
Alvin berlari keluar begitu menyambar kunci mobil. Ia bahkan tak mengatakan apapun pada Delita setelah mendengar suara Nayla yang terdengar parau dan lemah.
Melihat sikap aneh sang suami, Delita pun akhirnya mematikan kompor dan segera menyambar kunci mobil lalu bergegas lari menuruni anak tangga. Ia tak menggunakan lift untuk turun karena terlalu banyak menyita waktu hanya untuk menunggu lift itu sampai ke lantai unitnya.
Beruntung saat sampai di lantai bawah, Alvin yang juga turun menggunakan tangga masih bisa tertangkap oleh pandangannya.
Sesampainya di parkiran, tanpa sepengetahuan Alvin Delita membuntuti mobilnya dengan jarak yang di pastikan Alvin tak menyadarinya.
"Bukankah ini jalan menuju rumah kak Pandu?" gumam Delita. "Ada apa sebenarnya?"
Delita terus membuntuti mobil suaminya yang melaju sangat cepat. Membuatnya nyaris kehilangan jejak.
Sampai ketika tiba di area rumah Pandu, Delita yang masih di dalam mobil, Ia menimbang-nimbang apakah harus ikut turun dan mencari tahu apa yang terjadi.
Namun, setelah sekian menit berlalu, tampak Alvin tengah menggendong Nayla yang sudah tidak sadarkan diri. Sontak hal itu membuat otak Delita di penuhi tanda tanya.
"Ada apa dengan Nayla, kenapa Alvin yang dia hubungi, kenapa bukan suaminya?" tanya Delita dalam hati.
"Apa mereka berselingkuh? Ah itu tidak mungkin. Tapi kemana kak Pandu?"
Tak ingin hanyut dengan pertanyaan yang sama sekali dia tak tahu jawabannya, Deli segera menancapkan gas dan kembali membuntuti Alvin.
Rumah sakit adalah tujuan Alvin.
"Apakah dia mau melahirkan?" Sembari terus mengemudi, Delita terus bertanya dalam hati.
"Tapi bukankah usia kandungannya baru delapan bulan?"
Sibuk dengan pikirannya, tahu-tahu sudah sampai di rumah sakit.
Delita langsung turun dan mengekor di belakang Alvin mengikuti langkahnya.
"Tolong kakak ipar saya suster" ucap Alvin dengan raut panik.
Kakak Ipar, benar dugaanku, mereka tidak mungkin selingkuh.
Alvin sama sekali tidak menyadari keberadaan Delita yang juga sedang menunggu di area IGD.
Dia melihat Alvin berdecih sesaat setelah menelfon seseorang, namun tak ada jawaban dari nomor yang dia tuju.
Detik berikutnya, tampak seorang dokter keluar dengan sorot cemas.
Delita segera memasang pendengaran untuk menguping apa yang akan di katakan dokter.
"Kita harus secepatnya ambil tindakan pak" Kata si dokter.
"Tindakan apa? katakan yang jelas" bentak Alvin.
Membuat delita menggelengkan kepala.
"Sikap arogannya, benar-benar masih melekat di dalam dirinya"
"Kita harus segera melakukan operasi caesar karena air ketubannya sudah pecah"
"Lakukan yang terbaik dokter"
"Baiklah, silahkan anda tanda tangan pada berkas yang sedang di persiapkan oleh salah satu suster kami"
"Iya dok"
Usai mengatakan itu, dan dokter juga sudah menghilang dari hadapan Alvin, Alvin kembali menelpon seseorang.
"Pandu, kemana kamu. Dasar bedebah" umpatnya, ketika lagi-lagi tak ada jawaban.
Delita baru mengerti ternyata Pandulah yang sedari tadi ia hubungi.
__ADS_1
Care juga dengan kakak ipar sambungnya. Puji Delita dalam hati, tanpa sadar bibirnya tersungging.
Dengan raut gelisah dan cemas, Alvin menunggu operasi berlangsung, hampir setiap menit ia menelfon Pandu namun nomornya masih belum bisa di hubungi.
"Dasar suami bodoh"
Sesekali Alvin menoleh ke arah pintu operasi, berharap operasinya berjalan dengan lancar.
Hingga satu jam berlalu, salah satu suster keluar dari dalam ruangan yang tadi tertutup sangat rapat. Alvin segera berdiri, sementara Delita ikut terkesiap.
"Bagaimana kakak ipar saya suster?"
"Operasi berjalan dengan lancar, dan selamat keponakan anda laki-laki" kata suster sambil mengulas senyum tipis.
"Terima kasih suster"
Mengusap wajah, Alvin menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan secara perlahan.
Saat Alvin melirik jam di pergelangan tangannya, yang menunjukan waktu pukul Tujuh, detik itu juga ponselnya berdering.
Pandu Calling,,,
"Pandu?" gumamnya lirih. Dengan cepat ia menggeser ikon hijau.
"Ada apa Vin?" Ucap Pandu begitu panggilannya tersambung.
