
Satu minggu sudah berlalu, itu artinya ayah sudah berada di rumah sakit selama itu.
Dan hari ini, dokter sudah mengijinkan ayah untuk pulang. Namun, beliau harus melakukan cek rutin ke rumah sakit setiap dua minggu sekali untuk memulihkan luka dalam yang di alaminya.
Sementara ini, ayah akan tinggal bersama Delita dan Alvin di apartemennya. Karena tidak mungkin aku dan mas Pandu membawanya ke rumah sementara di rumah kami ada ibu.
Kami melangkah keluar melewati lorong rumah sakit setelah membayar administrasi dan menebus obat. Mas Pandu yang mendorong kursi roda, sesekali menjawab pertanyaan ayahnya sedangkan aku dan Delita, berjalan bersisian di belakang mas Pandu sembari mengobrol tentang Kellen.
"Kalau ada apa-apa segera hubungi kakak Del" ucap mas Pandu memerintahkan.
Kami sudah tiba di apartemen Alvin beberapa menit yang lalu, dan kini mas Pandu akan mengantarku pulang sebelum kembali lagi ke kantor.
"Kakak tenang saja, aku akan merawat papa baik-baik, dan akan segera hubungi kakak jika terjadi sesuatu"
"Ya sudah kami pergi, tadi sudah pamit sama ayah" timpal mas Pandu sambil tersenyum. Senyuman yang beberapa hari ini tidak ku lihat.
"Pulang dulu ya Del"
"Iya kak Nay, kalian hati-hati"
Selama perjalanan pulang, aku sengaja mengunci mulutku rapat-rapat, sebab pikiranku melayang ke beberapa hari yang lalu. Di mana saat itu aku sempat mendengar obrolan antara ayah dan mas Pandu ketika di rumah sakit.
FLASHBACK ON
"Ayah" panggil mas Pandu setelah menyuapi ayahnya. "Pandu minta maaf yah, sudah mengusir ayah waktu itu, Pandu minta maaf sudah mempermalukan keluarga kita saat hampir menikahi Delita, Pandu juga minta maaf karena sudah membuat bu Maria menceraikan ayah"
Sebelum menjawab, ayah sempat menyentuh tangan mas Pandu lalu menggenggamnya erat-erat. "Jangan meminta maaf nak, ayah pasti akan semakin merasa bersalah karena semua kesalahan ada pada ayah"
"Tapi gara-gara Pandu, ayah dan bu Maria berpisah, Delita pasti sangat sedih yah"
"Itu yang terbaik nak, karena ayah tidak pernah mencintai Maria, semua ayah lakukan hanya karena uang" sergah ayah dengan suara parau.
"Tetap saja Pandu harus meminta maaf yah"
"Ayah yang seharusnya minta maaf sudah meninggalkanmu dan ibumu, maafkan ayah, ayah hanya mementingkan kesenangan ayah sendiri"
"Pandu dan ibu sudah memaafkan ayah, yang penting sekarang, Pandu ingin ayah cepat sehat. Jangan biarkan Delita sedih karena ayah sakit, dia sudah jauh dari ibunya, jangan sampai ayah juga ikut meninggalkannya"
"Kamu memang kakak yang baik Pandu, anak yang hebat untuk ayah yang tidak tahu diri seperti Hermawan" Aku yang mencuri dengar di balik pintu yang sedikit terbuka, merasa terharu dengan sekap kedua pria beda generasi itu.
__ADS_1
"Tahukan kamu Pandu" kata ayah seraya melempar pandangan ke langit-langit kamar. "Ayah sempat mencari kalian ke Jogja. Waktu itu ayah sudah menjadi orang kaya, dan ayah mengerahkan semua anak buah ayah untuk mencarimu di sana, tapi mereka tidak menemukanmu dan ibumu" Ayah tampak menjeda kalimatnya untuk mengambil napas, sedetik kemudian kembali melanjutkan ceritanya. "Anak buah ayah bilang kalau kalian sudah pindah. Itu kata para tetangga, tidak berhenti di situ ayah mencari kalian, ayah bahkan melapor ke polisi dan mencari keberadaan kalian melalui media cetak dan online. Tapi tetap saja ayah tidak menemukanmu"
Medengar ungkapan ayah, ku lirik mas Pandu mengeratkan rahangnya dengan bibir terkatup. Priaku seperti kesulitan menelan ludahnya sendiri sementara matanya menyorot kosong.
