Macau Love Story

Macau Love Story
Tentang Pipo


__ADS_3

Selepas makan malam, aku merapikan meja sementara mas Pandu yang mencuci piringnya. Aku langsung menuju ke kamar setelah selesai mengelap dan membereskan meja makan.


Begitu selesai membersihkan diri, dan sebelum aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, Aku berjalan menuju lemari mengambilkan piyama dan pakaian dalam bersih untuk mas Pandu.


Hari ini aku benar-benar lelah setelah memberanikan diri menggagalkan pernikahan mas Pandu dengan Delita. Sepasang mataku juga rasanya menuntut untuk segera di pejamkan. Tak ku pedulikan mas Pandu yang masih sibuk mencuci piring dan alat-alat masak yang aku gunakan tadi. Aku ingin mengistirahatkan badan meski ini baru pukul delapan, karena mataku seolah tidak mau terbuka lebih lama lagi. Hingga sama-samar ku dengar suara pintu terbuka, mungkin itu mas Pandu, tapi aku enggan menoleh karena separuh kesadaranku sudah entah ada di mana.


Aku terbangun dengan selimut menutupi tubuhku. Hanya ada aku di atas tempat tidur. Saat netraku tertuju pada jam di dinding, menampilkan pukul satu dini hari. Tak ku temukan mas Pandu ketika aku mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan.


Pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, juga tampak gelap karena lampu yang padam, dan itu menandakan tidak ada aktivitas apapun di dalam sana.


Pelan-pelan aku bangkit, duduk sebentar di tepian ranjang, untuk mengumpulkan kesadaranku yang masih berserakan di mana-mana.


Karena rasa ingin tahuku terhadap keberadaan mas Pandu, aku beranjak dari tempat tidur dan memutuskan keluar kamar untuk mencari sosoknya. Ruang tengah yang menyatu dengan ruang tamu, dan dapur yang menyatu dengan ruang makan tampak kosong. Satu-satunya kemungkinan, mas Pandu ada di dalam ruang kerjanya.


Saat kakiku melangkah ke ruangan yang tidak terlalu besar, benar dugaanku, mas Pandu tengah duduk mengerjakan sesuatu dengan laptop di hadapannya. Bisa kulihat sosok mas Pandu dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.


Dengan perlahan, aku membuka pintu agar tak menimbulkan suara berisik yang mungkin akan menganggu konsentrasinya. Ketika pintu sudah terbuka sedikit, aku melongokan kepala dan netraku menangkap ada gelas mini di samping laptopnya, berisi wine yang ku taksir sisanya tinggal sedikit.


Itu artinya, mas Pandu sudah cukup lama berada di sini, atau bahkan dia sama sekali belum memejamkan mata semenjak makan malam tadi.


Mungkin bagi orang sini, wine adalah minuman yang harus ada untuk menemaninya mengerjakan deadline ataupun work, seperti yang mas Pandu lakukan saat ini. Selain itu kata mas Pandu, minuman seperti wine juga bisa menghangatkan tubuh di kala musim dingin.


Yang membuat hatiku kian lega, tak ada tanda-tanda dia merokok malam ini. Memang semenjak kehamilanku berusia tiga bulan hingga menginjak hampir bulan ke lima, aku sama sekali tidak pernah melihatnya merokok jika sedang mengunjungiku di Hongkong. Entah jika berada jauh dariku, mungkin dia tetap merokok karena itu sudah menjadi kebiasaanya.


Baru saja aku akan menutup pintu, dan berniat untuk kembali ke kamar, aku di kejutkan dengan suara mas Pandu dan persekian detik jantungku di buat seperti mau melompat.


"Kenapa bangun?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.

__ADS_1


Ragu-ragu aku melebarkan pintu, lalu melangkah mendekat seraya mengumpulkan keberanian sebelum membahas sesuatu.


Aku memang berniat membicarakan tentang masa lalu kami, meskipun aku tahu mas Pandu adalah pria si pemilik sapu tangan, aku tetap ingin menanyakan langsung padanya. Tapi belum apa-apa jantungku sudah di buat kebat-kebit. Rasanya aku seperti bertemu dengan kekasih atau pacar yang membuat tubuhku merasakan gelenyar aneh hingga tubuhku gemetar.


