
Hari sudah beranjak sore dan langit semakin petang, di iringi hembusan angin memasuki kamar melalui celah jendela, udara yang tahu-tahu sudah beralih di awal musim dingin membuat kulitku mendadak kering dan sedikit kusam.
Berulang kali aku menatap diriku melalui pantulan cermin. Aku mengenakan setelan santai berwarna moca kiriman dari mas Pandu tadi siang. Entah dalam rangka apa lelaki hebatku memberikan pakaian ini melalui kurir, yang jelas aku tak banyak protes dan memilih mematuhi perintahnya untuk segera menyiapkan diri dengan pakaian ini.
Bisa-bisanya mas Pandu menyuruhku mengenakan pakaian seperti akan pergi ke kampus.
Tapi aku salut dengan mas Pandu. Seleranya saat ini benar-benar sesuai dengan kemauanku. Semenjak aku mengatakan jika aku tak suka memakai pakaian yang terlalu memamerkan tubuhku, dia seolah paham seperti apa pakaian yang ku sukai. Seperti baju ini tentunya, baju yang membungkus tubuhku yang sedikit melar, kulitku yang putih tampak semakin memukau dengan paduan baju berwarna moca.
Aku tersenyum puas dengan penampilanku, seakan tak sabar menanti mas Pandu yang katanya tiga puluh menit lagi akan sampai di rumah.
"Sudah siap sayang" tiba-tiba suara bas mas Pandu membuatku berbalik.
"Kita mau kemana mas?" tanyaku yang sedikit heran sebab mas Pandu sudah mengganti kostum kantornya dengan kaos berwarna putih dan celana pendek. Pakaian santai sama sepertiku lebih tepatnya. "Mas ganti baju di mana?"
"Di restauran"
Aku baru ingat kalau kantor mas Pandu menyatu dengan restauran, ruang kerja yang berada di lantai tiga lengkap dengan kamar untuk istirahat mas Pandu ketika lelah.
"Bukannya mas seharian di hotel?"
"Tadinya di hotel, tapi siangnya ke restauran karena ada pekerjaan di sana"
"Ada masalah?" tanyaku penasaran.
"Tidak ada" sahutnya sambil meraih tanganku. "Sudah sedia asi buat si kecil?"
"Sudah" tadi siang memang mas Pandu menyuruhku memompa asiku untuk persediaan Kellen dan aku tidak tahu apa maksudnya.
"Kalau begitu, kita berangkat ke bandara"
Kalimat mas Pandu membuatku mengerutkan kening, dan seolah paham dengan kebingunganku, dia kembali bersuara.
"Kita ke Jogja malam ini?"
Aku bergeming sambil lekat menatap mas Pandu, jujur ucapannya benar-benar di luar dugaanku. Sama sekali tak terpikir jika hari ini aku akan ke Jogja untuk mengunjungi makam orang tuaku.
"Mas serius?"
"Apa suamimu ini pernah berbohong?"
Aku diam, pandanganku yang tadinya tak lepas dari wajah mas Pandu, kini teralih ke salah satu tangannya yang tengah menggenggam tangan kiriku.
"Bagaimana bisa, apa semua sudah di persiapkan?"
"Hemm, Rondi sudah mengurus paspor dan visa kita sejak dua minggu yang lalu"
"Kenapa mas tidak memberitahuku, ini terkesan tiba-tiba"
"Kamu tidak perlu khawatir sayang, soal Kellen dan ibu, kita serahkan pada ayik Btari dan Clara. Delita dan Alvin juga akan mengurus Kellen nanti"
Aku tak tahu harus mengatakan apa, yang jelas saat ini kedua alisku menukik tajam dan bibirku cemberut. Melihat itu, mas Pandu malah tertawa lepas.
__ADS_1
Apa coba yang lucu? kejutan bagi dia? dan bagiku ini prank.
Tapi di sela tawanya, tiba-tiba tangan mas Pandu merogoh saku baju dan meraih sesuatu yang ku tahu itu sebuah cincin berlian. Mas Pandu langsung memasangkannya di jari manisku.
Sebuah cincin pernikahan yang mas Pandu tukar dengan cincin baru, sebab yang lama sudah tak muat di jariku mengingat tubuhku yang sedikit gemuk efek melahirkan.
"Jangan sampai terlepas lagi"
"Mas pikir aku melepas cincin kemarin itu sengaja?"
Bukannya menjawab, pria di depanku ini justru tertawa
Sementara aku membiarkannya, sampai perlahan tawanya berhenti dengan sendirinya.
"Kita berangkat sekarang?"
