
Maaf ya kalau Povnya ganti-ganti, biar pembacanya ikut mikir hahaa ππmasa aku doang yang mikir πππ
Sehat-sehat selalu ya readers.. big hug ππ
...π·π·π·π·π·...
Nayla menatap bingung sekitar ketika kesadarannya perlahan terkumpul, dia di kejutkan oleh suasana yang sangat asing baginya. Suasana yang sedikit tidak terawat seperti sebuah gudang. Sekuat tenaga Nayla berusaha mengumpulkan kesadaran yang seakan berserakan kemana-mana.
Nayla benar-benar tidak tahu saat ini ada di mana, tapi tidak ada rasa takut dalam dirinya sedikitpun. Rasa sakit yang Pandu berikan, bagai cambuk yang langsung menghancurkan seluruh kepercayaannya hingga ia tak merasakan takut bahwa dirinya mungkin sedang berada dalam bahaya.
Nayla yang terduduk di sebuah bangku, dengan kondisi kaki terikat, tiba-tiba mendengar suara decitan pintu terbuka.
Pria asing yang muncul di hadapannya langsung menuju ke arah jendela lalu menyibakkan tirai dengan kasar. Nayla yang kesadarannya baru saja terkumpul sempurna, kembali menyipitkan mata ketika cahaya pagi tampak begitu menyilaukan.
"Siapa kamu?" tanya Nayla masih dengan mata menyipit, ketika pria itu berdiri di depannya.
Alih-alih menjawab, pria itu justru menamparnya dengan sangat keras hingga darah segar mengalir di sudut bibirnya.
Tangan Nayla yang tak terikat, otomatis langsung mengusap pipinya.
"Apa yang mendorongmu menampar begitu kuat?"
Pria itu tersenyum sinis, matanya berkilat merah, serta wajahnya menyiratkan kebencian.
"Kenapa suamimu selalu menang melawanku?" jawab Alvin dingin. "Pertama, dia merebut hati ayahku, lalu hartaku, dan sekarang, dia begitu serakah ingin menikahinya sementara status dia sudah menikah denganmu" pekiknya tanpa jeda. "Kenapa dia selalu selangkah lebih jauh di depanku?"
"Alvin" Batin Nayla sembari menelan ludahnya dengan susah payah.
Tadi malam, anak buah Alvin yang memang sudah di tugasi untuk stay di pelabuhan sejak sepuluh hari terakhir, secara tidak sengaja matanya menangkap wanita yang sama persis dengan poto yang mereka bawa. Poto yang Alvin berikan pada mereka sebagai petunjuk untuk mencari keberadaan Nayla. Dengan gerak cepat mereka segera membawa Nayla saat seorang pria yang datang bersamanya mengalihkan perhatian pada ponselnya. Mereka lalu membawa Nayla ke hadapan Alvin dalam kondisi tak sadarkan diri. Rasa lelah yang Nayla tahan sejak beberapa jam lalu, rasa benci dan marah yang tiba-tiba mengisi hati dan pikirannya, membuat Nayla tiba-tiba pingsan
"Apa maksudmu?"
Lagi-lagi Alvin tersenyum sinis.
"Sekarang" Ucap Alvin dengan mendaratkan kedua tangan pada sandaran tangan di kursi, dan sedikit mencondongkan badan. "Kamu batalkan pernikahan Delita dan Pandu"
Nayla meresponnya dengan senyum tak kalah sinis.
"Untuk apa aku membatalkan pernikahan mereka"
"Apa kamu tidak merasa memiliki suamimu?" Sambar Alvin dengan intonasi tinggi.
"Apa maksud kamu menyuruhku membatalkan pernikahan mereka?" tanya Nayla mengintimidasi, nadanya tak kalah tinggi dari Alvin.
"Karena aku mencintai Delita" bentaknya.
__ADS_1
Nayla sempat terkejut mendengar pengakuan Alvin, namun hanya sesaat, kemudian kembali menerbitkan senyum sinis.
"Kamu mencintai Delita?" tanya Nayla memicing. "Kalau begitu, aku tidak mau membatalkan pernikahan mereka, biarkan saja Delita menikah dengan Pandu, setidaknya dia selamat dari pria sepertimu"
"Apa maksud kamu" potong Alvin cepat, matanya memancarkan amarah yang kian memuncak.
"Aku tidak akan membiarkan Delita bernasib sama seperti Sonya" Kata Nayla dengan mata terus terarah pada wajah Alvin yang masih menahan geram. "lebih baik ku biarkan dia menikah dengan Pandu yang jelas tidak akan membuat Delita kehilangan akal sehatnya"
Plak...
