Macau Love Story

Macau Love Story
Rencana Hermawan


__ADS_3

Semakin hari hubungan antara Pandu dan Delita kian dekat, hal ini membuat Alvin semakin terbakar api cemburu, sementara pak Hermawan semakin murka melihat kemesraan kedua anaknya.


Kemesaraan yang masih dalam batas wajar, karena Pandu sudah tahu bahwa Delita adalah adiknya. Ia benar-benar memperlakukan Delita sebagai adik perempuannya. Sama halnya saat memperlakukan adik perempuan yang lain yaitu Tania.


Berbeda dengan Delita, yang menganggap kasih sayang Pandu sebagai kekasih.


"Aahhrggg sial, kenapa aku benci dengan kedekatan mereka" Alvin menyugar rambutnya dengan kasar, ia merasa frustasi ketika melihat Pandu bersikap lembut pada Delita.


Apalagi akhir-akhir ini televisi di penuhi dengan berita tentang hubungan kakak beradik yang hanya di ketahui oleh Hermawan dan Pandu.


"Sebenarnya apa yang Pandu rencanakan?" kenapa tiba-tiba berpisah dengan Nayla, apakah Pandu hanya mempermainkan wanita itu, sama sepertiku yang akan membuangnya ketika sudah bosan, Aahh Sh*it, aku tidak terima jika Delita nantinya juga akan di buang seperti Nayla. Tapi di mana Nayla saat ini, apakah dia sudah kembali ke Indonesia, dan hidup sebagai orang biasa?" Tapi kenapa tantenya tidak tahu dimana Nayla?"


Ada begitu banyak pertanyaan dalam benak Alvin, pertanyaan yang entah apa jawabannya.


"Aargg persetan dengan Nayla, aku tidak peduli lagi dengannya, aku hanya ingin merebut Delita dari Pandu. Mungkin benar, jika Nayla memang sudah kembali ke negara asalnya, dan itu artinya, aku harus menendang Nancy dan juga Anaknya yang suka kegenitan itu"


Mendesah pelan, Alvin melangkah gontai keluar dari tempat perjudian. Ia hendak pergi ke hotel miliknya di mana Delita bekerja.


Dan saat berada di lobi hotel, ia bertemu dengam Pandu yang akan menjemputnya dan mengantarkannya pulang.


"Kamu di sini Vin?" tanya Pandu nadanya terdengar datar.


"Salah kalau aku disini?" Alvin bertanya balik dengan tatapan sinis "Ini hotel milik ayahku, aku berhak disini kapanpun aku mau"


Pandu tersenyum kecut sesaat setelah mendengar ucapannya.


"Lalu apa yang kamu lakukan? tidak biasa kan kamu datang ke hotelmu"


"Itu bukan urusanmu" jawab Alvin cepat.


Lagi-lagi Pandu tersenyum, ia melihat gurat kecemburuan di bola mata milik Alvin.


"Aku yakin kamu sudah masuk perangkapku Alvin, Aku pastikan istriku benar-benar aman dan terhindar dari orang sepertimu. Aku rela menahan diri untuk tidak menemui Nayla demi keberhasilan rencanaku, aku ingin kamu benar-benar lupa dengan istriku, dan aku ingin duniamu hanya di kelilingi oleh satu nama Delita" Pandu membatin dengan sorot mata sesekali melirik ke arah Alvin yang tengah di rundung gelisah.


"Oh iya Vin, sebentar lagi aku aka menikahi Delita, jika kamu berkenan, tolong bantu acara pernikahan kakak tirimu ini yang selalu kamu benci"


"Ckk" Desis Alvin, dengan sudut bibir sedikit terangkat.

__ADS_1


"Apa kamu lupa, kalau kamu sudah menikah dengan wanita yang sudah kamu beli?" Tanya Alvin menyelidik.


"Kamu melihat dengan mata kepalamu kalau aku menikah dengan wanita itu?"


"Meskipun aku tidak melihatnya, foto dan berita di media cukup membuatku yakin bahwa kamu sudah menikah. Hanya gadis bodoh itu yang bisa kamu tipu"


"Ya, aku memang menikah dengannya, dan sekarang aku juga ingin menikahi Delita"


Mendengar ucapan Pandu, seketika wajah Alvin memanas, ketidaksukaannya kian naik, cemburunya mungkin sudah berada di puncak eferest.


