Macau Love Story

Macau Love Story
11 (One By One)


__ADS_3

Selesai sarapan, aku membongkar koperku yang belum sempat ku susun ke dalam lemari. Di temani mas Pandu yang duduk bersandar di atas tempat tidur, sembari menatap notebook di pangkuannya.


"Kapan mas kembali ke Macau?"


Tak langsung menjawab, mungkin mas Pandu sedang fokus dengan pekerjaannya. Terlihat dari sorot matanya yang jatuh pada layar di bawahnya.


"Kamu tanya apa tadi?" matanya masih menatap serius pada pekerjaannya


"Kapan mas ke Macau?" tanyaku ulang


"Besok pagi" jawabnya dengan sorot mata kini fokus padaku "Kenapa?"


"Jam berapa?"


Sebelum menjawab pertanyaanku, sempat ku lihat dahinya mengerut, seolah menyimpan banyak pertanyaan "Delapan"


Sorot mataku yang tadi fokus pada baju, kini beralih pada mas Pandu "Terus kapan kesini lagi?"


"Sabtu malam"


Entah kenapa aku mendadak benci dengan situasi seperti ini. Berat berpisah dengannya, padahal dia tidak pergi untuk selamanya.


Dan keadaan seperti ini mengingatkanku pada pria masa lalu, saat berpamitan kalau dia akan pergi, dan meminta maaf karena sudah tidak bisa menemaniku sebelum papa menjemputku di sekolah. Dejavu, mungkin itu kata yang pas untuk menggambarkan kondisiku.


"Kenapa bengong?"


"Tidak apa-apa" Aku menjawabnya sambil menata baju di lemari.


"Kamu berat aku tinggal?"


Ku hentikan gerakan tanganku yang tengah memasukan bajuku ke dalam lemari. Pertanyaan mas Pandu barusan, bagaikan sebuah busur yang di panahkan tepat sasaran, tapi aku terlalu malu sekaligus gengsi untuk mengakuinya.


"Kamu menggemaskan sekali" Celetuk mas Pandu ketika aku tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan yang terkhir. Detik kemudian dia tersenyum. Bagiku, ini senyuman terikhlas yang pertama kali ku lihat, terbit dari bibirnya.


Dan senyumannya, justru memantiku untuk memicingkan mataku.


"Ngaku saja kalau kamu memang berat aku tinggal" senyumnya kian lebar, padahal tidak ada yang lucu menurutku.


Dari tempatnya duduk, mas Pandu menatapku sembari melepas kacamatanya.


"Mulutmu tidak bisa di pakai buat ngomong?" Sinisnya dengan senyum miring seolah tengah meledekku.


Dari pada aku terus mendengar godaannya, aku langsung bergegas keluar kamar untuk melakukan aktivitas lain. Karena aku sudah tidak mampu untuk mengendalikan jantungku yang seakan berpacu melebihi batas normal.


Selagi menunggu ibu yang di bawa Nuri untuk berjemur di bawah, ku putuskan membuat jus untuk ibu, dan juga mas Pandu.


Tepat ketika aku menggulung rambutku, sebelum memulai mengupas mangga, mas Pandu tahu-tahu memegang sisi bagian pinggang dari arah belakang, membuat tubuhku seketika berjengit.


"Aku juga berat ninggalin kamu?" bisiknya lalu mengecup tengkukku. Ini gila, maksudku, jantungku yang gila, dia berdetak dengan tidak sopannya.

__ADS_1


"M-mas, jangan seperti ini" ucapku terbata "Disini bukan hanya ada kita, t-tapi ibu juga Nuri"


"Mereka sedang keluar"


"T-tapi mungkin sebentar lagi akan naik"


Saat mas Pandu hendak menyahut ucapanku, tiba-tiba terdengar suara pintu, dan sepersekian detik, aku menghela napas lega. Dengan cepat ia melepaskan tangan yang berada di sisi pinggangku tadi.


"Bagaimana jemurnya bu?" tanya mas Pandu, mengambil langkah menjauh dariku.


Aku diam tak bergeming, sambil menatap lekat punggung mas Pandu. Belakangan ini, sikapnya kian manis, lebih banyak bicara, di tambah lagi caranya dia berbicara padaku terkesan lebih santai, maksudnya, tidak semenegangkan saat pertama kali bertemu.


******


Hari ini ku rasa jam berputar lebih cepat, buktinya, aku merasa baru bangun tidur, dan kini, sudah mau tidur lagi.


"Minum dulu" kataku sambil menyodorkan gelas berisi air.


Mas Pandu menerima sodoranku, lalu meneguk isinya, tanpa melepas pandangannya dariku.


