
Pagi hari, aku bersiap-siap untuk pergi bekerja, aku mendapati sosok Delita tengah mengoles roti tawar dengan selai kacang duduk di kursi makan.
Aku di buat bingung karena dia masih memakai piyamanya.
"Kamu belum mandi?" tanyaku seraya menarik kursi di depannya.
Mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba, dia langsung berdiri menundukan kepala, aku sempat melirik tangannya yang saling bertaut seolah menunjukan rasa takut serta gugupnya di hadapanku.
"Aku tidak ada baju ganti"
Tak ku respon ucapan adik tiriku, aku beranjak dari hadapannya dan mencari baju untuknya.
Aku memilih salah satu dres mini milik Nayla, lalu akan ku serahkan padanya. Toh Nayla tidak menyukai pakaian kurang bahan seperti ini.
"Kamu tidak apa-apa kalau pakai baju seperti ini?" kataku seraya menyerahkan dress warna gold pada Delita.
"Memangnya itu baju siapa kak?"
"Aku tidak suka sama orang yang menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, sekali lagi aku tanya. Kamu tidak apa-apa pakai baju seperti ini?"
"T-tidak apa-apa kak" sahutnya tergagap, lengkap dengan wajahnya yang memucat.
"Kalau begitu, sekarang pergi mandi, aku tidak suka ada orang yang belum mandi lalu duduk di kursi makan"
Tanpa menjawabku, dia pergi setelah menerima baju yang ku beri. Mungkin kalimatku terdengar kasar, tapi biar saja, ku anggap sedang melampiaskan kekesalanku pada Hermawan.
Aku menunggunya sembari menatap layar ponsel, memeriksa pekerjaan yang bisa ku cek lewat benda tipis ini, hingga lewat bermenit-menit, ku dengar langkah kaki mendekat, ku pindai penampilannya dari ujung rambut hingga kaki, aku berdecih dalam hati.
"Kak" panggilnya membuatku tersadar dari lamunan.
"Ada apa?"
Hening hingga beberapa saat dia belum juga menyahut.
"Duduk, makan" lanjutku dengan intonasi tegas "Setelah ini aku akan mengantarmu"
"Tapi kunci apartemenku hilang, aku tidak bisa masuk"
__ADS_1
"Dimana alamat rumahmu?, biar aku suruh asistenku untuk membuat kunci duplikat"
"Tapi apa tidak merepotkanmu?"
"Tidak"
"Kamu tidak tinggal dengan orang tuamu?" tanyaku, kami yang duduk bersebrangan hanya di batasi meja, sangat jelas wajahnya yang terlihat salah tingkah.
"Kami tinggal terpisah" jawabnya menunduk, sesekali menatap wajahku, namun pandangannya jatuh hanya sampai di daguku.
"Cepat habiskan, aku sudah terlambat bekerja"
***
Aku tak habis pikir dengan para media, sudah lewat sebulan ini, mereka masih saja menguntitku, apa yang mereka cari dariku, sedang aku bukanlah seorang artis ataupun public figure.
"Banyak media Del, aku jalan di depanmu" kataku dan tanpa menunggu jawaban, aku langsung melangkah tiga langkah di depannya.
"Ada apa dengan media kak?" tanyanya polos, ketika kami sudah berada di dalam mobil.
"Terus kenapa tadi kita tidak jalan bareng saja?"
"Kamu mau nanti hidupmu di ganggu sama mereka?" tanyaku sambil memutar roda kemudi.
"Kenapa harus ganggu hidupku?" aku bukan artis"
Huffftt aku menggembungkan mulutku, tidak habis pikir kenapa masih bertanya. Benar-benar tidak bisa tangkas dalam menyimpulkan kalimat sesederhana itu. Tidak seperti Nayla, bahkan sebelum aku beritahu, dia sudah pandai berprasangka.
"Kamu jalan sama aku, pasti nanti kamu ikut di sorot juga sama media" jawabku sekenanya. "Pusing tahu, hari-hari di buntutin sama mereka, orang yang tidak kuat mental, pasti bunuh diri"
Mendengar ucapanku seketika matanya memindai wajahku "Ada apa?" tanyaku ketika dia masih bertahan menyorotiku.
"Kok kakak punya baju-baju perempuan?" Apa kakak punya adik perempuan?"
"Kalau iya kenapa, dan kalau tidak, apa kamu akan berprasangka bahwa aku suka membawa wanita menginap di apartemenku?"
"B-bukan begitu kak?" cuma heran saja"
__ADS_1
"Iya, aku punya adik"
"Oh"
"Oh kenapa?" tanyaku mengintimidasi.
"Tidak kenapa-kenapa?"
"Kak" Panggilnya ragu-ragu.
"Ada apa?"
"Boleh minta nomor ponselnya?"
"Untuk apa?"
"Untuk aku save di ponselku"
"Tinggalkan nomor ponselmu, nanti ku telfon. Di atas dashboard ada kertas sama bolpoint, kamu tulis saja di situ"
"Tapi kakak benar akan menghubungiku kan?"
"Kenapa?" ngarep banget aku menghubungimu?"
Dia hanya menggeleng merespon ucapanku.
"Mereka sudah mengganti kunci rumahmu" ucapku tanpa menatapnya. "Kamu tanyakan pada penjaga apartemen, karena asistenku menitipkannya padanya"
"Iya sekali lagi terimakasih kak"
"Hmm" responku singkat.
Setibanya di rumah dia, aku menghela napas lega, sampai dia turun dari mobilku dan menghilang dari pandanganku, aku bergegas memutar balikan mobilku dan melajukannya menuju kantor, karena hari ini Alvin akan meminta laba dari restauran dan hotelnya.
Punya adik tiga, yang satu beda ayah beda ibu, satu lagi beda ayah, dan satunya lagi beda ibu. Bisa-bisanya mereka mempermainkan pernikahan. Punya anak
Menginjak usia tiga puluh empat tahun, satu misi pun belum ada yang terealisasikan.
__ADS_1