"Ternyata serakah juga kamu"


"Sama sepertimu yang akan membuangnya jika aku sudah merasa bosan"


"Apa kamu juga akan membuang Delita setelah kamu puas dengannya sama seperti Nayla?" tanya Alvin mengintimidasi. "Hhhhh malang sekali gadis itu"


"Jika kamu bisa melakukannya, kenapa aku tidak?" Pandu bertanya setelah melihat Alvin sekilas. "jangan kamu pikir hanya kamu yang mampu berbuat seperti itu, aku juga bisa" lanjut Pandu seolah tidak peduli dengan raut wajah Alvin yang sudah menahan geram semenjak beberapa menit yang lalu.


"Kak Pandu?"


Obrolan mereka di interupsi oleh suara Delita yang tiba-tiba membuat dada Alvin berdesir. Kedua lelaki itu kompak mengalihkan perhatiannya pada sosok wanita cantik dan mungil di hadapan mereka.


"Sudah kak" Sahut Delita lengkap dengan seulas senyum yang terukir dari bibirnya, dan Alvin merasa getaran di dalam sana semakin tidak karuan.


"Bisa kita jalan sekarang?" meskipun ia bertanya dengan pandangan terarah ke wajah Delita, namun ekor matanya sempat melirik ke arah Alvin, yang sedang mengeratkan rahangnya.


"Bisa kak"


Sahutan Delita di respon anggukan oleh Pandu.


"Vin, ngo thei cau sin" Pamit Pandu lengkap dengan senyum mengejak. Tanpa menunggu jawabannya, Pandu segera menggandeng tangan Delita lalu melenggang meninggalkan Alvin yang tengah mengepalkan kedua tangannya.


Tersenyum miring, Pandu menengok ke belakang melihat Alvin yang sedang di kuasai amarah, cemburu, serta kebenciannya terhadap pandu


"Aku akan membuatmu semakin ingin merebut Delita dariku Alvin Bryan Damian"


"Sesaat lagi, satu pria lainnya akan terbakar amarah"

__ADS_1


Senyum yang terbit dari bibir Pandu, adalah senyum sarat akan kemenangan rencana yang ia susun. Ini semua ia lakukan demi istri dan calon anaknya.


Setiap kali Pandu menghubunginya melalui ponsel Nuri, dia harus menelan mentah-mentah apapun prasangka dari Nayla. Yang dia lakukan hanya diam mendapati omelan sang istri.


***


Perjalanan dari hotel menuju rumah orang tua Delita memerlukan waktu lebih dari tiga puluh menit. Kini mereka bersiap turun dari mobil setelah Pandu mematikan mesin mobilnya.


Mereka berjalan bersisian menuju pintu utama rumah Hermawan. Seperti sebelum-sebelumnya, bu Maria sudah menunggunya di depan pintu, dan kali ini tak di temani oleh Hermawan sebab pria itu muak dengan semua sandiwara Pandu.


"Selamat malam ayik" sapa Pandu ramah


"Selamat malam, masuk yuk mamah sudah siapkan makan malam, si papah juga sudah nunggu di meja makan" jelasnya dengan raut terlihat bahagia.


"Ayo kak" ajak Delita


Sesampainya di ruang makan, sudah ada Hermawan tengah duduk di ujung meja dengan tatapan tajam tertuju ke beragam menu yang sudah di masak oleh sang istri.


"Malam pah" sapa Delita lalu mencium punggung tangan Hermawan.


"Hmm" sahutnya singkat dengan ekspresi datarnya.


"Selamat malan paman"


Hermawan hanya merespon dengan helaan nafasnya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah anak lelakinya. Hanya untuk sebuah pengakuan, ia dengan sengaja menyakiti hati adiknya, dia bahkan menolak penawaran Hermawan yang akan mengakuinya secara pribadi, namun Pandu tetap merahasikan status dirinya dari keluarga yang ia miliki saat ini.


Saat baru saja akan menyuapkan nasi ke mulutnya, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan ponsel milik Hermawan yang berdering tanda sebuah panggilan.


Dengan cepat tangan Hermawan meraih ponsel yang tergeletak di samping piringnya, tanpa mengatakan apapun, dia bangkit dari duduknya, lalu beranjak dari kursi dan menjauh untuk menerima telfon.


"*Iya Hallo?"




"Bagus, segera bawa dia ke hadapanku*"

__ADS_1



Setelah panggilan singkatnya, Hermawan menggeser ikon berwarna merah lalu kembali melangkah menuju meja makan.


__ADS_2