Tadi saat Nuri membawakan laptop serta carger ke kamarnya, mas Pandu berpesan agar aku membawa segelas air putih untuknya.


Setelah menghabiskan air di gelas hanya dengan satu tegukan, mas Pandu menggiringku untuk duduk di tepi ranjang. Dia duduk menghadapku, dengan satu kaki di biarkan menapak lantai, dan kaki satunya ia lipat di atas ranjang. Kedua tangannya memegang tangan kananku.


"Kamu serius, berpikir kalau aku benar-benar sebajingan itu?"


"Kenapa kamu berfikir seperti itu?"


Aku diam mengunci matanya, begitupun dengan mas Pandu. Pertanyaan darinya, membuat bibirku terkatup rapat. Tiba-tiba tangan mas Pandu terulur menyentuh daguku lalu membawanya ke hadapan mas Pandu.


"Seharusnya kamu bisa membedakan mana yang di lakukan dengan cinta, mana yang dilakukan tanpa cinta. Kalau aku mau, aku bisa melakukannya dengan wanita manapun untuk melepaskan keinginan itu. Faktanya tidak ada wanita yang datang meminta pertanggungjawaban dariku"


"Tapi aku pernah dengar mas mengatakan pernah melakukannya sekali"


"Iya" sahutnya cepat, dan itu menimbulkan rasa sesak di dadaku.


"Itu kesalahan, bukan kesengajaan, apalagi dengan cinta" lanjutnya


Kedua alisku menukik tajam "Siapa wanita itu"


"Kamu tidak perlu tahu"


"Aku berhak tahu" jawabku tak mau kalah


"Wanita itu sudah meninggal"


Aku di buat terkejut setelah mendengar jawabannya, tapi entah kenapa aku ingin tahu tentang itu.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Alvin"


Hening, mata kami lekat saling menatap selama sekian detik.


"Oleh karena itu, aku tidak mau jika kamu di beli olehnya"


"Kenapa?" tanyaku lagi.


"Dia bunuh diri setelah Alvin menghianatinya"


Nadanya mas Pandu kini terdengar lebih santai, serta wajah yang tadi tampak menakutkan, sudah menghilang tanpa jejak.


Alvin pikir Sonya adalah kekasihku, jadi dia merebutnya dariku, padahal" ujarnya yang membuatku kian penasaran "Sonya hanyalah wanita yang selalu berusaha menarik perhatianku, dan karena aku sama sekali tidak tertarik padanya, dia menjebakku tidur dengannya". Aku tidak mau kamu bernasib sama seperti Sonya"


Kalimat terakhirnya, membuatku seketika mengerutkan kening, dan aku tidak bisa menahan pertanyaanku "Lalu, jika ada lagi gadis yang di jual pada Alvin, apa mas juga akan membelinya, lalu menikahinya?"


Mas Pandu menunduk dengan bibir tersungging. "Itu beda cerita" jawabnya tegas, dan aku tidak tahu maksud dari jawabannya itu.


"Ada lagi yang mau di protes?"


Aku tak menjawab pertanyaannya, karena sejujurnya memang aku belum puas dengan apa yang dia jelaskan.


"Aku menyembunyikanmu di sini, karena tidak mau dia merebutmu dariku, karena apa yang aku miliki, dia pun juga ingin memilikinya, sementara setelah dia mendapatkannya, dan puas dengan keinginannya, dia akan mengembalikannya lagi padaku"


"Apa dia juga mengembalikan Sonya pada mas?"


Mas Pandu menjawabnya dengan bahasa tubuh, mengangguk.


"Apa mas mau menerimanya lagi"


"Tidak, karena dari awal Sonya memang bukan miliku"


"Lalu kenapa dia bunuh diri?"


"Karena dia merasa frustasi, apalagi dia sudah mencintai Alvin, tapi justru Alvin terang-terangan menghianatinya"


"Apa filing mas benar-benar akan terjadi, jika Alvin tahu aku istri mas, dia akan mengambilku dari mas?"


"Seratus persen" jawab mas Pandu "Tapi aku tidak akan membiarkannya mengambilmu dariku, kecuali" Mas Pandu tampak menjeda kalimatnya.


"Kecuali apa?" tanyaku penuh menyelidik


"Kecuali kamu mau dengannya, aku bahkan rela menyerahkanmu padanya, jika itu membuatmu bahagia"


Jawaban mas Pandu membuatku reflek mencubit pinggangnya, lalu menciptakan gelak tawa dari mulutnya.


"Makasih untuk hidangan makan malamnya tadi" ucap mas Pandu seraya menahan senyum "Aku suka masakanmu"


Aku mengangguk sambil menghirup napas dalam-dalam.

__ADS_1


__ADS_2