
Pov Nayla
Meletakan gelas yang masih menyisakan susu di atas nakas, Aku menggiring mas Pandu yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk duduk di kursi depan meja rias. Lalu menggantikan tangannya mengeringkan rambut.
Posisiku yang berdiri, dan mas Pandu yang duduk menghadapku, seketika melingkarkan kedua tangan di pinggangku, lalu menempelkan kening di perut yang sedikit sudah menampakkan baby bumpnya.
"Adek lagi apa?" tanya mas Pandu dengan nada di buat-buat. "Ada nakal, ada rewel?" tanyanya lagi yang tidak ku tahu seperti apa ekspresi wajahnya. Sementara tanganku terus bergerak di atas kepalanya.
"Maafin papa ya, baru bisa jengukin kalian"
"Adek nggak nakal, nggak rewel juga, tapi sedikit kesal sama papanya" aku merespon dengan nada khas anak kecil, seolah mewakili bayi kami.
Dan sepersekian detik, mas Pandu mendongak mempertemukan netra kami karena perbedaan level mata yang cukup jauh.
"Kesal kenapa?" tanya mas Pandu masih bertahan menatapku. Aku langsung mengedikkan bahu menanggapi pertanyaannya.
Tak berani membalas tatapan mas Pandu, aku kembali fokus mengeringkan rambutnya yang masih setengah kering.
"Kamu kesal sama aku Nay?" tanyanya ketika aku masih bungkam.
Saat aku menunduk untuk menatap wajahnya, mas Pandu tampak menempelkan dagunya di perutku. "Kamu kesal karena aku baru bisa menjengukmu?"
"Bukan hanya itu" kataku sambil meletakan handuk di atas meja rias, lalu menangkupkan wajahnya. "Aku juga marah saat mas menyuruh Apri merampas ponselku"
Mendengar keluh kesahku, mas Pandu bangkit lalu membawaku duduk di tepian ranjang.
Kami duduk dengan saling berhadapan, satu kaki mas Pandu di biarkan menggantung. Tangan kirinya memegang tangan kananku, sementara tangan kanan mas Pandu menyentuh salah satu sisi wajahku.
"Kamu dalam bahaya" ucapnya yang membuatku sekejap langsung menelan ludah. Bibirku terkatup rapat, jantungku juga berdetak tak normal. "Aku terpaksa karena Alvin sedang mencarimu, bahkan tadi, aku di ikuti oleh dua orang suruhannya"
Mata kami saling beradu dan bergerak gelisah, sama-sama mengekor mengikuti gerakan manik hitam kami.
"Aku tidak mungkin membuatmu dan adek dalam bahaya, mengerti apa maksudku?"
Aku masih bertahan menatapnya tanpa merespon ucapannya.
__ADS_1
"Aku bahkan menahan rindu pada kalian demi bisa melindungimu, adek dan juga ibu"
"Lalu sekarang bagaimana?" tanyaku yang mungkin terdengar konyol. Tangan mas Pandu yang tadi menyentuh pipiku, kini menggenggam kedua tanganku. Pandangannya tertunduk menatap jari kami yang saling bertaut. Dia menggelengkan kepala, dan itu justru membuatku bingung.
"Kamu tahu sendiri sakitnya menahan rindu, apalagi rindu itu pada orang yang kita cintai" kata mas Pandu masih belum mengangkat wajahnya. "Kamu juga pasti merasakannya, iya kan?, dan sakit itulah yang aku rasa, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali diam dan hanya bersabar"
"Maaf" kataku akhirnya
Mas Pandu mengangkat kepalanya menatapku dengan sorot terluka. Dan entah kenapa sorot matanya itu membuatku merasakan nyeri yang luar biasa.
"Maaf" ucapku sekali lagi.
Bibirnya sama sekali tidak bergerak untuk membalas permintaan maafku, membuat rasa nyeriku kian menjadi.
Melihat dia termangu menatapku, aku mencondongkan badan lalu mengecup bibirnya singkat.
"Aku akan selalu mendukung semua rencana mas" bisikku tanpa mengikis jarak wajah kami. "Makasih sudah melakukan itu untuku, makasih sudah mempertaruhkan segalanya untuk melindungiku"
Mas Pandu masih diam mengunci netraku. Detik itu juga aku kembali mempertemukan bibir kami, kali ini tidak hanya sekedar mengecup, aku mencium dan mel*umatnya dengan lembut, butuh sekian detik untuk dia membalas ciumanku.
Ciuman hangat yang dalam, hingga membuat isi kepalaku mendadak kacau saat tahu-tahu aku sudah terbaring di atas kasur, dan mas Pandu berada di atasku.
Tangan kananku beralih menyentuh dadanya yang ku rasa mengalirkan debaran jantungnya yang bergetar hebat.
