Macau Love Story

Macau Love Story
Memperkenalkan pada publik


__ADS_3

Nayla's pov


Aku yang baru saja membuka mata, menatap bingung pada pria di atasku. Pria itu tengah tersenyum jahil dengan seringainya yang tajam.


Tercium aroma sabun menguar sangat kuat berasal dari tubuhnya. Ku amati wajahnya yang terlihat sudah segar di pagi hari seperti ini. Tubuh kekar itu tak terbalut kaos ataupun kemeja kantor, hanya mengenakan celana pendek mambuat alisku seketika menukik.


"Mas sudah bangun, sudah mandi?"


"Sudah" jawabnya tanpa mengikis jarak wajah kami yang hanya sejengkal. Kedua sikunya bertumpu menopang tubuhnya agar tak terlalu menindihku.


"Ada apa?" tanya ku memicing.


Alih-alih menjawab, mas Pandu justru menghiasi wajahnya dengan senyuman yang menurutku itu adalah senyuman termanis sepanjang masa. Maksudnya senyuman yang benar-benar paling manis sepanjang usia pernikahan kami. Bicara soal pernikahan, tidak terasa beberapa hari lagi usia pernikahan kami menginjak satu tahun.


Alisku semakin menukik ketika ku dapati mas Pandu justru mempertajam senyumannya.


"Tidak sedang merayuku kan?" tanyaku lagi dengan kondisi mataku yang memicing.


"Kan? kamu selalu nething sama suamimu"


"Ok, sekarang katakan apa yang mas inginkan?" Tanganku reflek melingkar di leher mas Pandu.


"Kamu tahu kan, sampai kapanpun, dalam keadaan apapun, pria dan wanita akan saling membutuhkan, dan kebutuhan itu akan di penuhi dengan sempurna dalam ikatan pernikahan?"


"Ya ya, katakan ke intinya"


"Kalau aku merayumu memangnya kenapa? kamu keberatan di rayu sama suamimu?"


"Belum empat puluh hari, harusnya mas bisa menahannya?"


Tiba-tiba mas Pandu menjentikan jarinya di bibirku, sedetik kemudian mengecupnya singkat.


"Sejak kapan bisa sebures itu pikiranmu?" tanya mas Pandu tanpa mengalihkan pandangannya dariku.


"Memangnya ada maksud lain dari posisi mas yang seperti ini selain itu?"


Sebelum menjawab pertanyaanku, mas Pandu kembali mencuri kecup kali ini di dahiku. Sementara tanganku kini menggamit sisi kanan kiri pinggangnya.


"Kamu temani aku, kita opening restauran baru"


"Mas buka restauran lagi?"


"Hmm" responnya seraya mengangguk.


"Kellen gimana, kita tinggal begitu?"


"Iya, kamu pompa asimu buat stok Kellen selama kita tinggal"


"Harus banget ya?"


"Tidak juga" sahut mas Pandu sambil bangkit lalu menarik tanganku. "Tapi apa salahnya mengajakmu, aku ingin kamu yang memotong pitanya, ini pertama kalinya aku opening restauran setelah menikah kan?"


Begitu aku sudah bangun, aku langsung melangkah menuju lemari untuk menyiapkan setelan kantornya.


"Ada Delita kan?"


"Kenapa memangnya?"


"Supaya aku tidak sendiri seperti orang hilang jika mas menyapa dan ngobrol dengan rekan bisnis mas"

__ADS_1


"Itu restauran pribadiku, kenapa harus libatkan Delita"


Sontak aku terkejut mendengar ucapan mas Pandu. Persekian detik mataku meliriknya penuh intimidasi.


"Mas tidak main judi kan?" tanyaku sambil memasukan lengan kemeja ke tangan kiri mas Pandu, lalu ganti ke lengan yang kanan.


"Sampai kapan kamu berprasangka buruk padaku Nayla Davika?"


Mendengar nama panjangku di sebut, seketika aku menelan ludahku sendiri. Aku tak berani membalas tatapannya kali ini, karena aku tahu dia pasti tersinggung.


Fokusku hanya tertuju pada kancing kemeja mas Pandu yang sedang aku kaitkan ke lobangnya.


Menyadari aku tak menatapnya, tangan mas Pandu meraih daguku dan mengarahkan ke tatapannya.


Mata mas Pandu memicing, tapi itu tak membuatku takut.


"Uang mas banyak juga" kataku akhirnya. Ku akui pria ini benar-benar kaya raya. "Setiap bulan sudah memberiku jatah bulanan, tapi masih punya sisa banyak sampai bisa bangun restauran lagi"


Mas Pandu mencubit hidungku lembut, bukannya merespon perkataanku, dia malah menyuruhku untuk segera mandi dan siap-siap.


