Macau Love Story

Macau Love Story
25 (Melepas penat)


__ADS_3

Usai sarapan, mas Pandu menyuruhku untuk bersiap-siap, dia bilang akan mengajakku jalan-jalan melihat kota Hongkong, sekaligus belanja baju untuk musim dingin, karena memang cuaca sudah mulai dingin dan hampir sebulan ini udara berhembus terasa sejuk. Mas Pandu bilang di bulan Desember, adalah puncaknya musim dingin sampai akhir febuari nanti.


"Memangnya tidak ada musuh mas di sini? tanyaku menyelidik


"Bahkan tidak ada yang kenal sama aku disini"


"Mas nyuruh aku siap-siap, tapi mas sendiri kok masih santai-santai?"


"Perempuan kan biasanya lama-lama siapnya, kalau aku cuma pakai kaos sama celana sudah beres" sahutnya dengan fokus tetap ke laptop.


"Kita mau kemana nanti?" Aku yang sedang memakai day Cream di buat geram karena setiap pertanyaanku tidak langsung terjawab.


"Kita ke taman, setelah itu ke New Town Plaza, yang deket-deket saja dari rumah kita, nanti kalau anak kita sudah lahir, aku ajak kalian ke Disney land, ocean park, dan tempat rekreasi lainnya.


"Aku sudah siap"


"Ok" jawab mas Pandu bersamaan dengan bunyi shut down dari laptopnya. Ia bergegas memakai setelan kaos dan celana panjang yang sudah ku persiapkan tadi. Ia menambahkan Jaket untuk penampilannya.


"Kamu sudah cukup hangat?, di luar anginnya dingin loh"


"Sedingin apa si?"


Alih-alih menjawab, mas Pandu justru membuka lemari dan meraih satu shal, lalu melilitkannya di leherku.


"Ini rambutnya jangan di iket ya" pungkasnya sambil menarik ikatan rambutku "Biar bisa nutupin telinga dari hembusan angin"


Mas Pandu sempat diam mematung seraya meneliti penampilanku.


"Pakai kaos kaki, nanti pakai sepatu saja" ucapnya lalu menyuruhku duduk. Setelah aku duduk di tepian ranjang, mas Pandu membantuku memakaikan kaos kaki.


Melihat perlakuannya padaku, seharusnya aku sadar bahwa dia memang tidak pernah memanfaatkanku untuk memenuhi kebutuhan batinnya. Pantas kalau kemarin mas Pandu menyuruhku meminta maaf, karena memang prasangkaku sudah kelewatan padanya.


Mulai sekarang, aku akan percaya sepenuhnya bahwa dia memang tulus mencintaiku. Aku janji tidak lagi mengatainya apa yang membuatnya tersinggung seperti kemarin.


Mas Pandu mencintaiku tanpa syarat, tanpa alasan.


"Ok" ucapnya sambil berdiri "Kita lets go sekarang.


Mas Pandu berjalan keluar kamar lebih dulu, sambil melingkarkan jam di tangannya.


"Titip ibu ya Nur"


"Iya pak"


"Ayo Nay" Ajak mas Pandu lalu menggandeng tanganku.

__ADS_1


"Aku tinggal dulu ya Nuri" pamitku padanya di jawab anggukan dan pesan Hati-hati. sebenarnya berat sekali ninggalin ibu, tapi mas Pandu memaksaku.


***


Baru kali ini aku keluar, dan aku benar-benar di buat takjub, kondisi lalu lalang yang menurutku tidak semrawut, meskipun banyak sekali orang-orang yang bepergian. Mataku menangkap sepasang lelaki dan perempuan yang hampir semuanya saling bergandengan tangan termasuk aku dan mas Pandu.


Kami berjalan menuju MTR Station, kereta bawah tanah, yang konon adalah peninggalan jajahan Inggris, dan di perbaharui terus-menerus oleh pemerintah Hongkong.


"Orang sini hampir semua naik kendaraan umum mas?" tanyaku sambil terus berjalan.


"Iya"Jawabnya dengan tatapan terus fokus ke depan "Lebih efisien, dari pada kendaraan pribadi, kita juga enak, tidak perlu mikir parkir, atau menyetir"


Setelah kami sampai di sebuah Station, mas Pandu membawaku mengantri di sebuah stand bertuliskan customer service, entah untuk apa aku belum tahu.


"Kita antri dulu bikin octopus card buat kamu"


"Apa itu?" tanyaku bingung.


Mas Pandu tersenyum dengan netra menyorotku hangat sebelum menjawab pertanyaanku, membuatku mengangkat kedua alisku.