"Bertahun-tahun ayah mencari kalian di Indonesia, dan sama sekali tidak ada yang menemukan keberadaan kalian"
"Beberapa bulan setelah ayah pergi, Pandu dan ibu terbang ke Macau menyusul ayik Btari yah"
Ayah tampak mengangguk-anggukan kepala mendengar sahutan dari mas Pandu.
"Mungkin karena itulah ayah tak berhasil menemukanmu. Tapi sungguh ayah mencarimu nak. Kalau saja ayah tahu keberadaanmu di sini, pasti ayah juga akan mencarimu ke seluruh Macau"
Ada hening selama sekian detik, kemudian ayah kembali menyerukan suaranya.
"Ayah ingin memberi kehidupan yang layak untuk kalian waktu itu. Ayah tersiksa nak, dalam kesendirian ayah, kamu dan ibumu selalu berebut masuk ke dalam kepala ayah, tak pernah lepas dari pikiran ayah, dan tentu saja tanpa sepengetahuan Maria ayah mencari dan memikirkan kalian yang sampai saat ini masih menghuni hati ayah"
"Apa itu benar yah?" tanya mas Pandu, nadanya seperti melemah.
"Kamu boleh tidak percaya nak, karena ayahmu ini memang tidak bisa di percaya, ayah sudah menyakiti banyak orang, ayah tidak pantas untuk di percaya"
"Pandu percaya yah"
Usai mengatakan itu, mas Pandu yang tadinya duduk, kini berdiri lalu sedikit mencondongkan badan untuk memeluk ayahnya.
FLASBACK OF
"Sayang"
"I-iya mas?" aku tersentak saat mas Pandu menyentuh pundakku. Panggilannya membuatku tersadar bahwa aku baru saja larut dalam lamunanku.
"Ada apa mas?"
"Seharusnya pertanyaan itu dariku" kata mas Pandu seraya memalingkan tubuh menghadapku. Aku baru sadar kalau mobil kami sudah berada di area parkir bawah apartemen.
"Mikir apa?" tanyanya lembut. Tangannya terulur meraih tanganku.
"Aku bahagia mas"
Mas Pandu mengangkat satu alisnya begitu mendengar ucapanku.
__ADS_1
"Aku senang akhirnya mas dan Ayah saling memaafkan"
Alis mas Pandu yang sebelumnya terangkat satu, kini semakin menukik tajam. Mungkin dia heran dengan perkataanku.
"Maaf, aku sempat mencuri dengar pembicaraan mas dan ayah waktu di rumah sakit"
Hening, tak ada respon dari mas Pandu. Yang dia lakukan hanya menatapku penuh intens.
"Ada apa?" tanyaku penasaran lengkap dengan kerutan di dahiku.
"Itu semua karena kamu Nay" jawabnya lalu menunduk menatap tangan kami yang saling bertaut. "Semenjak kamu hadir, perlahan hidupku membaik" katanya mengangkat pandangan untuk mempertemukan netra kami. "Mulai dari ibu, kebiasaan judiku, perusahaan, Alvin, dan sekarang ayah"
Mas Pandu mengatakannya dengan sorot sepenuhnya padaku.
"Makasih, kamu benar-benar istri yang luar biasa hebat"
Aku hanya tersenyum merespon ucapannya. Sedetik kemudian, mas Pandu ikut tersenyum. Kami saling diam dan hanya beradu pandang. Bibir kami masih tersungging saling berbalas senyum, sebelum kemudian mas Pandu mendekatkan wajahnya dan detik itu juga kami berciuman.
Rasanya, aku tidak menginginkan apapun lagi kecuali dirinya.
"Aku cinta kamu Nay, sampai kapanpun aku cinta kamu" bisiknya ketika tautan bibir kami terlepas sementara kening masih saling menempel.
"Aku mencintaimu mas"
Menghirup napas dalam-dalam, mas Pandu mencoba menghindar dari tatapanku yang mengkin membangkitkan gairahnya. Aku tahu sebab wajah mas Pandu memerah seperti menahan sesuatu.
"Mau di antar masuk rumah?" tawarnya sambil membetulkan posisi duduknya
"Tidak usah" sahutku seraya melepas seatbelt.
"Salam cium buat jagoanku"
"Hmm, hati-hati di jalan"
"Okey I love you so much"
"I love you too"
Bersambung...
__ADS_1
Hahaha lagi goodmood jadi bisa nulis..
Ada yang masih mau lanjut 😇😇