Tepat ketika aku memasuki area kamar mandi, tangan yang bergerak hendak menutup pintu urung ku lakukan karena tiba-tiba terdengar rengekan Kellen. Aku melirik mas Pandu sekilas.


"Biar aku yang urus" ucapnya sambil melangkah ke arah ranjang milik Kellen.


Sampai ketika aku selesai membersihkan diri, ku lihat mas Pandu sedang bermain-main dengan putranya. Sudah bisa ku tebak, mas Pandu pasti yang telah mengganti pakaian anak kami.


"Aku sudah siap" kataku setelah hampir lima belas menit bersiap-siap.


"Kamu sarapan dulu, di sana ada sandiwch buatan ibu dan Nuri, ada susu juga" pungkasnya sambil menunjuk ke arah meja.


Sembari memakan sarapan, aku memompa asiku yang terasa sudah penuh dan mengganggu ruang gerakku. Netraku tak teralihkan barang sejenak menatap ke arah pria yang seolah tengah bersenda gurau dengan bayinya di atas ranjang. Meskipun hanya di respon rengekan dan bahkan bayi itu tak meresponnya sama sekali, tapi mas Pandu tetap saja menikmati saat-saat bersama anaknya.


Setibanya kami di restauran baru milik mas Pandu, aku di buat terkejut sekaligus heran. Ada beberapa media yang ternyata di undang oleh mas Pandu untuk meliput jalannya acara.


"Seperti ada media mas" bisikku sambil terus melangkahkan kaki. Tangan mas Pandu terus menggandeng tanganku dan kami berjalan bersisian memasuki area seperti function room. Tempat untuk opening restaurannya.


"Entahlah aku juga tidak tahu sayang"


"Bukannya mas sendiri yang sudah mengundangnya?" tanyaku sambil mengedarkan pandangan.


"Tidak, aku sama sekali tidak mengundang mereka"


"Harusnya di bikin privat saja openingnya mas, aku merasa tidak nyaman kalau harus ada media yang meliput"


Ku dengar helaan napas mas Pandu yang tampak rileks.


"Tidak nyamannya di mana? mereka meliput hal baik, yang mungkin bisa di jadikan inspirasi bagi yang melihatnya, kenapa harus merasa tak nyaman?"


"Aku hanya orang biasa mas"


"Tapi sekarang kamu itu istrinya Pandu Mahardani, bukan lelaki biasa"


"Yes, pria penjudi"


"Sepertinya julukan itu sudah melekat padaku. untung kamu istriku Nay, kalau orang lain yang mengatakannya, sudah pasti ku robek mulutnya dan ku patahkan tangannya"


"Kak Pandu, kak Nay" Teriak Clara seraya melambaikan tangan. "Sini kak"


Aku dan mas Pandu kompak menoleh ke arahnya. Padahal aku belum sempat menyanggah ucapannya yang sama sekali tak membuat dadaku berdesir apalagi takut.

__ADS_1


"Kita ke sana"


Aku dan mas Pandu duduk di kursi kebesaran yang memang sudah di persiapkan secara khusus untuk owner restauran barunya. Ada beberapa kamera yang terus terarah ke wajahku dan suamiku, membuatku ingin menghilang dari sini. Tapi ku pikir tak akan pernah bisa. Jangankan menghilang, menyingkir dari sini saja aku tak sanggup, jadi mau tidak mau aku harus mengikuti serangkaian acara mulai dari pembukaan, sambutan dari salah satu menejer yang sudah mas Pandu tunjuk, hingga sambutan dari mas Pandu selaku owner yang membuatku terharu sekaligus bangga.


Karena dalam sambutannya, ternyata mas Pandu mempersembahkan restauran itu untukku, untuk masa depanku dan anakku.


Dan untuk kali ini rasanya aku ingin sekali berlari menghampirinya lalu memeluknya erat-erat.


Tapi baru saja aku berfikir demikian, panggilan mas Pandu di sela-sela sambutannya menguar ke seluruh ruangan. Pria hebatku menyuruhku naik ke atas panggung, hal itu benar-benar membuatku merasa melayang. Bukan karena aku beruntung atau bangga mendapatkan suami yang kaya raya, tapi aku bahagia mendapat suami seperti mas Pandu, di tambah lagi dia adalah priaku di masa kecil.


Melihatku tak bergeming dari tempat duduk karena masih hanyut dalam euforia tentang kebahagiaanku, mas Pandu kembali memanggilku.


