itu tepat di luka yang dia dapat akibat tamparan dari salah satu preman yang menyerangnya.
"Terimakasih" ucapnya setelah aku selesai mengobati lukanya. "Untung kakak cepat datang menolongku, kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku"
"Kakak?" selorohku ketika dia memanggilku dengan sebutan itu.
"Maaf" ucapnya menunduk.
"Apa kamu sudah makan?"
"Aku akan memasak, kamu tunggu disini, atau kamu bisa mandi sembari menunggu makanan siap"
"Tapi baju gantiku?"
Aku melangkahkan kaki menuju kamar, ku raih piyama milik Nayla yang sengaja ku tinggal untuk berganti jika sewaktu-waktu aku membawanya pulang.
"Pakai ini"
Aku menyerahkan satu stel piyama padanya, diapun menerimanya dengan kedua tangannya.
"Kamu bisa tidur di kamar itu" ucapku sambil menunjuk pintu kamar bergambar bunga sakura. "Kamu juga bisa mandi di kamar itu"
*****
"Siapa namamu?" tanyaku saat kami tengah menyantap makan malam yang ku buat.
__ADS_1
"Delita"
"Nama lengkap?" tanyaku lagi membuat dia terdiam lalu menatapku.
"Delita Agni Hermawan"
Mendengar namanya di sebut, entah kenapa ada denyut nyeri yang ku rasakan di dalam sana. Pikiranku tiba-tiba melayang ke beberapa tahun silam. Saat pria itu menyakiti ibuku, dan meninggalkan kami hanya untuk wanita kaya raya yang mampu menjamin hidupnya tujuh turunan.
"Kakak sendiri siapa namanya?" tanyanya ragu-ragu.
"Pandu"
"Pandu?" responnya sedikit kaget "Apa Pandu Mahardani Hermawan, pria yang baru-baru ini menikah secara diam-diam?" aku tidak tahu pasti si, sebab aku jarang sekali melihat tv atau membaca majalah"
"Pernikahan itu hoaks" jawabku, ku pikir dia tidak melihat tv saat aku mengadakan konferensi pers, jadi mungkin dia memang belum tahu kebenaran tentang pernikahanku dengan Nayla.
"Oh jadi berita itu tidak benar?"
"Hmm" responku seraya mengunyah makanan.
Entah apa yang dia pikirkan, aku sempat melihatnya terdiam dengan gerakan melambat di mulutnya.
"Ini piring-piringnya biar aku yang cuci, kamu istirahat saja, besok pagi ku antar pulang"
"Tapi pasti aku akan tidak enak karena merepotkanmu lebih banyak lagi"
"Pergi ke kamarmu, jangan buat aku mengulang ucapanku, aku tidak suka" ujarku dengan nada datar khas milikku. Dan gadis itu langsung melangkah menuju kamar, meski sedikit ragu.
Aku, akan gunakan dia untuk kepentinganku.
Selesai mencuci piring, aku menuju Balkon tempat favoritku untuk menikmati sebatang rokok. Sembari menatap langit malam, berkali-kali ku selipkan batang rokok di mulutku.
Mengenai gadis itu, aku akan memanfaatkan dia untuk kepentinganku. Tuan Hermawan, karena kamu sudah menyakiti wanita yang paling aku cintai, maka akupun akan menyakiti wanita kesayanganmu.
Menghembuskan asap putih dari mulut, perhatianku yang tadinya menatap bara di ujung rokok, kini beralih menatap layar ponsel. Ada begitu banyak poto Nayla yang ku ambil selama sebulan tinggal bersama, yang ku simpan dalam folder khusus bernama Pipo.
Wanita itu, benar-benar tidak menyadari kalau pria masa kecilnya adalah aku, si Pipo yang namanya tertulis pada sapu tangan yang pernah aku gunakan untuk membalut luka di lututnya dulu.
__ADS_1
Tentangnya, aku tidak berani membayangkan Nayla kapanpun, dan dimanapun, sebab hormonku benar-benar luar biasa besar terutama untuk urusan kebutuhan biologisku, tapi aku masih sadar diri tidak pernah melampiaskan pada siapapun, itu sebanya aku tak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya jika sedang dengannya.
Puas melihat wajahnya di layar ponselku, sedikit terobati rasa rindu yang hampir dua hari ini ku simpan untuknya. Aku berjalan masuk menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.