
Bertempat di scarlet restauran, Pandu menunggu Hermawan sembari memainkan ponselnya, ini hampir sepuluh menit dia duduk, tapi sang ayah belum juga menampakkan batang hidungnya.
Hingga hampir lima belas menit berlalu, Pak Hermawan tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Maaf saya terlambat" ucapnya dengan dada naik turun.
"Tidak masalah" Jawab Pandu setelah beberapa detik yang lalu mendongak mempertemukan netranya. "Silakan duduk" tambahnya santai.
Pak Hermawan buru-buru menarik kursi lalu duduk bersebrangan dengan Pandu, ia berusaha menormalkan ekpresinya agar bisa bicara tanpa emosi.
"Mau pesan apa?" tanya Pandu ketika Hermawan sudah duduk dengan raut sedikit cemas.
"Lai cha" jawabnya singkat.
Pandu memesan dua cangkir laicha panas, setelahnya ia melipat kedua tanganya di atas meja.
"Apa ada sesuatu yang ingin anda sampaikan?"
Sebelum berbicara, Pak Hermawan berdehem terlebih dulu, menelan saliva, lalu menegakkan posisi duduknya.
"Siapa kamu sebenarnya?" kenapa ingin menikahi putriku Delita?"
"Saya Pandu Mahardhani Hermawan"
Deg, jantung Hermawan seketika berdebam sangat kencang, berkali-kali ia menelan saliva sesaat setelah mendengar nama panjang Pandu di sebut. Wajahnya memerah, keringat dingin membanjiri pelipisnya.
"P-pandu" katanya tergagap.
"Ada yang salah dengan namaku?" Pandu bertanya dengan sorot mata serius.
"Apakah kamu tahu bahwa Delita adalah adikmu?"
Pandu sama sekali tak terkejut mendengar pertanyaan Hermawan.
"Adikku?" Alis Pandu saling bertaut, Ia hendak kembali bersuara, namun urung ia lakukan karena di interupsi oleh suara waitres seraya meletakan dua cangkir teh susu.
"Silakan pak?" ucapnya dengan bibir tersungging.
"Terimakasih" jawab Pandu, sementara Hermawan hanya menganggukan kepala.
"Adik dari mana?"
"Apa kamu lupa dengan wajah ayahmu?"
"Sebelum bertanya" kata Pandu dengan mata sepenuhnya fokus ke wajah Hermawan "tanyakan pada dirimu sendiri, apakah kamu punya anak bernama Pandu"
__ADS_1
"Pandu" potong Hermawan dengan suara sedikit tertahan.
"Kalau anda merasa memiliki anak bernama Pandu, lantas kenapa tidak pernah mencarinya selama ini?"
Hermawan tampak gelagapan menanggapi ucapan putranya.
"Dan sekarang giliran aku datang untuk menikahinya, anda malah mencariku, dan melarangku menikahi wanita yang ku cintai" Halau Pandu, yang membuat Hermawan kian takut.
"Dia adikmu, kamu tidak bisa menikahinya"
"Kalau begitu bilang ke Delita, kalau aku adalah kakaknya, jadi tidak bisa menikahinya. Atau bilang pada istrimu bahwa aku adalah anakmu"
Pak Hermawan tidak bisa memberitahukan kepada sang istri kalau Pandu adalah anaknya, sebab dulu dia mengaku sebagai pria lajang pada Maria dan kedua orang tuanya.
"Kenapa diam?" tanya Pandu lalu menyesap laicha perlahan.
"Sampai kapanpun anakku tidak akan menikah denganmu" balas Hermawan, matanya menyiratkan amarah yang kian menjadi.
"Sepertinya kita perlu makan malam untuk menyampaikan berita ini pada Delita dan mamanya"
"Kamu hanya perlu menghindarinya"
"Anda hanya perlu mengakuiku sebagai anakmu, dengan begitu aku akan membatalkan rencanaku"
Menghirup napas frustasi, Pandu duduk terdiam di dalam mobil, kedua lengannya ia daratkan di atas roda kemudi. Detik berlalu, netranya menangkap Hermawan menarik pintu mobil bagian depan, lalu memasukinya dan perlahan mobil itu melaju.
****
Di tempat lain, Alvin mendapat kabar bahwa Delita seorang menejer di Hotel miliknya, Alvin segera menemui Delita, berniat untuk mencari tahu sekaligus menarik perhatiannya.
"Anda ingin bertemu dengan saya?" Tanya Delita saat dia sudah berada di dalam kantor dan ada Alvin duduk di kursi kerja milik kakak tirinya.
"Kamu tahu siapa saya?" tanya Alvin datar.