"Kartu Octopus adalah kartu yang bisa kamu gunakan untuk naik bus, trem dan tentu saja MTR. Selain itu juga ada beberapa gerai yang menerima pembayaran dengan menggunakan kartu Octopus, misalnya Seven eleven, tapi untuk pembelanjaan dalam jumlah kecil ya" jelas mas Pandu, antriannya kini sudah tinggal menunggu tiga orang saja. "Ini namanya Shatin Station, nanti dari sini kita langsung ke Diamond Hill, di sana ada taman bagus"


Setelah mengantri beberapa menit, kini petugas melayani mas Pandu, Dia menyerahkan selembar uang HKD 500 kepada petugas, lalu sang petugas memberikan kartu octopus yang tadi sempat mas Pandu jelaskan.


"Ini kartumu, jangan hilang"


"Aku sudah punya" jawabnya "Ayo" mas Pandu kembali menggandeng tanganku dan kami berjalan menuju pintu masuk.


"Kita tinggal masuk ke jalur menggunakan entrance gate. Jangan lupa tap kartu Octopus kamu ya supaya pintu bisa terbuka"


Dia memberiku contoh untuk menempelkan kartuku pada layar gelap di sisi entrace gate bagian atas.


"Masuk"


"Tidak apa-apa masuk" tanyaku bingung dan di jawab anggukan kepala olehnya. Akupun mengikuti perintahnya dan menerobos besi yang bisa ku putar setelah menempelkan kartu tadi.


Aku dan mas Pandu sudah sampai di taman yang di maksud oleh mas Pandu. Tamannya benar-benar bagus.


"Mas kita tidak bayar masuk ke taman ini?" tanyaku saat kami menerobos pintu masuk begitu saja.


"Tidak, karena ini untuk umum, yang penting selalu jaga kebersihan, jangan buang sampah sembarangan, dan tidak boleh bawa makannan masuk ke area taman"


Hampir satu jam aku dan mas Pandu keliling taman, kami juga sempat berfoto dan mengabadikannya di ponsel kami. Mas Pandu, begitu banyak mengambil potoku lewat ponselnya, baik dalam posisi sadar camera atau yang di ambil secara diam-diam.


Saat ini, kami tengah istirahat duduk di bangku taman, dan ini mengingatkanku pada Pipo, aku dan pria itu selalu duduk seperti ini sambil menunggu papah menjemputku.

__ADS_1


"Nay" panggil mas Pandu, salah satu tangannya meraih tangan kiriku, dan membawanya mendarat di atas pahanya. "Jangan lagi bilang pengin pulang ke Jogja, jangan pernah berfikir seperti itu"


Aku memilih untuk diam sambil menatapnya penuh lekat, Mas Pandu tampak memainkan cincin pernikahan yang melingkar di jariku


"Dan ini, sambil menunjuk cincin yang menurutku sangat indah, "jangan pernah lepas dari jarimu" pandangannya yang tadi fokus ke arah cincin, kini beralih menatapku yang masih termangu "Kamu adalah sesuatu yang sangat aku perjuangkan"


Perlahan wajahku terasa menghangat, dan mas Pandu, aku yakin dia menyadarinya.


Ketika aku coba menarik tanganku dari pegangannya, mas Pandu menahan dan memegangnya lebih erat lagi.


"Dari dulu sampai sekarang, kamu masih cantik bahkan selamanya kamu tetap cantik di mataku"


"Apa mas memang suka bermulut manis?"


Mas Pandu tampak mengangkat bahunya ringan. "Hanya padamu saja" sahutnya, tangan satunya menangkup tanganku. Jadi saat ini tanganku berada dalam genggaman kedua tangannya.


Terasa hangat dan menenangkan.


"Mas menyuruhku untuk jangan sampai melepas cincin ini, lalu bagaimana dengan mas sendiri?"


Aku menayakan hal yang sama mengenai cincin yang pernah aku sematkan di jari kokohnya.


"Aku jelas tidak akan pernah melepasnya barang sebentar"


"Ku harap mas tidak ingkar dengan ucapan mas tadi"


"Dan kamu janji ya, tidak akan pernah melepasnya"


"Semestinya mas janji dulu sebelum menuntutku untuk berjanji" sergahku membuat mas Pandu mematung menatapku dengan manik bergerak gelisah.


Ku lihat kepala mas Pandu mengangguk tanpa ragu "Kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang aku tiduri, lalu aku, akan menjadi satu-satunya pria yang menidurimu"


Ucapannya memantik bibirku untuk melengkung ke atas, mas Pandu tampak mengedipkan satu matanya lengkap dengan senyum miringnya.


"Kita pulang yuk, kita cari baju hangat yang banyak, ibu hamil tidak boleh kedinginan" Dia berkata sambil berdiri, dengan tangan masih bertahan menggenggam tanganku.


"Kita kemana?"


"Balik lagi ke Shatin kita ke New Town Plaza, belanja"


Nan Lian Garden...



__ADS_1



__ADS_2