"Ada apa?" respon Alvin geram, lengkap dengan emosi yang meletup-letup. "Dari mana saja kamu?"
"Aku ada urusan?"
"Apa sekarang urusanmu lebih penting di bandingkan istrimu?"
"Apa maksudmu?"
"Kamu akan tahu jika datang ke rumah sakit Elizabeth sekarang juga?"
Sementara Pandu yang baru saja keluar dari area pelabuhan, segera menelpon Rondi untuk menjemput ibu dan membawanya pulang ke rumah.
"Nuri, kamu tetap stay di sini, jangan kemana-mana. Sebentar lagi Rondi akan datang menjemput kalian"
"Baik pak" jawab Nuri singkat.
"Ingat ya, jangan kemana-mana, tunggu disini bersama ibu"
"Iya"
Pandu bergegas melangkah menuju area parkir. Lalu melajukan mobil menuju rumah sakit Elizabeth untuk menuntaskan rasa penasarannya. Apalagi ketika Alvin menyebut istrinya, jantungnya seolah berdegup sangat kencang.
Tak berapa lama, Pandu akhirnya sampai di rumah sakit, dan langsung berlari menuju lantai tiga rumah sakit.
Begitu sepasang matanya menangkap Alvin yang tengah berdiri dengan melipat tangan di dada, Pandu segera menghampirinya.
"Alvin"
Alvin langsung melempar tonjokan ketika Pandu sudah berada di hadapannya.
"Dasar suami bodoh" umpatnya dengan sorot berkilat merah penuh amarah. "Kemana saja kamu?"
Pandu yang mendapat pukulan mendadak merasa heran kenapa Alvin yang langsung memukulnya.
"Ada apa Alvin?"
"Istrimu, hampir saja mati"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Dia terpeleset di kamar mandi"
"Apa?"
Terkejut, Pandu seolah tak percaya dengan ucapan Alvin.
Sedangkan Delita, tetap berada di posisinya dan menyaksikan sang suami memukul kakaknya.
"Kalau saja aku terlambat menolongnya, mungkin istri dan bayimu tidak akan selamat"
"N-Nalya" kata Pandu tergagap.
"Ya" sahut Alvin sinis. "Dia baru saja melahirkan bayi laki-laki"
"N-Nayla melahirkan?"
"Bayimu sudah di bawa ke ruang khusus bayi, dan Nayla sudah di ruang pemulihan. Dia baru saja menjalankan operasi"
Tertegun, Pandu masih di buat mematung atas ucapan Alvin. Ia seperti tak percaya bahwa Nayla sudah melahirkan bayi laki-laki.
"Kamu yang menghamilinya, aku yang harus repot menggendongnya kemari" Gerutu Alvin lalu pergi setelah mengatakan itu, namun dengan cepat Pandu mencegahnya.
"Tunggu Alvin"
"Apa lagi? aku sudah menolong istrimu"
"Terimakasih" kata Pandu tulus. "Aku baru saja dari Hongkong menjemput ibu"
Ucapan Pandu, membuat Alvin menelan ludah.
"Jika berkenan, temuilah dia. Ibu sedang di rumahku sekarang"
Sempat terpaku dengan pandangan kosong. Alvin langsung berbalik dan melangkah pergi tanpa merespon ucapan Pandu.
Delita yang sedari tadi menguping pembicaraan Kakak dan suaminya, di buat terheran ketika Pandu berkata dia habis menjemput sang ibu di Hongkong.
"Itu artinya, ibunya kak Pandu adalah istri pertama papa? yang kata mama masih papah cintai sampai sekarang?"
Tak ingin larut dengan pikiran itu, Delita segera menyusul langkah Alvin, dan kembali membuntuti mobilnya.
Bukan rumah tujuan Alvin, melainkan restauran siap saji. Tanpa pikir panjang, Delita langsung turun dan hendak menemaninya makan malam.
Tepat ketika Alvin duduk dan langsung memilih menu, Delita segera duduk di mejanya.
"Kamu?" ujar Alvin terkejut.
"Kenapa?" sahut Delita dengan tatapan tajam.
"Harusnya aku yang tanya kamu ngapain di sini?"
"Aku mau makan"
"Ckk" decih Alvin seraya melempar pandangan ke arah kiri. "Kenapa harus di mejaku?"
"Tidak boleh? aku tidak membawa dompetku, karena aku buru-buru tadi"
Mendengar jawaban Delita yang sepertinya tidak masuk akal, Alvin menyunggingkan senyum miring tanpa mengatakan apapun lagi.
"Kamu mau makan apa?" tanya Alvin dingin dengan pandangan terus menunduk menatap menu di atas meja.
"Samakan denganmu"
"Kamu tidak amnesia kan?"
"Kenapa?" tanya Delita memicing.
__ADS_1
Alvin merasa heran dengan sikap Delita yang tiba-tiba begitu menggemaskan menurut Alvin. Ia tersenyum dalam hati, namun tak langsung membuatnya terbang tinggi dengan rencananya yang mungkin sebentar lagi akan memiliki Delita seutuhnya.
Bersambung