
Selama perjalanan pulang, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami. Aku dan mas Pandu terjebak keheningan selama di dalam mobil, sesekali terdengar lampu sign jika mas Pandu hendak membelokan mobilnya.
Rasa kesal, lapar, dan kecewa seolah menyatu berbaur menjadi satu. Ingin sekali mengeluarkan rentetan umpatan, omelan, serta amarah untuknya, namun sebisa mungkin aku tahan setidaknya sampai kami masuk rumah.
Hingga tiba di tempat parkir bawah apartemen, aku keluar begitu saja dari dalam mobil lalu menutup pintu dengan sangat kasar. Entah seperti apa ekspresi wajahnya aku benar-benar tidak peduli.
"Ibu hamil pelan-pelan jalannya" ucap mas Pandu sedikit berteriak, namun tetap terdengar lembut. Sementara aku melenggang begitu saja dan tak menghiraukan pria yang membuatku naik pitam.
Hampir dua minggu tidak bertemu, bohong kalau aku tidak merindukannya, apalagi mas Pandu adalah pemilik sapu tangan itu, pria yang selama ini aku tunggu, pria yang sama sekali tidak bisa aku lupakan, membuatku ingin sekali menghamburkan diri ke dalam pelukannya, menuntaskan rasa rinduku yang begitu hebat. Tapi mengingat bagaimana kelakuan mas Pandu beberapa jam lalu, seolah rasa rinduku berganti dengan amarah yang segera ingin di lampiaskan.
Sesampainya di rumah, tujuan utamaku adalah dapur, aku harus mengisi perutku supaya bisa mengomelinya habis-habisan. Setelah meletakan coach dan tasku di sofa ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang tv, aku menuju dapur lalu membuka kulkas. Aku mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.
"Mau di bantu?" tanya mas Pandu.
"Tidak usah" jawabku dingin.
"Sabar, mungkin dia kesambet " gumaman mas Pandu, membuatku menghentikan aktivitas memasakku.
"Mas bilang apa?" tanyaku sembari mempertemukan netranya.
"Hah?" sahut mas Pandu cepat. Terlihat sangat jelas kalau dia salah tingkah. "T-tidak, tidak bilang apa-apa"
Bohong sekali tidak mengatakan apapun, padahal jelas-jelas dia mengataiku kesambet. Dia pikir aku tidak mendengarnya.
Aku kembali fokus pada spageti yang sedang ku masak. Selama sesi memasak berlangsung, tiba-tiba aku teringat tanganku yang sudah menamparnya begitu keras, jujur saja hatiku sedih sudah berlaku kasar padanya. Tamparanku di muka umum, berhasil memberiku rasa nyeri di dalam sana. Dan rasa bersalahku sangatlah besar hingga aku tak tahu bagaimana cara menghadapinya nanti.
Selesai memasak dan spageti sudah habis ku makan, aku membiarkan piring kotor tergeletak begitu saja. Aku dan mas Pandu saling duduk berhadapan tanpa di batasi oleh apapun.
Aku diam menatap mas Pandu yang terlihat begitu tenang, berbeda denganku yang menahan kesal dan juga rindu. Aku juga tahu mas Pandu tidak benar-benar ingin menikahi Delita, tapi seharusnya dia memberitahuku tentang rencananya.
__ADS_1
"Kalau mau marah, marah saja Nay" ucapnya tanpa memutus kontak mata kami. "Aku ngaku salah, sangat salah"
Aku sebenarnya tidak menyalahkan mas Pandu seratus persen, tapi aku tidak habis pikir dengan apa yang mendorong mas Pandu melakukan rencana itu.
"Tadinya aku hanya ingin membuat Hermawan mengakuiku, dengan aku berencana akan menikahi Delita, ku pikir dia akan langsung memberitahu Delita bahwa aku kakaknya, tapi hal itu sama sekali tidak dia lakukan. Dan seolah dia memang sengaja menantangku"
"Terus mas nekad begitu?"