Delita mengangguk pelan. Sebelumnya, ia sudah di beri tahu bahwa anak dari pemilik hotel ingin menemuinya, dan dia adalah Alvin.
"Alvin, nama yang di sebut oleh kak Pandu tadi malam. Jadi ini orangnya, yang juga adik tiri kak Pandu" Batin Delita.
"Apa kamu yang namanya Delita?"
"I-iya"
Alvin memindai tubuh Delita dari atas hingga ke bawah. "Cantik juga" Batinnya dengan sorot masih mencermatinya. "Pandu, kamu begitu pintar memilih wanita, pertama Sonya, lalu Nayla, dan sekarang Delita. Kalau kamu akan menikah dengannya, lalu bagaimana hubunganmu dengan Nayla, kenapa sampai sekarang aku belum bisa menemukannya, sementara Delita, kamu terang-tetangan membawanya ke public, apa sebenarnya rencanamu?"
Alvin menghembuskan napas berat, lalu mengeluarkan perlahan, sembari menggembungkan mulut, reflek kepalanya menggeleng pelan.
__ADS_1
"Apa hubunganmu dengan Pandu?" tanya Alvin pada gadis di hadapannya yang sedari tadi menundukan kepala. "Kamu bisa melihatku kan?, aku ini bosmu, jadi tatap wajahku"
"A-aku_"
"Kamu tahu kalau Pandu sudah punya Istri?"
Wajah Delita mendongak mempertemukan netranya. "Istri?"
Alvin tersenyum miring sebelum kemudian berkata "Ya dia sudah punya istri, kamu sudah di bohongi olehnya" racau Alvin dengan senyum mengejek.
Penjelasan dari Alvin cukup mencengangkan, tapi tidak membuat Delita berkurang kepercayaan, mengingat Pandu pernah mengatakan bahwa itu hanyalah gosip. Dan menurut pemikiran Delita, jika benar Pandu sudah menikah, pasti istrinya akan muncul sebab hubungan dengan Pandu sudah tersebar ke berbagai media. Bagi Delita, tidak ada seorang istri yang diam saja melihat suaminya memperkenalkan sang kekasih ke hadapan public. Faktanya, tidak ada wanita yang datang mengaku sebagai istri Pandu.
"Hallo" celutuk Alvin "Apa yang kamu pikirkan?" apa kamu merasa kecewa, sudah di permainkan oleh pria brengsek seperti Pandu?"
"Maaf saya harus bekerja, permisi" Delita hendak keluar dari ruangan, namun Alvin segera mencegahnya.
"Tetap disini, aku belum selesai bicara" serunya dengan tatapan tajam.
Delita yang tadinya sudah berbalik, kini kembali menghadap Alvin.
"Apa masih ada yang ingin di sampaikan?" tanya Delita, ia memberanikan diri untuk membalas tatapan lawan bicaranya. "Saya masih banyak pekerjaan, jadi tolong cepat sampaikan"
Lelaki itu terasenyum seperti mengejek, pandangannya terus meneliti penampilan Delita mulai dari sepatu, dres selutut yang di padukan dengan sweater rajut, serta tatanan rambut yang mampu membuat lawan jenis terpesona, apalagi leher jenjangnya yang nampak putih, membuat Alvin menelan ludahnya sendiri.
Namun hal itu, justru membuat delita semakin kesal.
"Apa masih ada yang ingin di sampaikan?" dia mengulang pertanyaan tadi yang belum juga di respon oleh Alvin. "Saya harus bekerja" tambahnya dengan sedikit menekan suaranya.
"Dia sudah beristri, apa kamu tidak mau mundur?"
"Apa aku harus memberikan jawaban atas pertanyaanmu itu, mau mundur atau tidak, aku rasa itu bukan urusanmu. Permisi!"
Setelah mengatakan itu, Delita langsung berbalik, lalu keluar dari kantor Pandu.
"Hey kamu" seru Alvin mencoba mencegahnya.
Sedangkan Delita terus melangkah menerobos pintu tanpa menutupnya.
"Delita"
Wanita itu bahkan mengabaikan panggilan Alvin yang terus memanggil namanya.
Dia tidak peduli meskipun Alvin adalah pemilik dari Hotel ini, yang ia pikirkan adalah hatinya. Entah kenapa saat Alvin bilang bahwa Pandu sudah beristri, ada rasa nyeri yang tiba-tiba singgah di dalam sana. Dia yang sudah tertarik pada Pandu sejak pertemuan pertama mereka, hatinya merasa seperti tercubit dengan semua omongan Alvin.
Bersambung
__ADS_1