"Aku kebangun tadi" ucapku berdiri di depan mejanya. "Mas belum tidur?"


"Belum" jawab mas Pandu. Dari tempatnya duduk, dia menatapku sembari melepas kaca matanya. Matanya memang sudah sedikit bermasalah, jadi dia harus menggunakan kacamata jika berhadapan langsung dengan laptopnya.


"Maaf tadi aku ketiduran"


"Tidak apa-apa, kamu memang harus istirahat kan?" Mas Pandu meletakan kacamatanya di samping gelas mini berisi wine, lalu kembali menggerakan jarinya di atas keyboard.


Hening, hanya ada suara gemerisik berasal dari sepuluh jari tangan mas Pandu yang begitu lincah menari menekan tuts huruf di laptopnya.


"Aku ingin bicara" kataku dengan keberanian yang sudah terkumpul.


Mendengar ucapanku, sontak tangan mas Pandu berhenti bergerak di atas keyboard, netranya lalu tertuju padaku.


Jantungku entah kenapa dengan kurang ajar bertambah ritmenya selagi aku menuruti perintahnya untuk duduk.


Kalau di pikir-pikir seharusnya jantungku tidak perlu seliar ini. Tapi entahlah, sudah ku katakan, aku seperti berjumpa dengan pacar, apalagi pacar yang sudah lama tidak berjumpa, benar-benar membuatku kikuk sampai salah tingkah.


Aku duduk, kedua tanganku menyatu di atas pangkuanku.


"Mau bicara apa?" tanya mas Pandu tanpa basa basi, kedua tangannya saling menyatu, dan siku bertumpu di atas meja lalu menopang dagunya.


Terlihat sangat santai dengan pengendalian dirinya yang begitu hebat, lengkap dengan sikap dewasa yang ia tunjukan. Padahal tadi siang aku melihat tingkah kekanak-kanakannya saat aku bicara panjang lebar di hadapan keluarga Hermawan dan para tamu undangan. Dia seperti anak kecil yang bisanya hanya diam menyimak pembicaraan para orang tua.

__ADS_1


"Kenapa diam, lupa mau bicara apa?"


Ku telan salivaku berharap bisa mengurangi rasa gerogi yang tiba-tiba singgah dalam diriku.


"Bisa mas jelaskan tentang kepemilikan sapu tangan yang aku miliki?" ucapku di iringi debaran jantung yang semakin tak menentu.


Mas Pandu seperti terkejut mendengar ucapanku, namun keterkejutan itu hanya sesaat. Ia kembali pada gestur santai.


"Apa yang harus aku jelaskan?" tanyanya lalu bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekatiku.


"Sapu tangan bertuliskan Pipo, pemberian dari teman priaku di waktu kecil"


Duduk di tepian meja, mas Pandu meremat jari jemari di depan pahanya.


"Kamu minta penjelasan apa tentang itu?"


"Mas pemilik sapu tangan itu kan?" kataku lalu menoleh ke samping kanan sekaligus mendongakkan kepala. Posisiku yang masih dalam keadaan duduk menghadap ke selatan, dan mas Pandu duduk di tepian meja menghadap ke utara, membuat jarak mata kami terlampau jauh.


Mas Pandu lalu menunduk dan sepasang mata kami langsung bertemu.


"Kamu tahu dari mana?"


"Ibu" jawabku tanpa memutus kontak mata kami.


"Bagaimana kamu tahu?" tanyanya seolah tengah mengintimidasiku.


"Saat aku belajar membuat sapu tangan bersama ibu, tiba-tiba ku lihat ibu menuliskan kata Pipo di pojokan kain itu. Detik itu juga aku langsung menanyakan sapu tangan yang ku punya, dan ibu bilang itu milikmu puluhan tahun silam" ungkapku dengan dada bergetar makin kencang. "Apa mas adalah pria yang selalu menemaniku di sekolah taman kanak-kanak selagi aku menunggu papa menjemputku?"

__ADS_1


Satu detik, ku lihat rahang mas Pandu mengerat, dua detik nampak jakunya bergerak naik turu, dan detik berikutnya, tangan mas Pandu terulur meraih tanganku lalu menuntunku untuk berdiri di hadapannya.


Bersambung


__ADS_2