
Berdiri di atas balkon, Pandu terus menyesap rokok dan memainkan asapnya. Seolah dia lupa bahwa sang istri ada di balik kamar dalam kondisi hamil tua.
Otaknya seperti terjebak di dalam labirin yang di buat terus memikirkan ucapan Nayla tentang papahnya. Bahkan Pandu tak tahu bagaimana caranya keluar dari dalam labirin itu.
Setelah sekian menit, dering ponsel membuatnya sadar bahwa dia telah larut dalam lamunannya.
Merogoh kantong celana, ia meraih ponsel di dalam sana.
Rondi Calling,,,
"Iya Ron"
"Besok bisa jemput ibu kak, dokumen sudah clear"
"Ok bawa berkasnya ke kantor besok"
"Siap"
Usai mendengar respon Rondi, Pandu menggeser ikon merah untuk memutus panggilan.
Ia bergegas masuk ke kamar, dimana Nayla masih berada di dalam kamar mandi.
"Nay, masih di dalam?"
"Ada apa?" sahutnya dari balik kamar mandi.
"Masih lama?"
Bukannya menjawab, malah pintunya justru terbuka.
"Mas merokok?"
"Iya cuma satu kok"
"Jangan sentuh kalau masih bau rokok"
Setelah mengatakan itu, Nayla langsung melangkah menuju meja rias. Sementara Pandu menatapnya dengan sorot heran lengkap dengan kening mengernyit.
Pria itu masuk ke kamar mandi tanpa membawa apapun.
Selang tiga puluh menit, Nayla yang sudah dalam posisi rebah di atas kasur, posisi paling nyaman dalam kondisi perut besar, mendengar ucapan Pandu yang meminta untuk di ambilkan handuk karena di dalam lemari kamar mandi tak ada handuk bersih satupun.
Dengan terpaksa Nayla harus bangkit dari posisi ternyamannya, namun masih dengan senang hati ia melakukannya.
Nayla kembali berbalik, namun bukan untuk merebahkan diri melainkan menuju lemari.
"Besok aku jemput ibu" kata Pandu begitu keluar dari kamar mandi.
"Serius"
"Memangnya kapan aku bohong" jawabnya sambil mencolokkan kabel hairdaryer ke lubang saklar listrik.
"Jam berapa?"
"Ke kantor dulu, ambil dokumen ibu, terus langsung ke Hongkong"
"Sampai sini lagi jam berapa?"
"Paling malam, tapi nanti di usahain sebelum makan malam sudah sampai sini" Tangan Pandu bergerak memutar hirdryer di atas kepalanya. "Telpon Nuri untuk berkemas sekarang"
Nayla segera meraih ponselnya di atas nakas, lalu menghubungi Nuri untuk bersiap-siap.
"Kamu tidak bilang terimakasih padaku" kata Pandu setelah memakai pakaian lengkap, dan rambut sudah kering sempurna. Ia langsung menyusul Nayla ke atas ranjang.
"Untuk apa?"
"Aku sudah bawa ibu kemari"
"Yang urus dokumen Rondi kan, jadi aku harus bilang makasih padanya, betul kan?"
Pandu memicingkan mata setelah Nayla mengatakan itu.
"Kamu masih marah gara-gara aku ngusir ayah tadi siang?"
"Menurut mas?"
"Ya begitu kurang lebihnya"
__ADS_1
"Aku tidak marah"
"Terus kenapa diam-diam begitu"
"Kesel saja sama mas"
Pandu tersenyum meresponnya. Lalu mengecup kening Nayla kilat. "Besok setelah urusan ibu selesai, aku akan mengurus pria itu"
"Pria itu ayah mas"
"Iya, iya besok aku diskusi sama ibu soal ayah, baiknya gimana" Kata Pandu yang langsung merebahkan diri dengan posisi memunggungi Nayla.
"Loh, kenapa memunggungiku"
"Kamu kan lagi kesal, takutnya sanksi kalau aku tidur dengan memelukmu"
Nayla tak sanggup menyanggah ucapan Pandu, Ia pun merebahkan diri sembari mengerucutkan bibir.
Pandu sedikit menoleh ke belakang dimana Nayla juga tidur dengan posisi memunggunginya.
Sengaja Pandu pura-pura tidur, sementara Nayla terus merubah-rubah posisinya. Pandu tahu jika Nayla tak bisa tidur, tapi dia sengaja acuh, agar dia yang mendekatinya lebih dulu. Ia menunggu Nayla merayu dan meminta dirinya untuk memeluknya.
"Kakiku pegal, pengin di pijit" racau Nayla seraya melirik punggung Pandu.
Sunyi, tak ada jawaban dari pria di sampingnya.
"Aku tidak bisa tidur, badanku pegal semua" Cicitnya lagi, namun Pandu masih tak bergeming.
"Di sini tidak ada orang selain aku meh?"
Ada pergerakan dari Pandu, ia berbalik dengan satu tangan menyanggah kepalanya.
"Kamu ngomong sama siapa?" tanya Pandu tenang.
"Memangnya di sini siapa lagi lawanku?" sahut Nayla tak kalah tenang.
"Tapi aku tak merasa di panggil"
"Ya seharusnya tahu mas yang ku ajak bicara"
Tak menanggapi ucapan Nayla, Pandu langsung bangkit dan meraih kaki Nayla lalu memijitnya yang tampak sedikit bengkak.
****
Tak ada yang berubah dalam hidup delita, ia masih kekeh dengan pendiriannya untuk tak memberikan hatinya pada Alvin.