Satu tamparan kembali alvin layangkan di pipi Nayla.
"Aku tidak akan membiarkan Delita jatuh ke dalam permainanmu, yang hanya akan membuat Delita menderita. Aku tidak akan membiarkan kisah Sonya terulang pada Delita" lanjut Nayla dengan keberanian yang entah datang dari mana.
"Dari mana kamu tahu tentang Sonya?" tanya Alvin.
"Aku yakin kamu tahu jawabannya?" balas Nayla tenang.
"Pandu?"
"Siapa lagi kalau bukan dia?" lirihnya. "Aku tahu Sonya bunuh diri karena kamu hanya memanfaatkannya demi ingin membalas Pandu, iya kan?"
"Sok tahu kamu?" sahut Alvin.
"Aku mencintai Delita bukan karena Pandu, aku mencintainya karena hati kecilku mengatakan itu" ujar Alvin tanpa sadar.
"Apa buktinya jika kamu mencintai Delita?" tanya Nayla dengan suara tertahan.
"Siapa kamu dengan beraninya menanyakan itu padaku?"
"Karena jika alasan kamu mencintai Delita bisa ku cerna dengan akal sehatku, dan bukti itu mampu menyentuh hatiku, aku akan menggagalkan pernikahan mereka, aku akan membantumu membawa Delita ke pelukanmu, tapi jika kamu tidak bisa memberikan alasan dan bukti itu" ucap Nayla dengan sorot sepenuhnya ke wajah Alvin. "Aku akan membiarkan Delita menjadi milik Pandu"
Alvin terdiam, dia tampak menimbang-nimbang apa yang Nayla katakan.
"Aku mencintai Delita, aku tidak punya alasan kenapa aku mencintainya, aku juga tidak bisa membuktikan karena aku tidak tahu caranya" kata Alvin setelah terdiam beberapa saat.
"Itu artinya kamu hanya akan memanfaatkan Delita, dan jika kamu bosan dengannya, kamu akan mengembalikan Delita pada Pandu, sama seperti yang kamu lakukan pada mendiang Sonya"
"Aku tidak akan pernah melakukan itu pada Delita" teriaknya dengan nada frustasi.
"Aku tidak percaya" sahut Nayla meninggi.
Alvin tertunduk lesu, tidak ada pilihan lain kecuali membawa Nayla ke hadapan Delita, dia berharap Delita akan mengurungkan niatnya jika Alvin bisa mendatangkan Nayla ke hadapannya seperti yang Delita katakan.
Alvin segera mengikat tangan Nayla, setelahnya melepaskan ikatan di kakinya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Nayla
"Diam kamu" Alvin terus melepas tali yang mengikat kaki Nayla.
"Sekarang ikut aku" perintah Alvin begitu tali terlepas
"Kamu mau membawaku kemana?"
"Aku akan membawamu ke tempat di mana Pandu melangsungkan pernikahan, dengan begitu Delita pasti akan percaya bahwa Pandu sudah beristri"
"Seyakin itu kamu Alvin?" kata Nayla dengan tatapan miring.
Alvin menghentikan langkahnya begitu mendengar ucapan Nayla.
"Apa maksud kamu?"
"Aku bisa saja berkata kalau aku bukan istrinya Pandu"
"Dan aku akan membunuhmu jika kamu tak mengakui dirimu sebagai istri Pandu"
"Tidak akan pernah" jawab Nayla.
"Kalau begitu kamu akan mati"
"Aku tidak takut, mau kamu bunuh sekarangpun aku siap?"
"Hou fan a lei?" teriak Alvin dengan lantang.
"Sudah ku bilang aku akan membantumu jika kamu benar-benar mencintai Delita" Desis Nayla.
"Aku mencintai Delita, sudah berapa kali ku ucapkan"
"Maukah kamu melakukan kesepakatan denganku" tanya Nayla setanang mungkin, dengan kondisi tangan yang terikat ke belakang.
"Kesepakatan apa?"
"Jika aku berhasil membatalkan pernikahan mereka, dan membawa Delita ke pelukanmu, maukah kamu berdamai dengan suamiku?"
Kesepakatan Nayla membuat Alvin mengeratkan rahangnya kuat-kuat.
Bersambung
Saya buru-buru ngetiknya, mau di ajak ngedate sama mas bojo. Maaf kalau ada typo, nanti kalau sempat saya revisi. kecup manjahππ happy week end.
Hou fan a lei \= Kamu sangat merepotkan
__ADS_1