Mas Pandu mengangguk. Sedangkan aku, nekad menatap manik hitam mas Pandu untuk mencari sesuatu selama beberapa detik, aku mencoba menyelami sepasang netra milik mas Pandu yang sekelam malam, dan aku menyerah, aku langsung menunduk bukan karena tak menemukan apapun, tetapi aku yang tak sanggup menyelam lebih dalam sebab sepersekian detik bayangan pria yang berlarian bersamaku beberapa tahun silam melintas dengan sangat lincah di kepalaku. Apalagi jika mengingat Hermawan yang tidak mau mengakui mas Pandu di hadapan istri serta anak-anaknya, jantungku seperti tercubit seakan ikut merasakan sakit, dan amarahku itu, lagi-lagi terkalahkan oleh besarnya rasa cintaku padanya.
"Maafkan aku Nay" ucapnya tulus. "Aku sudah melupakanmu belakangan ini karena terlalu hanyut dengan amarah dan dendamku, aku sudah mengabaikanmu"
Aku yang tadinya menunduk, reflek kepalaku terangkat, hatiku seketika mencelos melihat kedua matanya sudah tergenang air mata.
Sesedih itu dia yang di campakkan oleh ayah kandungnya, di sia-siakan tanpa nafkah dan perhatian. Ah, mataku dengan tidak sopanya meluncurkan buliran bening.
"Maaf Nay, aku sudah membuatmu marah" ucapnya sungguh-sungguh.
"Aku cinta kamu, ngo kwaju lei"
Aku tak merespon ungkapan cintanya. "Kira-kira hukuman apa yang pantas untuk mas?"
"Aku tidak mau di hukum Nay"
"Enak banget sudah melakukan kesalahan tapi tidak mau di hukum" ketusku.
"Hukumannya nemenin kamu tidur"
"Itu bukan hukuman. Dimana-mana hukuman itu tidak enak"
__ADS_1
"Kamu tega menghukumku?" tanyanya sendu.
Alih-alih menjawab, aku justru menyuruh untuk melakukan sesuatu yang membuatnya melebarkan sepasang mata bulatnya.
"Cari gudek khas Jogja untuk makan malam, sampai ketemu"
Kulihat rahangnya yang kokoh seketika mengerat, lalu menelan salivanya, setelah itu dia melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Aku tidak mau mas nyuruh Rondi buat nyari, aku mau mas sendiri yang cari" lanjutku lalu berdiri.
"Sekarang Nay?"
"Hai" jawabku tanpa menatapnya. Aku fokus melangkahkan kaki menuju kamar.
Kamar yang sudah hampir lima bulan tidak aku tempati.
****
Saat tiba di ruangan berukuran lima meter persegi, aku teringat apa yang pernah ku lakukan bersama mas Pandu di kamar ini. Kamar yang masih tetap sama seperti pertama kali aku menginjakkan kaki di sini. Tak ada yang berubah sama sekali. Ketika aku membuka lemari, wangi aroma khas wanita langsung menguar menusuk hidungku.
Mas Pandu memang lebih suka aroma wanita dari pada maskulin kesukaan para pria. Entah karena dia hanya ingin menghargaiku, atau memang dia sendiri penyuka aroma manis.
Meneliti setiap helai, bajuku yang tergantung di lemari sepertinya bertambah, dan kebanyakan adalah terusan longgar berbahan katun khas untuk ibu hamil.
Mataku seketika menghangat melihat penampakan yang membuatku terharu. Pria hebatku, sekarang aku tahu alasan dia menikahiku. Aku adalah gadis kecil yang di beri janji olehnya. Janjinya yang akan menemuiku suatu saat nanti, dan dia sudah menepatinya.
Note : Hai \= iya
Ngo kwaju lei : aku mencintaimu
__ADS_1
Bersambung