
Selama dalam perjalanan pulang, suasana sangat sunyi, hanya terdengar lampu sign ketika mobil berbelok. Mereka seperti dua orang asing yang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Pandu yang masih menyimpan amarah pada sang istri, dan Nayla yang terus memikirkan tantenya. Semua ingatan tentang apa yang ia saksikan termasuk penangkapan Nancy dan Laura beberapa menit lalu kembali singgah. Bahkan Nayla sempat beberapa kali kesulitan menarik napas.
Matanya terpejam, mengabaikan Pandu yang tetap fokus mengemudi.
Padahal Pandu sudah merencanakan dan mewanti-wanti agar Nayla tak harus bertemu dengan Aji. Namun sayangnya, Nayla justru menghubungi Nancy dan memintanya untuk memberitahukan dimana sang tante berada.
Tanpa sepatah katapun, Pandu melepas seatbelt setibanya di area parkir apartemen. Pria itu keluar dari dalam mobil, dan segera berjalan memutar lalu membuka pintu untuk sang istri.
"Keluar" kata Pandu datar.
Begitu sudah turun dari mobil, Pandu kembali mencengkram tangan Nayla lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Hanya ada Risa di ruang tengah. Wanita itu menatap heran wajah putranya yang menyiratkan amarah tengah menarik paksa tangan menantunya.
"Pandu? ada apa ini?"
Masih di kuasai amarah, Pandu sama sekali tak mengindahi pertanyaan sang ibu yang menyorot penuh heran. Dia terus melangkah menarik tangan Nayla dan membawanya memasuki ruang kerja.
Di dalam ruang kerjanya, ia tak langsung bersuara melainkan menatap dalam istrinya yang sudah meluncurkan butiran crystal dari pelupuk mata.
Hening, hanya terdengar suara jarum jam yang tergantung di dinding.
"Bisa kamu jelaskan dari mana kamu tahu keberadaan Nancy?" Kata Pandu setelah terdiam hampir dua menit.
Nayla bergeming, menunduk menatap sepasang sepatu mereka yang saling berhadapan.
"Apa tantemu lebih penting dari keselamatan kamu sendiri?"
Nayla menarik napas pelan. Entah kenapa mendengar sang tante di sebut, rasa nyeri itu kembali membuat Nayla menggigit bibir bawah. Nayla benar-benar kasihan pada nasib Nancy yang akan berakhir si penjara.
"Aku bahkan mati-matian melindungimu karena mengkhawatirkan keselamatanmu. Tapi apa yang kamu lakukan? dengan sukarela kamu mendekat ke mulut serigala dan menjadikan dirimu umpan"
Sunyi, Nayla masih bungkam.
"Tidak mau menjelaskan dari mana kamu mendapatkan informasi tentang Nancy dan Laura?" Ulang Pandu dengan sorot penuh menatap sang istri, sementara kedua tangannya ia sembunyikan di balik saku.
"Aku ke El dulu"
"Dia sedang tidur siang" sahut Pandu. "Duduk kita bicara"
Mendengar kalimat kita bicara, jantung Nayla seketika berontak. Ramainya pengunjung fast food bahkan tak mampu mengurangi rasa gugupnya. Perasaan takut dan cemas kembali di rasakan sama seperti pertama kali mereka bertemu.
"Kamu tidak mendengarku Nayla? tanya Pandu saat Nayla masih berdiri. "Kamu tahu apa artinya kita kan?" tambahnya masih tetap dengan nada dingin. "Duduk kita bicara"
Mengalah, Nayla menarik kursi yang ada di depannya. Mereka duduk saling berhadapan dengan di batasi meja kerja.
__ADS_1
"Sekarang katakan apa yang mendorongmu nekad menemui tantemu"
"Aku hanya tidak ingin tante Nancy menderita dan mendekam di penjara" jawabnya tanpa ragu.
"Lalu, apakah dia memikirkan penderitaanmu?"
Nayla memilih tak langsung merespon, dia tahu jawaban apa yang harus ia berikan, hanya saja dia tak berani mengeluarkan suaranya.
"Tidak bisa menjawab?"
"Maaf" ucapnya dengan pandangan jatuh ke sepasang tangannya yang saling bertaut di pangkuan.
"Bukan itu yang ingin ku dengar sekarang"
Nayla membuang napas pelan. Sama sekali tak menginginkan percakapan ini.
"Apa jadinya jika aku tak ada di sana tadi?" lanjut Pandu. "Selain membawa tante dan sepupumu, bagaimana jika Aji juga membawamu pergi bersamanya secara paksa?"
Hening, Nayla mesih menundukkan pandangan.
