Macau Love Story

Macau Love Story
Memaafkan


__ADS_3

"Papah" Lirih Delita ketika kami berdiri di samping pembaringan milik ayah. Ayah yang saat ini masih belum sadar, tak merespon panggilan Delita.


"Kenapa papah tidak datang padaku. Kenapa papa memendamnya sendiri? harusnya papa ngomong kalau papa butuh uang untuk sewa apartemen"


Ku lihat mas Pandu menghirup napas dalam-dalam, aku tak tahu apa yang sedang dia rasakan. Menyesalkah, atau kasihan?


Aku benar-benar ingin sekali memarahinya lalu memberinya hukuman, tapi pasti tidak bisa karena aku tak pernah mampu melawannya.


"Papa harus sembuh ya pah, nanti akan Deli carikan tempat tinggal untuk papa, dan kalau Alvin setuju, Deli akan membawa papa tinggal dengan kami" Racau Delita, matanya kini sudah sembab karena sedari tadi sudah menangis. Tak berapa lama, terdengar decitan pintu terbuka.


"Delita, sayang?" kata Alvin. Kami kompak mengarahkan pandangan pada Alvin yang tampak kelelahan dengan buliran bening menghiasi keningnya.


"Ada apa ini kak?" tanya Alvin, sejenak menatapku lalu mas Pandu.


"Di pukuli orang" sahut mas Pandu datar.


Jawabannya benar-benar memantik kekesalanku. Bagaimana tidak kesal, dia sepertinya tak menyesali dengan kondisi ayahnya.


"Siapa yang berani memukulinya?"


Melihat Delita menampilkan wajah sembab, jelas Alvin sangat murka dan tak terima jika ada yang membuat wanitanya bersedih sampai menangis. Seperti itulah pemikiranku.


"Aku sudah menyuruh anak buahku untuk memberi mereka pelajaran"


Nadanya masih tak enak untuk ku dengar.


Kedua pria ini benar-benar irit senyum, wajahnya selalu serius dan menakutkan untuk hal-hal seperti ini. Nyaliku bahkan menciut dan tak berani mengeluarkan sepatah katapun.


"Maaf, untuk keluarga pasien, kalian boleh pulang, karena jam besuk dan waktu tunggu tidak kami perkenankan untuk jam-jam seperti ini" itu kata suster, yang kudengar ketika memasuki bangsal ayah.


"Sayang kita pulang yuk, biarkan ayah istirahat" Ajak Alvin pada Delita.


"Suster akan menjaganya Del" mas Pandu ikut bersuara.


Sementara aku sudah tak terkejut lagi. Memang begitulah peraturan di rumah sakit negara ini. Keluarga pasien tak ada yang ikut menginap si rumah sakit untuk menemaninya. Semua sudah di serahkan pada suster. Para suster dan dokter yang piket benar-benar sangat bertanggung jawab pada tugasnya.


Aku tahu karena aku juga pernah merasakan tiggal di rumah sakit saat melahirkan waktu itu. Aku benar-benar sendiri di rumah sakit tanpa di temani keluarga. Para suster akan selalu sigap memantau kondisi pasien bahkan setiap menit, akan menanyakan apa yang di butuhkan, dan selalu membantu menyuapkan makan jika tidak bisa melakukannya sendiri, serta membantu pasien meminum obatnya.


Mas Pandu menggandeng tanganku keluar dari ruang perawatan, di ikuti oleh Alvin dan Delita yang berjalan di belakang kami.


Sampai ketika di depan rumah sakit, mas Pandu berhenti lalu berbalik.


"Kalian mau pulang ke rumah, atau ikut pulang ke rumah kami?" Tanya mas Pandu dengan wajah datar. "Nanti sekalian makan malam di rumah"


"Kami langsung pulang ke rumah" jawab Alvin tak kalah datar.

__ADS_1


"Tadi kamu naik apa Del?" aku bertanya padanya karena Alvin dan Delita tidak datang bersama. Aku sedikit khawatir jika Delita membawa mobil sendiri, takut kalau dia tak fokus dalam mengemudikan mobilnya.


"Aku naik taksi kak, Alvin melarangku membawa mobil sendiri"


Aku mengangguk meresponnya. Baguslah aku lega.


Kamipun berpisah menuju mobil kami masing-masing.


Selama dalam perjalanan, aku mengatupkan bibir rapat-rapat. Kami terjerat kebisuan ketika di dalam mobil menuju rumah. Aku dan mas Pandu sama-sama tak mengeluarkan satu katapun, hanya terdengar suara klakson dan lampu sign ketika berbelok.


******


Malam harinya, usai makan malam dan setelah menidurkan Kellen, aku memasukkan pakaian kami yang sudah di setrika oleh bik Chou, ART kami yang bekerja paruh waktu untuk membersihkan rumah, mencuci serta menyetrika pakaian-pakaian kami.


Ketika sedang menggantung kemeja dan jas milik mas Pandu di lemari, aku merasakan lengan kokohnya melingkar di pinggangku, mas Pandu memelukku dari arah belakang. Sepersekian detik, aku mengusap punggung tangan mas Pandu yang melingkar di depan perutku, kemudian menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang baru saja selesai mandi.


"Kamu melamun?" tanyanya seraya mendaratkan dagu di pundakku.


Aku tak langsung menjawab pertanyaannya.


Ketika mas Pandu mengecup leherku, menggigitnya lembut lalu menyesapnya, tubuhku seketika mengerut, bulu kudukku meremang merespon sentuhan darinya.


"Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya lagi kali ini sambil memutar tubuhku menghadapnya. Otomatis kedua tanganku menggamit sisi pinggangnya yang hanya bertelanjang dada.


"Kamu menyalahkanku Nay?"


Pandangan yang ku arahkan pada dadanya yang bidang, kini daguku terangkat oleh tangan mas Pandu agar bisa menatap wajahnya. Detik itu juga netra kami pun bertemu.


"Aku bukan menyalahkan mas, aku hanya berandai-andai" Balasku dengan tenang.


"Tapi dari kalimatmu jelas tersirat kalau kamu menyalahkanku"


Tepat sekali tebakannya, aku memang sedikit menyalahkan mas Pandu atas apa yang menimpa ayah.


"Jujur aku ingin marah pada mas, aku ingin sekali mengomeli mas dan memberikan hukuman, tapi aku sadar diri tak akan bisa melakukannya"


"Kamu ingin memarahiku? ingin menghukumku?" tanya Mas Pandu mengernyit.


Aku mengngguk dengan fokus sepenuhnya menatap mas Pandu.


"Ayo marahi saja suamimu, hukum suamimu, jangan di simpan di sini?" kata mas Pandu sambil menunjuk dadaku sebelah kanan. "Marahmu yang tersimpan, tidak baik untuk kesehatanmu"


Ucapannya benar-benar mendorongku untuk memarahinya.


Sebelum mengeluarkan umpatan marahku pada mas Pandu, aku menghirup napas panjang sembari menyusun kalimat yang tepat.

__ADS_1


Hening, mata kami lekat saling menatap, masih dengan posisi kami yang belum berubah.


"Dia ayah mas, aku yang tidak punya ayah pun ingin sekali memilikinya. Andai saja bisa, aku pasti akan membuat papahku hidup kembali. Tapi apa yang mas perbuat pada ayah yang masih hidup? mas bahkan tak memberikan kesempatan untuknya meminta maaf pada mas, dimana pikiran mas saat itu? sekeras apa hati mas waktu itu?" ucapku panjang lebar. "Aku sudah tahu kalau mas tidak menyesali perbuatan mas waktu itu"


Mas Pandu masih diam seraya mendengarkan ucapanku dengan cermat.


"Kenapa tega pada ayah sendiri? aku tahu pak Hermawan salah, tapi dia sudah mendapatkan balasannya, apa mas masih belum puas atas nasibnya saat ini?" apa mas menginginkan pak Hermawan di hukum lebih dari ini? apa mas menginginkan kematian untuk ayah mas sendiri? mas merasa puas jika pria itu menderita?"


Ku lihat jakun mas Pandu bergerak naik turun. Bola matanya mengekor mengikuti gerakan bola mataku.


"Mas bahagia melihat kondisi ayah saat ini?"


Alih-alih merespon pertanyaanku, tak ku sangka mas Pandu malah memelukku sangat erat.


"Kamu benar Nay, egoku terlalu tinggi, kesombongan dan keangkuhan sudah menguasaiku. Aku ternyata sangat merindukannya seperti yang selalu kamu bilang"


"Maafkan ayah mas" kataku kali ini sambil terus mengusap punggung mas Pandu. "Seperti Alvin yang ingin memulai dari awal, aku harap mas juga bisa memulainya dari awal dan berdamai dengan ayah"


"Aku akan lakukan itu Nay, aku sudah memaafkan ayah, aku juga ingin meminta maaf padanya sudah mengusirnya dari rumah kita"


Kami mengurai pelukan kami, secara reflek tanganku menangkup wajahnya. "Makasih sudah bersedia menurunkan ego dan gengsi mas, makasih banyak-banyak sudah mau memaafkan ayah"


"Aku akan membawa ayah untuk tinggal di apartemenku Nay, aku janji setelah ayah sembuh aku akan merawatnya"


Aku tersenyum sebelum kemudian mengecup bibirnya. Bukan mengecup, tapi menciumnya dalam, dan lama.


Di tengah-tengah ciuman kami yang semakin panas, pikiranku terbagi menjadi dua, antara menikmati ciuman yang tengah kami lakukan, dan bersyukur dalam hati. Aku yakin kami akan hidup bahagia bersama orang tua. Karena bagiku sangat penting ada perlindungan dari orang tua di setiap rumah yang kami tinggali. Akan ada doa tulus yang selalu mereka ucapkan untuk kebahagiaan para anak-anaknya.


"Mas memang pria hebatku" pujiku setelah mengurai tautan bibir kami.


"Dan kamu istri yang sempurna untukku" balas mas Pandu tulus. "Terimakasih sudah memberi warna dalam hidupku. Jika dulu hidupku datar dan tak ada warna, tapi semenjak kehadiranmu, aku memiliki alasan untuk hidup lebih lama"


"Apa mas pernah berniat bunuh diri?"


"Bukan begitu" sanggah mas Pandu cepat. "Maksudku sebelum kamu datang, aku hidup hanya untuk bekerja dan memikirkan tentang gadis kecil itu. Tapi sekarang, kamu dan Kellen menjadi alasanku untuk terus semangat menjalani hari-hariku. Aku janji akan selalu membuat kalian bahagia"


"Gadis kecil yang mana?"


"Gadis kecil yang pernah ku titipi sapu tangan, makasih sudah menjaganya dengan baik. Sekarang giliranku menjaga orang yang sudah menjaga sapu tanganku"


Aku langsung memeluk mas Pandu begitu mendengar perkataannya yang membuat hatiku menghangat.


Bersambung.


__ADS_1


__ADS_2