Macau Love Story

Macau Love Story
Beruntung


__ADS_3

Malam hari usai makan malam, jam menunjuk di angka sembilan.


Sesuai kesepakatan, mereka akan bicara dengan jarak minimal dua meter. Kini mereka duduk berhadapan di batasi meja makan.


"Apa yang kamu pikirkan saat di kantor?"


Alih-alih menjawab, Delita justru menyuruhnya untuk menjenguk bu Risa.


"Hari minggu, kamu kunjungi ibumu"


"Dia bukan ibuku"


"Dia sudah menikah dengan papahmu, jadi dia ibumu"


"Apa kamu takut kehilanganku, sebab Nayla akan membunuhku jika aku tidak menjenguknya?"


"Hah? Bu-bukan begitu Vin?" 


"Lalu?"  tanya Alvin mengernyit.


"Dia sepertinya orang baik"


"Apa imbalanmu jika aku menemuinya?"


"Untuk menemui ibumu sendiri, kamu meminta imbalan dariku?"


"Iya, apa aku salah?"


"Kamu tahu aku tidak punya apa-apa, akupun hidup bergantung padamu, karena kakakku sudah menguasai harta mamah, aku tidak bisa memberikan imbalan apapun untukmu"


"Ada satu yang kamu miliki" 


Ucapan Alvin, membuat alis Delita menukik tajam.


"Hatimu" imbuhnya dengan sorot mata yang entah apa maksudnya.


"Berikan hatimu padaku, maka aku akan menuruti keinginanmu, selain itu akupun bersedia jika harus melayanimu siang dan malam?"


"A-apa maksudmu Alvin?"


"Masih kurang jelas? Tanya Alvin memicing. "Katakan perasaanmu sekarang, nanti kamu akan paham apa maksudku"


"P-perasaan apa?"


Memilih diam, Alvin menatapnya dengan kedua tangan bertaut di atas meja. Tatapan yang menghujam, membuat Delita kian kikuk, dan Akhirnya menunduk.


"Aku bukan pembaca pikiran Del" ujar Alvin lembut, tangannya terulur meraih satu tangan Delita lalu menggenggamnya. "Aku mencintaimu, kamu juga mencintaiku kan?" 


Delita langsung mengangkat kepala, berusaha mencari kesungguhan melalui sorot mata Alvin yang tajam.


Setidaknya dengan menatapnya seperti ini, dia bisa menilai kesungguhan dan kejujuran suaminya.


Tak kunjung menjawab, Alvin meremas tangan Delita pelan. Seakan remasan lembut itu menuntut Delita untuk berkata jujur.


Delita terus menatap Alvin, mencari keyakinan sekali lagi untuk dirinya sendiri lewat pancaran matanya yang mendadak sendu.


"Iya" jawab Delita akhirnya.


Ada senyum samar yang muncul di wajah Alvin usai mendengar jawaban Delita.


Hening selama beberapa saat, mereka hanya diam saling menatap.


Perlahan, genggaman tangan Alvin terlepas seiring tubuhnya yang bergerak bangkit dan berjalan mendekat.

__ADS_1


"Boleh aku mendengar ungkapan cintamu?" Tanya Alvin sambil duduk di tepian meja makan, tepat di samping Delita duduk. Tangannya  kembali meraih tangan Delita lalu membawa ke atas pangkuan.


Memilih tetap bungkam, tiba-tiba genggaman tangan Alvin terlepas dan langsung menyentuh dagu Delita sedikit menekan dan mengarahkan agar dia menatapnya.


"Kamu tidak bisa bicara?"


Delita mengerjap, dengan rahang terkatup rapat.


Mereka kembali terdiam dengan pandangan saling mengunci. Sampai kemudian Alvin menariknya agar berdiri di hadapannya.


"Bicara Delita!" ucapnya datar dan tegas."Tuhan kasih kamu mulut buat apa?" 


Melihat Delita tetap bungkam, Alvin menghembuskan napas kasar. "Apa harus ku paksa supaya kamu mau mengatakannya?" 


Usai mengatakan itu, Alvin langsung menciumnya dengan kasar.


Delita yang berusaha berontak, Alvin justru semakin menciumnya kasar seakan tengah meluapkan amarahnya pada Delita. Pria itu terus mencium istrinya, *****@* bibirnya lalu menggigitnya sangat keras. Ciuman yang sarat akan hukuman untuk Delita.


Dan yang paling menyakitkan untuk Delita, Alvin justru memainkan bibirnya semakin kasar ketika tahu dirinya menjatuhkan air mata.


Menyerah, Delita benar-benar menyarah. Dia bahkan membiarkan Alvin menciumnya dengan brutal.


Masih menangkup wajahnya, Alvin memberikan gigitan dan menelusupkan lidahnya. Meskipun tangan Delita terlepas bebas, dia tak bisa memberikan perlawanan apapun sebab tenaganya sudah terkuras habis.


Rakus dan kasar, dia terus *****@* bibir Delita hingga lewat bermenit-menit.


"Kamu membuat kesabaranku habis Delita" ucapnya ketika akhirnya Alvin berhenti menciumnya.


"Kamu menangis karena apa?"


Delita enggan menjawab karena masih belum rela atas perlakuan kasarnya barusan.


"Tidak suka ku cium?" Alvin mengusap pipi Delita ketika ada buliran bening yang kembali jatuh.


Kening mereka saling menempel, Alvin kembali mengusap pipinya ketika ada titik air mata yang kembali meluncur.


Dengan jarak yang tak terkikis, mereka sama-sama merasakan hangat nafas dan detak jantung yang tak normal.