"Kamu memikirkan tantemu yang tidak tahu diri, tapi mengabaikan keselamatanmu dan anakmu sendiri yang jelas-jelas sangat membutuhkanmu"
Mendengar kalimat Pandu, seketika hantaman rasa bersalah menyerangnya. Ia merasa sudah bertindak bodoh dan telat menyadarinya.
"Maaf sudah mengabaikan mas dan Kellen" Sesal Nayla tanpa menatap Pandu.
Perkataan Pandu yang berbalur sindiran, membuat Nayla akhirnya mengumpulkan keberanian lalu mengangkat pandangan untuk menatapnya.
"Di sini bukan hanya aku yang bicara Nayla, tapi kita, aku dan kamu. Jadi katakan apa yang ingin kamu katakan untuk membela dirimu, atau paling tidak membenarkan tindakanmu"
"Kalau aku tanya, apa mas akan jawab?"
Pandu mengangkat sebelah alisnya, memberi jeda untuk dirinya sendiri sebelum bersuara.
"Tanyakan!" Balasnya datar.
Nayla menarik napas dalam-dalam. Anehnya, wanita itu justru di sergap rasa gerogi bercampur dengan takut. Dia baru tahu jika wajah sang suami begitu menakutkan saat ini.
"Kamu lupa dengan apa yang ingin kamu tanyakan? atau takut, deg-degan?"
Ucapan Pandu membuat Nayla terpancing dan akhirnya keluar juga kalimat.
"Apa mas tidak bisa memaafkan tante Nancy?"
Pandu terdiam membalas tatapan wanita yang sangat ia cintai dengan bibir terkatup rapat. Ekspresinya sama-sama tak terbaca. Rasa takut yang sedari tadi bersarang dalam diri Nayla tiba-tiba menghilang. Mungkin karena akumulasi rasa sedih, kecewa bercampur dengan rasa bersalah yang menyatu begitu kental.
__ADS_1
Satu detik, dua detik, saat di detik ketiga, Pandu tersenyum miring seakan meremehkan pertanyaan istrinya. Sementara Nayla tertegun dengan ekspresi baru wajah Pandu.
"Sepertinya, kamu melupakan sesuatu Nay"
Nayla mengernyit.
"Kita sama-sama tahu bagaimana dan apa yang sudah tantemu perbuat. Bahkan kamu sangat tahu, selain wanita itu menjualmu, dia juga memperlakukanmu dengan sangat kejam, iya kan?"
Kepala Nayla mengangguk.
"Merebut hak waris peninggalan orang tuamu, dia juga membuatmu bekerja dan merampas gajimu"
Susah payah Nayla menelan salivanya begitu mendengar kalimat Pandu.
"Aku bisa memaafkannya, tapi tidak bisa melepaskan dia agar terbebas dari hukuman"
"Kalau begitu pembicaraan kita selesai" ucap Nayla menahan emosi lalu meninggalkan Pandu yang sekilas mengeratkan rahangnya saat Nayla menatapnya.
Dia bergegas keluar dari ruang kerja dan berjalan menuju kamar. Sementara Pandu menatap punggung Nayla hingga menghilang di balik pintu.
Sesampainya di kamar, tampak anak laki-laki itu sedang terlelap di atas box bayinya.
Mendekat, Nayla membungkukkan badan kemudian mengecup keningnya.
"Maafin mommy sayang sudah egois. Hanya memikirkan tante mommy, tidak memikirkanmu dan daddymu" ucap Nayla selirih mungkin.
Selama beberapa menit, Nayla bertahan di posisinya. Menatap lekat-lekat wajah sang putra. Sekelebat ucapan Pandu terngiang di telinganya.
"Bagaimana jika Aji membawamu pergi secara paksa"
Nayla menggelengkan kepala dan membenarkan ucapan sang suami.
"Mommy memang bodoh"
Ia membatin sembari terus menatap wajah polos anaknya yang tengah terlelap.
Sibuk terbawa arus lamunan, Nayla tak menyadari jika Pandu sudah berdiri di sampingnya.
"Jangan mengira marahku akan reda begitu saja" ucap Pandu. Nayla memalingkan wajahnya untuk mempertemukan netranya.
"Kamu marah, aku akan lebih marah" ucap Pandu lagi.
Tak berniat merespon ucapan suaminya, Nayla langsung melangkah cepat masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam.
Ada sedikit rasa kecewa dan amarah yang masih bersarang di benaknya sebenarnya, tapi wanita itu tak tahu bagaimana cara melampiaskan rasa itu. Rasa kecewa karena sang suami seperti tak mengerti dengan perasaannya.
__ADS_1
TBC