"Sayang"


Suara itu membuat wajahku kian memerah. Bagaimana tidak, dia memanggilku dengan sebutan itu di depan para kolega, karyawannya, dan juga media.


Seketika jantungku bertalu-talu di dalam sana.


"Kak ayo naik, kak Pandu memanggilmu kan?" bisik Clara sambil mengusap lengan kiriku. "Tidak perlu gerogi ataupun malu kak, kak Nay adalah nyonya kami, cepat naiklah sebelum kak Pandu memanggilmu untuk ke tiga kalinya."


Menarik napas panjang, lalu mengeluarkan secara perlahan, aku berusaha menetralisir rasa gugupku yang sudah singgah sejak beberapa menit lalu.


Bangkit dari dudukku, perlahan aku melangkahkan kaki menuju panggung, disana bisa ku lihat wajah sumringah mas Pandu lengkap dengan senyum yang terulas lebar, dia menyambutku dengan uluran tangan ketika aku menaiki tangga yang hanya berjumlah lima anak tangga.


Setelah di atas panggung dengan posisi kami yang saling berhadapan, mas Pandu tiba-tiba mengecup bibirku di muka umum, sesuatu yang tidak pernah aku duga sama sekali kalau mas Pandu akan melakukan hal itu di depan orang banyak. Dan hal itu justru di sambut tepuk tangan oleh mereka yang berada di dalam aula.


Aku berusaha tidak mengomeli pria yang kini masih mengulas senyum simpulnya tanpa malu sedikitpun.


"Apa-apan si mas?"


"Kenapa?"


"Malu kan banyak orang"


Alih-alih merespon kalimatku, mas Pandu malah membawaku ke tengah panggung, kemudian memperkenalkanku pada rekan-rekan bisnisnya.


"Nayla Davika, dialah istri saya yang sempat saya sembunyikan dari kalian" ujarnya dengan sorot mengarah ke para hadirin "Dia adalah wanita yang saya cintai bahkan semenjak dia masih duduk di preschool kindergarten. Dulu, kami selalu bermain bersama, main ayunan sama-sama, main lari-lari, makan ice cream sama-sama" Mas Pandu menjeda kalimatnya untuk dirinya sendiri. Sekilas pandangannya menyorot netraku yang sudah berkaca-kaca.


"Kami berpisah cukup lama, hampir dua puluh tahun" katanya seraya mengeratkan genggaman tangan kami. "Dan akhirnya, kami di pertemukan secara tidak sengaja. Dari situlah saya tak menunggu lama untuk menikahinya. Pernikahan kami yang sempat di sembunyikan, sebab saya tahu saat itu istri saya ini masih belum siap jika harus bertemu dengan orang-orang baru di sini"


Buliran bening di kelopak mataku sudah lolos tanpa permisi, namun mas Pandu segera mengusapnya dan aku, menyingkirkan rasa maluku. Detik itu juga aku melingkarkan tangan di pinggang mas Pandu, menyembunyikan wajahku di lengan kokohnya. Aku tidak peduli memperlihatkan sisi kemanjaanku di depan orang banyak.


"Untuk istriku" Mas Pandu kemudian mempertemukan netra kami. "aku akan menjadikanmu wanita satu-satunya dalam hidupku sesuai dengan syarat yang kamu ajukan sebelum kita menikah"


Ucapannya membuatku terharu, dan sepersekian detik, aku reflek memeluknya sangat erat, membenamkam wajahku di dada bidangnya.


"Makasih banyak-banyak" ucapku dengan suara teredam karena masih berada dalam dekapannya.


Mas Pandu merenggangkan pelukan kami, lalu kembali mengecup bibirku kali ini sedikit lebih lama dari sebelumnya. Tak peduli lagi meski itu kami lakukan di depan umum, karena aku amat sangat mencintainya, aku benar-benar menyingkirkan rasa maluku.


Beberapa menit berlalu. Sampai pada acara memotong pita, tiba-tiba ponsel mas Pandu bergetar.


Kami memberikan kesempatan pada mas Pandu menerima telfonnya yang entah dari siapa, tapi setelah selesai berbicara lewat telfon, mas Pandu tampak memberikan bisikan pada Rondi. Dan setelahnya, aku seperti di buru-buru untuk segera memotong pitanya.


Usai memotong pita tanda restauran di buka, mas Pandu langsung menggandeng tanganku, kami bahkan meninggalkan acara yang belum usai.


Entahlah, aku tidak tahu mas Pandu akan membawaku kemana. Yang jelas dari wajahnya tampak sekali kalau dia sedang merasa panik atau cemas.


Bersamabung

__ADS_1


__ADS_2