Macau Love Story

Macau Love Story
Morning sweet


__ADS_3

Keesokan harinya,


Delita merasakan seberkas cahaya kecil datang dari balik jendela, silau menerpa kornea matanya membuat Delita berulang kali mengerjap menyesuaikan cahaya terang itu.


Ia tersenyum tipis saat menyadari dirinya berada dalam pelukan Alvin. Entah sejak kapan mereka berada di posisi seperti ini, karena seingat dia, Alvin pergi ke dapur sementara dirinya langsung memejamkan mata.


Kilas balik tentang percintaannya semalam pun seolah terputar ulang di kepala Delita, membuatnya tersipu dan bahkan seperti belum percaya keperawanannya di terjang oleh pria dengan masa lalu yang buruk.


Kepala Delita menggeleng mengingat gosip tentang Alvin yang suka mempermainkan wanita.


Delita terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Alvin sekarang, bukanlah Alvin yang dulu. Dia sudah berubah menjadi pria yang lebih baik.


Sepasang mata Delita terus meneliti wajah tampan suaminya, tangannya bergerak membelai lembut pipi lalu turun ke bibir.


Alvin menggeliat mendapat sentuhan tangan milik sang istri, dengan cepat tangan kanannya meraih tangan Delita, lalu mengecupnya.


"Kamu tidak sedang mengigau kan Vin?"


Alvin tersenyum sambil terus mengecup tangannya.


"Vin?"


"Hmm"


"Kamu sudah bangun?"


"Hmm"


"Kalau gitu bangkitlah, kamu harus ke kantor kan?"


"Aku mau bolos hari ini, aku ingin menghabiskan waktu denganmu, bermanja di pangkuanmu, bercinta lagi seperti tadi malam"


Mendengar ucapannya, Delita menghangat, reflek bibirnya tersenyum tipis.


Tak tahan dengan senyum Delita, Alvin yang sudah membuka mata beberapa detik lalu, segera mendaratkan ciuman di bibirnya.


Sapuan yang lembut, membuat Delita membalas ciumannya. Begitu luwes dan menenangkan, hangat dan semakin panas.


Hampir satu menit bibir itu menyatu, mereka kemudian melepas tautannya ketika sama-sama kehabisan napas.


"Bagaimana perceraian kita Vin?" tanyanya setelah saling tatap hampir sepuluh detik.


Mata Alvin melebar, tangannya bergerak menyelipkan rambut ke belakang telinga Delita.

__ADS_1


Matanya bergerak gelisah mengekor gerakan manik hitam milik wanita di depannya.


"Kamu ingin bercerai dariku Del?"


"Bukankah kamu yang menyetujuinya?"


Bukannya merespon, pria itu justru bergerak bangkit, lalu berjalan ke arah sofa dimana tas kerjanya teronggok di sana. Ia mengeluarkan sebuah berkas dari dalam tasnya.


"Aku tidak tahu bagaimana cara menyanjung wanita dengan tulus" Kata Alvin, dia kembali berjalan ke arah ranjang sambil membawa berkas berisi surat perceraian. "Karena selama ini, sanjunganku untuk para wanita hanya bualan, tapi tidak denganmu Del" tambahnya lalu duduk bersila di depan Delita.


"Jika tanda tanganku untuk berpisah denganmu itu akan membuatmu bahagia, maka aku lakukan"


"Kamu yakin?" tanya Delita sambil memposisikan dirinya duduk bersandar pada headboard.


"Tak perlu menanyakannya, karena jawabanku akan sangat menyakitkan bagiku"


"Baiklah sini aku akan tanda tangani surat perceraian kita" ketusnya tanpa menatap Alvin, pandangannya jatuh pada berkas yang Alvin pegang.


Pria itu lalu menyerahkan sebuah map berisi ikrar perpisahan ke tangan istrinya.


Dengan cepat Delita menggerakan pena di atas kertas tersebut. Namun hanya pura-pura, dan itu tanpa sepengetahuan Alvin.


"Ini, aku sudah menandatanganinya" ucapnya seraya menyerahkan kembali dokumen itu.


"Kamu belum menandatanganinya Del"


"Karena aku tahu kamu juga belum tanda tangan Alvin"


"Aku ingin kamu yang melakukan lebih dulu"


"Tapi aku ingin kamu yang lebih dulu menandatanganinya" sergah Delita cepat.


Usai Delita mengatakan itu, mereka terjerat kebisuan hampir satu menit lamanya, sepasang mata mereka lekat saling menatap. Menit berikutnya mereka saling melempar senyum, kemudian dengan cepat Alvin memeluk Delita sangat erat.


"Aku tidak mau berpisah denganmu Deli" ujarnya lalu mengecup pucuk kepala Delita.


"Aku lebih tidak sanggup Alvin"


"I love you" bisiknya di tengah-tengah pelukan hangatnya.


"I Love you too"


"Stay with me always" Lirih Alvin pelan.

__ADS_1


"Of course. And do you know Alvin" Kata Delita setelah pelukan mereka sedikit terurai namun tangan masih saling melingkar di pinggang. "Di dunia ini, aku hanya ingin hidup setia dengan satu pria saja"


"Kalau begitu percayakan kesetiaanmu padaku, aku akan menjaganya"


"Sure?"


"Sangat yakin" sahut Alvin mantap. "Because I love you"


"Not bullsh*it?


"No"


Sedetik kemudian, mereka kembali menempelkan bibir, semakin dalam dan semakin intens, lalu mengulang aktivitas mereka beberapa jam yang lalu.


Kamar Alvin masih berantakan setelah aktivitas paginya yang fanas...



Sesudah di bereskan.



*****


Sementara Kehidupan rumah tangga Pandu dan Nayla, semakin berwarna sejak kehadiran sang buah hati.


Anak laki-laki bernama Kellen semakin lucu dan menggemaskan meskipun usianya baru akan menginjak sekitar tiga minggu.


Bayi laki-laki itu sering sekali membuat Pandu begadang hingga dini hari. Alhasil saat di kantor, Pandu justru tak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaannya.


Seperti pagi tadi, dia bahkan bak orang bodoh yang tak tahu apa-apa ketika mengadakan pertemuan dengan para klien. Untung saja ada Rondi yang juga ikut mendampingi Pandu mewakili Alvin yang hari ini tidak masuk kerja.


"Ini daddy yang jagain Kell, atau Kell yang jagain daddy?" Racau Nayla ketika baru saja keluar dari balik kamar mandi. Ia melihat Pandu yang tertidur sementara bayinya bergerak gelisah dengan mata terbuka lebar.


"Sayang" Nayla mengangkat tubuh Kellen lalu membawanya duduk di sofa. "Lagi jagain daddy bobo yah? Sayang banget ya, sama daddynya sampai jagain bobo"


Dia menyusuinya hingga bayi itu memejamkan mata.


Setelah di rasa cukup pulas, Nayla membaringkan Kellen di ranjang bayi yang tak jauh dari ranjang besar miliknya.


Kemudian menaiki ranjang dan duduk di samping sang suami yang sudah terlelap begitu pulas. Ia mengecup kening Pandu, lalu menarik selimut hingga menutupi dada bidangnya sebelum kemudian rebah sembari memeluk pria di sampingnya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2