
"Delita?" tanyaku lengkap dengan alis yang menukik tajam.
"Iya, anak ayah dengan istri keduanya"
"Dia di Macau juga?"
"Hmm" sahut mas Pandu seraya bangkit dari atas tubuhku. "Aku baru percaya kalau dunia sesempit ini" lanjutnya. "Mau bikin apa buat sarapan?"
"Aku sudah kenyang, tadi minum susu sama makan roti"
"Tapi ibu hamil harus makan banyak-banyak. Sekarang ganti baju, pakai baju hangat, kita pergi yam cha"
Hampir tiga bulan tinggal di Hongkong, membuatku sedikit demi sedikit mengerti bahasa sini, tentu saja di bantu oleh Nuri yang sudah mahir. Seperti yam cha, yang maksudnya minum teh, itu sudah menyiratkan makan sarapan.
"Tapi di luar dingin banget loh, kasihan ibu kan?"
"Kita pergi berdua saja, tidak usah mengajak ibu" balasnya, sambil mengenakan celana panjang, ia menoleh padaku sesaat.
"Ada apa?" tanya mas Pandu saat aku hanya diam sembari memperhatikan dia memakai kaos. "Kamu pasti berfikir aku bohong soal Delita, kan?"
Kepalaku reflek menggeleng.
"Lalu?"
"Kapan mas pulang ke Macau?"
Mengernyitkan dahi, mas Pandu menatapku dengan mata memicing. Dan aku sama sekali tidak takut apalagi deg-degan, tidak seperti dulu, jangankan berbicara, tatap muka saja jantungku seperti akan meledak.
"Kenapa?" tanyanya sambil melingkarkan jam tangan.
"Aku ikut"
"Jangan" sahutnya singkat.
"Ikut"
"Sudah tidak mau dengar apa kata suami?" pungkasnya membuatku kesal.
"Cepat ganti baju, aku tunggu di luar, mau nyapa ibu dulu, semalam belum sempat menyapanya"
__ADS_1
"Pokoknya aku mau ikut pulang ke Macau"
Setelah mendengar ucapanku, dia mengurungkan Niatnya untuk memutar knop pintu. Dia berbalik hendak menghampiriku, dan aku memilih bangkit dari kasur, lalu menuju meja rias.
Ku dengar helaan napas berat dari mas Pandu.
"Penjelasan mas soal Delita masih belum bisa aku terima dengan akal sehatku" ujarku dengan tatapan lekat pada bayangan diriku sendiri di cermin.
"Kenapa?" tanya mas Pandu.
Aku terdiam sambil mengoles lipbalm di bibirku.
"Kenapa Nayla?" ulang mas Pandu dengan nada datar khas miliknya.
"Aku,," Ucapanku terhenti bersamaan dengan sepasang mataku menangkap mas Pandu berdiri di belakangku. Dengan dua tangan tersimpan di saku celananya. Melalui pantulan cermin, pandangan kami bertemu. Tatapannya seolah mengintimidasiku, membuatku sepersekian detik menelan ludahku sendiri.
"K-karena itu tiba-tiba"
Mas Pandu tampak tersenyum menatapku, aku tahu kalau dia menyadari tingkahku yang kian gugup. dan senyumannya itu, memantik kekesalanku kian menjadi.
Selama beberapa menit terjadi aksi saling diam di antara kami, hingga tahu-tahu kami sudah berdiri dengan saling berhadapan.
"Kamu mau marah, marah saja, jangan di tahan begitu" ucapnya kali ini sambil memakaikanku jaket.
Nah kan, aku rasa mas Pandu selain penjudi, dan pengusaha, dia juga seorang paranormal, dia sangat tahu apa yang ada di kepalaku.
"Aku cuma pengin ikut mas pulang ke Macau"
"Ok tapi tidak sekarang" sahut mas Pandu, dan aku langsung mendongakkan kepala.
"Kapan?" tanyaku memastikan
"Akan aku rundingkan dulu sama Clara dan Rondy"
"Apa urusannya dengan mereka?" tanyaku seolah tak terima.
Alih-alih meresponku, mas Pandu justru mengalihkan topik.
"Kita makan dulu, ibu hamil sudah terkuras habis tenaganya sebab dari tadi menahan geram" ucapnya seraya menggandeng tanganku.
__ADS_1
Entahlah mas Pandu hari ini benar-benar menjengkelkan.
****
"Cou san ibu" sapa mas Pandu yang di balas anggukan kepala oleh ibu.
Sampai detik ini, ibu memang belum bisa berbicara, tapi kedua tangannya sudah bisa bergerak meski pelan. Karena efek terapi secara rutin, membuat ibu perlahan menunjukan perubahan yang sangat pesat.
Selagi mas Pandu menyapa ibu, dan berpamitan dengannya, aku berjalan menuju dapur menemui Nuri yang sedang memasak bubur untuk ibu.
"Nur, aku sama mas Pandu mau yam cha, kamu mau di bawain apa nanti"
"Apa saja deh Non"
"Jangan apa saja, kamu bilang saja pengin makan apa"
"Yi lau pao boleh deh non, dari Mc donald2"
"Nah kalau gitu kan jelas"
"Ibu hamil, ayo kita berangkat, ibu pesan minta di beliin benang rajut"
Aku mengernyit begitu mendengar ucapan mas Pandu. Aku heran campur bingung bagaimana mas Pandu tahu kalau ibu minta di beliin benang itu.
Kami berjalan beriringan menuju restauran milik mas Pandu, karena jarak antara rumah dengan restauran tidak begitu jauh. Dengan kondisi tangan tak pernah lepas dari genggaman mas Pandu.
"Kok mas tahu ibu minta di beliin benang rajut?" tanyaku penasaran.
"Iya, tadi tangan ibu gerak-gerak seperti gerakan merajut, Dulu ibu suka sekali bikin kerajinan dengan benang rajut"
"Kerajinan apa?"
"Macam-macam" jawab mas Pandu membuatku ingin tahu lebih banyak.
"Bikin apa saja?"
"Bikin cardigan, sapu tangan, topi rajut, apalagi kalau musim dingin seperti ini, suka sekali bikin shal"
"Oh"
__ADS_1
Bersambung