
"Kapan jemput ibu?" tanya Nayla ketika menyadari Pandu masuk ke area dapur.
"Clara dan Rondi sedang mengurus kepindahan ibu ke sini, itu butuh waktu yang tidak sebentar Nay"
Jawaban Pandu sedikit membuatnya kecewa. Sebab sudah dua bulan berlalu, tapi jawabannya tetap sama, masih mengurus kepindahan warga negara.
Rasa rindu ingin bertemu dengan ibu mertuanya sudah semakin memuncak, tapi dokumen itu belum juga selesai di urus. Meski setiap hari sudah bicara melalui telfon, tetap saja rindu Nayla terhadap ibu mertuanya masih belum terobati sepenuhnya.
Padahal sejak kemarin-kemarin, Nayla sudah membayangkan raut wajah ibu yang pasti senang karena akan tinggal bersama anak-anaknya selamanya.
Saat perhatian Nayla teralih ke arah tumisan buncis, mendadak tubuh Nayla berjengit ketika merasakan ada yang menggelung rambutnya lalu mengikatnya.
"Tidak terganggu masak dengan rambut tergerai?" tanya Pandu dengan telaten mengumpulkan anak-anak rambut, lalu merapikannya.
"Tapi kan ada..." kalimat Nayla terhenti karena cukup malu untuk mengatakan ada banyak tanda merah di lehernya.
"Kenapa masih suka ngumpetin tanda cintaku?" Kata Pandu seolah paham dengan apa yang ada di pikiran Nayla. "Kita sudah cukup lama menikah, kita juga sudah entah berapa kali menyatukan tubuh kita, iya kan? kenapa masih suka canggung?"
Nayla terdiam. Tak mampu menyanggah ucapan Pandu.
Sedikit tegang, sebab usai menggelung rambut Nayla, Pandu tak langsung pergi. Dia bertahan berdiri di belakang Nayla.
"Kecuali keluar rumah, kamu boleh menyembunyikan tanda itu" bisiknya, kemudian beranjak menjauh.
Sampai ketika sarapan telah siap, Nayla dan Pandu membahas tentang Alvin yang sampai saat ini belum juga berhasil mengambil hati Delita.
"Sepertinya Delita sudah mulai memperhatikan Alvin"
"Kok mas tahu?"
"Kemarin dia sempat ngantar makanan ke kantor, pas aku tanya ke Delita, katanya si Alvin tidak sarapan. Kemungkinan rencana dia berhasil"
"Rencana siapa?" tanya Nayla ia menghentikan gerakan mengunyah di mulutnya.
"Alvin. Waktu itu aku sempat dengar bahwa dia mau berpura-pura tak peduli dengan Delita meskipun tinggal dalam satu rumah" Ucap Pandu lalu menjeda kalimatnya untuk meneguk air dalam gelas. "Alvin benar-benar bersikap acuh terhadap Delita. Selain itu, kakaknya Delita juga tak pernah berhenti membujuk adiknya supaya mau menerima Alvin"
"Ooh" sahut Nayla singkat. "Terus bagaimana sikap Alvin sama mas di kantor?"
"Biasa saja, dia masih canggung, masih dingin jika berhadapan denganku, tapi cukup patuh dengan perintahku"
Usai sarapan, Pandu menyuruh Nayla untuk bersiap-siap selagi dia membereskan peralatan makan yang mereka gunakan sekaligus mencucinya.
"Kita mau kemana?" tanya Nayla menatap Pandu lekat-lekat.
"Ke mall, kita cari perlengkapan bayi"
"Tadinya aku ingin pergi sama ibu buat cari perlengkapan bayi, tapi melihat ibu sampai sekarang belum juga bisa kesini, aku harus menelan mentah-mentah keinginanku yang itu"
"Lain kali kan bisa, lagian kita juga tidak akan membelinya langsung, kita beli satu persatu"
"Kalau lain kali aku ajak Delita buat nemenin beli perlengkapan itu, kira-kira dia mau tidak?"