"Tapi Kellen bagaimana?"
"Sudah ku bilang ada yang mengurusnya, tapi kalau kamu mau membatalkan kepergian kita, aku justru senang"
Aku langsung melempar tatapan tajam begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya.
Seharusnya aku tahu, kalau mas Pandu memang hobi sekali mengerjaiku, bahkan di awal pernikahan kami dulu, dia sering sekali membuat jantungku kebat kebit karena sikapnya. Suka sekali membuatku kikuk, dan salah tingkah hingga kesal seperti ini.
"Kita cuma pergi dua hari, dan lusanya sudah kembali ke sini, jadi jangan khawatirkan apapun" ucapnya datar, sedetik kemudian mas Pandu mendekatkan mulutnya tepat di telingaku kemudian berbisik.
"Kita nikmati waktu dua malam untuk menikmati madu yang sudah lama tidak kita teguk, mari bersenang-senang tanpa gangguan dari bos kecil"
Kalimatnya membuatku persekian detik langsung mencubit pinggangnya. Alih-alih marah karena aku sudah mencubitnya sangat keras, dia justru tergelak lalu menarikku ke dalam pelukannya.
Satu jam menempuh perjalanan dari rumah menuju bandara, kami akhirnya tiba di tempat tujuan. Aku merasa ini seperti mimpi, bertahun-tahun aku merasakan penderitaan karena ulah tanteku, kini aku benar-benar mendapatkan buah dari rasa sabarku selama ini.
Jika pertama kali aku menaiki pesawat dari Jakarta menuju Macau dengan perasaan was-was. Kini sebaliknya, aku merasa bahagia menikmati perjalanan dari Macau menuju Jogja yang akan transit terlebih dulu di bandara Soekarno-Hatta. Apalagi perjalanan ini di temani oleh mas Pandu, kebahagiaanku seolah kian lebih dengan adanya sosok pria tampan yang sudah menghuni hatiku semenjak aku kecil.
"Kita sudah sampai" Bisik mas Pandu ketika aku tertidur dalam pundaknya. "Kita akan ganti pesawat menuju Jogjakarta"
Aku mengerjap, lalu mengedarkan pandangan keluar jendela yang ternyata memang sudah berada di area salah satu bandara di Jakarta. Meskipun pesawat sudah mendarat, tapi rodanya masih terus melaju hingga sampai di titik yang tepat untuk menghentikan pesawat.
"Kita di Jakarta sekarang" Pungkas mas Pandu.
Setahun lebih berada di Macau, aku benar-benar sangat merindukan negaraku, khususnya tempat tinggalku.
"Ayo kita turun!" Ajaknya lalu menggandeng tanganku.
Jika saat ini di Macau cuacanya sangat sejuk karena awal musim dingin, tetapi di sini justru sebaliknya.
Aku merasakan panas yang luar biasa ketika menunggu boardingpas untuk menuju ke tempat tujuanku.
"Mas tidak merindukan tempat ini?" tanyaku lirih.
"Tidak" jawabannya memantikku melempar lirikan sinis yang membuat mas Pandu mengangkat satu alisnya.
__ADS_1
"Apa? ada yang salah dari jawabanku?"
"Tidak ada yang salah dari apapun yang mas lakukan ataupun ucapkan"
"Aku memang tidak merindukan negara ini, mungkin karena sudah bertahun-tahun hidup di Macau, dan tak ada keluarga di sini. Tapi adab ketimuran khas orang Indonesia, selalu aku terapkan meskipun aku tinggal di luar negri. Budayanya yang ramah, sopan dan lemah lembut itulah yang justru selalu aku rindukan" ujar mas Pandu panjang lebar. "Aku tidak akan pernah melupakan adat dan budaya negara kita Nay, dan tetap akan mengakui jika Indonesia adalah negara tanah airku. Dari sinilah aku berasal"
Ucapan terakhir mas Pandu, bersamaan dengan suara operator yang menginformasikan bahwa pesawat menuju Jogja akan segera melakukan boardingpas.
Kamipun segera bersiap-siap menuju area pemeriksaan dokumen dan mengantri untuk mendapatkan giliran memasuki pintu pesawat.
Jogjakarta adalah kota kelahiranku. Berbeda dengan mas Pandu yang tak pernah merindukan tempat ini, tapi aku akan selalu merindukannya sebab kedua orang tuaku berada di sini.
Di tempat inilah aku berada saat ini. Kami sampai di Jogja sekitar pukul empat dini hari. Setelah semalaman melakukan perjalanan udara, kami menuju hotel tempat kami menginap. Paginya setelah sarapan, aku mengajak mas Pandu mengunjungi makam kedua orang tuaku.