"Mau ku cium seperti tadi?"


Reflek kepala Delita menggeleng.


Selang dua detik, Alvin kembali menempelkan bibir, kali ini dengan sangat lembut dia melakukannya. Tanpa sadar, Delita berjinjit, satu tangannya melingkar di leher Alvin, dan tangan lainnya menyuntuh batang leher hingga pipi. Dia membalas ciumannya.


Mereka saling berp*gutan, lalu mengurai, dan saling menatap. Sedetik kemudian bibir itu kembali saling menempel, terlepas lalu menempel lagi, mereka lakukan hingga berkali-kali.


Dengan napas terengah, Delita menatap Alvin yang wajahnya sudah memerah.


Entah bagaimana caranya, tahu-tahu Alvin mengangkat tubuh Delita.


"Kamu mau apa?" Tanya Delita panik.


"Mau tahu sedalam apa perasaanmu"


"I-iya tapi_" Kalimat Delita terhenti karena bibir Alvin kembali membungkam bibirnya dengan lum@tan lembut.


Delita semakin panik ketika netranya melihat Alvin melangkah melewati pintu kamar lalu menutupnya menggunakan kaki.


Pria itu membaringkan istrinya di atas kasur. Persekian detik kemudian, bibirnya menyentuh batang leher, lalu beralih ke tulang selangka, meninggalkan jejak merah yang membuat Delita mendes*h. Tangannya menyusup ke balik baju, sekuat tenaga ia merobeknya.


Delita yang tidak mengenakan bra, langsung terlihat jelas dua bulatan dengan puncak berwarna pink.


Menyesapnya kuat-kuat, sementara Delita semakin mengerang. Bibir itu lalu bergerak turun kebawah, dan ke bawah hingga membuat Delita seakan terbang.

__ADS_1


"I love you Delita" bisik Alvin yang entah sejak kapan pakaian di tubuh keduanya sudah terlepas tak tersisa. "Don't leave me, I need you, really really need you". 


Detik kemudian mereka kembali memulai aktivitasnya, sentuhan yang kian intens, seakan menumpahkan perasaan yang ada di hati keduanya. 


Tangan Alvin bergerak menyatukan bagian tubuh mereka. "Be mine Del" 


"I'm yours Vin" balas Delita yang langsung mengecup lalu mem@gut bibir Alvin.


"Aaawwww" rintih Delita.


dia menangis ketika merasakan nyeri yang begitu hebat, tangannya memeluk erat pria di atasnya yang terus mengejar pelepasan. Gerakan dengan irama yang kian di percepat dan makin cepat lagi, hingga keduanya merasakan sesuatu yang tidak bisa mereka jabarkan.


Tubuh Alvin seketika ambruk di atas tubuh Delita.


"Love me, and don't leave me Vin"  Ucap Delita dengan nafas tersengal. "I love you" lanjutnya sambil mengusap belakang kepala Alvin yang masih membenamkan wajahnya di leher Delita.


"No, Delete your inscure in your mind, and believe me, I will loving you" balas Alvin parau. Lalu bergerak menopang tubuhnya dengan kedua siku. 


"Bagaimana bisa aku menjadi seberuntung ini Del" Alvin menatap lurus Delita sebelum kemudian mengecup tengah dadanya, menggigitnya lembut, lalu menyesapnya kuat-kuat, meninggalkan jejak merah keunguan di sana. Ia merasa sangat beruntung karena mendapatkan gadis perawan seperti Delita.


"After this, will you leave me?" tanya Delita dengan sorot cemas.


"No, I will lay by your side, don't be affraid okey"


Delita mengangguk, kemudian Merasakan bibir Alvin menyentuh keningnya lembut. Tangan Delita melingkari punggungnya selagi Alvin menciumnya.


Bergerak bangkit, Alvin lagi-lagi mengangkat tubuh Delita kemudian membawanya melangkah ke kamar mandi.


"Kita mandi sama-sama"


******


Usai mandi, Alvin kembali membopong tubuh Delita. Alvin sangat tahu jika sang istri masih merasakan nyeri di salah satu bagian tubuhnya.


Setelah mendudukan tubuhnya yang terbalut bathrobe di atas sofa, Alvin berbalik tanpa sepatah kata membuat Delita mengernyit.


"Mau kemana?"


"Ganti sprei" Alvin menjawab tanpa melihat Delita.


Mendengar jawaban Alvin, seketika Delita menatap ke arah ranjang.


"Astaga, bagaimana aku bisa tidak tahu kalau sprei Alvin tak sebersih sebelumnya"


Netra Delita terus menatap Alvin yang tampak sibuk mengganti sprei. Lalu pandangannya ia arahkan pada jam yang menggantung.


"Pukul sebelas"


Selesai mengganti sprei, Alvin membantu Delita mengeringkan rambut, setelahnya ia berjalan menuju lemari dan meraih satu kaos miliknya, lalu segera memasukkan kaos yang cukup kebesaran itu di kepala Delita.


"Cuma kaos? Pakaian dalamku?"


"Tidak perlu memakai pakaian dalam tidak apa-apa kan?" Sahut Alvin seraya mengangkat tubuh Delita dan membaringkannya di atas ranjang. "Tidurlah kalau tidak mau ku tiduri lagi"


Delita langsung mencubit pinggang Alvin setelah mendengar ucapannya barusan membuat Alvin mengulas senyum.


"Aku mau ke dapur" Kata Alvin seraya menutupi tubuh Delita menggunakan selimut.


"Mau ngapain?"


"Makan" jawabnya lalu memunguti pakaian yang ia lempar ke lantai. "Kamu mau?"


"Tidak"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2