Pandu mengedikan bahu merespon ucapan Nayla.
"Bisa mas bicara pada Delita dan membujuknya menemaniku belanja?"
"Mending kamu ngomong sendiri Nay, kan lebih gamblang. Tapi lain kali, karena hari ini aku yang akan menemanimu"
"Aku juga tidak minta menemaniku hari ini"
__ADS_1
"Kamu mau ngobrol terus apa mau siap-siap, bentar lagi aku selesai cuci piring kamu belum siap"
"Memangnya kenapa?" tanya Nayla.
"Aku maunya kamu sekarang siap-siap, supaya pas aku selesai beres-beres dapur, kamu sudah selesai dandan. Kalau begini kan aku nunggunya jadi lebih lama"
"Mas tidak mau menungguku. Kalau iya, mas bisa pergi sendiri"
"Bukan begitu Nay"
Ketika Pandu Akan melanjutkan kalimatnya, Nayla keburu beranjak dari dapur. Kepala Pandu reflek menggeleng mendapati Nayla yang mungkin sedikit merajut.
Tepat ketika Pandu selesai mencuci piring, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.
Saat Pandu mengintip melalui lingkaran kecil yang terpasang pada daun pintu, tampak wajah pria yang tak asing baginya.
Pandu bergegas membuka pintu yang di rangkap dengan dua pintu. Yaitu pintu berbahan kayu, dan pintu berbahan besi.
Ketika kedua lapis pintu terbuka sepenuhnya. Tanpa di sangka, pria itu langsung berlutut di hadapan Pandu.
"Maafkan saya" ucapnya ketika sudah bersimpuh.
Pandu terdiam cukup lama, ia sama sekali tak merespon permintaan maaf dari lelaki di hadapannya yang tengah menunduk.
"Maafkan sudah meninggalkanmu" ucapnya sendu. "Aku memang bodoh, meninggalkan wanita yang ku cintai demi hidup mewah"
"Saya sudah memaafkan anda, bahkan sedetik setelah anda keluar dari gubuk kami yang kumuh dan jelek"
Hermawan mendongak untuk mempertemukan netranya.
"Lebih baik anda sekarang pergi dari hadapan saya"
Ia masih bertahan di balik pintu, dan tidak menyadari bahwa Nayla berada di balik punggungnya.
"Mas" panggilnya lirih
Pandu langsung membalikkan badan dan menemukan wajah sang istri yang sedang berdiri dengan tatapan kelam.
"Kenapa begitu tega dengan ayah kandung mas sendiri?" Tanya Nayla sembari menuntun Pandu untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Apa mas tidak merindukannya?" tanyanya lagi saat sudah dalam posisi duduk.
"Untuk apa aku merindukan orang yang tidak merindukanku?"
"Tapi dia ayah kandung mas, meskipun sudah menyakiti mas dan ibu, tapi sebagai seorang anak tidak pantas memperlakukan orang tuanya dengan begitu hina, apa lagi sampai berlutut seperti itu"
"Aku akan siap-siap"
Ketika Pandu hendak berdiri, dengan sigap tangan Nalya menahannya.
"Aku tahu mas marah padanya, tapi di sela-sela marahmu, aku yakin terselip rindu, iya kan"
Tersenyum miring, Pandu berdecih seraya membuang muka ke arah lain.
"Rasa rinduku sudah lenyap ketika dia masih belum mengakuiku di acara pernikahan itu. Dia bahkan tidak mau mengakuiku ketika pernikahanku dengan Delita hampir terjadi"
"Tapi setidaknya sekarang dia sudah mengakuimu di hadapan istri dan anak-anaknya, meskipun tidak di hadapanmu"
"Sudah terlambat" sahut Pandu lalu berdiri dan melangkah menuju kamar. Pandu bahkan tak mengindahi panggilan Nayla yang memintanya untuk berhenti.