"Mah, pah apa kabar?" ucapku seraya menaburkan bunga di atas pusara mama dan papa yang memang di makamkan dalam satu liang lahat. "Naya datang sama mas Pandu, suami Naya. Papa masih ingat kan sama kak Pipo yang dulu sering nemenin Naya nunggu papa jemput, papa juga sering membelikan kami ice cream, ternyata namanya mas Pandu pah" Aku menjeda ucapanku bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk diriku sendiri. "Sekarang pria itu suamiku pah, jadi papa tidak usah khawatirkan Naya, dia akan menggantikan papa menjaga Naya. Untuk mama, tetap bahagia ya di sana, mama memang tidak mengenal mas Pandu, tapi papa kenal baik dan tahu seperti apa mas Pandu, jadi tidak perlu cemas dengan nasib Naya. Naya sangat bahagia pah, mah. Kami juga sudah di karuniai anak laki-laki. Lain kali, Naya akan ajak cucu papa dan mama mengunjungi kalian"
Naya adalah panggilan kesayangan khusus dari orang tuaku, hanya mereka berdualah yang memanggilku begitu.
Ketika hening beberapa menit, tiba-tiba mas Pandu yang berjongkok, melepaskan kacamata gelapnya lalu mengusap papan nama di ujung makam.
"Papa, mama" ucapnya lembut. "Naya sudah bersamaku, aku akan menjaga dan membahagiakannya. Aku janji pah, mah, tidak akan membuatnya mengeluarkan air mata barang setetespun. Tenanglah di sana pah mah, Naya akan bahagia bersamaku" Ucapan dari suamiku yang terdengar begitu tulus dan menenangkan. Sesuatu yang tak pernah berhenti untukku syukuri karena di pertemukan dengan pria yang tepat yang aku cintai. Pria penyayang dan penuh kejutan, dan aku sangat bahagia memilikinya.
Harus ku akui, meskipun terkenal dengan pria dingin dan terkesan cuek, tapi dia merupakan pria hebatku, pria yang memiliki ketenangan dan pengendalian diri di atas batas normal.
Usai mendoakan kedua orang tuaku, kami membersihkan makam yang memang tak terawat. Hingga tiga puluh menit berlalu, makam itu sudah tampak bersih, aku dan mas Pandu pun berpamitan lalu meninggalkan area makam.
Aku mengernyit ketika mas Pandu justru melangkahkan kaki menuju rumah seorang pria paruh baya yang menjadi juru kunci makam ini.
"Kamu tunggu di sini" perintahnya padaku.
Aku tak tahu apa yang ingin mas Pandu lakukan sampai harus menemuinya. Tapi di menit berikutnya aku terharu ketika samar mendengar percakapan mas Pandu dengan pria itu. Hatiku menghangat, dan mataku terasa panas, detik itu juga buliran bening meluncur dari sudut mataku.
"Tolong rawat makam di ujung sana" Mas Pandu menunjuk makam orang tuaku dengan uluran tangannya. "Papan bernama Rahma dan Agung Ramadani, mereka adalah orang tua kami, kami akan mengunjunginya setahun sekali" lanjutnya lalu meraih amplop dari sakunya."Dan terimalah ini sebagai ucapan terimakasih kami"
Pria itu pun dengan bingung menerima amplop dari mas Pandu.
"Kami akan datang lagi tahun depan"
"Baik pak, akan saya rawat baik-baik makam orang tua bapak"
"Terimakasih"
Setelah mengatakan itu, mas Pandu menghampiriku lalu menggandeng tanganku. Kami sama-sama melangkah menuju mobil yang sudah mas Pandu sewa selama kami di sini.
Tepat ketika aku akan membuka pintu mobil, sepasang netraku menangkap sebuah pengumuman di kertas yang tertempel di sebuah tiang listrik.
Sebuah pengumuman pencarian untuk tante Nancy dan Laura. Bahkan di sana tertulis jika menemukan wanita yang ada di gambar, untuk segera menghubungi nomor yang tertera di notice itu dan akan mendapatkan sejumlah uang.
Persekian detik hatiku di penuhi tanya.
Ketika aku menengok ke arah mas Pandu sambil menelan ludahku, aku menangkap raut heran sekaligus penasaran yang juga tampak di wajah mas Pandu. Aku yakin dia juga memiliki pertanyaan yang sama denganku.
__ADS_1
Ada apa dengan mereka, Tante Nancy dan sepupuku Laura?
Bersambung...