Yang ia lakukan hanya melayani dan mempersiapkan segala keperluan Alvin kecuali kebutuhan batin.
"Aku langsung ke kantor" pamit Alvin, ia sama sekali tak menatap Delita saat mengatakannya.
"Kamu tidak sarapan?"
"Tidak" jawabnya sambil memakai sepatu.
"Aku sudah bangun pagi untuk membuat sarapan, tapi kamu tidak memakannya, apa maumu?"
"Aku buru-buru" jawab Alvin santai.
"Kamu fikir aku terusik dengan sikapmu yang abai, kamu kira aku akan luluh dengan sikapmu yang menganggapku orang asing di rumahmu? kamu keliru" ujar Delita sarkas. "Aku justru senang karena dengan begitu aku tak perlu repot-repot menolakmu"
"Aku pergi" pamitnya tanpa merespon ucapan Delita.
"Alvin aku belum selesai bicara"
Tak mengindahi panggilan Delita, Alvin terus melangkah menuju pintu lift tanpa menutup pintu unit apartemennya.
Hal itu membuat Delita semakin geram.
*****
Sampai ketika di sore hari, Delita masih menyimpan kesalnya pada Alvin. Meskipun ketika di rumah pria itu bersikap acuh, tapi setiap waktunya makan siang, Alvin selalu mengirim pesan pada Delita hanya sekedar mengingatkan untuk tidak melewatkan jam makan siang.
Sementara Delita tak pernah membalasnya.
Dia juga akan mengirimkan pesan jika waktunya pulang kantor. Seperti saat ini.
Alvin : "Aku pulang sekarang, ada sesuatu yang ingin kamu beli?"
__ADS_1
"Dia selalu perhatian ketika berjauhan, tapi bagaikan orang asing ketika di rumah. Suami macam apa itu?" Decihnya sinis.
Lagi, Delita tak membalasnya. Bukannya tak ingin membalas pesannya, tapi Delita ingin Alvin lebih gigih lagi dalam memberikan perhatian padanya.
Lewat tiga puluh menit, Alvin tiba di rumah, begitu membuka pintu, tampak Delita tengah memasak makan malam.
Pria itu langsung masuk begitu saja melewati Delita yang berada di dapur. Dan itu lagi-lagi membuat Delita geram, hingga dia berkali-kali membanting peralatan masaknya.
"Kamu kalau mau hancurin rumahku, tidak begitu caranya" kata Alvin ketika merasa terganggu dengan suara panci, teflon dan sutil. "Ini ada korek, bakar saja jika membuatmu merasa puas"
Usai mengatakan itu, Alvin dengan sengaja menelpon seseorang di hadapan Delita yang tengah memasak.
"Iya, saya mau pesan Pizza, satu porsi, nasi jamur satu porsi, chicken wings satu porsi. Untuk dessert saya mau puding mangga"
"Baik terimakasih"
Alvin memutus panggilan setelah memberikan alamat lengkap apartemennya. Ternyata, dia memesan makannan secara dellivery order.
Dan itu membuat Delita kian kesal.
"Aku sedang memasak untukmu, kenapa kamu malah memesannya?" pekik Delita menahan kesal.
"Makasih, tapi kamu tidak perlu repot-repot. Kamu masak untukmu sendiri saja"
Jika Delita bisa mengabaikan pesannya, Alvinpun bisa saja mengabaikan dia ketika di rumah. Begitulah pikir Alvin.
Ketika Dia hendak kembali ke kamarnya, tiba-tiba mendengar suara Delita.
"Aku mau kita cerai?"
Menghentikan langkah, Alvin memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana. Lalu berbalik dan dengan langkah santai, dia menghampiri Delita.
"Kamu mau cerai? tanya Alvin mengernyit.
"Iya" sahut Deli tanpa menatap wajah Alvin.
"Yakin?"
"Iya"
"Aku akan mengurusnya" balas Alvin.
Jawabannya membuat Delita menyesal sudah mengatakan itu.
"Aku serius" ucapnya lagi.
Alvin yang sudah kembali melangkah, dia kembali menghentikan langkahnya.
"Memangnya aku sedang bercanda?"
Delita merasa heran dengan sikap Alvin yang menerima begitu saja dengan keputusannya. Padahal jika Delita meminta cerai darinya, Alvin tidak akan mengabulkan permintaannya, tapi kali ini dia justru menyetujui.
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku?" tanya Delita dengan menyingkirkan rasa gengsinya.
"Aku mencintaimu" jawab Alvin dengan ketenganan yang luar biasa. "Tapi cinta tak harus memiliki kan?, jadi kalau kamu bahagia jika berpisah denganku, akan aku lakukan. ASALKAN KAMU BAHAGIA" tambahnya dengan penuh penekanan.
Setelah mengatakan itu, ponsel Alvin berbunyi.
Nayla Calling....
"Nayla" gumamnya dengan alis menukik tajam.
Delita yang mendengar gumaman Alvin ikut bergumam namun dalam hati.
Nayla?
Alvin segera mengangkat panggilannya, jika ingin rasa penasarannya segera terjawab.
"Halo"
"A-Alvin, t-tolong aku"
"Ada apa denganmu Nay?" tanya Alvin heran.
"D-datanglah se sekarang juga"
Panggilannya tiba-tiba terputus. Tanpa pikir panjang, Alvin segera menyambar kunci mobil dan bergegas pergi menuju ke apartemen milik Pandu.
__ADS_1
"Alvin" panggil Delita ketika suaminya berlari dengan langkah lebar dan terburu-buru.
Bersambung...