__ADS_1
Karena panggilannya tak mendapat respon dari suaminya, Nayla berdiri dan berjalan menuju pintu, berharap pria itu masih berada di sana.
Namun harapannya kosong ketika tak melihat ayah mertuanya. Menutup pintu, Nayla berjalah ke arah kamar.
"Mas jahat tahu" ujarnya ketika sudah di dalam kamar.
Pandu yang tengah memakai kaos, seketika menghentikan gerakannya, namun hanya sesaat, lalu kembali memasukan kepala pada lubang kaos.
"Aku tidak ingin bahas ini Nay" katanya kali ini sambil melingkarkan jam di tangan.
"Kalau begitu aku tidak mau pergi"
Mendengar ucapan Nayla, pandangan Pandu ia alihkan ke wajah Nayla yang duduk di tepian ranjang.
"Terus apa maumu?"
"Aku ingin mas cari ayah dan bawa dia pulang kesini. Dia sudah cukup menderita sejak di usir dari rumah istrinya"
"Dari mana kamu tahu?"
"Dia pernah datang kesini saat mas di kantor. Dia bilang tinggal di kontrakan dan menjadi tukang sapu di Casino"
Hening, Pandu diam dengan sorot jauh menatap jendela.
"Aku pernah membujuknya untuk pulang ke rumah Devano, tapi dia bilang Devano justru mengusirnya, aku juga pernah bilang untuk menghubungi Delita, tapi sepertinya tidak ia lakukan, akupun menyuruhnya menemui mas, dan itu juga tidak ia lakukan, sampai tadi tahu-tahu dia berlutut di hadapan mas"
Ungkapan Nayla membuat napas Pandu merasa tercekat.
"Aku tahu kalau mas hanya marah padanya, dan tidak membencinya"
"Lalu aku harus apa Nayla, aku tidak mungkin menampungnya disini kan, apalagi sebentar lagi ibu juga akan tinggal disini. Aku tidak mungkin membiarkan ibuku tinggal satu atap dengan pria yang sudah meninggalkannya"
"Mas bisa menyuruhnya tinggal di salah satu unit mas di apartemen ini. Dengan begitu mas akan bisa mengawasi dan menjaganya"
"Akan aku pikirkan"
"Dia ayahmu, apalagi yang harus di pikirkan? mas tidak tahu seperti apa rasanya di tinggal orang tua selamanya"
"Tapi dia sudah meninggalkanku Nayla"
"Tapi beda dengan di tinggal pergi karena meninggal"
"Tapi bagiku dia sudah mati"
"Tapi faktanya dia belum mati" sergah Nayla tak mau kalah. Dan ucapan Nayla mampu membuat Pandu terdiam.
"Kalau mas belum siap, tidak masalah, tapi aku berharap mas akan melakukannya lain waktu. Jangan sampai ada dendam antara anak dan ayah. Jangan sampai mas menyesal seperti ayah yang saat ini tengah merasakan penyesalan itu"
Bersambung..
Masih menanti kisah Panay?"
Maafin ya, ini untuk kedua kalinya aku nulis naskah bahkan sampai tamat tapi pas mau aku coppy paste dan tinggal publis di Apl NT tahu-tahu naskahnya ilang, dan tersangkanya adalah suamiku. Naskah yang udah ku tulis sampai tamat nggak sengaja kehapus. Di situ semangatku terjun bebas, rasanya energiku sudah terkuras habis untuk mengarang tapi malah nggak dapat apa-apa.
Tadinya mau marah sama suami, tapi aku nggak bisa karena beliau adalah perayu yang handal, dan ahlinya ahli dalam merayuku. Jadinya aku luluh dan nggak jadi marah.
Sampai pada hari ini, pas kebetulan hari libur ngintip-ngintip dikit ada yang nunggu, jadi aku paksain ngarang lagi dari awal..
😍😍😍😍
__ADS_1