Kami saling melempar senyum ketika tautan bibir kami terlepas. Tak ada sepatah katapun, tak ada pergerakan apapun, yang kami lakukan hanya tersenyum dan saling mengunci pandangan. Sesekali tangan mas Pandu bergerak menyelipkan anak rambut di telingaku.
"Aku minta" ucap mas Pandu dengan satu siku bertahan menopang tubuhnya, pandangannya jatuh pada ibu jari yang sedang mengusap bibirku "Jangan pernah berfikir kalau aku akan menyakiti dan meninggalkanmu, itu sama sekali tidak akan pernah aku lakukan"
Menghela napas, aku di buat tercenung dengan ucapannya, tanganku reflek mengerat memeluk punggungnya, dan kami kembali berciuman. Ciuman yang semakin membuatku gila, ku pikir akan berlanjut ke sesi berikutnya tetapi tidak, mas Pandu justru melepaskan ciumannya setelah kami sama-sama kehabisan napas.
Dia menatapku dengan sorot berbeda ketika aku menatapnya penuh lekat.
"Aku bertemu ayah kandungku" ucap mas Pandu tiba-tiba. "Tapi dia tidak mau mengakuiku di depan istri dan anak-anaknya"
Kalimat terkhirnya membuatku reflek menatapnya dengan sorot iba. Ternyata di balik ketegarannya, ia menyimpan begitu banyak luka. Luka yang mas Pandu sembunyikan dari ibunya.
__ADS_1
"Dengarkan aku" perintah mas Pandu sambil melakukan pergerakan besar menarik tanganku, Aku bergerak bangkit dari tubuhku yang tadinya berbaring. Mas Pandu menyuruhku duduk bersandar pada headboard, dia meletakan bantal di balik punggungku agar lebih nyaman.
"Jangan buru-buru berprasangka atau ambil sikap sampai aku selesai bicara"
Mengatupkan bibir, aku di buat penasaran dengan perkataannya. "Ada apa?" tanyaku ketika mas Pandu hanya diam sambil menatapku.
"Aku sedang membuat Delita jatuh cinta padaku supaya ayahku mau mengakuiku di depan Delita"
Mendengar pengakuannya, aku menahan diri untuk tidak mengomeli pria di hadapanku, meskipun sebenarnya aku ingin sekali mengeluarkan rentetan ucapan kesalku padanya.
"Dan Delita sudah masuk perangkapku, saat Delita bilang menyukaiku di depan ayah, ayah justru hanya diam dan tidak melarangnya untuk berhenti mencintaiku karena kami adalah saudara seayah. Pria egois itu justru membuat putrinya semakin hanyut mencintaiku"
Aku semakin tidak bisa mengendalikan emosiku, dan aku reflek ingin bangkit dari dudukku, namun secepatnya mas Pandu menahanku.
"Dengar dulu, aku belum selesai"
"Lalu apa maksud mas membiarkan adik mas mencintai mas, bukannya sebagai kakak mas harus memberitahunya bahwa perasaan Delita itu salah?"
"Aku hanya ingin"
"Ingin apa?" potongku cepat, dengan pandangan terus menyoroti netranya.
"Selain ayahnya, mas juga wajib memberitahu Delita bahwa mas adalah kakaknya, kenapa mas tidak melakukan itu dan justru membiarkan Delita tenggelam lebih dalam?"
"Aku hanya ingin membalas rasa sakitku pada ayah"
"Dan mas malah membalasnya pada Delita, sementara Delita tidak tahu menahu soal hubugungan mas dan ayahnya, mas jahat tahu nggak?, tega nyakitin adik sendiri demi membalaskan rasa sakit mas pada ayah mas. Ingat, Delita belum ada saat mas tersakiti" ucapku lalu bangkit dan maraih gelas berisi sisa susu di atas nakas, kemudian mengambil langkah untuk keluar dari kamar. Rasanya aku sudah tidak ingin lagi melanjutkan pembicaraan ini.
Saat tengah mencuci gelas, tiba-tiba ku rasakan tangan kekar mas Pandu melingkar di perutku, dan dagu ia daratkan di pundaku.
"Aku akan mengatakannya" ucapnya lalu mencium ceruk leherku.
Aku membilas tanganku yang masih menyisakan busa sabun usai mencuci gelas, setelahnya aku berbalik mengahadap mas Pandu.
"Kalau mas tidak mengatakannya, aku akan ke Macau dan mendatangi Delita, aku sendiri yang akan memberitahunya" tanpa berniat menunggu jawaban dari mas Pandu, aku langsung melepaskan pegangan tangannya di sisi kanan kiri pinggangku, lalu berjalan menuju kamar meninggalkannya yang masih diam membatu.
__ADS_1
Ucapanku mungkin tersisipkan ancaman, dan aku tidak peduli.